Followers

Wednesday, 14 February 2018

DS009-IRASIONAL ATAU SUPRA RASIONAL?


3 Februari 2018

Kebanyakan orang membatasi perkara berdasar potensi nya untuk dipahami hanya ada dua : Rasional dan Irasional

Rasional adalah perkara yang dapat diterima oleh akal sedangkan irasional yang ditolak oleh akal secara spontan.

Hal ini merupakan bentuk kesombongan intelektual yang melahirkan kelompok filsafat perpaham materialis dengan menetapkan sesuatu itu berwujud jika eksperiment fisik menguatkan wujudnya, demikian sebaliknya.
Mereka lupa bahwa perkara tidak hanya dibagi (qismat) dua saja karena sejatinya ada 3 :

1. Rasional, yaitu perkara yang akal manusia mampu menerima perwujudannya. Akal akan mengatakan YES

2. Irasional, yaitu perkara yang akal manusia 'menolak' perwujudannya, saat itu akal akan mengatakan NO

3. Supra rasional, yaitu perkara yang akal manusia 'belum mampu' menerima meskipun pada saat yang sama belum berhak menolak, saat itu akal hanya mampu mengatakan I DON'T KNOW

Kitab langit diturunkan untuk memberikan mukadimah dan penjelasan bagi perkara-perkara supra rasional karenanya dalam Al Quran Allah berfirman bahwa Nabi saw. mengemban tanggung jawab pelaksanaan dua misi atas manusia yaitu MENGAJARKAN dan MENGINGATKAN: "...dan ia (Muhammad) ajarkan Kitab dan hikmah meski sebelumnya mereka berada dalam kezaliman", dan Allah juga berfirman: "Berilah peringatan, sesungguhnya engkau (Muhammad) hanya pembawa peringatan dan bukanlah engkau penguasa atas mereka!"

MENGAJARKAN berhubungan tentang perkara rasional yang belum mampu dipahami oleh akal manusia dan memerlupakan mukaddimah untuk mencapainya. Nabi ibarat converter bagi syariat langit agar bisa dipahami oleh umat di  bumi.
Tanpa ajaran samawi itu akal manusia tidak akan sampai kepada hakikat-hakikat supra rasional semisal surga, neraka, hari akhir, hakikat jin, hakikat malaikat dan sebagainya.
MENGINGATKAN berhubungan dengan perkara-perkara yang akal manusia telah memahaminya, namun hawa nafsu menjadikannya lalai dan buta akan masalah tersebut. Tanpa ajaran samawipun, setiap masyarakat manusia tahu bahwa mencuri, membunuh, menyakiti orang lain adalah perbuatan tercela dan setiap masyarakat memiliki hukum atas hal itu. Namun Hawa manusia seringkali menjadikannya terjerumus kedalam perbuatan-perbuatan itu berulang kali. Bukan karena tidak paham akibatnya tapi karena kelalaian akibat dorongan hawa. Karena itu syariat mengingatkan terus menerus agar manusia selamat.

"Manusia adalah tempat salah dan lupa"


Banyak manusia yang tidak tahu tapi lebih banyak manusia yang sok tahu...