Followers

Saturday, 15 February 2020

DS052-SIMBOLISASI ISLAMISME



Sakralisasi Palsu

Diakui atau tidak, di sekitar kita telah muncul gejala kolektif berupa penggiringan massa menuju fanatisme agama dengan mengangkat isu sensitif sehubungan dengan sentimen agama yang sangat berpotensi memecah belah masyarakat.
Agama sebagai ajaran kasih sayang, mulai diubah menjadi mesin penghancur efektif bagi kedamaian persatuan dalam bingkai kebhinekaan di nusantara ini. 
Gejala yang paling jelas adalah usaha membangun sebuah ilustrasi tentang sakralitas agama yang dirasa mampu menjadi komuditas paling menguntungkan bagi sekelompok orang demi mencapai tujuan non agamis mereka.
Sakralisasi agama adalah menjadikan setiap perkara yang tidak berhubungan dengan agama sebagai bagian agama. Perkara-perkara itu sengaja disakralkan meski belum jelas statusnya demi menciptakan ketaatan buta terhadap kesakralan palsu itu. 
Dalam Islam kita mengenalnya dengan gerakan islamisme sebagai lawan dari gerakan islami. 
Islamisme mengajarkan agar penganutnya selalu menonjolkan simbol-simbol yang diidentikan dengan nilai-nilai Islam. Diidentikkan artinya simbol-simbol itu belum tentu simbol-simbol agama. Boleh jadi simbol-simbol itu tidak mewakili Islam tapi mewakili sebuah kultur tertentu yang dalam hal ini adalah budaya Arab, jazirah dimana Islam pertama didakwahkan.
Islamisme dibangun untuk mendapatkan ketaatan mutlak masyarakat terhadap gerakan ini. 

Bukankah manusia-manusia malang yang meledakkan dirinya atas nama jihad Islam telah menjadi bukti akan hal itu?

Bahaya bagi kesucian agama dan keutuhan persatuan bangsa semakin jelas ketika gerakan ini mengklaim dirinya sebagai pemilik otoritas kebenaran Tuhan sehingga muncullah gagasan pembentukan negara agama yang sering kita dengar sebagai negara khilafah. Didukung oleh kelompok-kelompok berhaluan radikal di Indonesia, gagasan ini disebarkan secara masif, apalagi disinyalir bahwa beberapa negara kaya di Timur Tengah menjadi supporter aktif dalam skenario besar ini.

Dengan congkaknya, gerakan ini menganggap siapapun yang berseberangan dengannya adalah musuh Tuhan dan harus dibumihanguskan. Dalam kontek keseharian, gerakan ini menyatakan dirinya sebagai Ahlussunnah dalam arti kata : Selain mereka adalah ahli bid'ah. Pada hakikatnya, gerakan yang sangat kental dengan nuansa wahabisme ini tidak pernah melihat agama kecuali sebagai alat pemenuhan tendensi politis demi mengoyak persatuan kaum agama terutama kaum muslimin. Mereka yakin bahwa menghancurkan Indonesia dengan keindonesiaan kita tidak akan pernah mampu mereka lakukan, maka mereka ciptakan taktik 'self destruction' agar kaum beragama saling menghancurkan dan melancarkan usaha kaum imperialis internasional untuk berkuasa. 
Demi mencapai tujuan 'kontra agama', mereka yang  lebih tepat disebut gerombolan itu, telah berhasil memanfaatkan agama sebagai tongkat sakti yang mengalahkan akal dan mengelabui nurani. 
Mereka memanfaatkan sentimen agama karena gerakan mereka berlandaskan argumentasi sangat lemah dan penyimpangan pemaknaan teks langit. 

Gerombolan berciri radikalitas yang berkedok agama ini berusaha mengarahkan agama menuju pemenuhan tendensi syahwat kekuasaan dan gelimang duniawi. Mereka gemar mencuci otak kaum awam dan menyisir kaum kecewa di negeri dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam ini dengan simbol, slogan dan jargon agama yang sangat kental dan bernuansa fanatis.

Konsep-konsep mereka diakui telah berhasil menyisir ranah otak-otak awam nan polos, menyajikan fantasi dengan gambaran surgawi semu yang tidak lain adalah syahwat syaitaniyah, Asy Syaithan fi jisman al insi (Syetan berujud manusia). Lihatlah beberapa waktu yang lalu telah terjadi bom bunuh diri dengan mengatasnamakan agama. Pelaku adalah manusia lugu yang berhasil dicuci otaknya dan berubah menjadi mesin jihad yang tidak pernah memiliki alasan yang jelas akan tindakannya selain mendapatkan janji akan kenikmatan surgawi karena dalam kehidupan ia merasa dikecewakan oleh keadaan.

Gerombolan ini memanfaatkan kekecewaan masyarakat terhadap keadaan yang dihadapi sebagian orang meski sudah jelas bahwa semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan agama apalagi mendirikan negara agama. Kelompok ini selalu menghembuskan kebencian di hati pengikutnya terhadap rival-rivalnya.

Secara pribadi, saya khawatir jika nusantara ini hendak dijadikan sebagai negara Islam dengan segala kemajemukan masyarakat Islam Indonesia dan budayanya. Bayangkan jika suatu saat ada pemilihan presiden, misalnya, maka wacana yang akan muncul adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermutu semisal: "Dari mazhab apakah presiden kita..?", "Apakah president kita NU atau Muhammadiyah...?". 

Dalam sebuah channel YouTube seorang viewer mempertanyakan video ceramah seorang ustadz: "Mengapa pak kyainya kok nggak pakai kopiah?, ini NU apa bukan ya? , Waduh...!

Mengulas Simbolisasi Islamisme

Gerakan Islamisme selalu berusaha menjadikan simbol-simbol keislaman sebagai penanda bagi ketaatan mereka terhadap syariat Islam. Tentunya saja yang dimaksud adalah syariat Islam menurut kaca mata islamisme dan sakralisasi budaya Arab. Berikut beberapa simbol yang mulai banyak kita saksikan akhir-akhir ini:

1. Kalimat Thayyibah

Kalimat Thayyibah, adalah zikir-zikir suci dimana didalamnya disebut keagungan Allah baik sebagai wujud syukur atas nikmat atau permohonan perlindungan dari bala dan mara bahaya.
Artinya, tidak ada yang salah dengan hal ini bahkan men-dawam-kan lisan dengan sebutan kalimat thayyibah sangat dianjurkan. 
Yang jadi masalah adalah ketika lafadz-lafadz suci itu menjadi pembenaran atas tindakan takfir (men-kafir-kan) atas pihak lain yang dianggap berseberangan. Dalam benak saya, dulu kalau mendengar takbir dikumandangkan, terasa benar keagungan Allah dalam salah satu kalimah thayyibah tersebut. Tapi sekarang kalimat itu berubah menjadi menyeramkan setelah sering diteriakkan oleh kelompok-kelompok intoleran dan radikal saat melakukan penggusuran tempat karaoke atau penggrebekan tempat-tempat ibadah agama lain yang dianggap kafir dan halal darah mereka.
Dengan kata lain, mereka berhasil merubah kalimat thayyibah menjadi simbol teror yang menakutkan karena anarkisme telah disakralkan. 
Menariknya, kalimat Thayyibah itu diucapkan dalam bahasa Arab dengan kefasihan tingkat dewa, meski terkesan berlebihan, sehingga membuai otak-otak awam dan jiwa-jiwa kecewa yang menganggapnya sakral dan merupakan simbol keberpihakan kepada agama Tuhan yang selama ini 'teraniaya'. 
Lebih ironis ketika kalimat-kalimat suci yang mereka serukan adalah suara tanpa makna karena sebagian mereka memang tidak memahami maknanya. Al Quran menyebutkan suara-suara itu sebatas koakan burung gagak yang tidak terdengar selain suara-suara tanpa makna.
Mereka juga gemar menggunakan istilah-istilah Arab dalam pergaulan sehari-hari seperti kata antum sebagai pengganti kata anda, kata ana sebagai pengganti kata saya dan seterusnya. 

Saat jadi ingat sebuah pengalaman yang saya alami sendiri. Saat pertama kali datang di sebuah negara Timur Tengah, saya mendengar siaran radio Montecarlo yang berbahasa Arab. Saya mendengar dengan manggut-manggut dan terkesima dengan kalimat thayyibah dalam bahasa Arab fasih yang diucapkan penyiar. Belakangan saya baru tahu bahwa acara tersebut adalah mimbar agama kristiani dalam bahasa Arab. Mungkin kalau di Indonesia mudah dibedakan  antara kalimah thayyibah yang identik dengan Islam dan pujian-pujian umat Kristiani. Tapi lain halnya jika terjadi pada masyarakat berbahasa Arab. Orang Kristen Indonesia bersyukur dengan mengucap: Puji Tuhan, Terpujilah nama-Nya dan sebagainya, tapi orang Kristen di Arab mengucap: Alhamdulillah dengan lafadz yang tentunya lebih fasih dari muslim di Indonesia sekalipun.

Mereka merasa telah menegakkan nilai islami padahal mereka terjebak dalam lubang Arab Centris. Beda jauh antara Arabi dan Islami.   

2. Pakaian Syar'i

Cara berpakaian juga harus disesuaikan dengan pemikiran mereka. Bukan rahasia lagi bahwa mereka menganggap cara berpakaian masyarakat yang berangkat dari kultur/budaya lokal sebagai pakaian tidak syar'i bahkan sebagian cara berbusana sebagai bentuk tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang-orang kafir) atau apapun istilahnya. Hal ini mencakup pemilihan warna dan corak kainnya.
Selanjutnya, mereka mengadopsi cara berbusana syar'i dari kultur Arab dimana Rasulullah saw. hidup dan menyampaikan risalah langit. Mereka beranggapan bahwa dengan berpakaian ala 101 malam mereka telah melaksanakan tuntunan dan terhindar dari bid'ah dalam berbusana. Kita bisa saksikan bagaimana mereka memakai sorban, jubah atau jilbab bercadar bagi kaum perempuan. Kita tidak bermasalah dengan cara berpakaian orang lain, karena itu semua adalah hak individual selama tidak mengusik privasi orang lain. Namun menjadi masalah ketika mereka menganggap budaya berpakaian di nusantara ini sebagai budaya jahiliyah dan harus diislamkan atau dengan kata lain diberi hidayah. 

Benarkah pakaian lokal tidak islami?

Mari kita belajar tentang kearifan lokal yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Ajaran Islam yang diturunkan bagi manusia membawa 2 misi penting yaitu ilahiyah (ketuhanan) dan insaniyah (kemanusiaan).
Ilahiyah diwujudkan dengan menjalin hablun minallah (hubungan hamba dengan Tuhannya) sedang insaniyah diwujudkan dalam bentuk hablun minannas (hubungan manusia dengan sesama).
Islam tidak mengusung misi pemberantasan nilai-nila lokal bahkan Islam menganggap keanekaragaman budaya adalah sunnatullah yang harus disyukuri. Islam datang sebagai kasih sayang bagi seluruh isi alam.
Toleransi dalam perbedaan merupakan hal yang dijunjung tinggi dalam Islam. Bahkan ayat masyhur yang sering kita dengar: lakum diinukum wa liya diin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) adalah ayat yang kental nuansa toleransi dengan saling menjaga wilayah privasi masing-masing.
Bukankah Nabi saw. bersabda bahwa ikhtilaf (perbedaan) umat ini merupakan bentuk kasih sayang Allah hingga salah seorang ulama Tunisia, Syeikh Tijani Samawi pernah mengatakan: "Jika perbedaan mereka adalah rahmat (kasih sayang) maka memaksa untuk menjadi satu pastilah akan melahirkan niqmat (bencana)".

Sekarang kita bahas pakaian yang dianggap sebagai pakaian syar'i seperti serban, jubah dan berbagai atribut yang secara eksklusif diklaim sebagai cara berpakaian ala Rasulullah saw.

Perlu diketahui bahwa sebelum Rasulullah lahir, masyarakat Arab telah mengenakan pakaian sebagaimana yang dipakai Rasulullah kelak di kemudian hari. Dengan kata lain, Rasulullah mengenakan pakaian masyarakat Arab karena beliau menjunjung tinggi kearifan lokal sehingga beliau mengenakan pakaian yang selama ini menjadi budaya berpakaian kaumnya. Jadi pakaian yang diklaim sebagai pakaian syar'i sejatinya sama dengan yang dipakai masyarakat Arab pada umumnya, bahkan pada jaman jahiliyah sebelum kelahiran Nabi. Sama dengan pakaian yang dipakai oleh Abu Lahab dan Abu Jahal atau masyarakat Arab yang lain.

Mungkin akan lain cerita jika Rasulullah saw. lahir di tanah Jawa atau bumi Sunda...

3. Amar ma'ruf nahi munkar
Saya kira semua sepakat bahwa salah satu sifat umat Muhammad saw. adalah melakukan amar ma'ruf nahi munkar, yaitu mengajak menuju kebaikan dan melawan kemungkaran. Hanya saja berbicara tentang hal ini membutuhkan pendahuluan pemahaman tentang  makna ma'ruf dan makna munkar itu sendiri serta cara  mengidentifikasinya.
Syeikh Ridha Mudhaffar dalam kitab Mantiq Al Mudhaffar mengatakan bahwa sebelum menyelesaikan sebuah permasalahan maka seseorang harus melakukan 2 tindakan pendahuluan penting:

TO BE CONTINUED...


Wednesday, 10 October 2018

SAKINAH002-JANGAN NODAI KEKHALIFAHANKU


Dalam sebuah rumah sederhana hiduplah sepasang suami isteri dengan dua orang anak. Mereka hidup sebagai keluarga muslim yang bahagia mengingat, dalam kesederhanaan itu, mereka masih setia berpegang pada nilai-nilai syariat dan menjaga norma-norma agama Islam.

Sang suami menjalankan kewajiban kekhalifahan keluarga dengan sangat baik dan bertanggungjawab. Semua kebutuhan keluarga berusaha ia cukupi meski tetap dalam kesederhanaan. Kerja keras dan membanting tulang ia lakukan dengan ikhlas hingga kepenatan tubuh tidak begitu terasa. Setiap tetes keringat melahirkan kepuasan batin dan desah napas ia rasakan bagai tasbih syukur atas nikmat. Setiap pulang dari pekerjaannya, ia merasakan kebahagiaan karena pertemuan dengan keluarganya, manusia-manusia tercinta dalam hidupnya. Sambutan seisi anggota keluarga setiap kali ia pulang, terasa sirna segala kepenatan yang digantikan dengan kehangatan keluarga.


Indah rumah tangga semakin lengkap karena sang isteri juga seorang yang sangat bertanggungjawab terhadap kewajibannya, baik sebagai ibu bagi anak-anak atau sebagai pendamping suami. Ia selalu menyambut kedatangan suami tercinta dengan senyum kerinduan serta segelas kopi kesukaan suaminya. Semua pekerjaan rumah tangga ia kerjakan dengan niat khidmat dan ibadah. Ia tahu bahwa Rasul pernah bersabda: "Jijad seorang perempuan adalah mengurus rumah tangga dengan sebaik-baiknya". Riwayat tersebut selalu menciptakan semangat baginya untuk mempersembahkan yang terbaik yang bisa ia lakukan. 

Tidak diragukan lagi, pemandangan surgawi itu disaksikan oleh kedua anak mereka yang merasakan betapa pintu madrasah ruhani telah terbuka di hadapan mereka. Kata-kata petuah tidak lagi dibutuhkan karena pelajaran hidup yang baik telah mengalir di tubuh mereka.
Benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Ayatullah Syahid Mutahhari bahwa kegagalan dakwah dikarena seorang da'i selalu mengandalkan mulut dan telinga, dimana kita bicara dan berharap orang lain mendengarkan dan taat. Padahal dakwah terbaik dilakukan dengan mengandalkan tangan dan mata dimana kita berbuat dan biarkan orang lain menilai.

Sebuah kejadian menarik dan penuh ibrah pernah terjadi pada keluarga sakinah ini, dimana pada suatu ketika, sang isteri pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ia baru ingat ada beberapa barang dapur yang lupa ia sediakan. Sebelum berangkat, ia berpesan pada suami dan anak-anak bahwa ia akan pergi agak lama mengingat banyak barang keperluan dapur yang harus dibeli. Setelah mendapat ijin suami iapun meninggalkan rumah menuju ke pasar.

Sang suami berinisiatif untuk membantu isterinya menyiapkan makanan untuk keluarganya, menggantikan peran isteri sementara waktu. Ia mulai mengambil peralatan dapur dan tidak beberapa lama ia sudah disibukkan dengan kegiatan khas wanita itu. 
Ia mulai dengan memasak air untuk menjadi dasar hidanngan berkuah hari itu. Ia tidak merasa hina dengan pekerjaan itu bahkan ia merasa terhormat bisa mempersembahkan bantuan kepada isteri yang selama ini bersusah payah menyiapkan hidangan yang lezat dan mermacam-macam.
Saat ia sibuk memotong sayur dan lauk, karena air mendidih tak menghasilkan aroma, ia meninggalkan panci diatas kompor terlalu lama hingga air mengering dan panci yang digunakan menjarang air pun gosong menghitam. 

Ia merasa bersalah atas kelalaiannya dan segera meninggalkan rumah itu menuju ke sebuah toko perabot rumah tangga untuk membeli sebuah panci dengan panci yang telah gosong. Ia membeli panci baru agar isterinya tidak mendapati panci kesayangannya hangus dan marah karenanya. 
Ternyata gerak gerik sang ayah disaksikan oleh kedua anaknya yang melihat betapa ayah mereka sangat ketakutan jika isterinya tahu  ia telah menghanguskan panci kesayangannya.

Perlahan kebanggan mereka terhadap kharisma sang ayah mulai memudar. Bukankah seorang kepala rumah tangga harus ditaati dan dihormati baik oleh anak maupun isterinya. Jika seorang khalifah rumah tangga melakukan kesalahan, apalagi dalam bidang yang bukan keahliannya maka kesalahan itu harus dimaklumi dan tetap harus mendapat apresiasi. Tapi mengapa yang merka saksikan malah sebaliknya. Mereka lihat ayah yang seharusnya berwibawa, kini ketakutan hanya karena sebuah panci yang gosong dalam usaha untuk membantu tugas isterinya. 
Gelagat ini disadari oleh sang ayah yang menjadi sorotan tajam anak-anaknya. Ia melihat  jelas raut kekecewaan di wajah mereka.

Nampaknya rasa penasaran akan sikap sang ayah mendorong mereka untuk bertanya:

Anak-anak: Wahai ayah, selama ini ayah kami pandang sebagai khalifah rumah tangga yang tegas dan berwibawa. Kami merasa bangga akan hal itu. Tapi hari ini kami lihat kewubawaan itu hilang setelah kami melihat ayah kebingungan dan khawatir akan dimarahi oleh ibu hanya karena menghanguskan sebuah panci. Bukankah ayah adalah pemimpin di rumah ini?, bukankah panci itu dibeli dengan uang hasil jerih payah ayah?, mengapa ayah begitu takut dan khawatir?

Ayah : Kemarilah wahai anak-anakku, kekhalifahan tidak berhubungan dengan kekuasaan dan wibawa yang melahirkan ketakutan orang, juga tidak berkaitan dengan kekuatan yang menundukkan kaum lemah. Kekhalifahan adalah praktek kebijaksanaan dan kearifan. Bukankah Allah Maha Kuasa tapi tidak memperlakukan hamba-hamba-Nya dengan kekuasaan itu. Dia Yang Kuasa tetap memperlakukan hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang dan ampunan. Jika seorang khalifah melakukan kesalahan maka ia harus menanggung akibatnya bahkan akibat yang kadang lebih berat dari akibat perbuatan serupa yang dilakukan oleh rakyatnya. Itulah kekhalifahan.

Anak-anak: 
Tapi mengapa ayah terlihat begitu ketakutan terhadap kemarahan ibu akibat panci kesayangannya yang hangus karena ayah?, bukankah seorang suami tidak selayaknya takut dimarahi isterinya sebagaimana isteri tidak berhak memarahi suami atas kesalahan yang tak disengaja?

Ayah: 
Justeru karena ia hanya sebuah panci maka ayah menghindari kemarahan ibu kalian.

Anak-anak: 
Maksud ayah?

Ayah: 
Perhatikan baik-baik, yang ayah lakukan adalah salah satu tugas seorang khalifah untuk menjaga diri dari maksiat yang disebabkan masalah kecil yang tidak layak dipermasalahkan.

Ayah memang khawatir jika ibu kalian marah hanya karena sebuah panci. Karena ketika ibu kalian memarahi ayah, maka sebagai khalifah, ayah khawatir kemarahannya akan membangkitkan kemarahan dan ego ayah sebagai khalifah sehingga hilanglah sifat arif dalam diri ayah. Bukankah ayah akan sangat merugi jika kekhalifahan ini ternodai hanya oleh sebuah panci? 
Ingatlah wahai anak-anakku, kelak kalian akan tahu betapa seorang khalifah haruslah memberikan pelayanan dan bukan menguasai, bukankah dalam pepatah Arab dikatakan 'pemimpin sebuah kaum sejatinya adalah pelayan mereka'?
Ingatlah bagaimana Sayyidina Ali as. mengukur cara hidupnya dengan cara hidup anggota masyarakat termiskin, padahal beliau adalah khalifah dan Bait Al Mal ada di tangannya.

Kepemimpinan adalah tanggungjawab bukan kebanggaan dan arogansi                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       

Saturday, 6 October 2018

SAKINAH001-BERHATI-HATILAH MEMBUAT KOMITMEN


Sepasang calon pengantin telah mantab untuk mengucapkan ijab dan qabul. Keduanya telah saling menyayangi dan mencintai dan berjanji akan hidup bersama hingga maut memisahkan keduanya. Prosesi pernikahan berlangsung dengan lancar dan tiada halangan yang mengganggu.

Bulan pertama benar-benar menjadi bulan penuh madu dan mekar bunga seakan tiada kebahagiaan yang setara dengan kebahagiaan keduanya.

Tapi entah mengapa, memasuki bulan kedua suasana tidak lagi sama. Pertengkaran demi pertengkaran selalu mewarnai keluar mereka. Nikmat telah berubah jadi kiamat, cinta berubah menjadi bara dan kini surga berubah menjadi neraka.

Ironisnya, pertengkaran yang hebat sering terjadi hanya terpicu masalah sepele yang tidak layak untuk diperjuangkan dengan adu mulut dan kemarahan.

Sekilas tidak ada yang salah dengan keluarga baru itu mengingat mereka tinggal di rumah yang cukup bagus bahkan cenderung mewah dengan mobil keluarga terparkir di garasinya. Semua itu menunjukkan betapa sang suami memiliki penghasilan yang terbilang mapan selain memiliki rupa yang cukup tampan. Demikian juga dengan sang isteri, wajahnya cantik dan pandai mengurus rumah tangga. 
Siapapun yang melihatnya akan memandang keluarga itu sebagai keluarga sempurna dan ideal.

Yang menarik adalah, dalam setiap pertengkaran selalu terlontar kata-kata: "kamu telah ingkar janji!"

Para tetangga yang selalu mendengar pertengkaran mereka menduga-duga bahwa salah satu atau keduanya pasti melakukan perbuatan selingkuh yang merusak janji suci perkawinan mereka. Namun pada saat yang sama, mereka tidak pernah mendapati bukti tentang hal itu. Sang suami adalah muslim yang cukup menjaga agamanya dengan kebiasaannya shalat di mushallah komplek dan demikian juga sang isteri yang memang seorang ibu rumah tangga yang bertanggung jawab. 
Tetangga juga tidak pernah melihat keduanya menerima tamu lawan jenis dalam rumah di saat pasangannya tidak berada di rumah.

Singkat kata, tidak ada alibi yang menguatkan dugaan liar masyarakat, dalam hal ini ibu-ibu komplek, tentang tindakan asusila yang yang dilakukan keduanya.

Sampai pada suatu saat, pertengkaran memuncak hingga masing-masing menghadirkan anggota keluarga yang dituakan untuk ikut serta menyelesaikan masalah rumah tangga itu. Dari gelagat yang tampak, sepertinya perceraian tidak bisa terelakkan lagi. Pernikahan yang baru seumur jagung itu pun berada di tebing kehancuran. Dua manusia yang saling mencintai sebentar lagi akan menjadi seteru di pengadilan agama. Bunga-bunga kini layu, taman indah pun gersang sudah dan sungai madu cinta kini kering tak lagi mengairi.

Sebelum kedua pihak membawa masalah ini ke pengadilan agama, salah seorang dari mereka mengusulkan agar dilakukan mediasi informal dengan mendatangkan seorang ustadz yang mampu memberikan nasihat sebelum permasalahan ini dibawa ke ranah hukum agama.

Waktu pertemuan dengan sang ustadz pun tiba. Di hadapan ustadz kharismatik itu, kedua orang yang berseteru yang sebelumnya bersatu dalam cinta itu mulai mengisahkan keluhannya. Masing-masing bersemangat dan menggebu untuk mempertahankan kebenaran sendiri. Argumentasi demi argumentasi meluncur bagai anak panah yang berseliweran di hadapan wajah ustadz yang dengan sabar mendengar dan sesekali tersenyum seperti menemukan akar permasalahannya. Ustadz sengaja membiarkan keduanya mengeluarkan semua sumbatan hati yang seakan menemukan penyaluran.

Sampai beberapa saat hingga keduanya kelelahan dan terdiam menunggu fatwa yang, diharapkan, akan mendukungnya.

Setelah suasana hening dan nyaris hanya dengusan nafas dua manusia kelelahan seperti selesai melakukan perjalanan panjang, ustadz berkata:

Setelah aku mendengar semua yang kalian ceritakan, aku mulai memahami apa yang terjadi, Karena itu ijinkan saya bertanya: Apakah kalian saling mencintai sebelum pernikahan?

Hampir serempak, keduanya menjawab: Tidak ada yang menyamai cinta kami.

Ustadz: Apakah masing-masing dari kalian mencintai kebaikan pasangan?

Pasangan : Ya !

Ustadz  : Apakah masing-masing dari kalian telah siap memahami kekurangan pasangan selain kelebihan dan kebaikannya?

Pasangan  :Memang seperti itulah janji kami, untuk mencintai semua yang dimiliki pasangan kami hingga hingga maut memisahkan.

Ustadz : Jika demikian, mengapa bisa terjadi pertengkaran yang nyaris memisahkan hubungan dan ikatan janji kalian?

Pasangan (isteri) : Karena dia mengingkari janjinya!
pasangan (suami) : Tapi dia juga mengingkari janji yang sama! 

Keadaan mulai memanas seakan dua tanduk kembali muncul di kepala keduanya jika ustada tidak menyiramnya dengan nasehat yang menyejukkan.

Ustadz: Ijinkan saya tahu, janji apa yang telah kalian buat hingga pelanggarannya tidak termaafkan dan termaklumi?

Pasangan (isteri): Kami berjanji sebelum menikah bahwa jika kami menikah maka tidak boleh ada marah diantara kami supaya keluarga kami sakinah dan penuh cinta kasih. Awalnya semua berjalan sebagaimana harapan, namun setelah beberapa waktu, dia (suami) pulang kerja dengan muka masam dan menjawab pertanyaan saya dengan ketus dan marah ketika saya mengingatkan. Bukankah itu melanggar janji yang sudah kami buat bersama?

Pasangan (suami): Coba ustadz bayangkan, saya capek sepulang kerja yang sangat menyita tenaga saya, tapi sesampai di rumah tidak saya dapati barang secangkir kopi untuk meredakan kepenatan saya. Padahal saya yang telah berjuang untuk menghidupi keluarga. Ketika saya tegur, dia (isteri) marah dan mengatakan bahwa dia juga tidak kalah penat mengurusi urusan rumah tangga yang tak kunjung selesai. Dari memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah dan sebagainya. Bukankah itu kewajiban seorang isteri, ustadz?

Ustadz mengangguk dan mulai memahami benar duduk perkaranya. Dengan tenang ustadz berkata:

Kalian berdua tidak ada yang salah dalam menjalani kehidupan rumah tangga kalian. Hanya saja kalian telah membuat komitmen dan perjanjian yang tidak seharusnya disepakati. Idealisme kalian tentang keluarga sakinah dan cinta kasih telah mengaburkan realitas cinta. Ketika kalian membuat koitmen untuk tidak marah kepada pasangan, apapun keadaannya, maka kalian telah membatasi cinta hanya pada kelebihan-kelabihan yang dimiliki oleh pasangan. Cinta kalian menjadi tidak pure (murni) bahkan cinta kalian menjadi cinta penuh tendensi pribadi. Bukankah Allah berfirman bahwa orang beriman adalah orang yang tidak membatasi sedekahnya dengan keluasan atau kesempitan rejeki?. 
Cinta haruslah menjadi cinta hingga ia mampu menghancurkan segala rintangan yang dibangun diatas sifat egois dan arogansi. Cinta tidak hanya berhubungan dengan kekaguman terhadap kesempurnaan pasangan tapi juga memahami dan memaklumi kekurngannya. Lebih dari itu, cinta yang tulus akan mampu menjadikan orang melihat kekurangan pasangan sebagai kelebihan. Masih ingatkah kalian sebuah syair dimana seorang pemuda yang memiliki kekasih yang pincang kakinya?, ia tidak pernah melihat hal itu sebagai kekurangan bahkan ia mengatakan bahwa kaki kekasihnya tidaklah pincang taoi bumi yang dipijak yang tak rata. Pemuda itu melihat ada kekurangan pada fisik kekasihnya, namun cinta telah merubah kekurangan menjadi kelebihan.

Sehubungan dengan apa yang menimpa kalian, sejatinya berjanji untuk tidak marah merupakan janji yang tidak seharusnya diucapkan karena kemarahan bukanlah kondisi kejiwaan yang bisa dihindari dalam kehidupan, apalagi kehidupan rumah tangga sebagai pertemuan dua manusia yang sangat berbeda kebiasaan.

Maka jangan berjanji untuk tidak marah tapi berjanjilah untuk saling memadamkan kemarahan pasangan pada saat marah itu datang secara spontan. Bukankah Allah berfirman bahwa kekasih-kekasih-Nya adalah para penahan amarah dengan memaafkan (memaklumi) kesalahan orang lain. Apalagi kalian adalah suami isteri yang diikat oleh janji cinta di hadapan Allah.

Untuk itu, perbaharuilah janji kalian dan biarkan cinta menyatukan kalian dalam keikhlasan rumah tangga. Biarkan anak-anak kalian merasaka kesejukan itu sebelum mendengar petuah lisan kalian. Semoga, keshalihan keluarga akan terjaga dan rumah kalian akan menjadi surga yang menenangkan bagi mereka







Friday, 14 September 2018

DS051-ANCAMAN KEMATIAN, INTIMIDASI PENGUASA ZALIM


MAJLIS MALAM 3 MUHARRAM 1440 H/2018 M

من خطبة للإمام الحسين عليه السلام:
"خُطَّ الموت على وليد آدم مخط القلادة على جيد الفتاة، وخُيّر لي مصرع أنا لاقيه.....

Diantara penggalan khutbah Imam Husain:
"Dekatnya kematian bagi manusia seperti dekatnya sebuah kalung dengan leher seorang gadis. Telah dipilihkan untukku pertempuran yang harus kuhadapi...

Penggalan khutbah Imam Husain ini disampaikan di Mekah Al Mukarramah sebelum beliau memulai perjalanan istisyhad menuju Karbala, perjalanan yang akan mengukir sejarah yang kekal dan abadi. Dalam khutbah itu, beberapa fakta penting disinggung, diantaranya:

  • Tanda dan gelagat menunjukkan bahwa semua akan berakhir dengan pertemuan dengan tentaran Bani Umayah. Karena semua berawal dari penolakan Imam untuk berbaiat kepada Yazid sedangkan pilihan hanya antara baiat atau kematian. 
  • Imam Husain berusaha mempersiapkan  jiwa para pendukungnya yang  mengikuti beliau dari Mekah dan sebagian besar dari Kufah serta beberapa orang dari Bashra.
  • Beliau juga hendak menggembleng jiwa Ahlul Bait nya demi meningkatkan kesiapan menghadapi ujian maha dahsyat yang puncaknya adalah pembantaian di Karbala.
  • Pasukan Umawiy berusaha untuk memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa kematian adalah sesuatu yang menakutkan. Dan tampaknya usaha ini cukup berhasil dengan tunduknya penduduk Kufah dan daerah lain kepada ancaman penguasa zalim itu sehingga mereka menolak memberikan dukungan kepada mujahidin yang ikhlas

Mengintimidasi masyarakat dengan ancaman kematian menjadi senjata paling ampuh yang dimiliki oleh penguasa bahkan sampai hari ini.

Khutbah ini merupakan khutbah pertama beliau di hadapan banyak orang karena saat di Madinah, beliau tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan massa yang banyak. Sekaligus menjadi khutbah yang akan dikenang sepanjang perjalanan menuju Karbala, selain khutbah beliau di Karbala yang menggetarkan.
Dengan kata lain, khutbah pertama Husain sarat dengan tarbiyah dan pemahaman yang benar. Tarbiyah ini bertolak belakang dengan doktri yang ditanamkan oleh penguasa Bani Umayah kala itu baik dari segi materi maupun metodenya. Tarbiyah Imam adalah tarbiyah ilahiyah dan kepasrahan dalam mengarungi qadha yang Maha Kuasa sementara tarbiyah tughat adalah penanaman rasa takut terhadap kematian sehingga melemahkan bahkan mematikan semangat dalam membela kebenaran dan melawan kezaliman penguasa diktator.
Setiap manusia mencintai kehidupan dan membenci perpisahan dengan duniawi. Itulah yang dirasakan oleh setiap manusia sehingga ia merasakan ketakutan terhadap kematian. Fakta ini dikuat dalam Al Quran:

﴿قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ﴾ 
Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, niscaya ia akan menemukan kamu
﴿يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ﴾
Kematian akan menemukan kalian meski kalian bersembunyi di benteng yang kokoh

  ﴿فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴾
Jadikanlah kematian sebagai harapan jika kalian memang benar

Maka tidak ada yang kekal di dunia. Lihatlah apakah para nabi, shalihun, ulama hidup kekal. Jika ada yang kekal diantara mereka, pastilah Nabi Muhammad yang paling berhak hidup kekal. Padahal Allah berfirman kepada Nabi Muhammad:
  إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ 

Sesungguhnya engkau akan mati sebagaimana yang lain juga akan mati

Denngar bait-bait syair Imam Ali saat mengenang kesedihan atas wafatnya Rasulullah saw.

الموت لا والداً يُبقي ولا ولدا                   هذا السيلُ إلى أنه لا ترى أحدا
للموت فينا سهامٌ غير طائشةٍ                   من فاته اليوم سهمٌ لم يفته غدا
هذا النبي ولم يخلَّد لامتّه                       لو خلّد الله خلقاً غيرهَ خَلُدا


Mati tidak perdui apakah ayah apakah anak
ia adalah banjir bandang hanya saja tiada yang melihat
mati bagi kita bagai anak panah yang pantang meleset
jikapun anak panah itu meleset hari ini, tidak akan lagi esok hari
Inilah Nabi yang tidak dikekalkan untuk umatnya
Jika ada yang Allah kekalkan diantara makhluk-Nya pastilah dia...

Ini adalah masalah yang jelas dan tidak bisa dipungkiri oleh siapapun karena setiap orang yakin bahwa hidup akan dipungkasi dengan kematian. Perbedaan terletak pada cara pandang kita terhadap kematian itu yang berhubungan erat dengan cara kita mempersiapkan diri kita untuk menyambutnya. (contoh 2 orang yang keluar dari penjara pada masa Nabi Yusuf as.)

Dalam paradigma ilahiyah, mati bukanlah akhir dari kehidupan seorang manusia karena ia hanyalah perpindahan dari satu alam menuju alam yang lain sebagaimana pernah ia alami sebelumnya semenjak alam ruh, alam rahim hingga alam dunia. Kematian adalah urutan perjalanan menuju alam barzakh  hingga alam akhirat.

Jadi, pemahaman dan kesadaran akan makna kematian adalah sebuah bentuk tarbiyah yang efektif. Sehingga saat seorang mukmin mengingat kematian ia akan tergerak untuk melakukan amal-amal kebaikan, meninggalkan kemungkaran, membela kebaikan dan kaum teraniaya serta memngagungkan kebaikan. Kesadaran akan kematian akan meningkatkan kualitas akhlak manusia mukmin.

Mengapa kesadaran?, karena ada pendangan yang salah akan hal ini dimana sebagian orang melihat bahwa jika hidup diakhiri dengan kematian, mengapa harus beramal dan berkarya?, bukankah sebaiknya kita menghindarkan diri dari keduniaan, tidak berinteraksi dengan masyarakat dan tinggal menunggu datangnya kematian. Sikap ini ditentang keras oleh Islam karena Islam tidak mengenal kerahiban karena manusia adalah makhluk yang akan dimintai pertanggungjawaban.

﴿وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ﴾

Di sisi lain ada pandangan ekstrim yang melihat bahwa apabila hidup diakhiri dengan kematian maka mengapa tidak memanfaatkan hidup yang hanya sekali ini untuk berfoya-foya dan bersenang-senang. 
Pandangan ini hanya akan menyimpangkan manusia dari tanggung jawab manusia.

Kedua pandangan itu menjauhkan dari kebenaran.
Pandangan ketiga adalah pandangan yang menyadari akan kepastian kematian sehingga ia berusaha mempersiapkan diri demi menyambutnya dengan cara terbaik dan bertanggungjawab.
Imam Husain dalam syairnya mengatakan:

فإن تكـن الدنيـا تعدّ نفيسـة * فإنّ ثـواب الله أعلـى وأنبـل
وإن يكن الأبدان للموت أنشأت * فقتل امرئ بالسيف في الله أفضل
وإن يكن الأرزاق قسماً مقدّراً * فقلّة سعي المرء في الكسب أجمل
وإن تكن الأموال للترك جمعها * فما بال متروك به المرء يبخـل

Jika dunia kau anggap menarik, maka pahala Allah lebih tinggi dan lebih menarik
Jika badan ini tercipta untuk kematian, maka matinya seseorang di jalan Allah adalah yang terbaik
Jika rejeki adalah bagian yang telah dipilah-pilah maka tidak rakus dalam mencari  adalah hal terindah
jika harta dikumpulkan hanya untuk ditinggalkan, bagaimana mungkin seseorang kikir terhadap harta yang akan ditinggalkannya?

Dalam bait-bait lain, Imam juga berkata:


سأمضي وما بالموت عار على الفتى * إذا ما نوى حقّاً وجاهد مسلماً
وواسى الرجال الصـالحين بنفسـه * وفارق مثبوراً وخالف مجرما

فإن عشـت لم أندم وإن متّ لم ألم * كفى بك موتاً أن تذلّ وترغما

Aku akn tetap melangkah karena mati bukan aib meski seseorang masih muda, selama berniat baik dan berjuang dalam keikhlasan
orang-orang salih selalu berwasiat pada diri, meninggalkan pendosa dan pelaku kejahatan
jika aku hidup, aku tak menyesal dan jika aku mati, aku tak tersiksa
cukuplah kematian itu menghinakan atau memuliakan

Islam kita adalah agama yang mengajak manusia agar memperhatikan pemahaman-pemahaman yang menuntun manusia menuju sikap tanggung jawab dan melakukan kebaikan. Sehingga ia tidak meninggalkan dunia atau meninggalkan tanggung jawab dengan tenggelam dalam kenikmatan duniawi.
Bahkan Islam memandang sebagian amal manusia akan menjadi sumber kebaikan meski setelah kematiannya. Sebagaimana Rasul bersabda:

"إذا مات المرء انقطع عمله إلا من ثلاث، علمٍ ينتفع به، ولدٍ صالح يدعو له، وصدقةٍ جارية"

Jika seseorang mati maka akan terputus amalnya kecuali yang 3 : Ilmu yang dimanfaatkan, anak  shalih yang mendoakan dan shadaqah jariyah (yang mengalir pahalanya)

Bagaimana jika seseorang mampu menjadikan kematian sebagai jalan yang menjamin tercapainya ridha Allah dengan menjadikan hidupnya berharga dan berusaha menyesuaikan keinginannya dengan kehendak-Nya?,  Mereka adalah para syuhada yang melihat kematian sebagai jalan terpendek dan terjamin dalam mencapai ridha dan surga-Nya.

Pada masa Imam Husain, beliau berhadapan dengan dua pandangan yang bertentangan dengan gerakan kebangkitan husiniyah ini. Mereka tidak mendukung beliau baik karena ketakutan akan kematian atau ketakutan kehilangan kenikmatan duniawi. Kelompok yang tunduk kepada penguasa, ikut serta mencelakakan Imam dan yang diam juga melakukannya meski tak langsung.

Bukankah hadits mengatakan: “Barangsiapa yang ridha dengan perbuatan suatu kaum maka ia dianggap ikut melakukannya”.
Zuhud dalam hal ini bukan sebuah kebaikan karena zuhud dalm kondisi ini adalah lari dari tanggung jawab yang seharus dipikul oleh seorang Zahid. Bahkan sebagian sahabat yang yang mengatakan: “Jika orang-orang membaiat Yazid maka terpaksa aku juga akan melakukannya”.
Ini kisahnya:

وكان الحسين عليه السلام جالساً مع عبد الله بن عمر وعبد الله بن الزبير في مسجد جدّه صلى الله عليه وآله وسلم لمّا جاءهم رسول الوالي يدعوهم إلى قصر الإمارة ليلاً.
فقال ابن الزبير للحسين عليه السلام: "ما تراه بعث إلينا في هذه الساعة التي لم يكن يجلس فيها؟
فأجابه الإمام عليه السلام: "أظن أن طاغيتهم قد هلك، فبعث إلينا ليأخذنا بالبيعة قبل أن يفشوا في الناس الخبر".
فكان كما توقع عليه السلام أما مواقف الثلاثة فقد كانت متباينة، فعبد الله بن عمر قال: إني أدخل بيتي متى بايع الناس بايعت!
وأما عبد الله بن الزبير فقد خرج هارباً باتجاه مكة في تلك الساعة ومعه أخوه جعفر سالكاً طريقاً فرعيّاً. لكن الحسين عليه السلام قال: أجمع فتياني الساعة ثم أمشي إليه. فلما حذّره ابن الزبير، قال عليه السلام: لا آتيه الأوان على الامتناع، أي أني أكون قادراً عن أن امتنع منه إذا أراد الاعتداء عليّ.

Maka jelaslah bahwa senjata yang digunakan oleh Bani Umayah adalah ancaman kematian dan kenikmatan yang dijanjikan.
Kondisi itu membuat Imam berusaha untuk mendobrak gejala massal ini dan membangun kesadaran umat sehingga  kematian yang ikhlas lebih didahulukan jika memang harus dilakukan demi meluruskan penyimpangan.
Dari sinilah kita memahami rahasia penekanan Imam terhadap masalah kematian ini dalam banyak momen dan kesempatan. Hal itu merupakan tarbiyah umat tentang Islam yang sebenarnya dan hal itu terus dilakukan agar manusia menyadari tanggung jawabnya. Dengan demikian manhaj jahiliyah yang menakut-nakuti masyarakat dengan kematian bisa didobrak sehingga umat jauh dari kehinaan. Dan hasilnya adalah seruan

 “Haihat minna dzillah!”, inii laa aral mauta….., lain kaana diinu Muhammadin, Almauta aula min rukuubil ‘ari….dan sebagainya

Maka tujuan Imam menekankan masalah kematian bukanlah kepasrahan akan nasib buruk yang tak terelakkan, namun sebaliknya, beliau ingin mengajak para sahabat untuk merasakan kenikmatan yang sama saat melihat kematian. Dakwah yang ikhlas adalah berbagi kenikmatan sesuatu yang dirasakan nikmat, bukan hanya (karena tuntutan kondisi) menyampaikan sesuatu meski hal itu bertentangan dengan keinginan kita.

Bukankah Allah berfirman: Laisal birra hatta tunfiqu mimma tuhibbu ?

Tujuan Imam Husain adalah menghancurkan pengaruh Bani Umayah terutama doktrin kepada masyarakat yang menjadikan mereka memandang kematian dengan cara yang salah dengan menjadikan masyarakat terhinggapi hub ad dunia
Khutbah Imam ini akan selalu abadi melampaui batasan ruang dan waktu dan akan melekat di hati orang-orang yang bersedia mereguk pelajaran berharga ini sebagai bekal perjumpaan dengan Allah. Inilah semangat yang diwarisi oleh para pejuang Islam dalam membela agama Allah ini dimanapun mereka berada. Mereka tidak takut kematian bahkan mereka merindukannya sebagai jembatan menuju kesempurnaan wujud seorang hamba.


Format Audio:



Monday, 23 July 2018

DS050-TAWASSUL ANTARA IFRATH DAN TAFRITH (BAG. 2)


Sejatinya, konsep tawassul ini adalah konsep logis dan sangat akrab dengan konsep keberagamaan kita. Jika kita bersedia menilik ayat-ayat Al-Qur’an, kita akan temukan bahwa Allah telah menetapkan mekanisme pengabulan permohonan yang sa;ah satunya adalah wasilah (perantara) yang telah ditetapkan. Perhatikan saat Allah berfirman: Qul, in kuntum tuhibbuunallaha fattabi’uuni yuhbibkumullahu, Ya Muhammad katakanlah kepada mereka. Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku. Maka Allah akan mencintai kamu.
Saat itu Allah menetapkan Nabi Muhammad SAW sebagai wasilah untuk manusia mendapatkan cinta-Nya.
Dengan sangat tegas disebutkan dalam ayat diatas bahwa ketaatan mutlak kita terhadap sabda Rasulullah saw. merupakan wasilah bagi kita untuk menggapai cinta-Nya. Fakta ini dikukuhkan kembali dengan firman-Nya:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Tidaklah pantas bagi seorang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, jika Allah telah menentukan suatu perkara, ia memilih selainnya. Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia telah tersesat dengan nyata (Q.S. Al Ahzab: 36)

Ayat tersebut menegaskan betapa ketaatan kepada Rasul adalah ketaan kepada Allah dan kemaksiatan kepada Rasul adalah kemaksiatan kepada-Nya. Nampak dan sangat terasa betapa keduanya adalah satu dan tak terpisahkan seakan menafikan pengabulan atas permohonan jika salah satu dari keduanya terpisah. Semua itu memberikan keyakinan bahwa apa yang disabdakan Rasul adalah firman Allah dalam format yang berbeda sehingga ketaatan terhadap sabda Nabi haruslah mutlak atau kita akan meragukan firma-Nya. Kenyataan ini dikuatkan dengan firman-Nya:
 وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ 
Dan dia tidak berbicara karena hawa (nafsu) karena (ucapannya) tidak lain adalah wahyu yang diturunkan (Q.S. An Najm: 3-4)

Mekanisme ini akan terus berlaku hingga hari kiamat.
Yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang akan menjadi wasilah antara umat Muhammad ini sepeninggal beliau?.
Sebenarnya masalah ini tidak akan merisaukan sekiranya kita bersedia merujuk kepada ayat dan riwayat (hadits) dengan sadar dan semangat keilmuan karena sesungguhnya wasilat setelah Rasulullh saw. telah ditetapkan Allah melalui lisan suci Rasul-Nya di banyak kesempatan penting.
Rasulullah bersabda:
Sesungguhnya aku tinggalkan bagi kalian dua pusaka agung yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat untuk selamanya, keduanya adalah: Kitab Allah (Al Quran) dan Ahlul Baitku.

Meskipun pada sebagian redaksi menyebutkan kitab Allah dan sunnahku namun hal itu tidak menciptakan kontradiksi karena beberapa hal:
·         Sunnati bermakna umum dan Ahlul Bait bermakna khusus sehingga kalimat Ahlul Bait memiliki fungsi takhshih (pengkhususan) makna, tabyin (menjelaskan) makna dan tafsil (merinci) makna.
·         Sunnah adalah hakikat abstrak dan nasibnya terletak pada siapa yang memiliki otoritas sunnah itu. Karenanya kita tidak menyebutkan kata sunnah terpisah dari pemilik sunnah itu. Kita selalu menyebut sunnah Rasul, sunnah sahabat, sunnah Ahlul Bait as. Jadi meskipun redaksinya wa sunnati tetap kita harus mencari tahu siapa yang berhak dinisbahkan kepada sunnah Rasul itu.
·         Dengan logika sederhana kita bisa mengatakan bahwa Ahlul Bait sebagai anggota rumah Rasulullah pastinya lebih mengetahui apa yang berlaku di rumah kenabian dibanding orang lain. Jadi mengikuti Ahlul Bait lebih terjamin daripada selain mereka. Dengan kata lain, saksi terdekat atas sunnah Rasul saw. adalah Ahlul Baitnya.

Pada gilirannya, Rasulullah saw. menjadikan kecintaan kepada Ahlul Bait as. sebagai wasilah ketaatan itu sehingga ketaan ini bersifat mutlak pula. Bukankah Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil amr (pemegang urusan Allah dan Rasul) diantara kalian (Q.S. An Nisa:59)