G+

Hadits Kisa dalam Musnad Ahmad bin Hanbal



حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو النضر هاشم بن القاسم ثنا عبد الحميد يعنى بن بهرام قال حدثني شهر بن حوشب قال سمعت أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه و سلم حين جاء نعى الحسين بن على لعنت أهل العراق فقالت قتلوه قتلهم الله غروه وذلوه لعنهم الله

Kehangatan sambutan Abu Abdillah bagi para peziarah



Imam Shadiq as. berbicara mengenai hakikat ziarah Imam Husain as.:
“Sesungguhnya beliau melihat para peziarahnya. Bahkan beliau lebih tahu nama-nama mereka, nama bapak-bapak mereka dan bekal yang mereka bawa lebih dari pengetahuan seorang ayah terhadap anaknya.
Beliau akan memandang setiap peziarah yang menangis untuk beliau mohonkan ampun untuknya dan meminta bapaknya untuk memohonkan ampun atas kesalahannya seraya berkata: “Wahai kamu yang sedang menangis, sekiranya engkau tahu janji Allah atas setiap tangisanmu niscaya kebahagiaan akan mengalahkan kesedihanmu”. Beliau juga memohonkan ampun atas setiap kesalahan dan dosa”.

(Kamil Az Ziyarah: 26 dan kitab Amali Ath Thusi: 55)

Terbuai keindahan purnama




Saat anda berjalan menembus malam di sebuah jalan yang sulit dilalui karena penuh dengan lubang dan retakan di sana sini, saat itu anda akan sangat membutuhkan pancaran cahaya bulan untuk menerangi jalan yang anda lalui, sekaligus menjaga anda dari tergelincir ke dalam lubang-lubang itu. Jika sinar bulan telah membuai mata anda dengan keindahan dan keanggunannya, terutama saat purnama tiba, maka pandangan anda akan tertuju pada keindahannya hingga anda akan berada dalam buaian khayalan yang memberikan kenikmatan jiwa yang dalam.
Namun, keindahan bulan itu seringkali membuat anda lupa daratan hingga tidak menyadari adanya lubang menganga di depan anda dan akhirnya anda tergelincir dan mengalami kerugian.
Seperti itulah sirah (perjalanan hidup) Ahlul Bait as. yang tidak ubahnya bulan purnama yang bersinar indah dan menerangi jalan kehidupan yang kita lalui. Namun masih banyak diantara kita yang terbuai oleh keanggunan dan keindahan sirah nan suci itu dan hanya melahirkan konsep dan emosi. Mereka tenggelam dalam kekaguman akan sosok para imam pembawa hidayah itu dan emosi mereka tercurah dalam kekaguman itu. Pada saat yang sama mereka lupa bahwa kekaguman itu harus diwujudkan dengan cara menauladani perjalanan hidup mereka. Hal ini yang menyebabkan mereka luput dari kesempatan meraih anugerah hidayah yang menjadi senjata dalam menghadapi berbagai tantangan hidup dan menghindari bencana.

(Musa Ash Shafar)

Rahasia Di Balik Ujian


Jika Allah swt. menghendaki untuk mengutus para nabi dengan membukakan bagi mereka harta karun emas, tambang batu mulia, hasil pertania dan mengumpulkan burung-burung yang terbang di langit serta binatang-binatang liar yang ada di darat niscaya Allah akan melakukannya. Jika Allah melakukannya maka gugurlah ujian, balasan akan dibatalkan, berita-berita (syariat) akan sis-sia, yang menyambut panggilam tidak layak menerima pahala atas cobaan, yang beriman tidak pantas meraih pahala pembuat kebajikan dan nama-nama tidak lagi punya makna. Namun Allah menjadikan para nabi memiliki kekuatan tekad yang kuat, kondisi lemah mereka yang lebih dari apa yang dapat dilihat mata menjadi kekayaan karena hati mereka dipenuhi dengan qana’ah (kepuasaan) meskipun kemiskinan selalu memenuhi mata dan pendengaran mereka dengan siksaan
Nahj Al Balaghah: 291