Wednesday, 20 June 2018

DS049-TAWASSUL ANTARA IFRATH DAN TAFRITH (BAG. 1)



Makna tawassul
Tawassul berakar kata wasilah atau perantara sehingga tawassul secara lughawi (bahasa) adalah mengusahakan perantara dalam menuju sebuah tujuan utama. 

Menurut istilah ilmu kalam, tawassul adalah usaha seorang hamba untuk 'mendekati' Allah melalui wasilah (perantara) yang ditetapkan oleh Allah sebagai penjambatan penghubung antara dua dzat yang mustahil dibandingkan.

Sebagaimana  yang kita ketahui bersama bahwa sebagian kaum muslimin beranggapan bahwa tawassul adalah meminta kepada selain Allah SWT dan jatuhnya adalah syirik. Kurangnya pemahaman mereka akan hakikat tawassul menjadikan mereka dengan mudah menjatuhkan tuduhan hina itu kepada pihak-pihak yang mempraktekkannya.

Telah terjadi tafrid dan ifrad di dalam masalah tawassul ini. Atau dua kutub ekstrim yang mewakili dua pandangan umum terhadap masalah ini

Satu kutub dengan tegas mengharamkannya secara mutlak dengan menganggapnya sebagai ritual manusia meminta kepada manusia lain padahal setiap manusia harus minta secara langsung kepada Allah SWT, tidak boleh melalui perantara manusia atau makhluk yang lain yang akan menjerumuskan kedalam lembah kemusyrikan.
Sementara, pada kutub yang berlawanan, sekelompok orang terjerumus ke lembah ifrath, dimana sekelompok orang gemar melakukan ritual tawassul tanpa mengetahui siapa dan bagaimana manusia yang menjadi perantara antara manusia dengan Allah.  Untuk mencapai kepada Allah, mereka mendatangi makam-makam yang dikeramatkan tanpa mengetahui apakah yang terkubur di dalamnya adalah manusia-manusia yang bisa menjadi perantara antara mereka dengan Sang Pencipta.

Hal ini mengingatkan saya kepada apa yang disampaikan oleh syekh Tijani Samawi di dalam kitabnya. Beliau mengatakan:

 “Kam min kuburin tuzar wa ahluha min ahlin naar”.
Berapa banyak kubur yang diziarahi, sementara yang di dalamnya itu adalah ahli neraka.

Dengan kata lain, banyak manusia yang tidak memiliki ma'rifat dan ilmu akan hakikat tawassul ini sehingga, alih-alih mendekatkan kepada Allah, perbuatan mereka hanya akan memperpanjang jarak dengan-Nya. Di sisi lain, kondisi ini berpotensi menumbuhkan pandangan negatif dari pihak-pihak yang tidak sepaham dengan konsep wasilah ini.  Mereka lupa bahwa tawassul merupakan ritual sakral yang harus mendapat ijazah Allah sehingga manusia-manusia yang menjadi perantara haruslah merupakan pilihan Allah.
Apalagi jika kita menilik bahwa redaksi tawassul   mengandung makna meminta, seperti:  Ya Wajihan ‘indallah, isyfa’lana ‘indallah (wahai yang punya kedudukan di sisi Allah, syafa'ati kami di sisi-Nya!).  Sedangkan manusia hanya boleh meminta kepada Allah, iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'in (hanya pada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan). Hal ini tidak berarti kontradiksi, sebaliknya, memberikan penjelasan bahwa tawassul adalah amalan suci yang kekuatannya terletak pada ridha dan ijin-Nya. Jika tidak maka hal ini sama dengan meminta kepada selain Allah dan tanpa ridha-Nya sehingga jatuh pada kemusyrikan. Jadi tawassul kepada Allah hanya melalui manusia-manusia yang mendapat ijazah untuk menjadi perantara antara Allah dan hamba-Nya.

Jadi, berdasarkan pengertian diatas maka kita meyakini bahwa tawassul tidak dilarang bahkan dianjurkan dalam agama agar permohonan kita sampai kepada Allah, namun harus diingat bahwa tawassul hanya kepada manusia-manusia yang diijinkan Allah untuk menjadi perantara-Nya, Bukankah Allah telah berfirman: Man dzalladzi yasyfa'u 'indahu illa biidznih (Siapa yang berhak mensyafaati di sisi-Nya selain dengan ijin-Nya?

Pembahasan yang berhubungan dengan ifrath dan tafrith dalam masalah ini menjadi penting karena kedua pandangan bertolak belakang ini saling memperngaruhi jika kita memperhatikan nahwa keduanya mewakili aksi dan reaksi.

Mendoakan siapapun yang telah mendahului kita diperbolehkan bahkan menjadi anjuran agama. Namun dalam masalah tawassul yang mengandung pengertian mencari jembatan penghubung antara kelemahan hamba dan ke’tidakterbatas’an Allah SWT, haruslah dengan pertimbangan bahwa jembatan itu memang ‘dibangun’ oleh Allah dengan tujuan itu. hablul mamdud minassamai ilal ardh, tali penghubung antara langit dan bumi.
Ajaran Ahlul Bait Nabi, mengajarkan keseimbangan dalam segala hal. Dalam masalah akidah, disaat satu kubu  berfaham jabariyah dan menganggap manusia tidak memiliki kebebasan dalam memilih nasib hidupnya, di sisi lain muncul pemahaman tafidiyah yang menganggap bahwa manusia memiliki ikhtiar bebas dalam pengertian penafian campur tangan Allah dalam makhluk. Menghadapi kondisi pertentangan antara dua kubu ekstrim itu, Imam Ja’far Shadiq as. bersabda, laa Jabra wa laa tafwidh wa laakinna amran baina al amrain”, tidak jabariyah, tidak ada tafidiyah, tapi di tengah-tengah di antara keduanya.
Barangkali kita masih ingat sebuah hadits yang berbunyi, Khairul asyya ausathuha atau khairul umur ausathuha, sebaik-baik urusan adalah yang di tengah (proporsional). Dan para Imam ahlulbait as benar-benar menyampaikan kepada kita konsep – konsep yang jauh dari ekstrim. Baik ekstrim kiri maupun kanan. Baik ekstrim dalam kurangnya, maupun ekstrim dalam lebihnya.

Dalam masalah tawassul inipun para Imam ahlulbait as mengajarkan kepada kita keseimbangan, bahwa tawassul itu tidak dilarang, bahkan tawassul itu dianjurkan dan diperintahkan mengingat betapa manusia ini terlalu kotor untuk meminta langsung kepada Allah SWT. Maka Allah SWT menyediakan wasilah, menyediakan jembatan, untuk menyampaikan dia kepada Allah SWT...

BERSAMBUNG

Sunday, 27 May 2018

DS048-PENGHORMATAN BULAN RAMADHAN



            Dapat dipahami dari beberapa riwayat dan hadis bahwa Nabi dan para Imam as biasa mengumumkan kesiagaan universal dan bersiap-siap di akhir bulan Sya’ban untuk menyambut bulan Ramadhan. Khususnya pada akhir Jumat di bulan Sya’ban, mereka bersiap diri menjadi tamu Allah, supaya manusia mengetahui kenikmatan mana yang akan diterima oleh mereka. Sungguh, begitu mulia dan agungnya bulan ini sehingga kita tidak diperkenankan menyebut ‘Ramadhan’ tanpa kata “bulan.” Disebutkan dalam sebagian riwayat Imam Muhammad Al-Baqir as bersabda: “Janganlah engkau mengatakan, ‘Ini Ramadhan’, ‘Ramadhan telah pergi’, ‘Ramadhan telah datang’... Akan tetapi, ucapkanlah “(Ini) bulan Ramadhan”, bulan Ramadhan (telah pergi)”, bulan Ramadhan (telah datang)...’”. Disebutkan dalam kitab Mîzânul Hikmah, hal. 176, karya Al-Muhammadi Ar-Riy Syahri, Rasulullâh saw bersabda: “Janganlah engkau mengatakan ‘Ramadhan’, karena Ramadhan adalah salah satu nama Allâh Ta’ala, tetapi ucapkanlah, ‘Syahru Ramadhân’ [bulan Ramadhan]”. Ketika bulan Ramadhan tiba, Nabi saw. bersabda: "Subhânallâh! Apa yang akan kalian lakukan terhadap bulan Ramadhan? Dan apa yang akan ia (bulan Ramadhan) perbuat terhadap kalian”.

            Syaikh Shadûq meriwayatkan bahwa ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah saww membebaskan setiap tawanan dan memenuhi setiap peminta.

            Syaikh Abbas berkata, "Bulan Ramadhan adalah bulan Allah, Tuhan semesta alam dan bulan yang paling mulia. Di dalam bulan itu, pintu-pintu langit, surga, dan rahmat dibuka sedangkan pintu-pintu neraka ditutup. Juga di malam-malamnya yang apabila seseorang melakukan ibadah itu lebih baik daripada ibadah seribu bulan. Oleh karena itu, renungkanlah bagaimana kita akan menjalani malam-malam dan hari-harinya, dan bagaimana kita akan menjaga anggota badan kita dari bermaksiat kepada Tuhan kita. Jangan sampai kita tidur lelap di malam harinya dan melupakan Allah di siang harinya. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa di akhir setiap hari selama bulan Ramadhan ketika saat berbuka puasa tiba, Allah 'azza wa jalla akan membebaskan ribuan orang dari api neraka; pabila malam dan siang hari Jumat tiba, pada setiap saatnya Allah membebaskan ribuan orang yang mestinya mendapatkan siksa api neraka; dan di malam dan siang terakhir bulan Ramadhan, Allah akan membebaskan sebanyak orang yang dibebaskan di bulan itu. Oleh karena itu, wahai saudaraku, jangan sampai bulan Ramadhan berlalu sedangkan dosa-dosa masih belum diampuni, dan ketika orang-orang yang berpuasa menerima pahala, kita malah termasuk di antara orang-orang yang merugi. Dekatkanlah diri kita kepada Allah swt dengan membaca al-Quran pada malam dan siang harinya, mengerjakan shalat, dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah, mengerjakan shalat di waktu fadhilahnya, memperbanyak istighfar dan doa.
            Diriwayatkan dari Imam Shâdiq as berkata, 'Barangsiapa tidak diampuni (dosanya) di bulan Ramadhan, maka ia tidak akan diampuni hingga tahun depan kecuali jika ia menghadiri Arafah di musim Haji'.
            Hindarkan diri kita dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah; dan tidak berbuka puasa dengan makanan haram. Tetapi berperilakulah sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh Imam Shâdiq as. berkata, 'Ketika engkau berpuasa, hendaknya telinga, mata, rambut, kulit, dan seluruh anggota badanmu juga berpuasa'. Yaitu, mencegah diri dari hal-hal yang diharamkan, bahkan dari hal yang makruh. Beliau juga berkata, 'Jangan sampai hari berpuasamu seperti saat berbuka puasamu.’ Beliau juga berkata, 'Berpuasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Bahkan, di siang harinya jagalah lidah kalian dari berkata bohong! Hindarkan pandangan kalian dari hal-hal yang haram! Jangan bertikai dengan sesama! Jauhkan rasa iri hati! Janganlah menggunjing, berdebat! Janganlah bersumpah bohong, bahkan jangan pula bersumpah benar! Janganlah mencerca, mengejek, berbuat zalim, dan bertindak gegabah! Hendaklah berlapang dada! Hendaklah selalu mengingat Allah dan waktu shalat! Jangan membicarakan apa pun yang tidak pantas dibicarakan! Hendaklah bersikap sabar dan jujur! Jauhilah orang-orang jahat! Hindarilah perkataan jelek, berdusta, bermusuhan dengan manusia, berprasangka jelek, menggunjing, dan mengadu-domba! Yakinlah bahwa kalian telah mendekati akhirat! Tunggulah kemunculan al-Qâ`im, keluarga Muhammad, harapkanlah pahala akhirat, dan persiapkanlah bekal amal saleh untuk perjalanan akhirat! Tenangkanlah hati kalian, anggota tubuh kalian! Bersikaplah rendah hati, khusyu', dan hina seperti seorang hamba yang takut kepada tuannya! Takutlah akan siksa Allah! Berharaplah akan rahmat-Nya! Sucikanlah hati kalian dari cela dan batin kalian dari tipu-daya dan makar! Bersihkanlah badan kalian dari segala kotoran! Bebaskan diri kalian dari selain Allah, dan ketika berpuasa, murnikanlah wilâyah kalian hanya untuk-Nya! Janganlah kalian lakukan apa yang Allah telah melarang kalian untuk melakukannya, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi! Takutlah kepada Allah Yang Maha Mengalahkan atas apa yang pantas bagi-Nya untuk ditakuti, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi! Hadiahkanlah ruh dan badan kalian kepada Allah 'azza wa jalla di hari-hari puasa kalian ini! Kosongkan hati kalian hanya demi kecintaan kepada-Nya dan mengingat-Nya, dan gunakan tubuh kalian untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepada kalian. Jika kalian telah melakukan semua itu, berarti kalian telah melaksanakan apa yang layak bagi kewajiban puasa dan menaati perintah-perintah Allah! Dan jika kalian lengah dalam melakukan apa yang telah kujelaskan itu, maka keutamaan dan pahala kalian akan berkurang sekadar kelengahan yang telah kalian perbuat. Sesungguhnya ayahku as berkata, 'Rasulullah saww pernah mendengar seorang wanita yang tengah puasa mencerca sahayanya. Kemudian beliau meminta makanan dan berkata kepada wanita itu, 'Makanlah!' 'Saya sedang berpuasa', jawabnya. Beliau bersabda, 'Bagaimana mungkin engkau berpuasa sedangkan saat yang sama engkau telah mencerca sahayamu! Sesungguhnya berpuasa itu bukan hanya menahan dari makan dan minum. Tetapi Allah telah menjadikan puasa (yakni, menahan dari makan dan minum) sebagai tabir dari berperilaku buruk dan berucap kotor. Alangkah sedikitnya orang-orang yang bbenar-benar berpuasa dan begitu banyak orang yang hanya merasakan lapar (dan dahaga).'
Amirul Mukminin as berkata, 'Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari nialai puasanya kecuali hanya menahan rasa haus. Dan berapa banyak orang yang beribadah yang tidak mendapatkan nilai ibadahnya kecuali kepenatan. Sungguh, tidurnya orang berakal (nalar) lebih utama daripada ibadahnya orang dungu.’
Telah diriwayatkan dari Jabir bin Yazid, dari Imam Muhammad al-Bâqir as bahwa Rasulullah saww bersabda kepada Jabir bin Abdillah, 'Wahai Jabir, ini adalah bulan Ramadhan. Barangsiapa berpuasa di siang harinya, beribadah di sebagian malamnya, mencegah perut dan kemaluannya, dan menjaga mulutnya (dari hal-hal yang telah diharamkan), ia akan keluar dari dosa-dosanya sebagaimana ia keluar dari bulan ini.’ Jabir berkta, 'Alangkah bagusnya sabda Anda!’ Rasulullah saww menjawab, 'Alangkah beratnya persyaratan yang telah kusebutkan itu'.

Friday, 25 May 2018

DS047-KHADIJAH MENGHADAP ALLAH DENGAN DUA LEMBAR KAFAN


Semua kaum muslimin sepakat bahwa keberadaan Ummulmukminin Khadijah ra. memberikan pengaruh yang besar bagi keberhasilan dan kesinambungan dakwah Rasulullah saw. dalam menyerukan suara Islam di kalangan masyarakat Jahiliyah melakukan banyak intimidasi dan embargo di segala aspek kehidupan beliau. 
Selain Abu Thalib, sang paman, Nabi Muhammad selalu mendapatkan dukungan spirit dan materiel dari sosol wanita tangguh ini, sehingga kepergian Khadijah merupakan salah satu dari ahzan (peristiwa-peristiwa yang menyedihkan) dalam kehidupan Rasulullah saw.

Dalam posting singkat ini. saya ingin mengangkat sebuah potongan kisah memilukan yang menggambarkan betapa Rasulullah saw. sangat mencintai Khadijah hingga akhir hayatnya dan demikian sebaliknya. Riwayat ini juga memberikan gambaran betapa wanita mulia ini memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya.

Ketika sakit Khadijah ra. semakin parah, ia berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, mohon dengarkan beberapa wasiatku ini :

1. Aku tahu bahwa aku telah lalai melakukan kewajibanku terhadapmu maka maafkan aku, wahai Rasulullah!
Rasul segera berkat: Sama sekali tidak, engkau tidak pernah lalai, engkau selalu pada puncak perjuangan, engkau telah teramat kuletihkan di rumahku, hartamu telah kau hasbiskan di jalan Allah

2. Aku berwasiat akan ini (sambil mengisyaratkan ke arah Fatimah) karena ia akan menjadi yatim dan terasing sepeninggalku. Jangan ada seorangpun dari wanita Quraisy yang menyakitinya, jangan sampai ada diantara mereka yang menamparnya, jangan sampai ada diantara mereka yang berteriak di depannya dan jangan ada yang menampakkan keburukan kepadanya!

3. Sesungguhnya aku takut terhadap alam kubur, maka aku ingin kau berikan jubahmu yang kau kenakan saat wahyu turun kepadamu dan kafani aku dengannya!

Maka Nabi segera meletakkan jubah beliau pada Khadijah dan nampak ia merasa sangat bahagia.

Setelah Khadijah wafat, Rasulullah memandikan dan merawat jenazahnya. Ketika Nabi hendak mengkafani dengan jubahnya sebagaimana diwasiatkan, tiba-tiba Jibril turun seraya berkata: 

Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah menyampaikan salam keagungan bagimu seraya berfirman: "Wahai Muhammad, sesungguhnya kafan Khadijah adalah urusan Kami karena ia telah korbankan hartanya di jalan Kami!"

Maka Jibril datang dengan membawa kafan seraya berkata: Wahai Rasulullah, inilah kafan Khadijah. Ini salah satu dari kafan-kafan surga yang dihadiahkan Allah kepadanya.

Maka Rasulullah mengkafani Khadijah dengan jubahnya dilanjutkan dengan kafan surgawi itu. Maka Khadijah menghadap Allah dengan mengenakan dua helai kafan.

(malam 10 Ramadhan, memperingati wafat Ummulmukminin Khadijah Al Kubra ra.)

Wednesday, 16 May 2018

DS046-PASCA GAGALNYA TAUBAT (BAG.2-SELESAI)


Kesadaran akan kekurangannya, pada gilirannya, akan melahirkan kesadaran bahwa ia harus memperpendek jarak dengan Allah, mengingat selama ini ia tidak merasakan keagungan-Nya dikarenakan ia menciptakan jarak dari-Nya. Pada saat yang sama, ia meyakini bahwa kekurangan menjadikannya merasa tidak mampu mencapai kedekatan itu dengan usahanya sendiri. Ia harus mencari cara agar mencapai kedekatan itu dengan segala kekurangannya dan kesempurnaan Tuhan. Saat itu, mencari perantara dan penghubung menuju kepada-Nya adalah sebuah keniscayaan. Ia harus selektif dalam mencari penghubung yang benar-benar mengantarkannya pada tujuan itu. Wasilah (penghubung) itu haruslah pihak yang dipilih oleh Allah berkat fadhilah (keutamaan) hingga ia mencapai kedudukan termulianya di sisi Allah hingga mendapat mandat untuk menjadi penghubung antara langit dan bumi. Perantara dan penghubung itu benar-benar menjadi perwakilan Allah untuk menyampaikan titah-Nya sehingga ia terjaga dari segala kesalahan dan kekeliruan demi terjaganya syariat-Nya. Dengan kata lain, ketaatan kepadanya adalah mutlak ketaatan kepada Allah. Sebagaimana telah difirmankan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Kemutlakan ketaatan kepada sang penghubung semakin terjamin kemutlakannya tatkala Allah menjadikannya wakil tidak hanya secara tasyri’i tapi juga secara takwini, sebagaimana difirmankan:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ 

Dan tiadalah ia berbicara karena dorongan hawa (nafsu) karena semua yang ia sampaikan adalah wahyu semata  (Q.S. An Najm: 3-4)

Lebih dari itu, Allah menjadikan ketaatan kepadanya sebagai bukti kecintaan manusia kepada-Nya yang akan melahirkan kasih sayang-Nya. Lihatlah bagaimana Allah berfirman kepada Nabi Muhammad saw.:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ 

Katakanlah  (wahai Muhammad): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali Imran)
Dari beberapa ayat diatas menjadi jelas bahwa Rasulullah, Muhammad saw. adalah sang penghubung itu. Dialah yang menjadikan manusia mampu mencapai kedekatan dengan Allah setelah kegagalan yang meyakinkan dalam menembus regulasi pengabulan taubat sebagaimana tersebut dalan surat An Nisa: 17-18). Dialah jalur kasih sayang Allah yang akan menyelamatkan manusia yang tangannya terlalu ‘pendek’ untuk menggapai keselamatan dari akibat dosa-dosanya. Bukankah untuk tujuan itu Nabi Muhammad saw. diutus sehingga ia dijuluki nabiy ar rahmah (nabi kasih sayang)?. Bukankah dalam hal ini Allah telah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al Anbiya: 107)

Kasih sayang mana yang lebih besar jika dibanding keselamatan makhluk di alam semesta dari murka Allah akibat kemungkaran dan dosa-dosa tak terampuni?
Semua itu menyadarkan kita betapa kita membutuhkan Nabi Muhammad sebagai juru selamat yang setiap ketaatan kepadanya akan melahirkan kasih sayang Allah dan menjadi kunci terbebasnya kita dari dosa-dosa yang akan menjatuhkan kita ke jurang kehancuran.
Bahkan ayat lain menjelaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah adalah pintu taubat karena taubat kita akan diterima setelah Rasulullah memohonkan ampun untuk kita. Hal itu membuktikan bahwa tawassul taubat merupakan sunnah yang berlangsung sejak jaman kenabian:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka menganiaya diri (berbuat dosa), mere datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. An Nisa:64)

Yang menarik dalam hal ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan:
“Saat para pendosa dan palaku maksiat terjerumus, Allah menuntun mereka untuk mendatangi Rasulullah saw. dan bertaubat di sisinya dan meminta agar Nabi memohonkan ampun untuk mereka. Karena jika mereka melakukan itu maka Allah akan menerima taubatnya, mengampuni dan menyayangi mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Selanjutnya Ibnu Katsir berkata:
“Sekelompok orang, termasuk Syeikh Abu Nashir bin Shibagh dalam kitabnya Asy Syamil, telah menyebutkan sebuah riwayat yang cukup masyhur dari Al ‘Uthbi yang berkata: “Suatu hari aku duduk di samping makam Rasulullah hingga datanglah seorang a’rabi (orang arab dari desa) yang mendekati makam suci dan berkata: “Salam bagimu wahai Rasulullah, aku telah mendengar firman Allah: Sesungguhnya jikalau mereka menganiaya diri (berbuat dosa), mere datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Karenanya, sekarang aku datang kepadamu memohon ampunan Tuhanku atas dosaku dengan syafaatmu”. Kemudian ia melantunkan beberapa bait syairnya:

يا خير من دفنت بالقاع أعظمه  
فطاب من طيبهن القاع والأكم
نفسي الفداء لقبر أنت ساكنه
فيه العفاف وفيه الجود والكرم

Wahai manusia terbaik dan teragung yang dikuburkan di tanah ini,
hingga tanah dan pasirnya menjadi harum karenanya
jiwaku siap menjadi tebusan bagi kubur dimana engkau berada
disanalah kehormatan, kemurahan dan kemuliaan

Kemudian a’rabi itu beranjak dari tempat itu dan aku masih terpukau dengan apa yang dilakukannya. Malam harinya aku bermimpi bertemu dengan Nabi dan beliau berkata: “Wahai ‘Uthbi, benar apa yang dilakukan a’rabi itu. Sampaikan berita gembira bahwa ia telah diampuni dan sesungguhnya dia akan menyertaiku di surga.
Semoga syafaat Nabi Muhammad dan Ahlul Bait as. akan menyelamatkan kita dari akibat dosa-dosa kita yang melahirkan kemurkaan Allah.


Monday, 14 May 2018

DS045-PASCA GAGALNYA TAUBAT (BAG.1) :


Taubat, makrifat manusia akan dirinya

Kita diajarkan untuk memulai setiap pekerjaan kita dengan menyebut nama Allah yang berdimensi jamalaiyah yaitu rahman dan Rahim yang sekaligus merupakan ta’awudz (perlindungan) dari murka dan azabnya. Dalam kalimat itu kita berharap agar Allah memperlakukan kita (dalam segala keadaan) dengan dimensi kasih sayang yang melampaui dimensi keadilan. Dalam doa Jausyan Kabir (sebagai doa yang berisikan seruan-seruan dengan nama-nama mulia-Nya), misalnya, banyak kita temukan ajaran seruan yang menguatkan hakikat ini, seperti ya man laa yukhafu illa ‘adluh ! (wahai yang tidak ditakuti kecuali keadilan-Nya), ya man sabaqat rahmatuhu ghadhabah ! (wahai yang kasih-Nya selalu mendahului murka-Nya), ya man laa yurja illa fadhluh ! (wahai yang tidak diharapkan kecuali kemurahan-Nya) dan sebagainya. Tentunya asma-Nya yang lain yang berdimensi jalaliyah seperti ya qawiy, ya mutakabbir, ya jalil dan sebagainya.
Dalam interaksi dengan Allah, memang tidak salah jika kita selalu mengedepankan pandangan bahwa Dialah Dzat yang pengasih dan penuh maaf. Selain karena memang begitulah hakikat salah satu dimensi wujud-Nya, hal itu pula yang menjadikan hidup kita senantiasa dipenuhi dengan harapan akan keselamatan bahkan setelah kesalahan-kesalahan yang menimbulkan murka.
Namun demikian pandangan dari sisi jamaliyah saja seringkali menjerumuskan kita ke dalam lembah ‘tak tahu diri’. Maksudnya, kelalaian manusia sebagai hamba terhadap dimensi kekurangannya seringkali menjadikannya kehilangan etika saat melakukan interaksi dengan Sang Pencipta. Kita selalu melihat doa sebagai ajang permohonan dan permintaan yang tak terbatas dengan hanya mengingat bahwasannya Allah maha kaya lagi maha memberi. Kondisi ini membuat kita kehilangan kesadaran akan segala bentuk kekurangan dan kelalaian dalam penghambaan, padahal semua itu sangat mempengaruhi ijabah bagi setiap panjatan doa kita. Lebih dari itu, kesadaraan diri itulah yang menjadi kunci kwalitas penghambaan kita kepada Allah. Bukankah dalam hadits disebutkan bahwa barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya. Hal ini sejalan dengan sabda Imam Ali: Allah akan menyayangi orang yang tahu dirinya berasal darimana, sedang berada di mana dan akan menuju kemana”.
Taubat yang benar adalah taubat yang berlandaskan kesadaran akan kekurangan kita yang menumbuhkan kepasrahan diri akan kemutlakan Tuhan dalam segala keadaan. Tanpa hal itu, tidak menutup kemungkinan bahwa setiap lantunan doa kita hanya akan menjadi wujud kemunafikan hati dalam berinteraksi dengan Yang Maha Tahu.

Taubat, regulasi syariat yang teramat berat

Al Quran adalah kitab Allah yang disepakati secara mutawatir dan meyakinkan bahwa hukum-hukumnya mewakili hukum-hukum yang dikehendaki Allah. Barangsiapa yang menyimpang darinya maka ia telah menyimpang dari kebenaran. Bahkan Ahlul Bait as. telah berpesan agar setiap perselisihan masalah dirujuk kepada hadits (riwayat) para perawi hadits mereka selama tidak bertentangan yang jelas dengan muhkamat Al Quran dan jika sampai terjadi pertentangan dengan Al Quran maka hendaklah riwayat tersebut dicampakkan jauh-jauh. Dari ilustrasi diatas, kita mendapatkan gambaran bahwa Al Quran, sebagai kitab samawi, harus menjadi acuan dalam setiap aktifitas kita, baik hablun minallah (ibadah) maupun hablun minannas (mu’amalah).
Dalam bagian ini kita akan membicarakan taubat dalam regulasi syariat sebagaimana yang termaktub dalam Al Quran agar kita mengetahui betapa pertaubatan merupakan perkara sakral dan membutuhkan usaha maksimal dan tak kenal lelah. Seandainya setiap orang tahu sulitnya mendapatkan pengabulan taubat niscaya ia tidak akan pernah melakukan dosa dan pelanggaran. Dalam surat An Nisa:17-18 Allah menjelaskan hakikat taubat yang akan membuat kita terhenyak saat mengetahuinya karena dengannya kita tahu betapa taubat kita nyaris mustahil diterima dengan regulasi yang termaktub dalam ayat tersebut.
Allah berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Sesungguhnya taubat itu hanya kepada Allah dan berlaku bagi orang-orang yang melakukan sebuah keburukan, karena ketidaktahuan serta bertaubat dengan segera.  Merkalah yang akan diterima taubatnya oleh Allah dan Allah maha tahu lagi maha bijaksana.
Dan tidak termasuk taubat bagi orang-orang yang melakukan banyak keburukan hingga ajal mendatangi salah seorang diantara mereka dan saat itu ia berkata: “Aku bertaubat sekarang!” demikian juga tidak berlaku bagi orang-orang yang mati dalam kekafiran. Kami telah menyedikan siksa yang pedih bagi mereka. (Q.S. An Nisa: 17-18)

Jika kita perhatikan, kedua ayat diatas menjelaskan regulasi yang harus dijalani pendosa dan syarat-syarat yang harus terpenuhi untuk mencapai pengampunan:
1.      Taubat berlaku bagi satu dosa (as-suu-u) dan bukan pengulangan dosa-dosa (as sayyi-aat)
2.      Taubat berlaku bagi dosa yang dilakukan akibat ketidaktahuan (bijahaalatin) bukan yang dilakukan dengan kesadaran dan pengetahuan.
3.      Taubat hanya diterima jika segera dilakukan (min qariibin) bukan yang dilambat-lambatkan, bahkan hingga ajal menjemput baru bertaubat (inni tubtul aana)
Dengan regulasi yang termaktub dalam kedua ayat suci diatas, masihkah kita yakin bahwa taubat kita akan diterima Allah?, apakah hanya satu dosa kemudian kita bertaubat atau banyak dosa kita kumpulkan dan baru setelah itu kita bertaubat?, apakah dosa yang kita lakukan merupakan akibat ketidaktahuan atau kesengajaan yang diremehkan?, apakah kita segera bertaubat setelah melakukan dosa atau melambat-lambatkan taubat kita?.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita semakin yakin bahwa mustahil bagi kita untuk mendapatkan pengabulan atas taubat kita.
Pada titik inilah kita sampai pada kondisi putus asa dan hanya mampu mengatakan: Ilahi fa kaifa lii (wahai Tuhanku, bagaimana dengan nasibku)?. Pada kondisi inilah kita hanya bisa pasrah dan berserah kepada keputusan-Nya yang bisa kita prediksikan hasilnya.

Mencari celah di luar regulasi

Keputusasaan akan pengabulan pertaubatan kita inilah yang pada akhirnya melahirkan rintihan bernuansa harapan akan sesuatu di luar regulasi tersebut yang akan menyelamatkan kita. Harapan itu terwakili oleh seruan kita dalam salah satu bagian doa Jausyan Kabir, ya man laa yurja illa fadhluh, ya man laa yukhafu illa ‘adluh (wahai yang tiada diharapkan selain kemurahan-Nya, wahai yang tiada ditakuti selain keadilan-Nya!)
Kepasrahan membuat kita sadar akan hakikat lain yang sangat lekat dengan dimensi kelembutan Allah. Sebuah dimensi dengan aura yang memberikan secercah harapan baru pasca kegagalan kita melalui regulasi pertaubatan yang sangat, bahkan mustahil, untuk kita penuhi persyaratannya. Dimensi itu adalah dimensi rahmat (kasih sayang) yang merupakan salah satu dimensi jamaliyah Allah.
Dalam hal ini kita berusaha untuk melakukan segala sesuatu yang menumbuhkan kasih dan sayang Allah kepada kita dengan mengidentifikasi hal-hal yang dicintai Allah dan membedakannya dengan perkara-perkara yang menimbulkan murka-Nya.
Dalam keadaan seperti ini kita mengakui segala kekurangan dan kelemahan kita hingga kita mampu merasakan keagungan-Nya. Hal itu tidak lepas dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang menilai segala sesuatu dengan kacamata relatif, dimana ia menilai besar kecilnya sesuatu setelah membandingkannya dengan sesuatu yang lain.
Dalam hal ini, manusia juga membandingkan antara diri dan Tuhannya. Semakin ia merasakan kehinaan dan kekurangan dirinya maka ia akan segera merasa betapa agung dan sempurna Tuhannya. Demikian sebaliknya, saat ia merasa dirinya agung dan sempurna maka ia sedang menganggap Tuhan tidak sebagaimana mestinya. Barangkali itulah maksud dari hadits bahwa barangsiapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.
Jadi kasih sayang Allah akan diraih oleh manusia yang memahami posisi wujudnya dan berusaha bersandar kepada wujud paling sempurna dengan merasakan keagungan-Nya dalam diri hingga iapun merasa hinda dan tidak memiliki apa-apa, laa haula walaa quwwata illa billahi…..

Bersambung.....

DS044-TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA DAN JIN



Firman Allah Swt:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. [QS adz-Dzâriyât(51):56]
Perlu diketahui, bahwa ibadah kepada Allah tidak hanya diwujudkan dalam bentuk shalat dan puasa saja. Akan tetapi, ibadah yang mencakup seluruh aktifitas yang disukai dan diridhai Allah yang berhubungan dengan diri manusia dan kehidupan di sekitarnya serta segala yang berkaitan dengan semua risalah yang dikehendaki Allah bagi kehidupan manusia. Inilah yang dinamakan ibadah kepada Allah Swt. Hal itu sesuai dengan tujuan penciptaan manusia dan jin.
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan …." [QS al-Imrân(3):195]
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
            Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [QS an-Nahl(16):97]
            Seluruh orang yang beriman, mengucapkan satu kalimat syahadat:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

ISLAM AGAMA CINTA
Allah Yang Maha bijaksana berfirman:
إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ
sayekti Pangéranku iku Mahaasih, Sutresna.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. (QS Hud:90)
            Sesungguhnya cinta itu adalah unsur yang paling kuat pengaruhnya di dalam pendidikan manusia yang salih lan akale nalar. Ia juga merupakan sebaik-baik cara untuk mewujudkan kemajuan peradaban, sosial, ekonomi dan politik. Diriwayatkan dari Nabi Sulaiman as bahwasanya dia berkata,
مَا مِنْ شَيْئٍ أَحْلَى مِنَ الْمَحَبَّةِ
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih manis daripada cinta.”
            Imam Muhammad Baqir ra menyifatkan Islam tidak lain adalah cinta. Sebagaimana hal itu beliau berkata:
هَلِ الدِّيْنُ إِلأَ الْحُبُّ
“Bukankah agama itu tidak lain adalah cinta.”
            Permusuhan itu bukan hanya menjadi penghalang yang merintangi kemajuan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Bahkan, ia adalah sebab kemandekan yang mencegah pemanfaatan segala potensi (kemampuan) yang ada. Oleh karena itu, masyarakat yang ditimpa bencana yang berbahaya ini (permusuhan atau kebencian), pasti akan mengalami kemunduran dan kejatuhan.
            Atas dasar itu, maka sesungguhnya agama yang menganggap dirinya dibangun atas dasar cinta, memandang bahwa permusuhan dan kebencian itu sebagai pemibinasaan terhadap agama. Dan menurut sudut pandang Rasul, Muhammad saw, “Sesungguhnya sejelek-jelek manusia itu adalah orang yang membenci orang banyak, dan orang banyak pun membenci dirinya.”
            Ada ungkapan yang sangat indah dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (karramallahu wajhahu) tatkala beliau mengangkat Malik al-Asytar sebagai Gubernur Mesir:
أَشْعِرْ قَلْبَكَ الرَّحْمَةَ لِلرَّعِيَّةِ وَالْمَحَبَّةَ لَهُمْ وَاللُّطْفَ بِهِمْ وَلَا تَكُونَنَّ عَلَيْهِمْ سَبُعاً ضَارِياً تَغْتَنِمُ أَكْلَهُمْ فَإِنَّهُمْ صِنْفَانِ إِمَّا أَخٌ لَكَ فِي الدِّينِ وَإِمَّا نَظِيرٌ لَكَ فِي الْخَلْقِ.
            Wahai Malik, ciptakan dalam hati dan pikiran Anda rasa baik hati dan sayang kepada rakyat Anda. Jangan bersikap terhadap mereka seakan-akan Anda binatang buas yang kelaparan dan rakus, dan seolah-olah kalau Anda melahap mereka maka Anda akan sukses.
            Ingatlah wahai Malik, bahwa di antara rakyat Anda ada dua golongan yang sama agama mereka dengan agama Anda; mereka ini saudara-saudara Anda, sedangkan golongan yang agama mereka beda dengan agama Anda, maka mereka itu manusia seperti Anda.” (Nahjul Balaghah, hal.426, surat 53)
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS al-Imran:159)

PENGERTIAN, DASAR HUKUM DAN HIKMAH SERTA MANFAAT UKHUWAH ISLAMIYAH

            Manusia adalah makhluk ciptaan Allah, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Islam adalah agama rahmatan lil ‘âlamîn sudah menjadi keharusan bagi setiap musliة untuk menjaga hubungan dengan baik, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun dengan negara. Dalam ajaran agama islam, semua manusia sama statusnya di mata Allah, yang membedakan hanya dari tingkat ketakwaan seseorang. Islam mendidik umatnya melarang besifat individual, tetapi selalu menyuruh umatnya untuk selalu menjalin hubungan kepada sesamanya, yang dalam agama dikenal dengan ukhuwah islamiyah. Ukhuwah Islamiyah tersebut seharusnya menjadi spirit baru dalam kehidupan beragama, sehingga agama menjadikan sebuah suasana yang menyejukkan, bukan yang menebar kebencian. Ukhuwah (persaudaraan) dengan orang Islam tidak menjadi ukhuwah Islamiyah, ketika disertai dengan sikap saling merugikan dan mendhalimi. Tetapi, ketika persaudaraan dengan orang lain meskipun berbeda keyakinan, pada saat itu juga persaudaraan itu menjadi ukhuwah Islamiyah.
1. Pengertian Ukhuwah Islamiyah
            Kata ukhuwah berasal dari bahasa arab yang kata dasarnya adalah akhun yang berarti saudara, sementara kata ukhuwah berarti persaudaraan. Adapun secara istilah ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allaah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah. Dengan berukhuwah akan timbul sikap saling menolong,saling pengertian dan tidak menzhalimi harta maupun kehormatan orang lain yang semua itu muncul karena Allah semata.
2. Dasar Hukum Ukhuwah Islamiyah
إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
            Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian,  dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat. (QS al-Hujurat :10).
واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْكـُرُو نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
            Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan “tali Allah” dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara. (QS. Ali Imran :103).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩)
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS an-Nisâ`:59)
مَثَلُ الْمُؤْ مِنِينَ فِى تَوَادَّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
            Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad, jika salah satu anggotanya menderita sakit, maka seluruh jasad juga merasakan (penderitaannya) sehingga tidak bisa tidur dan merasa demam. (HR. Bukhari dan Muslim).
الْمُسْلِمُ أَخُو لْمُسْلِمِ لَايَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِى حاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَة
Orang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak akan menganiayanya dan tidak akan menyerahkannya (kepada musuh). Barang siapa ada didalam keperluan saudarany amaka Allah ada didalam keperluannya. Barangsiapa menghilangkan suatu kesukaran dari orang muslim, maka Allaah akan menghilangkan satu kesukaran-kesukaran yang ada pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allaah akan menutupu (aibnya) pada hari kiamat. (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Hikmah dan Manfaat Ukhuwah Islamiyah
            Ada beberapa hikmah yang harus kita ambil pelajaran untuk menjalin ukhuwah islamiyah dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga Allah SWT senantiasa menurunkan berkah didunia ini antara lain :
a. Terciptanya solidaritas yang kuat antar-sesama muslim
            Dengan adanya saling tepa selira, merasakan kebahagiaan ketika orang lain bahagia dan merasakan kesedihan ketika orang lain ditimpa musibah, akan membuahkan sikap solidaritas yang kuat di antara sesama muslim. Seorang muslim akan lebih peduli dan memberikan perhatian yang lebih kepada saudaranya sesama muslim. Dari sikap inilah Islam dan kaum muslim akan makin kuat dalam berbagai hal, termasuk secara ekonomi sehingga terhindar dari jurang kemiskinan.
b. Terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa
            Apabila seorang muslim mampu memberikan kasih sayang terhadap muslim lainnya, dan kasih sayang itu diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, kita akan merasakan betapa nikmatnya kebersamaan sebagai umat Islam dan bangsa yang kuat dan kukuh yang didasari sikap ikhlas karena mengharap ridha Allah, di samping itu tidak mudah di adu domba yang berdampak pada perpecahan.
c. Terciptanya kerukunan hidup antar-sesama warga masyarakat.
            Apabila seorang muslim mampu menghargai dan menghormai orang lain dalam berbagai hal, termasuk menghormati dan menghargai adanya perbedaan, baik dalam hal bahasa, budaya, maupun pemahaman agama yang penuh dengan perbedaan mazhab (aliran) dan pendapat, di samping bisa menerima dan legowo dengan perbedaan, tentu kita akan merasakan betapa nikmatnya hidup rukun dalam sebuah perbedaan yang dibingkai atas dasar ukhuwah Islamiyah dengan menganggap perbedaan sebagai rahmat atas kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya.
Indahnya Kebersamaan
            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (karramallâhu wajhah) dalam suatu pidatonya berkata:
وَخَيْرُ النَّاسِ فِيَّ حَالاً النَّمَطُ اْلأَوْسَطُ فَالْزَمُوهُ، وَالْزَمُوا السَّوَادَ اْلأَعْظَمَ، فَإِنَّ يَدَ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ، فَإِنَّ الشَّاذَّ مِنَ النَّاسِ لِلشَّيْطَانِ، كَمَا أَنَّ الشَّاذَّ مِنَ الْغَنَمِ لِلذِّئْبِ.
            … Sebaik-baik orang adalah dia yang di jalan tengah. Karena itu, bersamalah dengan dia, dan dengan kaum Muslim yang lain karena tangan (perlindungan) Allah Swt ada pada (mereka) yang senantiasa menjaga kebersamaan (persatuan). Hati-hatilah, jangan sampai kalian memisahkan diri, karena orang yang terpisah dari kebersamaan (jamah), maka dia menjadi mangsa setan, persis seperti domba yang terpisah dari kawanannya, maka ia akan menjadi mangsa serigala. (Nahjul Balâghah, hal.184, khotbah 127)
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ): يَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ، وَالشَّيْطَانُ مَعَ مَنْ خَالَفَ الْجَمَاعَةَ يَرْكَضُ.
            Rasulullah saw bersabda: “Tangan (Perlindungan) Allah Swt ada pada (mereka) yang senantiasa menjaga kebersamaan (persatuan dalam kebaikan); sedangkan setan bersama orang yang memisahkan diri dari kebersamaan (jamaah).” (Kanzul ‘Ummâl, hal.206)
            قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ): أَيُّهَا النَّاسُ! عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةِ.
            Rasulullah saw bersabda: “Wahai manusia! Hendaklah kalian senantiasa dalam kebersamaan (jamaah), dan hati-hatilah kalian jika memisahkan diri.” (Kanzul ‘Ummâl, hal.206)

LALU DITUTUP DENGAN DOA PERBAIKKAN UNTUK DIRI DAN PUTRA PUTRI SERTA KERABAT

Doa ini baik untuk tujuan perbaikan diri sendiri, putra-putri, ketururnan, dan kerabat keluarga dekat, dibaca setiap habis shalat fardhu. Afdhalnya dibaca dalam qunut witir saat shalat malam:


رَبِّ أَصْلِحْ لِي نَفْسِي فَإِنَّهَا أَهَمُّ اْلأنْفُسِ إِلَيَّ، رَبِّ أَصْلِحْ لِي ذُرِّيَتِيْ فَإِنَّهُمْ يَدِي وَعَضُدِي، رَبِّ أَصْلِحْ لِي أَهْلَ بَيْتِي فَإِنَّهُمْ لَحْمِي وَدَمِي، رَبِّ أَصْلِحْ لِي جَمَاعَةَ إِخْوَتِيْ وأَخَوَاتِي وَمَحَبَّتِي فَإِنَّ صَلاَحَهُمْ صَلاَحِيْ.


Tuhanku, perbaikilah diriku, karena diriku harus lebih baik. Tuhanku perbaikilah anak keturunanku, 
karena mereka adalah tanganku dan kekuasaanku. Tuhanku perbaikilah keluargaku, karena mereka adalah darah dagingku. Tuhanku perbaikilah seluruh kerabat dekatku dan kecintaanku, karena perbaikan mereka berarti perbaikanku juga. (Khuzânatul Asrâr fil Khutum wal Adzkâr, Sayyid Muhammad al-Miqdam, jilid 1, hal.169)

Wednesday, 9 May 2018

DS043-SAYYID HASAN MUSAWA : KETAQWAAN ANGGOTA TUBUH




۱) وَعَلَى جَوَارِحَ سَعَتْ إِلَى أَوْطَانِ تَعَبُّدِكَ طَائِعَةً

Anggota-anggota tubuh telah biasa merunduk untuk mengabdi-Mu

۲) وَجَعَلْتَهُمْ شُهُوْدًا عَلَيَّ مَعَ جَوَارِحِيْ
Engkau menjadikan mereka saksi-saksi bersama seluruh anggota tubuhku

۳) قَوِّ عَلَى خِدْمَتِكَ جَوَارِحِيْ
Kokohkan anggota tubuhku untuk berbakti kepada-Mu

٤) وَاشْدُدْ عَلَى الْعَزِيْمَةِ جَوَانِحِيْ
Teguhkan jiwa batinku untuk selalu melaksanakan niatku

          Al-Jawârih adalah anggota-anggota tubuh manusia bagian luar. Jika dikatakan: Wahai Tuhan, tatkala Engkau hendak mengazabku, maka Engkau akan mengazab tanganku, kakiku, dadaku, punggungku, dan semua anggota tubuhku yang Kaugerakakan sesuai kehendak-Mu dan ridha-Mu demi beribadah kepada-Mu. Lalu bagaimana Engkau mengazab tangan atau kaki yang bergerak saat ibadah dan taat kepada-Mu?
          Bagaimana Engkau mengazab anggota-anggota tubuhku ini?
         
Bilakah kita mampu membaca penghujung doa tersebut? Apabila anggota-anggota tubuh kita siap dan dapat digerakkan untuk menuju Allah Swt. Adapun apabila anggota-anggota tubuh ini tidak bisa digerakkan, maka akan kendur dan malas tatkala kita menghendaki untuk menaati Allah, niscaya kita tidak dapat mengucapkan penghujung doa tersebut.
          Ada sebagian orang ketika diminta untuk melakukan perbuatan baik, atau memenuhi kebutuhan saudaranya Mukmin, atau menolong seseorang yang teraniaya, ia akan mengakatakan: “Aku lagi tidak enak badan, aku lagi capek, atau aku mengantuk.” Maka berbagai sebab dan alasan diungkapkan sebagai penolakan.
          Manusia seperti ini tidak akan mampu berdiri di hadapan Allah. Manusia yang berdiri di hadapan Allah adalah manusia yang apabila diseru Allah untuk suatu perkara segera bangkit dan mengiyakan seruan itu meskipun ia dalam kondisi lemah.

وَعَلَى جَوَارِحَ سَعَتْ إِلَى أَوْطَانِ تَعَبُّدِكَ طَائِعَةً

Anggota-anggota tubuh telah biasa merunduk untuk mengabdi-Mu

Artinya, sampai ke tempat-tempat dan kondisi di mana ia akan menghamba. Perlu diketahui bahwa ibadah kepada Allah tidak hanya diwujudkan dalam bentuk shalat dan puasa saja. Akan tetapi, ibadah yang mencakup seluruh aktifitas yang disukai Allah yang behubungan dengan diri manusia dan kehidupan di sekitarnya serta segala yang berhubungan dengan semua risalah yang dikehendaki Allah bagi kehidupan manusia. Inilah yang dinamakan ibadah kepada Allah Swt. Hal itu sesuai dengan tujuan penciptaan manusia dan jin. Firman Allah Swt:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنَ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku

          Ibadah adalah khudhuk (merendah hati) kepada Allah di manapun kita berada. Bukan masjid saja sebagai tempat ibadah. Tetapi tempat peribadatan dalam Islam adalah seluruh alam ini. Memang, semua alam ini adalah masjid (tempat ibadah). Tatkala Allah Swt mengatakan kepada Anda melalui kalimat-kalimat rasul dan para wali-Nya, di mana ketika Anda di ladang sibuk bertani, sementara Anda seorang mukhlis dalam beribadah, maka Anda akan beribadah kepada Allah di ladang. Apabila Anda beraktifitas di tempat pekerjaan (pabrik, kantor, pasar, dan selainnya) sementara Anda seorang mukhlis, maka Anda akan beribadah kepada Allah di tempat-tempat kerja tersebut. Dan jika Anda bekerja membersihkan jalan, pekerjaan Anda tersebut demi untuk menjaga martabat Anda, maka demikian itu Anda beribadah kepada Allah. Tatkala Anda menghadap si zalim untuk mengumandangkan suara kebenaran, itupun beribadah kepada Allah.
          Masjid hanya tempat untuk shalat, di mana di situ akan membuka hatimu dan dikatagorikan sebagai pelaksanaan ibadah kecil, atau paling tidak dapat dikatakan sebagai ibadah dâkhiliyyah (batin) yang pada girilarannya untuk ibadah melalui khârijiyyah (anggota tubuh luar). Di dalam masjid kita membina hati. Seperti saat Anda mengatakan, ushalli qurbatan ilallâhi, asjudu qurbatan ilallâhi, ad’û (berdoa) qurbatan ilallâhi, aqra`u (membaca Alquran) qurbatan ilallâhi.
          Masjid adalah tempat ibadah untuk menempa ruh sehingga menuju kehidupan dengan ruh yang bersih. Maka itu sebagai ibadah pendahuluan dan untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang lainnya.

Tiga Kesaksian
          Di dalam doa Kumail, Imam Ali as telah membeberkan persoalan dosa-dosa manusia secara umum, kemudian beliau as memaparkan persoalan lembut dan njelimet yang berkaitan dengan penetapan timbulnya dosa dari manusia. Pada hari kiamat, bahwa pada hari itu manusia akan menghadapi perhitungan akbar dan mahkamah pengadilan serta keputusan Ilahi untuk memperkenalkan manusia, apakah ia termasuk ahli sorga ataukah ahli neraka? Bahkan memperkenalkan dirinya dalam bentuk yang lebih teliti dan rapi, di peringkat mana masing-masing akan menuju di antara keduanya itu. Akan tetapi, Allah Swt akan menghakimi mereka seadil-adilnya, sehingga tidak lagi dapat beralasan atau pun mengajukan protes. Tentunya, dengan segala pertimbangan dan bukti-bukti kongkret.
          Imam Ali as mengajukan kesaksian-kesaksian tersebut sebagai yang dijelaskan di bawah ini:
          Pertama: Kesaksian malaikat: Dalam kesaksian ini Imam Ali as mengatakan:

وَكُلِّ سَيِّئِةٍ بِإِثْبَاتِهَا الْكِرَامَ الْكَاتِبِيْنَ، الَّذِيْنَ وَكَّلْتَهُمْ بِحِفْظِ مَا يَكُوْنُ مِنِّيْ

(ampuni) semua keburukan yang telah Kausuruhkan malaikat yang mulia mencatatnya, mereka yang Engkau tugaskan untuk merekam segala yang ada padaku.
Ungkapan tersebut sebenarnya tafsiran dari firman Allah Ta’ala:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِيْنَ، كِرَامًا كَاتِبِيْنَ

Padahal sesungguhnya bagimu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), mereka berkedudukan mulia di sisi Allah untuk mencatat segala aktifitasmu itu. [QS 82:10-11]

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. [QS 50:18]
          Kedua malaikat itu benar-benar bertugas sebagaimana mestinya, karena mereka adalah hakikat quranî yang mencatat dan menjaga segala perbuatan taupun ucapan manusia. Allah Swt akan menghadirkan kedua malaikat itu pada hari kiamat kelak sebagai saksi atas manusia. Mereka berdua tidak ikut campur merekam bersama manusia. Sebagaimana keduanya mengatakan kepada manusia, “kamu telah mengatakan demikian”; “kamu pernah berbuat demikian.” Tetapi keduanya membawa segala amal perbuatan dan perkataan manusia secara utuh. Allah Swt berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْءٍ

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan di mukanya, begitu juga kejahatan yang telah dikerjakannya.. [QS 3:30]

          Dalam keadaan seperti itu, bahwa tiap diri manusia akan memberikan kesaksian dirinya, sedangkan kedua malaikat hanya akan menyampaikan hujah di hadapan Allah Swt. Hal itu persis seperti seperangkat video atau tape recorder yang dapat memindahkan gambar, gerakan, dan suara manusia, sehinga tidak lagi mampu mengingkarinya. Akibatnya adalah sebagai bentuk hujjah yang yang tak dapat dibantah.
          Kedua: Kesaksian al-Jawârih, yakni kesaksian peralatan dan sarana yang diajukannya sesuai ucapan maupun perbuatannya. Allah Swt berfirman:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشَهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَاكَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Pada hari ini (Hari Mahkamah Allah) Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka sedangkan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka upayakan. [QS 36:65]

وَتَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتِهِمْ وَأَيْدِيْهِمْ وَأَرْجُلِهِمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Pada hari ketika, lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. [QS 24:24]

وَقَالُوْا لِجُلُوْدِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا، قَالُوْا أَنْطَقَنَا اللهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْئٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أًَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ، وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُوْنَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلاَ أَبْصَارُكُمْ وَلاَ جُلُوْدُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللهَ لاَ يَعْلَمُ كَثِيْرًا مِمَّا تَعْمَلُوْنَ

Dan mereka berkata kepada kulit mereka: Mengapa menjadi saksi terhadap kami?” Kulit menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata, telah menjadikan kami pandai pula berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kami dikembalikan. Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui banyak dari apa yang kamu kerjakan.” [QS 41:21-22]
Sementara itu Imam Ali as menegaskan dalam doa Kumail:

وَجَعَلْتَهُمْ شُهُوْدًا عَلَيَّ مَعَ جَوَارِحِيْ

Engkau menjadikan mereka saksi-saksi bersama seluruh anggota tubuhku
          Maka anggota-anggota tubuh manusia ini dijadikan oleh Allah Swt dapat berbicara sebagai kesaksian. Demikian pula manusia pada kali yang lain menjadi saksi bagi dirinya sendiri, menghukumi dirinya dengan dirinya sendiri.
          Terkadang manusia mengingkari amal dan ucapannya itu, terkadang juga memprotes dakwaan orang lain atas dirinya. Akan tetapi ia tidak mampu mengingkari atau memprotes ucapan-ucapannya sendiri. Bukankah pengakuan akan sesuatu merupakan inti bukti. Lalu bagaimana apabila yang mengaku adalah anggota tubuhnya sendiri, yakni perangkat-perangkat yang menimbulkan dosa dan kesalahan? Masa sekarang ini para penyidik kriminalitas berupaya untuk memperoleh bukti-bukti keriminal secara akurat seperti sarana untuk mengenali pelakunya, baik melalui penyidikan jari-jari tangannya yang dapat dijadikan penelitian selanjutnya. Atau untuk mengetahui bagaimana asal-muasal peristiwa itu terjadi. Demikian pula persoalannya dengan anggota-anggota tubuh manusia, yaitu lisannya sebagai sarana untuk berbicara baik maupun jelek; untuk pembinaan atau penghancuran. Juga kedua tangannya yang mungkin melakukan pekerjaan baik dan menghasilkan sesuatu yang diridhai Allah Swt. Dengan kedua tangannya bisa saja untuk mencuri atau pembunuhan. Dan begitu pula dengan anggota-anggota tubuh lainnya seperti mata, telinga, dan ke-
dua kakinya.
          Akan tetapi, tentunya dalam persoalan ini ada perbedaan antara sarana-sarana yang diupayakan para penyidik dan peneliti dan yang dilakukan oleh Allah Swt. Penyidikan yang dilakukan manusia menggunakan alat-alat buatannya sendiri. Sedangkan dalam Mahkamah Akhirat, Allah yang Mahaadil dan Mahabijak menggunakan alat-alat hakiki (sebenarnya). Mahkamah dunia, manusia menggunakan alat-alat shâmitah (diam) yang dapat diupayakan dengan kerja keras dan penafsiran yang terkadang dapat terungkap dan terkadang tidak dapat terungkap. Tetapi, di sana (akhirat) menggunakan alat-alat nâthiqah (berbicara) dan hidup sehingga tidak akan meleset ataupun luput.
          Oleh karena itu, hendaknya manusia selalu mewaspadai dirinya dengan saksama. Bersikap cermat dan hati-hati terhadap anggota-anggota tubuh (jawârih) dan jawânih-nya. Karena setiap yang dilakukan oleh jawârih maupun jawânih akan terekam dan terpelihara rapi sehingga pada akhirnya akan diperhitungkan di akhirat kelak.
          Dan adapun kesaksian yang ketiga: Yaitu kesaksian Allah Swt.
          Berkata Imam Ali as:

وَجَعَلْتَهُمْ شُهُوْدًا عَلَيَّ مَعَ جَوَارِحِيْ، وَكُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيَّ مِنْ وَرَائِهِمْ، وَالشَّاهِدَ لِمَا خَفِيَ عَنْهُمْ

Engkau menjadikan mereka saksi-saksi bersama seluruh anggota tubuhku, dan Engkau sendiri pengawas di belakang mereka dan saksi bagi apa yang tak terpantau oleh mereka.
          Allah Swt telah menutupi beberapa hal dari malaikat. Mereka (malaikat) terkadang tidak mengamati hal-hal yang rahasia dan lembut yang ada dalam hati kita dan angan-angan yang ada dalam pikiran kita. Tetapi Allah Swt selalu memonitor dan mengawasi dengan cermat segala yang ada dalam hati kita, kedipan kedua mata kita, detak jantung kita dan maksud serta niatan hati kita, apakah menuju kebaikan atau keburukan:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَمَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٌ إِلاَّ هُوَ رَابِعُهُمْ وَلاَ خَمْسَةٌ إِلاَّ هُوَ سَادِسُهُمْ وَلاَ أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلاَ أَكْثَرُ إِلاَّ هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَمَا كَانُوْا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ
         
Tidaklah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di lelangit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya; Dan tiada pembicaraan antara lima orang melainkan Dialah yang keenamnya; Dan tiada pula pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberikan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [QS 58:7]

۳) قَوِّ عَلَى خِدْمَتِكَ جَوَارِحِيْ

Kokohkan anggota tubuhku untuk berbakti kepada-Mu
          Ya Rabbi, saya hendak mentaati-Mu, beramal pada jalan-Mu, berjuang sepenuh kekuatanku hanya untuk-Mu, tetapi dalam suatu keadaan terkadang anggota tubuhku lemah, maka kuatkanlah anggota tubuhku sehingga dengan kekuatannya aku minta pertolongannya untuk mentaati-Mu.
          Dan acapkali niat dan maksudku yang baik melemah, maka teguhkan jiwa batinku untuk selalu melaksanakan niatku.

٤) وَاشْدُدْ عَلَى الْعَزِيْمَةِ جَوَانِحِيْ
Teguhkan jiwa batinku untuk selalu melaksanakan niatku

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, jangan Engkau gelincirkan hati kami (condong kepada kesesatan) sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."

اللّهُمَّ مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ
Ya Allah, yang membolak balikkan hati dan pandangan, kukuhkanlah hati kami untuk dapat melaksanakan agama-Mu.
SEMOGA BERMANFAAT.