Friday, 14 September 2018

DS051-ANCAMAN KEMATIAN, INTIMIDASI PENGUASA ZALIM


MAJLIS MALAM 3 MUHARRAM 1440 H/2018 M

من خطبة للإمام الحسين عليه السلام:
"خُطَّ الموت على وليد آدم مخط القلادة على جيد الفتاة، وخُيّر لي مصرع أنا لاقيه.....

Diantara penggalan khutbah Imam Husain:
"Dekatnya kematian bagi manusia seperti dekatnya sebuah kalung dengan leher seorang gadis. Telah dipilihkan untukku pertempuran yang harus kuhadapi...

Penggalan khutbah Imam Husain ini disampaikan di Mekah Al Mukarramah sebelum beliau memulai perjalanan istisyhad menuju Karbala, perjalanan yang akan mengukir sejarah yang kekal dan abadi. Dalam khutbah itu, beberapa fakta penting disinggung, diantaranya:

  • Tanda dan gelagat menunjukkan bahwa semua akan berakhir dengan pertemuan dengan tentaran Bani Umayah. Karena semua berawal dari penolakan Imam untuk berbaiat kepada Yazid sedangkan pilihan hanya antara baiat atau kematian. 
  • Imam Husain berusaha mempersiapkan  jiwa para pendukungnya yang  mengikuti beliau dari Mekah dan sebagian besar dari Kufah serta beberapa orang dari Bashra.
  • Beliau juga hendak menggembleng jiwa Ahlul Bait nya demi meningkatkan kesiapan menghadapi ujian maha dahsyat yang puncaknya adalah pembantaian di Karbala.
  • Pasukan Umawiy berusaha untuk memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa kematian adalah sesuatu yang menakutkan. Dan tampaknya usaha ini cukup berhasil dengan tunduknya penduduk Kufah dan daerah lain kepada ancaman penguasa zalim itu sehingga mereka menolak memberikan dukungan kepada mujahidin yang ikhlas

Mengintimidasi masyarakat dengan ancaman kematian menjadi senjata paling ampuh yang dimiliki oleh penguasa bahkan sampai hari ini.

Khutbah ini merupakan khutbah pertama beliau di hadapan banyak orang karena saat di Madinah, beliau tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan massa yang banyak. Sekaligus menjadi khutbah yang akan dikenang sepanjang perjalanan menuju Karbala, selain khutbah beliau di Karbala yang menggetarkan.
Dengan kata lain, khutbah pertama Husain sarat dengan tarbiyah dan pemahaman yang benar. Tarbiyah ini bertolak belakang dengan doktri yang ditanamkan oleh penguasa Bani Umayah kala itu baik dari segi materi maupun metodenya. Tarbiyah Imam adalah tarbiyah ilahiyah dan kepasrahan dalam mengarungi qadha yang Maha Kuasa sementara tarbiyah tughat adalah penanaman rasa takut terhadap kematian sehingga melemahkan bahkan mematikan semangat dalam membela kebenaran dan melawan kezaliman penguasa diktator.
Setiap manusia mencintai kehidupan dan membenci perpisahan dengan duniawi. Itulah yang dirasakan oleh setiap manusia sehingga ia merasakan ketakutan terhadap kematian. Fakta ini dikuat dalam Al Quran:

﴿قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ﴾ 
Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, niscaya ia akan menemukan kamu
﴿يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ﴾
Kematian akan menemukan kalian meski kalian bersembunyi di benteng yang kokoh

  ﴿فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾
Jadikanlah kematian sebagai harapan jika kalian memang benar

Maka tidak ada yang kekal di dunia. Lihatlah apakah para nabi, shalihun, ulama hidup kekal. Jika ada yang kekal diantara mereka, pastilah Nabi Muhammad yang paling berhak hidup kekal. Padahal Allah berfirman kepada Nabi Muhammad:
  إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ 

Sesungguhnya engkau akan mati sebagaimana yang lain juga akan mati

Denngar bait-bait syair Imam Ali saat mengenang kesedihan atas wafatnya Rasulullah saw.

الموت لا والداً يُبقي ولا ولدا                   هذا السيلُ إلى أنه لا ترى أحدا
للموت فينا سهامٌ غير طائشةٍ                   من فاته اليوم سهمٌ لم يفته غدا
هذا النبي ولم يخلَّد لامتّه                       لو خلّد الله خلقاً غيرهَ خَلُدا


Mati tidak perdui apakah ayah apakah anak
ia adalah banjir bandang hanya saja tiada yang melihat
mati bagi kita bagai anak panah yang pantang meleset
jikapun anak panah itu meleset hari ini, tidak akan lagi esok hari
Inilah Nabi yang tidak dikekalkan untuk umatnya
Jika ada yang Allah kekalkan diantara makhluk-Nya pastilah dia...

Ini adalah masalah yang jelas dan tidak bisa dipungkiri oleh siapapun karena setiap orang yakin bahwa hidup akan dipungkasi dengan kematian. Perbedaan terletak pada cara pandang kita terhadap kematian itu yang berhubungan erat dengan cara kita mempersiapkan diri kita untuk menyambutnya. (contoh 2 orang yang keluar dari penjara pada masa Nabi Yusuf as.)

Dalam paradigma ilahiyah, mati bukanlah akhir dari kehidupan seorang manusia karena ia hanyalah perpindahan dari satu alam menuju alam yang lain sebagaimana pernah ia alami sebelumnya semenjak alam ruh, alam rahim hingga alam dunia. Kematian adalah urutan perjalanan menuju alam barzakh  hingga alam akhirat.

Jadi, pemahaman dan kesadaran akan makna kematian adalah sebuah bentuk tarbiyah yang efektif. Sehingga saat seorang mukmin mengingat kematian ia akan tergerak untuk melakukan amal-amal kebaikan, meninggalkan kemungkaran, membela kebaikan dan kaum teraniaya serta memngagungkan kebaikan. Kesadaran akan kematian akan meningkatkan kualitas akhlak manusia mukmin.

Mengapa kesadaran?, karena ada pendangan yang salah akan hal ini dimana sebagian orang melihat bahwa jika hidup diakhiri dengan kematian, mengapa harus beramal dan berkarya?, bukankah sebaiknya kita menghindarkan diri dari keduniaan, tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tinggal menunggu datangnya kematian. Sikap ini ditentang keras oleh Islam karena Islam tidak mengenal kerahiban karena manusia adalah makhluk yang akan dimintai pertanggungjawaban.

﴿وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ﴾

Di sisi lain ada pandangan ekstrim yang melihat bahwa apabila hidup diakhiri dengan kematian maka mengapa tidak memanfaatkan hidup yang hanya sekali ini untuk berfoya-foya dan bersenang-senang. 
Pandangan ini hanya akan menyimpangkan manusia dari tanggung jawab manusia.

Kedua pandangan itu menjauhkan dari kebenaran.
Pandangan ketiga adalah pandangan yang menyadari akan kepastian kematian sehingga ia berusaha mempersiapkan diri demi menyambutnya dengan cara terbaik dan bertanggungjawab.
Imam Husain dalam syairnya mengatakan:

فإن تكـن الدنيـا تعدّ نفيسـة * فإنّ ثـواب الله أعلـى وأنبـل
وإن يكن الأبدان للموت أنشأت * فقتل امرئ بالسيف في الله أفضل
وإن يكن الأرزاق قسماً مقدّراً * فقلّة سعي المرء في الكسب أجمل
وإن تكن الأموال للترك جمعها * فما بال متروك به المرء يبخـل

Jika dunia kau anggap menarik, maka pahala Allah lebih tinggi dan lebih menarik
Jika badan ini tercipta untuk kematian, maka matinya seseorang di jalan Allah adalah yang terbaik
Jika rejeki adalah bagian yang telah dipilah-pilah maka tidak rakus dalam mencari  adalah hal terindah
jika harta dikumpulkan hanya untuk ditinggalkan, bagaimana mungkin seseorang kikir terhadap harta yang akan ditinggalkannya?

Dalam bait-bait lain, Imam juga berkata:


سأمضي وما بالموت عار على الفتى * إذا ما نوى حقّاً وجاهد مسلماً
وواسى الرجال الصـالحين بنفسـه * وفارق مثبوراً وخالف مجرما

فإن عشـت لم أندم وإن متّ لم ألم * كفى بك موتاً أن تذلّ وترغما

Aku akn tetap melangkah karena mati bukan aib meski seseorang masih muda, selama berniat baik dan berjuang dalam keikhlasan
orang-orang salih selalu berwasiat pada diri, meninggalkan pendosa dan pelaku kejahatan
jika aku hidup, aku tak menyesal dan jika aku mati, aku tak tersiksa
cukuplah kematian itu menghinakan atau memuliakan

Islam kita adalah agama yang mengajak manusia agar memperhatikan pemahaman-pemahaman yang menuntun manusia menuju sikap tanggung jawab dan melakukan kebaikan. Sehingga ia tidak meninggalkan dunia atau meninggalkan tanggung jawab dengan tenggelam dalam kenikmatan duniawi.
Bahkan Islam memandang sebagian amal manusia akan menjadi sumber kebaikan meski setelah kematiannya. Sebagaimana Rasul bersabda:

"إذا مات المرء انقطع عمله إلا من ثلاث، علمٍ ينتفع به، ولدٍ صالح يدعو له، وصدقةٍ جارية"

Jika seseorang mati maka akan terputus amalnya kecuali yang 3 : Ilmu yang dimanfaatkan, anak  shalih yang mendoakan dan shadaqah jariyah (yang mengalir pahalanya)

Bagaimana jika seseorang mampu menjadikan kematian sebagai jalan yang menjamin tercapainya ridha Allah dengan menjadikan hidupnya berharga dan berusaha menyesuaikan keinginannya dengan kehendak-Nya?,  Mereka adalah para syuhada yang melihat kematian sebagai jalan terpendek dan terjamin dalam mencapai ridha dan surga-Nya.

Pada masa Imam Husain, beliau berhadapan dengan dua pandangan yang bertentangan dengan gerakan kebangkitan husiniyah ini. Mereka tidak mendukung beliau baik karena ketakutan akan kematian atau ketakutan kehilangan kenikmatan duniawi. Kelompok yang tunduk kepada penguasa, ikut serta mencelakakan Imam dan yang diam juga melakukannya meski tak langsung.

Bukankah hadits mengatakan: “Barangsiapa yang ridha dengan perbuatan suatu kaum maka ia dianggap ikut melakukannya”.
Zuhud dalam hal ini bukan sebuah kebaikan karena zuhud dalm kondisi ini adalah lari dari tanggung jawab yang seharus dipikul oleh seorang Zahid. Bahkan sebagian sahabat yang yang mengatakan: “Jika orang-orang membaiat Yazid maka terpaksa aku juga akan melakukannya”.
Ini kisahnya:

وكان الحسين عليه السلام جالساً مع عبد الله بن عمر وعبد الله بن الزبير في مسجد جدّه صلى الله عليه وآله وسلم لمّا جاءهم رسول الوالي يدعوهم إلى قصر الإمارة ليلاً.
فقال ابن الزبير للحسين عليه السلام: "ما تراه بعث إلينا في هذه الساعة التي لم يكن يجلس فيها؟
فأجابه الإمام عليه السلام: "أظن أن طاغيتهم قد هلك، فبعث إلينا ليأخذنا بالبيعة قبل أن يفشوا في الناس الخبر".
فكان كما توقع عليه السلام أما مواقف الثلاثة فقد كانت متباينة، فعبد الله بن عمر قال: إني أدخل بيتي متى بايع الناس بايعت!
وأما عبد الله بن الزبير فقد خرج هارباً باتجاه مكة في تلك الساعة ومعه أخوه جعفر سالكاً طريقاً فرعيّاً. لكن الحسين عليه السلام قال: أجمع فتياني الساعة ثم أمشي إليه. فلما حذّره ابن الزبير، قال عليه السلام: لا آتيه الأوان على الامتناع، أي أني أكون قادراً عن أن امتنع منه إذا أراد الاعتداء عليّ.

Maka jelaslah bahwa senjata yang digunakan oleh Bani Umayah adalah ancaman kematian dan kenikmatan yang dijanjikan.
Kondisi itu membuat Imam berusaha untuk mendobrak gejala massal ini dan membangun kesadaran umat sehingga  kematian yang ikhlas lebih didahulukan jika memang harus dilakukan demi meluruskan penyimpangan.
Dari sinilah kita memahami rahasia penekanan Imam terhadap masalah kematian ini dalam banyak momen dan kesempatan. Hal itu merupakan tarbiyah umat tentang Islam yang sebenarnya dan hal itu terus dilakukan agar manusia menyadari tanggung jawabnya. Dengan demikian manhaj jahiliyah yang menakut-nakuti masyarakat dengan kematian bisa didobrak sehingga umat jauh dari kehinaan. Dan hasilnya adalah seruan

 “Haihat minna dzillah!”, inii laa aral mauta….., lain kaana diinu Muhammadin, Almauta aula min rukuubil ‘ari….dan sebagainya

Maka tujuan Imam menekankan masalah kematian bukanlah kepasrahan akan nasib buruk yang tak terelakkan, namun sebaliknya, beliau ingin mengajak para sahabat untuk merasakan kenikmatan yang sama saat melihat kematian. Dakwah yang ikhlas adalah berbagi kenikmatan sesuatu yang dirasakan nikmat, bukan hanya (karena tuntutan kondisi) menyampaikan sesuatu meski hal itu bertentangan dengan keinginan kita.

Bukankah Allah berfirman: Laisal birra hatta tunfiqu mimma tuhibbu ?

Tujuan Imam Husain adalah menghancurkan pengaruh Bani Umayah terutama doktrin kepada masyarakat yang menjadikan mereka memandang kematian dengan cara yang salah dengan menjadikan masyarakat terhinggapi hub ad dunia
Khutbah Imam ini akan selalu abadi melampaui batasan ruang dan waktu dan akan melekat di hati orang-orang yang bersedia mereguk pelajaran berharga ini sebagai bekal perjumpaan dengan Allah. Inilah semangat yang diwarisi oleh para pejuang Islam dalam membela agama Allah ini dimanapun mereka berada. Mereka tidak takut kematian bahkan mereka merindukannya sebagai jembatan menuju kesempurnaan wujud seorang hamba.


Format Audio:



Monday, 23 July 2018

DS050-TAWASSUL ANTARA IFRATH DAN TAFRITH (BAG. 2)


Sejatinya, konsep tawassul ini adalah konsep logis dan sangat akrab dengan konsep keberagamaan kita. Jika kita bersedia menilik ayat-ayat Al-Qur’an, kita akan temukan bahwa Allah telah menetapkan mekanisme pengabulan permohonan yang sa;ah satunya adalah wasilah (perantara) yang telah ditetapkan. Perhatikan saat Allah berfirman: Qul, in kuntum tuhibbuunallaha fattabi’uuni yuhbibkumullahu, Ya Muhammad katakanlah kepada mereka. Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku. Maka Allah akan mencintai kamu.
Saat itu Allah menetapkan Nabi Muhammad SAW sebagai wasilah untuk manusia mendapatkan cinta-Nya.
Dengan sangat tegas disebutkan dalam ayat diatas bahwa ketaatan mutlak kita terhadap sabda Rasulullah saw. merupakan wasilah bagi kita untuk menggapai cinta-Nya. Fakta ini dikukuhkan kembali dengan firman-Nya:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Tidaklah pantas bagi seorang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, jika Allah telah menentukan suatu perkara, ia memilih selainnya. Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia telah tersesat dengan nyata (Q.S. Al Ahzab: 36)

Ayat tersebut menegaskan betapa ketaatan kepada Rasul adalah ketaan kepada Allah dan kemaksiatan kepada Rasul adalah kemaksiatan kepada-Nya. Nampak dan sangat terasa betapa keduanya adalah satu dan tak terpisahkan seakan menafikan pengabulan atas permohonan jika salah satu dari keduanya terpisah. Semua itu memberikan keyakinan bahwa apa yang disabdakan Rasul adalah firman Allah dalam format yang berbeda sehingga ketaatan terhadap sabda Nabi haruslah mutlak atau kita akan meragukan firma-Nya. Kenyataan ini dikuatkan dengan firman-Nya:
 وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ 
Dan dia tidak berbicara karena hawa (nafsu) karena (ucapannya) tidak lain adalah wahyu yang diturunkan (Q.S. An Najm: 3-4)

Mekanisme ini akan terus berlaku hingga hari kiamat.
Yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang akan menjadi wasilah antara umat Muhammad ini sepeninggal beliau?.
Sebenarnya masalah ini tidak akan merisaukan sekiranya kita bersedia merujuk kepada ayat dan riwayat (hadits) dengan sadar dan semangat keilmuan karena sesungguhnya wasilat setelah Rasulullh saw. telah ditetapkan Allah melalui lisan suci Rasul-Nya di banyak kesempatan penting.
Rasulullah bersabda:
Sesungguhnya aku tinggalkan bagi kalian dua pusaka agung yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat untuk selamanya, keduanya adalah: Kitab Allah (Al Quran) dan Ahlul Baitku.

Meskipun pada sebagian redaksi menyebutkan kitab Allah dan sunnahku namun hal itu tidak menciptakan kontradiksi karena beberapa hal:
·         Sunnati bermakna umum dan Ahlul Bait bermakna khusus sehingga kalimat Ahlul Bait memiliki fungsi takhshih (pengkhususan) makna, tabyin (menjelaskan) makna dan tafsil (merinci) makna.
·         Sunnah adalah hakikat abstrak dan nasibnya terletak pada siapa yang memiliki otoritas sunnah itu. Karenanya kita tidak menyebutkan kata sunnah terpisah dari pemilik sunnah itu. Kita selalu menyebut sunnah Rasul, sunnah sahabat, sunnah Ahlul Bait as. Jadi meskipun redaksinya wa sunnati tetap kita harus mencari tahu siapa yang berhak dinisbahkan kepada sunnah Rasul itu.
·         Dengan logika sederhana kita bisa mengatakan bahwa Ahlul Bait sebagai anggota rumah Rasulullah pastinya lebih mengetahui apa yang berlaku di rumah kenabian dibanding orang lain. Jadi mengikuti Ahlul Bait lebih terjamin daripada selain mereka. Dengan kata lain, saksi terdekat atas sunnah Rasul saw. adalah Ahlul Baitnya.

Pada gilirannya, Rasulullah saw. menjadikan kecintaan kepada Ahlul Bait as. sebagai wasilah ketaatan itu sehingga ketaan ini bersifat mutlak pula. Bukankah Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil amr (pemegang urusan Allah dan Rasul) diantara kalian (Q.S. An Nisa:59)

Wednesday, 20 June 2018

DS049-TAWASSUL ANTARA IFRATH DAN TAFRITH (BAG. 1)



Makna tawassul
Tawassul berakar kata wasilah atau perantara sehingga tawassul secara lughawi (bahasa) adalah mengusahakan perantara dalam menuju sebuah tujuan utama. 

Menurut istilah ilmu kalam, tawassul adalah usaha seorang hamba untuk 'mendekati' Allah melalui wasilah (perantara) yang ditetapkan oleh Allah sebagai penjambatan penghubung antara dua dzat yang mustahil dibandingkan.

Sebagaimana  yang kita ketahui bersama bahwa sebagian kaum muslimin beranggapan bahwa tawassul adalah meminta kepada selain Allah SWT dan jatuhnya adalah syirik. Kurangnya pemahaman mereka akan hakikat tawassul menjadikan mereka dengan mudah menjatuhkan tuduhan hina itu kepada pihak-pihak yang mempraktekkannya.

Telah terjadi tafrid dan ifrad di dalam masalah tawassul ini. Atau dua kutub ekstrim yang mewakili dua pandangan umum terhadap masalah ini

Satu kutub dengan tegas mengharamkannya secara mutlak dengan menganggapnya sebagai ritual manusia meminta kepada manusia lain padahal setiap manusia harus minta secara langsung kepada Allah SWT, tidak boleh melalui perantara manusia atau makhluk yang lain yang akan menjerumuskan kedalam lembah kemusyrikan.
Sementara, pada kutub yang berlawanan, sekelompok orang terjerumus ke lembah ifrath, dimana sekelompok orang gemar melakukan ritual tawassul tanpa mengetahui siapa dan bagaimana manusia yang menjadi perantara antara manusia dengan Allah.  Untuk mencapai kepada Allah, mereka mendatangi makam-makam yang dikeramatkan tanpa mengetahui apakah yang terkubur di dalamnya adalah manusia-manusia yang bisa menjadi perantara antara mereka dengan Sang Pencipta.

Hal ini mengingatkan saya kepada apa yang disampaikan oleh syekh Tijani Samawi di dalam kitabnya. Beliau mengatakan:

 “Kam min kuburin tuzar wa ahluha min ahlin naar”.
Berapa banyak kubur yang diziarahi, sementara yang di dalamnya itu adalah ahli neraka.

Dengan kata lain, banyak manusia yang tidak memiliki ma'rifat dan ilmu akan hakikat tawassul ini sehingga, alih-alih mendekatkan kepada Allah, perbuatan mereka hanya akan memperpanjang jarak dengan-Nya. Di sisi lain, kondisi ini berpotensi menumbuhkan pandangan negatif dari pihak-pihak yang tidak sepaham dengan konsep wasilah ini.  Mereka lupa bahwa tawassul merupakan ritual sakral yang harus mendapat ijazah Allah sehingga manusia-manusia yang menjadi perantara haruslah merupakan pilihan Allah.
Apalagi jika kita menilik bahwa redaksi tawassul   mengandung makna meminta, seperti:  Ya Wajihan ‘indallah, isyfa’lana ‘indallah (wahai yang punya kedudukan di sisi Allah, syafa'ati kami di sisi-Nya!).  Sedangkan manusia hanya boleh meminta kepada Allah, iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'in (hanya pada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan). Hal ini tidak berarti kontradiksi, sebaliknya, memberikan penjelasan bahwa tawassul adalah amalan suci yang kekuatannya terletak pada ridha dan ijin-Nya. Jika tidak maka hal ini sama dengan meminta kepada selain Allah dan tanpa ridha-Nya sehingga jatuh pada kemusyrikan. Jadi tawassul kepada Allah hanya melalui manusia-manusia yang mendapat ijazah untuk menjadi perantara antara Allah dan hamba-Nya.

Jadi, berdasarkan pengertian diatas maka kita meyakini bahwa tawassul tidak dilarang bahkan dianjurkan dalam agama agar permohonan kita sampai kepada Allah, namun harus diingat bahwa tawassul hanya kepada manusia-manusia yang diijinkan Allah untuk menjadi perantara-Nya, Bukankah Allah telah berfirman: Man dzalladzi yasyfa'u 'indahu illa biidznih (Siapa yang berhak mensyafaati di sisi-Nya selain dengan ijin-Nya?

Pembahasan yang berhubungan dengan ifrath dan tafrith dalam masalah ini menjadi penting karena kedua pandangan bertolak belakang ini saling memperngaruhi jika kita memperhatikan nahwa keduanya mewakili aksi dan reaksi.

Mendoakan siapapun yang telah mendahului kita diperbolehkan bahkan menjadi anjuran agama. Namun dalam masalah tawassul yang mengandung pengertian mencari jembatan penghubung antara kelemahan hamba dan ke’tidakterbatas’an Allah SWT, haruslah dengan pertimbangan bahwa jembatan itu memang ‘dibangun’ oleh Allah dengan tujuan itu. hablul mamdud minassamai ilal ardh, tali penghubung antara langit dan bumi.
Ajaran Ahlul Bait Nabi, mengajarkan keseimbangan dalam segala hal. Dalam masalah akidah, disaat satu kubu  berfaham jabariyah dan menganggap manusia tidak memiliki kebebasan dalam memilih nasib hidupnya, di sisi lain muncul pemahaman tafidiyah yang menganggap bahwa manusia memiliki ikhtiar bebas dalam pengertian penafian campur tangan Allah dalam makhluk. Menghadapi kondisi pertentangan antara dua kubu ekstrim itu, Imam Ja’far Shadiq as. bersabda, laa Jabra wa laa tafwidh wa laakinna amran baina al amrain”, tidak jabariyah, tidak ada tafidiyah, tapi di tengah-tengah di antara keduanya.
Barangkali kita masih ingat sebuah hadits yang berbunyi, Khairul asyya ausathuha atau khairul umur ausathuha, sebaik-baik urusan adalah yang di tengah (proporsional). Dan para Imam ahlulbait as benar-benar menyampaikan kepada kita konsep – konsep yang jauh dari ekstrim. Baik ekstrim kiri maupun kanan. Baik ekstrim dalam kurangnya, maupun ekstrim dalam lebihnya.

Dalam masalah tawassul inipun para Imam ahlulbait as mengajarkan kepada kita keseimbangan, bahwa tawassul itu tidak dilarang, bahkan tawassul itu dianjurkan dan diperintahkan mengingat betapa manusia ini terlalu kotor untuk meminta langsung kepada Allah SWT. Maka Allah SWT menyediakan wasilah, menyediakan jembatan, untuk menyampaikan dia kepada Allah SWT...

BERSAMBUNG

Sunday, 27 May 2018

DS048-PENGHORMATAN BULAN RAMADHAN



Dapat dipahami dari beberapa riwayat dan hadis bahwa Nabi dan para Imam as biasa mengumumkan kesiagaan universal dan bersiap-siap di akhir bulan Sya’ban untuk menyambut bulan Ramadhan. Khususnya pada akhir Jumat di bulan Sya’ban, mereka bersiap diri menjadi tamu Allah, supaya manusia mengetahui kenikmatan mana yang akan diterima oleh mereka. Sungguh, begitu mulia dan agungnya bulan ini sehingga kita tidak diperkenankan menyebut ‘Ramadhan’ tanpa kata “bulan.” Disebutkan dalam sebagian riwayat Imam Muhammad Al-Baqir as bersabda: “Janganlah engkau mengatakan, ‘Ini Ramadhan’, ‘Ramadhan telah pergi’, ‘Ramadhan telah datang’... Akan tetapi, ucapkanlah “(Ini) bulan Ramadhan”, bulan Ramadhan (telah pergi)”, bulan Ramadhan (telah datang)...’”. Disebutkan dalam kitab Mîzânul Hikmah, hal. 176, karya Al-Muhammadi Ar-Riy Syahri, Rasulullâh saw bersabda: “Janganlah engkau mengatakan ‘Ramadhan’, karena Ramadhan adalah salah satu nama Allâh Ta’ala, tetapi ucapkanlah, ‘Syahru Ramadhân’ [bulan Ramadhan]”. Ketika bulan Ramadhan tiba, Nabi saw. bersabda: "Subhânallâh! Apa yang akan kalian lakukan terhadap bulan Ramadhan? Dan apa yang akan ia (bulan Ramadhan) perbuat terhadap kalian”.

            Syaikh Shadûq meriwayatkan bahwa ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah saww membebaskan setiap tawanan dan memenuhi setiap peminta.

            Syaikh Abbas berkata, "Bulan Ramadhan adalah bulan Allah, Tuhan semesta alam dan bulan yang paling mulia. Di dalam bulan itu, pintu-pintu langit, surga, dan rahmat dibuka sedangkan pintu-pintu neraka ditutup. Juga di malam-malamnya yang apabila seseorang melakukan ibadah itu lebih baik daripada ibadah seribu bulan. Oleh karena itu, renungkanlah bagaimana kita akan menjalani malam-malam dan hari-harinya, dan bagaimana kita akan menjaga anggota badan kita dari bermaksiat kepada Tuhan kita. Jangan sampai kita tidur lelap di malam harinya dan melupakan Allah di siang harinya. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa di akhir setiap hari selama bulan Ramadhan ketika saat berbuka puasa tiba, Allah 'azza wa jalla akan membebaskan ribuan orang dari api neraka; pabila malam dan siang hari Jumat tiba, pada setiap saatnya Allah membebaskan ribuan orang yang mestinya mendapatkan siksa api neraka; dan di malam dan siang terakhir bulan Ramadhan, Allah akan membebaskan sebanyak orang yang dibebaskan di bulan itu. Oleh karena itu, wahai saudaraku, jangan sampai bulan Ramadhan berlalu sedangkan dosa-dosa masih belum diampuni, dan ketika orang-orang yang berpuasa menerima pahala, kita malah termasuk di antara orang-orang yang merugi. Dekatkanlah diri kita kepada Allah swt dengan membaca al-Quran pada malam dan siang harinya, mengerjakan shalat, dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah, mengerjakan shalat di waktu fadhilahnya, memperbanyak istighfar dan doa.
            Diriwayatkan dari Imam Shâdiq as berkata, 'Barangsiapa tidak diampuni (dosanya) di bulan Ramadhan, maka ia tidak akan diampuni hingga tahun depan kecuali jika ia menghadiri Arafah di musim Haji'.
            Hindarkan diri kita dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah; dan tidak berbuka puasa dengan makanan haram. Tetapi berperilakulah sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh Imam Shâdiq as. berkata, 'Ketika engkau berpuasa, hendaknya telinga, mata, rambut, kulit, dan seluruh anggota badanmu juga berpuasa'. Yaitu, mencegah diri dari hal-hal yang diharamkan, bahkan dari hal yang makruh. Beliau juga berkata, 'Jangan sampai hari berpuasamu seperti saat berbuka puasamu.’ Beliau juga berkata, 'Berpuasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Bahkan, di siang harinya jagalah lidah kalian dari berkata bohong! Hindarkan pandangan kalian dari hal-hal yang haram! Jangan bertikai dengan sesama! Jauhkan rasa iri hati! Janganlah menggunjing, berdebat! Janganlah bersumpah bohong, bahkan jangan pula bersumpah benar! Janganlah mencerca, mengejek, berbuat zalim, dan bertindak gegabah! Hendaklah berlapang dada! Hendaklah selalu mengingat Allah dan waktu shalat! Jangan membicarakan apa pun yang tidak pantas dibicarakan! Hendaklah bersikap sabar dan jujur! Jauhilah orang-orang jahat! Hindarilah perkataan jelek, berdusta, bermusuhan dengan manusia, berprasangka jelek, menggunjing, dan mengadu-domba! Yakinlah bahwa kalian telah mendekati akhirat! Tunggulah kemunculan al-Qâ`im, keluarga Muhammad, harapkanlah pahala akhirat, dan persiapkanlah bekal amal saleh untuk perjalanan akhirat! Tenangkanlah hati kalian, anggota tubuh kalian! Bersikaplah rendah hati, khusyu', dan hina seperti seorang hamba yang takut kepada tuannya! Takutlah akan siksa Allah! Berharaplah akan rahmat-Nya! Sucikanlah hati kalian dari cela dan batin kalian dari tipu-daya dan makar! Bersihkanlah badan kalian dari segala kotoran! Bebaskan diri kalian dari selain Allah, dan ketika berpuasa, murnikanlah wilâyah kalian hanya untuk-Nya! Janganlah kalian lakukan apa yang Allah telah melarang kalian untuk melakukannya, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi! Takutlah kepada Allah Yang Maha Mengalahkan atas apa yang pantas bagi-Nya untuk ditakuti, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi! Hadiahkanlah ruh dan badan kalian kepada Allah 'azza wa jalla di hari-hari puasa kalian ini! Kosongkan hati kalian hanya demi kecintaan kepada-Nya dan mengingat-Nya, dan gunakan tubuh kalian untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepada kalian. Jika kalian telah melakukan semua itu, berarti kalian telah melaksanakan apa yang layak bagi kewajiban puasa dan menaati perintah-perintah Allah! Dan jika kalian lengah dalam melakukan apa yang telah kujelaskan itu, maka keutamaan dan pahala kalian akan berkurang sekadar kelengahan yang telah kalian perbuat. Sesungguhnya ayahku as berkata, 'Rasulullah saww pernah mendengar seorang wanita yang tengah puasa mencerca sahayanya. Kemudian beliau meminta makanan dan berkata kepada wanita itu, 'Makanlah!' 'Saya sedang berpuasa', jawabnya. Beliau bersabda, 'Bagaimana mungkin engkau berpuasa sedangkan saat yang sama engkau telah mencerca sahayamu! Sesungguhnya berpuasa itu bukan hanya menahan dari makan dan minum. Tetapi Allah telah menjadikan puasa (yakni, menahan dari makan dan minum) sebagai tabir dari berperilaku buruk dan berucap kotor. Alangkah sedikitnya orang-orang yang bbenar-benar berpuasa dan begitu banyak orang yang hanya merasakan lapar (dan dahaga).'
Amirul Mukminin as berkata, 'Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari nialai puasanya kecuali hanya menahan rasa haus. Dan berapa banyak orang yang beribadah yang tidak mendapatkan nilai ibadahnya kecuali kepenatan. Sungguh, tidurnya orang berakal (nalar) lebih utama daripada ibadahnya orang dungu.’
Telah diriwayatkan dari Jabir bin Yazid, dari Imam Muhammad al-Bâqir as bahwa Rasulullah saww bersabda kepada Jabir bin Abdillah, 'Wahai Jabir, ini adalah bulan Ramadhan. Barangsiapa berpuasa di siang harinya, beribadah di sebagian malamnya, mencegah perut dan kemaluannya, dan menjaga mulutnya (dari hal-hal yang telah diharamkan), ia akan keluar dari dosa-dosanya sebagaimana ia keluar dari bulan ini.’ Jabir berkta, 'Alangkah bagusnya sabda Anda!’ Rasulullah saww menjawab, 'Alangkah beratnya persyaratan yang telah kusebutkan itu'.

Friday, 25 May 2018

DS047-KHADIJAH MENGHADAP ALLAH DENGAN DUA LEMBAR KAFAN


Semua kaum muslimin sepakat bahwa keberadaan Ummulmukminin Khadijah ra. memberikan pengaruh yang besar bagi keberhasilan dan kesinambungan dakwah Rasulullah saw. dalam menyerukan suara Islam di kalangan masyarakat Jahiliyah melakukan banyak intimidasi dan embargo di segala aspek kehidupan beliau. 
Selain Abu Thalib, sang paman, Nabi Muhammad selalu mendapatkan dukungan spirit dan materiel dari sosol wanita tangguh ini, sehingga kepergian Khadijah merupakan salah satu dari ahzan (peristiwa-peristiwa yang menyedihkan) dalam kehidupan Rasulullah saw.

Dalam posting singkat ini. saya ingin mengangkat sebuah potongan kisah memilukan yang menggambarkan betapa Rasulullah saw. sangat mencintai Khadijah hingga akhir hayatnya dan demikian sebaliknya. Riwayat ini juga memberikan gambaran betapa wanita mulia ini memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya.

Ketika sakit Khadijah ra. semakin parah, ia berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, mohon dengarkan beberapa wasiatku ini :

1. Aku tahu bahwa aku telah lalai melakukan kewajibanku terhadapmu maka maafkan aku, wahai Rasulullah!
Rasul segera berkat: Sama sekali tidak, engkau tidak pernah lalai, engkau selalu pada puncak perjuangan, engkau telah teramat kuletihkan di rumahku, hartamu telah kau hasbiskan di jalan Allah

2. Aku berwasiat akan ini (sambil mengisyaratkan ke arah Fatimah) karena ia akan menjadi yatim dan terasing sepeninggalku. Jangan ada seorangpun dari wanita Quraisy yang menyakitinya, jangan sampai ada diantara mereka yang menamparnya, jangan sampai ada diantara mereka yang berteriak di depannya dan jangan ada yang menampakkan keburukan kepadanya!

3. Sesungguhnya aku takut terhadap alam kubur, maka aku ingin kau berikan jubahmu yang kau kenakan saat wahyu turun kepadamu dan kafani aku dengannya!

Maka Nabi segera meletakkan jubah beliau pada Khadijah dan nampak ia merasa sangat bahagia.

Setelah Khadijah wafat, Rasulullah memandikan dan merawat jenazahnya. Ketika Nabi hendak mengkafani dengan jubahnya sebagaimana diwasiatkan, tiba-tiba Jibril turun seraya berkata: 

Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah menyampaikan salam keagungan bagimu seraya berfirman: "Wahai Muhammad, sesungguhnya kafan Khadijah adalah urusan Kami karena ia telah korbankan hartanya di jalan Kami!"

Maka Jibril datang dengan membawa kafan seraya berkata: Wahai Rasulullah, inilah kafan Khadijah. Ini salah satu dari kafan-kafan surga yang dihadiahkan Allah kepadanya.

Maka Rasulullah mengkafani Khadijah dengan jubahnya dilanjutkan dengan kafan surgawi itu. Maka Khadijah menghadap Allah dengan mengenakan dua helai kafan.

(malam 10 Ramadhan, memperingati wafat Ummulmukminin Khadijah Al Kubra ra.)

Wednesday, 16 May 2018

DS046-PASCA GAGALNYA TAUBAT (BAG.2-SELESAI)


Kesadaran akan kekurangannya, pada gilirannya, akan melahirkan kesadaran bahwa ia harus memperpendek jarak dengan Allah, mengingat selama ini ia tidak merasakan keagungan-Nya dikarenakan ia menciptakan jarak dari-Nya. Pada saat yang sama, ia meyakini bahwa kekurangan menjadikannya merasa tidak mampu mencapai kedekatan itu dengan usahanya sendiri. Ia harus mencari cara agar mencapai kedekatan itu dengan segala kekurangannya dan kesempurnaan Tuhan. Saat itu, mencari perantara dan penghubung menuju kepada-Nya adalah sebuah keniscayaan. Ia harus selektif dalam mencari penghubung yang benar-benar mengantarkannya pada tujuan itu. Wasilah (penghubung) itu haruslah pihak yang dipilih oleh Allah berkat fadhilah (keutamaan) hingga ia mencapai kedudukan termulianya di sisi Allah hingga mendapat mandat untuk menjadi penghubung antara langit dan bumi. Perantara dan penghubung itu benar-benar menjadi perwakilan Allah untuk menyampaikan titah-Nya sehingga ia terjaga dari segala kesalahan dan kekeliruan demi terjaganya syariat-Nya. Dengan kata lain, ketaatan kepadanya adalah mutlak ketaatan kepada Allah. Sebagaimana telah difirmankan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Kemutlakan ketaatan kepada sang penghubung semakin terjamin kemutlakannya tatkala Allah menjadikannya wakil tidak hanya secara tasyri’i tapi juga secara takwini, sebagaimana difirmankan:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ 

Dan tiadalah ia berbicara karena dorongan hawa (nafsu) karena semua yang ia sampaikan adalah wahyu semata  (Q.S. An Najm: 3-4)

Lebih dari itu, Allah menjadikan ketaatan kepadanya sebagai bukti kecintaan manusia kepada-Nya yang akan melahirkan kasih sayang-Nya. Lihatlah bagaimana Allah berfirman kepada Nabi Muhammad saw.:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ 

Katakanlah  (wahai Muhammad): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali Imran)
Dari beberapa ayat diatas menjadi jelas bahwa Rasulullah, Muhammad saw. adalah sang penghubung itu. Dialah yang menjadikan manusia mampu mencapai kedekatan dengan Allah setelah kegagalan yang meyakinkan dalam menembus regulasi pengabulan taubat sebagaimana tersebut dalan surat An Nisa: 17-18). Dialah jalur kasih sayang Allah yang akan menyelamatkan manusia yang tangannya terlalu ‘pendek’ untuk menggapai keselamatan dari akibat dosa-dosanya. Bukankah untuk tujuan itu Nabi Muhammad saw. diutus sehingga ia dijuluki nabiy ar rahmah (nabi kasih sayang)?. Bukankah dalam hal ini Allah telah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al Anbiya: 107)

Kasih sayang mana yang lebih besar jika dibanding keselamatan makhluk di alam semesta dari murka Allah akibat kemungkaran dan dosa-dosa tak terampuni?
Semua itu menyadarkan kita betapa kita membutuhkan Nabi Muhammad sebagai juru selamat yang setiap ketaatan kepadanya akan melahirkan kasih sayang Allah dan menjadi kunci terbebasnya kita dari dosa-dosa yang akan menjatuhkan kita ke jurang kehancuran.
Bahkan ayat lain menjelaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah adalah pintu taubat karena taubat kita akan diterima setelah Rasulullah memohonkan ampun untuk kita. Hal itu membuktikan bahwa tawassul taubat merupakan sunnah yang berlangsung sejak jaman kenabian:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka menganiaya diri (berbuat dosa), mere datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. An Nisa:64)

Yang menarik dalam hal ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan:
“Saat para pendosa dan palaku maksiat terjerumus, Allah menuntun mereka untuk mendatangi Rasulullah saw. dan bertaubat di sisinya dan meminta agar Nabi memohonkan ampun untuk mereka. Karena jika mereka melakukan itu maka Allah akan menerima taubatnya, mengampuni dan menyayangi mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Selanjutnya Ibnu Katsir berkata:
“Sekelompok orang, termasuk Syeikh Abu Nashir bin Shibagh dalam kitabnya Asy Syamil, telah menyebutkan sebuah riwayat yang cukup masyhur dari Al ‘Uthbi yang berkata: “Suatu hari aku duduk di samping makam Rasulullah hingga datanglah seorang a’rabi (orang arab dari desa) yang mendekati makam suci dan berkata: “Salam bagimu wahai Rasulullah, aku telah mendengar firman Allah: Sesungguhnya jikalau mereka menganiaya diri (berbuat dosa), mere datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Karenanya, sekarang aku datang kepadamu memohon ampunan Tuhanku atas dosaku dengan syafaatmu”. Kemudian ia melantunkan beberapa bait syairnya:

يا خير من دفنت بالقاع أعظمه  
فطاب من طيبهن القاع والأكم
نفسي الفداء لقبر أنت ساكنه
فيه العفاف وفيه الجود والكرم

Wahai manusia terbaik dan teragung yang dikuburkan di tanah ini,
hingga tanah dan pasirnya menjadi harum karenanya
jiwaku siap menjadi tebusan bagi kubur dimana engkau berada
disanalah kehormatan, kemurahan dan kemuliaan

Kemudian a’rabi itu beranjak dari tempat itu dan aku masih terpukau dengan apa yang dilakukannya. Malam harinya aku bermimpi bertemu dengan Nabi dan beliau berkata: “Wahai ‘Uthbi, benar apa yang dilakukan a’rabi itu. Sampaikan berita gembira bahwa ia telah diampuni dan sesungguhnya dia akan menyertaiku di surga.
Semoga syafaat Nabi Muhammad dan Ahlul Bait as. akan menyelamatkan kita dari akibat dosa-dosa kita yang melahirkan kemurkaan Allah.


Monday, 14 May 2018

DS045-PASCA GAGALNYA TAUBAT (BAG.1) :


Taubat, makrifat manusia akan dirinya

Kita diajarkan untuk memulai setiap pekerjaan kita dengan menyebut nama Allah yang berdimensi jamalaiyah yaitu rahman dan Rahim yang sekaligus merupakan ta’awudz (perlindungan) dari murka dan azabnya. Dalam kalimat itu kita berharap agar Allah memperlakukan kita (dalam segala keadaan) dengan dimensi kasih sayang yang melampaui dimensi keadilan. Dalam doa Jausyan Kabir (sebagai doa yang berisikan seruan-seruan dengan nama-nama mulia-Nya), misalnya, banyak kita temukan ajaran seruan yang menguatkan hakikat ini, seperti ya man laa yukhafu illa ‘adluh ! (wahai yang tidak ditakuti kecuali keadilan-Nya), ya man sabaqat rahmatuhu ghadhabah ! (wahai yang kasih-Nya selalu mendahului murka-Nya), ya man laa yurja illa fadhluh ! (wahai yang tidak diharapkan kecuali kemurahan-Nya) dan sebagainya. Tentunya asma-Nya yang lain yang berdimensi jalaliyah seperti ya qawiy, ya mutakabbir, ya jalil dan sebagainya.
Dalam interaksi dengan Allah, memang tidak salah jika kita selalu mengedepankan pandangan bahwa Dialah Dzat yang pengasih dan penuh maaf. Selain karena memang begitulah hakikat salah satu dimensi wujud-Nya, hal itu pula yang menjadikan hidup kita senantiasa dipenuhi dengan harapan akan keselamatan bahkan setelah kesalahan-kesalahan yang menimbulkan murka.
Namun demikian pandangan dari sisi jamaliyah saja seringkali menjerumuskan kita ke dalam lembah ‘tak tahu diri’. Maksudnya, kelalaian manusia sebagai hamba terhadap dimensi kekurangannya seringkali menjadikannya kehilangan etika saat melakukan interaksi dengan Sang Pencipta. Kita selalu melihat doa sebagai ajang permohonan dan permintaan yang tak terbatas dengan hanya mengingat bahwasannya Allah maha kaya lagi maha memberi. Kondisi ini membuat kita kehilangan kesadaran akan segala bentuk kekurangan dan kelalaian dalam penghambaan, padahal semua itu sangat mempengaruhi ijabah bagi setiap panjatan doa kita. Lebih dari itu, kesadaraan diri itulah yang menjadi kunci kwalitas penghambaan kita kepada Allah. Bukankah dalam hadits disebutkan bahwa barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya. Hal ini sejalan dengan sabda Imam Ali: Allah akan menyayangi orang yang tahu dirinya berasal darimana, sedang berada di mana dan akan menuju kemana”.
Taubat yang benar adalah taubat yang berlandaskan kesadaran akan kekurangan kita yang menumbuhkan kepasrahan diri akan kemutlakan Tuhan dalam segala keadaan. Tanpa hal itu, tidak menutup kemungkinan bahwa setiap lantunan doa kita hanya akan menjadi wujud kemunafikan hati dalam berinteraksi dengan Yang Maha Tahu.

Taubat, regulasi syariat yang teramat berat

Al Quran adalah kitab Allah yang disepakati secara mutawatir dan meyakinkan bahwa hukum-hukumnya mewakili hukum-hukum yang dikehendaki Allah. Barangsiapa yang menyimpang darinya maka ia telah menyimpang dari kebenaran. Bahkan Ahlul Bait as. telah berpesan agar setiap perselisihan masalah dirujuk kepada hadits (riwayat) para perawi hadits mereka selama tidak bertentangan yang jelas dengan muhkamat Al Quran dan jika sampai terjadi pertentangan dengan Al Quran maka hendaklah riwayat tersebut dicampakkan jauh-jauh. Dari ilustrasi diatas, kita mendapatkan gambaran bahwa Al Quran, sebagai kitab samawi, harus menjadi acuan dalam setiap aktifitas kita, baik hablun minallah (ibadah) maupun hablun minannas (mu’amalah).
Dalam bagian ini kita akan membicarakan taubat dalam regulasi syariat sebagaimana yang termaktub dalam Al Quran agar kita mengetahui betapa pertaubatan merupakan perkara sakral dan membutuhkan usaha maksimal dan tak kenal lelah. Seandainya setiap orang tahu sulitnya mendapatkan pengabulan taubat niscaya ia tidak akan pernah melakukan dosa dan pelanggaran. Dalam surat An Nisa:17-18 Allah menjelaskan hakikat taubat yang akan membuat kita terhenyak saat mengetahuinya karena dengannya kita tahu betapa taubat kita nyaris mustahil diterima dengan regulasi yang termaktub dalam ayat tersebut.
Allah berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Sesungguhnya taubat itu hanya kepada Allah dan berlaku bagi orang-orang yang melakukan sebuah keburukan, karena ketidaktahuan serta bertaubat dengan segera.  Merkalah yang akan diterima taubatnya oleh Allah dan Allah maha tahu lagi maha bijaksana.
Dan tidak termasuk taubat bagi orang-orang yang melakukan banyak keburukan hingga ajal mendatangi salah seorang diantara mereka dan saat itu ia berkata: “Aku bertaubat sekarang!” demikian juga tidak berlaku bagi orang-orang yang mati dalam kekafiran. Kami telah menyedikan siksa yang pedih bagi mereka. (Q.S. An Nisa: 17-18)

Jika kita perhatikan, kedua ayat diatas menjelaskan regulasi yang harus dijalani pendosa dan syarat-syarat yang harus terpenuhi untuk mencapai pengampunan:
1.      Taubat berlaku bagi satu dosa (as-suu-u) dan bukan pengulangan dosa-dosa (as sayyi-aat)
2.      Taubat berlaku bagi dosa yang dilakukan akibat ketidaktahuan (bijahaalatin) bukan yang dilakukan dengan kesadaran dan pengetahuan.
3.      Taubat hanya diterima jika segera dilakukan (min qariibin) bukan yang dilambat-lambatkan, bahkan hingga ajal menjemput baru bertaubat (inni tubtul aana)
Dengan regulasi yang termaktub dalam kedua ayat suci diatas, masihkah kita yakin bahwa taubat kita akan diterima Allah?, apakah hanya satu dosa kemudian kita bertaubat atau banyak dosa kita kumpulkan dan baru setelah itu kita bertaubat?, apakah dosa yang kita lakukan merupakan akibat ketidaktahuan atau kesengajaan yang diremehkan?, apakah kita segera bertaubat setelah melakukan dosa atau melambat-lambatkan taubat kita?.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita semakin yakin bahwa mustahil bagi kita untuk mendapatkan pengabulan atas taubat kita.
Pada titik inilah kita sampai pada kondisi putus asa dan hanya mampu mengatakan: Ilahi fa kaifa lii (wahai Tuhanku, bagaimana dengan nasibku)?. Pada kondisi inilah kita hanya bisa pasrah dan berserah kepada keputusan-Nya yang bisa kita prediksikan hasilnya.

Mencari celah di luar regulasi

Keputusasaan akan pengabulan pertaubatan kita inilah yang pada akhirnya melahirkan rintihan bernuansa harapan akan sesuatu di luar regulasi tersebut yang akan menyelamatkan kita. Harapan itu terwakili oleh seruan kita dalam salah satu bagian doa Jausyan Kabir, ya man laa yurja illa fadhluh, ya man laa yukhafu illa ‘adluh (wahai yang tiada diharapkan selain kemurahan-Nya, wahai yang tiada ditakuti selain keadilan-Nya!)
Kepasrahan membuat kita sadar akan hakikat lain yang sangat lekat dengan dimensi kelembutan Allah. Sebuah dimensi dengan aura yang memberikan secercah harapan baru pasca kegagalan kita melalui regulasi pertaubatan yang sangat, bahkan mustahil, untuk kita penuhi persyaratannya. Dimensi itu adalah dimensi rahmat (kasih sayang) yang merupakan salah satu dimensi jamaliyah Allah.
Dalam hal ini kita berusaha untuk melakukan segala sesuatu yang menumbuhkan kasih dan sayang Allah kepada kita dengan mengidentifikasi hal-hal yang dicintai Allah dan membedakannya dengan perkara-perkara yang menimbulkan murka-Nya.
Dalam keadaan seperti ini kita mengakui segala kekurangan dan kelemahan kita hingga kita mampu merasakan keagungan-Nya. Hal itu tidak lepas dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang menilai segala sesuatu dengan kacamata relatif, dimana ia menilai besar kecilnya sesuatu setelah membandingkannya dengan sesuatu yang lain.
Dalam hal ini, manusia juga membandingkan antara diri dan Tuhannya. Semakin ia merasakan kehinaan dan kekurangan dirinya maka ia akan segera merasa betapa agung dan sempurna Tuhannya. Demikian sebaliknya, saat ia merasa dirinya agung dan sempurna maka ia sedang menganggap Tuhan tidak sebagaimana mestinya. Barangkali itulah maksud dari hadits bahwa barangsiapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.
Jadi kasih sayang Allah akan diraih oleh manusia yang memahami posisi wujudnya dan berusaha bersandar kepada wujud paling sempurna dengan merasakan keagungan-Nya dalam diri hingga iapun merasa hinda dan tidak memiliki apa-apa, laa haula walaa quwwata illa billahi…..

Bersambung.....