Thursday, 19 April 2018

DS042-IMAM HUSAIN SAKSI SEJARAH KELAM AHLUL BAIT



Saat itu, hari Selasa tanggal 3 bulan Sya’ban, Rasulullah saw. menerima sebuah anugerah yang sangat membahagiakan hatinya yaitu kelahiran seorang cucu dar puteri tercinta, Fatimah Az Zahra as. Dinamakannya anak itu Husein. Namun kegembiraan Rasulullah tidak berlangsung lama karena sesaat stelah itu, Jibril datang memberitahukan tentang satu perkara besar yang akan menimpa cucu tercintanya itu.
Ketika Husein baru dilahirkan, seperti layaknya orang tua, Rasulullah membacakan adzan pada telinga kanannya dan beliau tersenyum bahagia, akan tetapi saat membacakan iqamat pada telinga kirinya beliau menangis. Para sahabat dan keluarga bertanya : “Apakah yang meyebabkan anda sebentar tersenyum dan sebentar menangis ?”, Rasul menjawab : “Aku tersenyum karena anakku ini akan menjadi seorang pemimpin dan aku menangis karena ia akan mati secara mengenaskan di tangan umatku sendiri”.

Beban batin yang sangat berat ditanggung oleh Rasulullah saw. setiap kali melihat Husein kecil berlari kesana kemari seperti layaknya anak-anak yang lain. Beliau senantiasa menangis ketika mengingat betapa nasib yang malang akan menimpa anak kecil ini di kemudian hari.

Rasul sangat mencintai Al Husein, bahkan pernah pada suatu hari Husein kecil menerobos shaf-shaf shalat hingga sampai kepada Rasulullah yang sedang memimpin shalat. Husein segera naik ke punggung beliau. Karena takut Husein jatuh, Rasul melakukan shalat sambil memegang tangan dan kaki Husein hingga selesai dari shalatnya.1

Rasulullah sangat mencintai Al Husein as. sehingga senantiasa membawanya dalam shalat dan dalam setiap aktivitas.

Pada suatu hari Rasulullah saaw. pergi ke masjid untuk melakukan shalat. Beliau juga mengajak Al Husein as. Saat itu Husein sulit berbicara sehingga Rasul takut jikalau Husein menjadi bisu. Ketika Rasul membaca : “Allahu Akbar”, Husein kecil menirukan dengan membaca : “Allahu Akbar”. Betapa senangnya hati Rasulullah. Beliau mengulangi takbirnya hingga tujuh kali dan Al Husein menirukannya hingga tujuh kali pula demikian pula dengan rakaat kedua.2
Rasul mencintai Husein bukan karena nafsu insaniyah (emosional) dan hawa nafsu. Kecintaannya murni karena perintah Allah serta fadhail yang dimiliki Husein as. Sejak kecil Al Husein telah menampakkan tanda-tanda karamahnya.
Diriwayatkan oleh Al Majlisi dari Salman yang berkata : “Pada suatu hari aku menghadiahi Rasulullah seikat anggur tanpa menggunakan piring. Beliau berkata kepadaku : “Wahai Salman, panggilah Hasan dan Husein untuk makan anggur ini bersamaku !”, akhirnya aku (Salman) pergi mencari kedua anak itu kerumah kedua orang tuanya akan tetapi aku tidak menemukannya. Aku kembali kepada Nabi dan memberitahukan hal itu. Nabi bangkit dan mencari Al Husein as. Nabi mulai merasa kebingungan, beliau berseru : “Wahai anakku, wahai cahaya hatiku, barangsiapa yang dapat menemukan kedua anakku maka ia akan mendapatkan surga !”
Jibril turun dan berkata : “Wahai Muhammad mengapa engkau berteriak ?” “Aku berteriak memanggil kedua anakku karena aku takut tipu daya orang-orang Yahudi”, kata Nabi. Jibril berkata : “Jika engkau takut, takutlah kepada tipu daya orang-orang munafik diantara umatmu karena tipu daya mereka lebih dahsyat dari tipu daya Yahudi”. Jibril meneruskan ucapannya : “Kedua anakmu berada di kebun miliki Bani Dahdah”. Nabi segera berlari menuju tempat yang ditunjukkan Jibril dan menemukan kedua sedang tidur di kebun itu dengan saling berpelukan. Sementara di samping ada seekor ular yang  di mulutnya terdapat sesuatu yang diusapkan ke wajah kedua anak itu. Rasul segera menghalau ular tersebut dan tiba-tiba ular itu berkata : “Assalamu’alaika ya rasulullah, sebenarnya aku bukan ular, aku adalah malaikat karrubi yang lalai bedzikir kepada Allah sekejab mata sehingga Allah murka dan aku dijadikan ular oleh-Nya, aku diusir dari surga dan diturunkan ke bumi. Bertahun-tahun aku mencari seorang yang mulia untuk memberikan syafa’atnya padaku di depan Allah, semoga dengan itu Allah akan memaafkan aku dan mengembalikan aku menjadi malaikat”.
Nabi mendekati Hasan dan Husein dan menciumi kedua anak itu hingga keduanya terbangun. Diletakkan kedua anak kesayangannya itu diatas pangkuannya. Nabi berkata : “Wahai anak-anakku, ular ini adalah malaikat yang dihukum Allah menjadi ular karena ia lupa berdzikir sekejab mata dan ia memohon agar kalian mensyafa’atinya, syafa’atilah dia !”
Hasan dan Husein bangkit dan segera mengambil air wudhu dan melakukan shalat dua rakaat dan setelah itu berkata : “Yaa Allah, atas nama kakekku yang terhormat dan yang kami cintai, Muhammad Al Musthafa saaw., atas nama ayahku Ali Al Murtadha, atas nama ibuku Fatimah Az Zahra, kembalikanlah ia ke wujud semula”. Begitu doa itu selesai dibacakan oleh kedua anak itu, Jibril datang bersama para malaikat dan menyampaikan berita gembira kepada malaikat tersebut bahwa Allah meridhainya dan mengembalikannya pada kedudukan semua. Para malaikat itu kemudia naik ke langit sambil bertasbih kepada Allah swt.
Sesaat kemudian Jibril turun kepada Rsulullah saaw. sambil tersenyum dan berkata : “Wahai Rasul Allah, malaikat yang baru saja mendapat syafa’at menjadikan syafa’at kedua anakmu ini sebagai kebanggan, ia ceritakan kepada stiap malaikat di tujuh langit dengan mengatakan : “Tidak ada yang seperti aku, aku disyafa’ati dua cucu Rasul yang mulia, Hasan dan Husein”.3

Jika kita membicarakan tentang Imam Husein as. maka kita tidak akan pernah mampu mencapai seluruh keutamaannya.
Akan tetapi yang jelas, Imam Husein adalah saksi sejarah umat Islam yang mengingkari ajaran-ajaran nabi mereka.
Imam Husein hidup pada beberapa zaman yang berbeda tapi dengan kezaliman yang sama. Karenanya Imam Husein telah telah banyak mengambil ibrah daripadanya.

·                     Husein hidup bersama Rasulullah                      : 7 tahun
·                     Husein hidup bersama Ali bin Abi Thalib as.                : 30 tahun
·                     Husein hidup bersama Imam Hasan                              : 10 tahun
·                     Zaman keimamannya                                            :10 tahun lebih beberapa bulan

Kehidupan Al Husein bersama Rasulullah memberikan warna ilahi yang sangat indah dalam diri Al Husein. Cahaya terang yang senantiasa keluar dari hati suci Al Husein senantiasa menerangi hati setiap pecinta Ahlul Bait as.
Akhlak mulia Rasul sedemikian terpancar dari setiap perbuatan Al Husein as. Ketika pada suatu hari Hasan dan Husein melewati seorang tua yang melakukan wudhu kurang sempurna. Mereka memikirkan cara yang paling sopan untuk menegur orang yang lebih tua. Mereka berdebat di depan orang tersebut “Engkau melakukan wudhu yang salah”, kata masing-masing dari keduanya, dan sepakat mengadakan lomba melakukan wudhu dengan  baik. Mereka berkata pada orang tua tersebut : “Wahai syaikh, kami akan melakukan perlombaan wudhu, bersediakah engkau menilai wudhu kami ?”. Merekapun melakukan wudhu dan setelah selesai , keduanya berkata : “Wahai syeikh, mana yang lebih baik ?”, syeikh itu menjawab : “Kalian berdua melakukan wudhu dengan baik, akulah syeikh yang telah jahil dan tidak melakukan wudhu dengan baik. Aku telah belajar dari kalian, bertaubat melalui kalian, mengambil berkah kalian dan kasih sayang kalian kepada umat kakek kalian Rasulullah saaw.”
Hasan dan Husain bisa saja mengingatkan kesalahan wudhu orang tua tersebut akan tetapi kelembutan hati yang ditanamkan oleh Rasulullah saaw. dalam diri Al Husein sebagai “Syajarah Thayyibah” telah tumbuh dengan suburnya dengan siraman air nubuwah.
Pada jaman kehidupan Al Husein bersama Rasulullah saaw., Al Husein, meskipun masih kecil, ia memahami apa yang terjadi pada jaman Rasulullah saaw. Selain meneguk air nubuwah, Al Husein juga memahami bagaimana kaum munafiqin dari umat Muhammad senantiasa menampakkan kecintaan kepada Rasul-Nya tapi hati mereka senantiasa mengatakan sebaliknya. Ia tahu bagaimana kaum munafik senatiasa berusaha untuk menghancurkan Islam dari dalam dengan tipu muslihatnya. Mereka senantiasa meragukan kenabian Muhammad saaw. Orang-orang munafik pada jaman Nabi sangatlah banyak dan jika bukan pemberitahuan dari Allah, mungkin Nabipun tidak akan tahu. Allah sendiri yang menjelaskan :

“Disekitar kamu banyak orang-orang munafik, kemunafikan mereka sangat besar. Kamu tidak mengenal mereka tapi aku tahu…” (Q.S. At Taubah : 101)

Anehnya, banyak kaum muslimin yang menganggap bahwa semua sahabat pada jaman Rasulullah saaw. adalah adil dan tidak boleh dikritik. Setiap membicarakan peristiwa dimana beberapa sahabat Rasul terbukti melakukan kemunafikan, mereka segera bereaksi dan menganggap pembicaraan tersebut tabu dan harus segera dihentikan. Meski demikian, mereka tetap meyakini hadits tentang “sepuluh sahabat masuk surga”. Jika bukan karena adanya strata ruhani yang dimiliki oleh para sahabat, tidak mungkin yang masuk surga hanya sepuluh orang sedang yang lain tidak. Selain yang sepuluh  berhak iri karena derajat mereka sama tapi diperlakukan secara berbeda. Mereka tersinggung jika kita mengatakan bahwa sebagaian sahabat adalah orang-orang munafik sementara kriteria sahabat menurut mereka adalah sangat rawan kritik.
Ketika Rasulullah wafat, Al Husein adalah saksi nyata bagaimana orang-orang yang mengaku sahabat berbondong-bondong lari ke Saqifah Bani Sa’idah untuk memperebutkan kekuasaan dengan meninggalkan jenazah Rasulullah yang belum dimandikan.
Ketika mereka diperintahkan Rasul untuk pergi bersama pasukan Usamah, mereka tidak pergi dengan alasan Rasul sedang sakit dan tidak ada yang merawat beliau. “Itu hanya ucapan mereka saja”, terbukti setelah Rasulullah wafatpun mereka sama sekali tidak memperhatikan jenazahnya. Sementara Ahlu Bait dalam keadaan berkabung dan berduka cita, para sahabat berebut kuasa dan hampir terjadi perang diantara mereka. Akhirnya terpilihlah khalifah yang pertama dengan cara pemilihan yang sangat tidak Islami, hingga Umar sendiri mengatakan : “Pemilihan ini, faltah (ngawur)”.

Setelah Rasul wafat, bencana Ahlul Bait mulai terasa menyesakkan dada. Dimulai dari terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah, seakan-akan Ahlul Bait sudah tidak punya pelindung lagi. Orang-orang munafik mulai manampakkan wujud aslinya. Iblis-iblis mulai nampak nyata di depan mata. Langit Arab mulai mendung, kehancuran umat Muhammad sedang di mulai dari sini.

Ali dipaksa membaiat Abu Bakar
Setelah Abu Bakar menduduki jabatan sebagai khalifah yang dipilih oleh syura mulai pembersihan terhadap siapapun yang menentang kekhalifahan itu. Ahlul Bait adalah sekelompok manusia suci yang tidak berangkat ke Saqifah karena kecintaan mereka kepada Rasulullah dan karena wasiat yang sangat jelas tentang khalifah setelah Rasul. “Tidak pantas bagi setiap mukmin baik laki-laki mapun perempuan, jika Allah dan Rasul-Nya sudah menentukan suatu urusan ia tidak boleh memilih yang lain”. Itulah semboyan mereka.
Tapi umat yang sudah gila kuasa menginginkan agar setiap orang tunduk pada pilihan mereka. Mereka memaksa Ahlul Bait untuk membaiat pilihan mereka. Imam Husein menceritakan peristiwa ini dengan sangat jelas karena beliau juga termasuk orang yang mengalaminya sendiri. Al Husein berkata : “Ketika Abu Bakar dan Umar datang ke rumah menemui ayahku dan berbicara tentang baiat lalu pergi, Ali segera pergi masjid dan berdoa seraya memuji Allah atas apa yang dianugerahkan kepada Ahlul Bait dan karena Allah telah mengutus Rasul dan mensucikan Ahlul Bait sesuci-sucinya”.
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Iyasy dari Sulaim bin Qais : “Wahai saudara-saudaraku, Rasul telah wafat dan sebelum jasad Rasul dikuburkan, orang-orang telah berselisih. Sementara Ali bin Abi Thalib sibuk mengurusi jenazah Rasul. Ia memandikan, mengkafani dan menguburkan jenazah suci itu. Kemudia Ali melanjutkan penyusunan Al Quran dan melaksanakan setiap wasiat Rasul. Semua orang telah dipengaruhi oleh dua laki-laki itu kecuali Ali, Banu Hasyim, Abu Dzar, Miqdad, Salman dan beberapa gelintir orang. Umar berkata kepada Abu Bakar : “Wahai kamu, semua telah menbaiatmu kecuali orang yang satu ini beserta Ahlul Bait dan beberapa teman mereka. Utuslah utusan kepada mereka !”. Mendengar hal itu Abu Bakar segera mengutus anak paman Umar yang bernama Qunfudz…”
Selang beberapa hari, nampaknya Ali tidak bersedia membaiat Abu Bakar. Umar berkata kepada Abu Bakar yang sedang berada diatas mimbar : “Mengapa kamu dapat duduk tenang diatas mimbar sedang disana seseorang berusaha melawan kamu dan tidak membaiat kaum , perintahkan kepadaku agar aku dapat memotong lehernya?” Saat itu Al Hasan dan Al Husein berdiri tidak jauh dari tempat itu dan mendengar apa yang dikatakan. Anak kecil yang mendengar pembicaraan tentang ayahnya yang semacam itu segera berlari sambil menangis : “Wahai kakek, wahai Rasulullah !”. Ali memeluk kedua anaknya dan didekapkan kedadanya sambil berkata : “Wahai anak-anakku saying, jangan menagis. Demi Allah, mereka tidak akan dapat membunuhku karena mereka lebih hina dari itu”.
Pada saat itu Ummu Aiman, pengasuh Rasulullah dan Ummu Salmah berada di tempat yang sama dan berkata : “Wahai budak yang dibebaskan, mengapa begitu cepat engkau tampakkan kedengkianmu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad”. Umar memerintahkan agar kedua perempuan itu dikeluarkan dari masjid sambil berkata : “Perempuan tidak perlu mengetahui urusan ini !”
Umar datang ke rumah Ali bin Abi Thalib dan terjadi pembicaraan seperti ini :

Umar   : “Wahai Ali, bangun dan baiatlah Abu Bakar !”
Ali        : “Jika aku tidak mau “?
Umar   : “Kami akan memotong kepalamu”.
Ali        : “Bohong wahai Ibnu Shahak, engkau tidak akan pernah mampu melakukan itu karena engkau lebih hina dan lebih lemah dari itu”.
Melihat hal itu Khalid bin Walid segera berdiri dan mengancam Ali bin Abi Thalib sambil berkata : “Demi Allah, jika kamu tidak mau melakukan maka aku akan membunuhmu!”
Umar berkata lagi : “Berdiri wahai Ali bin Abi Thalib, baiatlah !”
Ali menjawab : “Jika aku masih juga tidak mau ?”
Umar : “Aku akan membunuhmu”.
Ali bin Abi Thalib berhujjah kepada Abu Bakar hingga tiga kali kemudia Ali mengangkat tangan tanpa membuka jari-jarinya. Abu Bakar memukul tangan itu dan merasa bahwa Ali telah membaiat dan ia pergi bersama pengikutnya.4

Al Husein yang masih kecil dipaksa menyaksikan yang semacam itu. Anak sekecil itu sudah melihat kezaliman umat Muhammad kepada keluarganya. Teringat kembali bagaimana Rasulullah sangat menyayangi mereka berempat.
Al Husein kecilpun tahu bahwa kekhalifahan setelah Rasul adalah milik ayahnya sehingga pada suatu hari ketika Abu Bakar berada diatas mimbar, Hussein berkata : “Ini mimbar ayahku bukan mimbar ayahmu !”, saat itu Ali masuk ke masjid dan berkata : “Wahai abu Bakar, anak kecil mengalami pertumbuhan dalam masa tujuh tahun, bermimpi pada umur 14 tahun, sempurna tinggi badannya pada umur 24 tahun dan sempurna akalnya pada umur 28 tahun setelah itu maka ia akan melakukan segalanya sendiri”.5

Percobaan pembunuhan Hasan dan Husein
Khalifah terpilih dan para pengikutnya mulai merasa bahwa keberadaan Al Hasan dan Al Husein mulai membahayakan mereka. Mereka mencari cara bagaimana Al Hasan dan Al Husein sebagai saksi nyata dapat lenyap dari muka bumi.
Pada suatu hari Al Hasan dan Al Husein bertemu dengan seseorang yang wajahnya sangat garang. Ia bertanya : “Dari mana kalian ?”, “kami dari baitul khala”, jawab mereka. Ia berusaha menyakiti mereka tapi tiba-tiba ada suara : “Wahai syaitan, apakah engkau hendak menyakiti putera-putera Nabi, aku tahu apa yang kamu lakukan semalam. Engkau berniat menyakiti ibu mereka juga, engkau berusaha membuat cerita bohong dalam agama dan engkau lalui jalan yang bukan jalanmu”.
Orang tersebut mengayunkan tangan kanannya dan hendak memukul kepala Al Husein. Allah menjadikan tangan itu lemah, lunglai tak berdaya. Ia mencoba dengan tangan kirinya dan hal yang sama ia alami”.
Akhirnya orang itu berkata : “Atas nama datuk dan ayah kalian aku minta kalian memohon kepada Allah agar membebaskan aku dari keadaan ini!”
Imam Husein berdoa : “Ya Allah, bebaskanlah dia, dan jadikanlah hal ini sebagai pelajaran dan hujjah atasnya”. Laki-laki itu pergi meninggalkan Hasan dan Husein.

Husein bersaksi untuk Fatimah tentang Fadak
Kepergian Rasul diikuti dengan dirampasnya hak-hak ahlul Bait as. Dari mulai kekhalifahan Ali bin Abi Thalib hingga warisan Rasul satu-satunya Fatimah yaitu tanah Fadak. Tanah Fadak ini merupakan warisan Rasul kepada Fatimah yang diperintahkan Allah, bukan warisan manusia atau nasab. Imam Husein pernah mengatakan : “Ketika Allah memberikan kemenangan kepada Rasulnya termasuk didalamnya tanah Fadaq dan sekitarnya. Allah menurunkan satu ayat sehubungan dengan Fadaq ini : “Berikanlah hak kerabatmu !”6, Rasul tidak mengetahui siapa yang harus mendapatkannya dan akhirnya Jibril turun dan menerangkan bahwa itu untuk puteri kesayangannya, Fatimah as. Rasul memanggil Fatimah : “Wahai Fatimah, Allah memerintahkan aku untuk memberikan Fadaq ini padamu”.
Fatimah menjawab : “Baik ya Rasulullah, aku terima darimu dan dari Allah”.
Tanah Fadaq adalah pemberian Allah kepada Fatimah dan akan menjadi milik Fatimah selama Allah menghendaki. Tapi khalifah Abu Bakar berusaha untuk mengambilnya dari puteri Rasul itu. Fatimah mendatangi Abu Bakar dan menuntut haknya itu. Abu Bakar berkata : “Datangkanlah saksi atas pengakuanmu !”, lalu datanglah Ali, Hasan, Husein dan Ummu Aiman dan semuanya bersaksi. Tanah Fadak kembali ke tangan Fatimah, akan tetapi di tengah perjalanan mereka bertemu Umar. Umar berkata : “Kertas apa itu wahai puteri Rasul ?”, “Ini surat Abu Bakar”, jawabnya. Umar berkata : “Tunjukkan padaku !” Fatimah tidak bersedia menunjukkannya. Dirampasnya kertas itu dari tangan Fatimah dan disobeknya kertas itu sambil berkata : “Tanah itu bukan milikmu lagi”.7
Betapa pedih hati Fatimah, Ali, Hasan dan Husein. Satu-satunya peninggalan Rasulullah untuknya telah dirampas dari tangannya.
Fatimah sakit, dalam sakitnya itu ia berwasiat kepada suaminya Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan berita ini, merahasiakan tentang sakitnya dari orang lain. Ali melaksanakan wasiat itu. Ia mengurusi isteri tercintanya yang terbaring sakit dengan sangat hati-hati. Ia dibantu oleh Asma binti “Umais. Ketika Fatimah Az Zahra mendekati ajalnya, ia berwasiat kepada Ali agar ia sendiri yang menguruskan jenazahnya, menguburnya sendiri dan disembunyikan kuburannya. Ali bin Abi Thalib melaksanakan wasiat itu”.
Ketika Fatimah wafat Hasan dan Husein masih kecil, mereka bertanya : “Wahai Asma, apakah yang membuat ibuku tidur pada saat-saat seperti ini ?”
Tidak dapat lagi menahan air mata Asma berkata : “Kasihan sekali kalian, ibu kalian tidak tidur, ia telah meninggal”. Mendengar penjelasan itu Hasan dan Husein berlari memeluk jenazah ibunya diciumi jenazah ibunya itu dan berkata : “Wahai ibu, bicaralah padaku sebelum kau tinggalkan aku !” Husein berkata : “Wahai ibuku bicaralah padaku sebelum aku mati karena kesedihan berpisah darimu”.
Saat peristiwa itu Imam Ali belum mengetahui bahwa Fatimah telah wafat, Asma berkata kepada Hasan dan Husein, wahai putera-putera Nabi pergi dan beritahu ayahmu akan hal ini !”. Mereka lari menemui Ali bin Abi Thalib dan ketika sampai di dekat masjid dan mendapat ayahnya mereka menangis dengan keras. Sahabat bertanya : “Apa yang menjadikan kalian menangis ?”, “Apakah kalian merindukan kakek kalian ?” Tanya mereka.
 Keduanya menjawab : “Tidak, ibu kami telah pergi”.
Ali lemas lunglai, ia terduduk sambil berkata : “Siapa yang pang bersedih wahai puteri Rasul.

Iman Hussein adalah saksi sejarah hitam umat Muhammad. Setelah kepergian ibunya, Hasan dan Husein hidup bersama ayahnya dalam kedhaliman umat Muhammad. Kesedihan mereka kian bertambah tatkala suatu malam di bulan Ramadhan pedang musuh menebas pundak ayahnya ketika sedang shalat. Ali, Amirulmukminin tersungkur di mihrab bersimbah darah. Mendengar hal itu Hasan dan Husein menangis sambil berseru : “Wahai ayah, akan lebih jika kami mati”. Selang beberepa hari Ali bin Abi Thalib menghadap Allah dan Rasulnya. Kini Hasan dan Husein tingga sendirian sebatang kara. Jika pada masa hidup ayah dan ibunya ada orang yang berusaha membunuhnya bagaimana sekarang. Musuh-musuh Allah sudah mempersiapkan pedangnya dan siap mencengkeram meraka.

Al Hasan menggantikan ayahnya mejadi Imam dan kezaliman yang sama diterima olehnya
Dan Husein…..
Setelah menyaksikan satu demi satu keluarganya didzalimi, kini ia harus mengalami kezaliman yang terbesar dalam sejarah umat manusia.




1 Kitab Sulaim bin Qais : 172
2 Kitab Man laa yahdhuruhul faqiih 1 : 305 hadits ke-917  Wasail Asy Syi’ah  3:722 hadits ke-4
3 Bihar Al Anwar 34 : 313   Al ‘Awalim  16:66  hadits ke-4   Ma’ali As Sibthain  1 : 83
4 Kitab Sulaim bin Qais : 239  Bihar Al Anwar  28 : 297 hadits 48
5 Mustadrak Wasail  15 : 165 hadits ke-3
6 Q.S. Al Isra : 26
7 At Tahdzib 4 : 148 hadits : 414

Wednesday, 18 April 2018

DS041-ITIKHARAH, ANTARA KEPASRAHAN DAN KEMALASAN



Allah berfirman: “Tidak pantas bagi setiap mukmin laki-laki maupun perempuan jika Allah dan Rasul-Nya telah menentukan urusan mereka, mereka lebih memilih (putusan) selainnya” (Q.S. Al Ahzab: 36)

Manusia dan kebimbangan
            Manusia adalah makhluk yang diberikan kelebihan oleh Allah dalam bentuk kemampuan untuk mengambil keputusan secara inovatif dalam menanggapi beberapa opsi dalam kehidupannya. Dengan kelebihan tersebut manusia berusaha untuk memilih salah satu atau sebagian dari berbagai pilihan sikap yang terbaik menurutnya dalam menyelesaikan beragam masalah.

Namun demikian, kompleksitas permasalahan menjadikan tidak setiap identifikasi masalah berhasil pada kesimpulan hitam-putih dan gamblang. Seringkali manusia berada dalam kebimbangan untuk memutuskan diantara dua tindakan yang dipandangnya memiliki resiko dan manfaat yang relatif sama. Biasanya, pertentangan antara akal dan perasaan (baca: hawa nafsu) berperan besar dalam menciptakan kebimbangan ini. Di saat akal memberikan instruksi untuk mengambil satu sikap, perasaannya mengatakan sesuatu yang lain yang menjadikannya ragu dan tidak mampu memutuskan.
Di sini manusia memerlukan pihak yang dipercaya untuk memutuskan serta mengurai kebimbangannya dengan hasil yang bergaransi. Pihak itu adalah Allah yang Maha Mengetahui dan sebaik-baik pengambil keputusan.

Makna Istikharah

            Istikharah berasal dari kata kerja khaa-ra dan yakhiru yang berarti memilih. Darinya lahir kata ikhtiar yang berarti pilihan. Wazan (kerangka kata) istaf’ala-istif’aalatan telah merubah bentuk dasarnya menjadi istikhaaratan atau istikharah sebagaimana yang kita kenal hari ini. Perlu diketahu bahwa wazan istaf’ala-istif’aalatan bermakna permintaan untuk melakukan sesuatu, misalnya kata ghafara yang artinya mengampuni, ketika kata tersebut dipecah (di-musytaq) dan merubahnya sesuai kerangka diatas maka berubah menjadi istaghfara-istighfaaran yang artinya meminta ampunan.
Ada sesuatu yang unik secara lughawi (bahasa) dalam kata ini, yaitu bahwa kata istaghfara masdarnya adalah istighfaran tapi mengapa istakhara (dengan wazan yang sama) tidak menjadi istikhaaran tapi istikharatan (dengan ta marbuthah)
Masdar adalah kata benda bentukan dari kata kerja. Seperti dalam bahasa Indonesia kita sering merubah kata kerja menjadi kata benda abstrak dengan menambahkan awalan pe dan akhiran an, seperti memukul menjadi pemukulan dan sebagainya.
Dalam bahasa Arab (khususnya ilmu Sharaf) ada beberapa kerangka masdar yang masing-masing memiliki makna dan konotasi berbeda. Salah satunya adalah yang disebut masdar marrah yang diakhiri dengan ta marbuthah. Masdar marrah adalah masdar yang menunjukkan perbuatan yang dilakukan sekali saja. Sehingga besar kemungkinan keberadaan ta marbuthah dalam kata istikharah mengandung makna bahwa hal itu hanya boleh dilakukan sekali saja dalam satu masalah dalam satu masa dan tidak boleh diulang-ulang.

Istikharah, ritual sakral

            Makna istikharah diatas sesuai dengan pengertian istikharah sebagai langkah final dalam memutuskan apakah sebuah tindakan harus dilakukan atau ditinggalkan setelah berhadapan dengan jalan buntu dalam menentukan pilihan dari beberapa alternatif.
Sebuah keputusan final haruslah melalui tahap-tahap yang meyakinkan seseorang bahwa ia tidak memiliki sedikitpun kecenderungan kepada salah satu sisi alternatif. Selama ada kecenderungan kepada salah satu sisi, maka istikharah sangat tidak dianjurkan karena hanya akan menciptakan potensi kontra antara kepasrahan atas hasil istikharah dengan kecenderungan tersebut.

Istikharah adalah ritual suci dimana seseorang menyerahkan sebuah keputusan hidup yang (pastinya) sangat penting di tangan Allah. Karenanya, diperlukan kesiapan mental terutama untuk menerima apapun hasilnya. Dengan kata lain, sebelum melakukan istikharah, manusia harus memanfaatkan seluruh kemampuan akal serta fasilitas-fasilitas yang diberikan Allah kepadanya untuk menentukan ikhtiar dan pilihan sikap hidupnya. Itulah makna dari firman Allah: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka berusaha merubah nasib mereka sendiri”.

Istikharah pengobat penyakit was-was

            Istikharah adalah jalan keluar dari kebimbangan yang menyiksa dan berkepanjangan. Cara ini merupakan kasih Allah kepada hamba-Nya untuk menghindarkannya dari serangan was-was saat ia berada dalam situasi membingungkan. Was-was adalah penyakit jiwa yang tidak ada obatnya selain dengan tidak mempedulikannya. Masalahnya adalah, secara teori hal ini mudah diucapkan akan tetapi menghindarkan diri dari was-was ini membutuhkan perjuangan besar dan tanpa henti mengingat tidak ada dalil dan argumentasi (aqli maupun naqli) yang mampu menggoyahkan keberadaannya. Dalam risalah fatwanya, Sayyid Ali Khamenei mengetakan bahwa satu-satunya cara menyelamatkan diri dari penyakit was-was adalah dengan kepasrahan dan tidak memperdulikannya. Misalnya, seseorang merasa was-was apakah wudhu yang ia lakukan sah atau tidak sehingga seringkali ia mengulang-ulang wudhu tanpa alasan yang jelas selain kecurigaan tak berdasar. Dalam kondisi itu, ia harus menganggap wudhunya sah dan pasrah kepada perintah Allah. Dalam hal ini, istikharah menjadi penyelemat dari penyakit jiwa yang sangat mengganggu.

Istikharah dan kemalasan berfikir kreatif

            Meski demikian tidak sedikit orang yang salah memahami hakikat istikharah sehingga menciptakan kondisi kontra produktif yang melunturkan nilai sakral dari amaliyah ini, yaitu dengan menjadikannya sebagai jalan keluar bagi kemalasan berfikir dalam menyelesaikan masalah. Mereka menjadikan istikharah sebagai pembenaran atas kemalasan berfikir dan berkreasi. Alternatif sederhana yang bisa dipilih dengan sedikit berfikir, mereka selesaikan dengan istikharah. Mereka lupa bahwa istikharah berlaku pada masalah-masalah yang memiliki urgensi tinggi dan tidak bisa diselesaikan setelah perjuangan maksimal dalam mendapatkan kepastian pilihan. Seringkali mereka sudah memiliki kecenderungan pada salah satu pilihan akan tetapi tetap melakukan istikharah.  Mereka adalah orang-orang yang tidak berani menanggung resiko wajar yang diterima dalam sebuah keputusan sehingga apa yang mereka lakukan mematikan kreatifitas. Yang mereka lakukan bukan kepasrahan tapi kemalasan atas nama kepasrahan. Bahkan dalam konteks agak ekstrim bisa kita katakana bahwa mereka berusaha menyerahkan tanggung jawab perbuatannya kepada Allah dan tidak menutup kemungkinan akan mengkambinghitamkan Allah dalam akibat-akibat keputusan istikharah yang dianggap tidak memihak kepentingan mereka.

Manfaatkan istikharah secara bijak agar kita mendapat solusi dalam setiap kesulitan tanpa mematikan kreativitas berfikir apalagi menyalahkan Allah dalam ketidakpuasan kita terhadap keputusan.

Semoga bermanfaat.    


Tuesday, 3 April 2018

DS040-DUDUK DI SURGA BERSAMA RASULULLAH



Masih ingatkah kita dengan hadits yang menyatakan bahwa Al Quran dan Ahlul Bait as. tidak akan terpisah hingga keduanya bertemu Rasulullah di telaga surgawinya?. Untuk mengingatkan kembali, saya akan kutipkan hadits yang menyatakan hal itu:

 المعجم الكبير: حدثنا محمد بن عبد الله الحضرمي حدثنا عبد الرحمن بن صالح ثنا صالح بن أبي الأسود عن الأعمش .. فَإِنيِّ تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ كِتَابَ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُوْدٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي وَإِنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتىَّ يَرِدَا عَلَيَّ الحْوْضَ فَانْظُرُوْا كَيْفَ تَخْلُفُوْنِي فِيْهِمَا

Dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir, telah diriwayatkan: “Telah disampaikan kepada kami oleh Muhammad bin Abdullah Al Hadhrami, dari Abdurrahman bin Shalih yang mengulang berita dari Shalih bin Abi Al Aswad, dari A’masy, dimana Rasul bersabda:

Maka aku tinggalkan diantara kalian dua pusaka yang agung, yaitu kitab Allah yang menghubungkan langit dan bumi dan keluaraga (ithrah) Ahlul Baitku. Sesungguhnya keduanya tidak akan terpisah hingga keduanya menemuiku di telagaku (surga). Maka perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya sepeninggalku!”.

Hadits diatas memberikan ilustrasi akan beberapa hal:

1.      Rasulullah telah meninggalkan wasiat agungnya yaitu Al Quran dan Ahlul Bait. Hadits ini sekaligus menepis anggapan bahwa Rasulullah meninggalkan dunia ini tanpa meninggalkan wasiat. Sebagai seorang nabi yang sangat memperhatikan nasib umatnya, bahkan pada saat sakratul mautnya, tidak mungkin beliau melalaikan masalah ini.
2.      Al Quran dan Ahlul Bait akan selalu bersama bahkan menjadi kesatuan yang tak terpisahkan hingga hari kiamat. Artinya, dimana ada Al Quran pasti di situ Ahlul Bait as. mengawalnya. Jika Al Quran adalah kitab yang akan selalu ada pada setiap jaman hingga hari kiamat, maka keberadaan salah seorang imam Ahlul Bait as. menjadi sebuah keniscayaan logis. Barangkali anda masih ingat bagaimana saat Rasul ditanya tentang siapa yang akan disinggahi malaikat pada malam-malam Qadar sepeninggal beliau?, dan beliau menjawab: “Akan turun pada imam bagi setiap jamannya”.

3.  Kita harus bahwa kita juga harus menyadari bahwa kita, sebagai umat Muhammad, akan dimintai pertanggungjawaban atas perlakukan kita kepada keduanya selama hidup di dunia. Apakah kita termasuk umat yang menjaga keduanya atau malah menelantarkan keduanya demi dunia. Jika kita meminjam istilah Al Quran dalam surat Al Fatihah, sehubungan dengan perlakukan terhadap Ahlul Bait as., manusia dibagi tiga:

a.       Yang mendapat nikmat (an’amta ‘alaihim), yaitu yang berhasil mereguk air hidayah dari cawan suci kedua pusaka itu dan mengangkatnya menuju derajat yang tinggi di sisi Allah raadhiyatan mardhiyyah (yang ridha dan diridhai)’
b.      Yang menentang dan memerangi (al maghdhuubi ‘alaihim), yaitu yang dimurkai Allah akibat usaha mereka untuk menentang dan memerangi kedua pusaka itu setelah jelas keterangan yang datang kepada mereka. Semua itu menyebabkan murka Allah karena dilakukan dengan dorongan nafsu duniawi dan sifat tak terpuji.
c.       Yang tersesat dan tidak mengenal (adh dhaallin), yaitu orang-orang yang tidak mengenal kedua pusaka ini sehingga mereka tersesat dari jalan yang seharusnya mereka tempuh.
    
Termasuk umat manakah kita?, semua terpulang pada perenungan masing-masing selama bersedia bersikap ikhlas dan insyaf untuk menerima kebenaran, darimanapun berasal.

4.      Pada hari akhir nanti setiap umat akan dikumpulkan bersama orang-orang yang mereka cintai sebagai penentu apakah kita mencintai orang yang salah atau bahtera cinta kita merapat di dermaga hakiki yang seharusnya. Riwayat tersebut juga menjadi isyarat bahwa keselamatan di akhirat ditentukan oleh kembali dan diakuinya kita sebagai umat pemimpin kita di akhirat nanti, dalam hal ini adalah Rasulullah saw. Karenanya kita sering mendengar hadits yang menyatakan bahwa bahwa barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mengenal imam jamannya maka ia mati layaknya kaum jahiliyah. Karena kita harus tahu, kepada siapa di akhirat nanti kita akan berkumpul dan bersama siapa kita akan disatukan.
Kita semua ingin dikumpulkan dengan Imam tertinggi kita yaitu Rasulullah saw. karena di sisi beliau juga Al Quran dan Ahlul Bait as. sebagai dua pusaka agung akan berkumpul dan bersatu.
Tapi, siapakah orang-orang yang akan mendapatkan kesempatan berkumpul dengan Rasulullah dan duduk bersebelahan dengan beliau di akhirat nanti?, apakah kita layak mendapatkan kehormatan itu?, apa yang harus kita lakukan untuk meraih kedudukan agung itu?
Untuk mengetahuinya, saya ajak anda untuk memperhatikan hadits berikut:

عن رسول الله:
اِنَّ أَحَبَّكُمْ اِلَيَّ وأَقْرَبَكُمْ مِنِّي يْوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْلِسًا اَحْسَنُكُمْ خُلُقًا وَ اَشَدُّكُمْ تَوَاضُعُا

Sesungguhnya orang yang paling kucintai diantara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling rendah hatinya diantara kalian

Sesungguhnya Rasululullah ingin menyampaikan kepada kaum mukminin tentang hubungan mereka dengan beliau berdasarkan amal dan sifat yang dimiliki.

Setiap mukmin pasti ingin dan selalu berusaha dicintai Rasulullah karena cinta Rasulullah bukanlah cinta berdasar hawa nafsu atau tendensi pribadi sebagaimana yang kita lakukan saat kita mencintai orang lain berdasar tendensi dan hawa nafsu

Rasulullah mencintai manusia karena mereka berpegang kepada apa yang dicintai Allah.
Hadits ini menekankan bahwa orang yang mendapat curahan cinta tertingginya melebih cinta kepada selain mereka dan orang-orang yang akan didekatkan oleh Allah kepada Rasulullah di surga. Mereka adalah orang2 yang mendapatkan sifat ini:
1.      Yang paling baik akhlaknya, baik kepada manusia lain, keluarga, kerabat dan semua yang berinteraksi dengannya dan segenap lapisan masyarakat
2.      Yang paling rendah hati di hadapan orang lain dalam segala bentuk interaksi dengan tidak merasa tinggi dan memandang orang lain dengan pandangan merendahkan.
Siapa yang tidak menginginkan berdampingan dengan Rasulullah di surga?

Rasulullah juga bersabda:
Yang paling sempurna imannya diantara orang-orang beriman adalah yang paling baik akhlaknya

Riwayat tersebut menerangkan betapa iman seseorang tidak sempurna jika belum terwujud dalam akhlak yang mulia. Dengan kata lain, orang yang memiliki kelebihan dari orang lain dari segi akhlak berarti ia juga memiliki kelebihan dari segi imannya.

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda:

Orang paling mirip denganku diantara kalian adalah yang akhlaknya paling baik
Beliau juga berkata kepada Ali bin Abi Thalib:

“Maukah kuberitahu tentang orang yang mirip denganku ?”, “Tentu wahai Rasulullah”, jawab Ali as. Rasul berkata: “Dialah yang paling baik akhlaknya dan paling lapang dadanya”.

Walhasil, akhlak terbaik adalah bekal terbaik agar kita diterima di samping Rasulullah dan duduk dekat dengan beliau di tepian telaga surgawinya.
Semoga kita bisa mewujudkan impian kita untuk mereguk air kenabian dari cawan yang disodorkan Rasulullah dengan tangan beliau hingga sirna segala duka dan nestapa.
Kita harus segera mulai membenahi diri untuk menjadikan diri kita layak menerima kehormatan itu.





Friday, 23 March 2018

DS039-SIAPAKAH YANG DISEBUT UMAT MUHAMMAD SAW.?



Sebagimana kita ketahui bahwa Nabi Muhammad saw. diutus sebagai rahmat (kasih sayang) bagi segenap alam semesta. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang siapa yang disebut umat Nabi Muhammad, apakah seluruh penduduk alam semesta ini baik kafir maupun yang berserah diri sebagaimana dhahir ayat diatas?, apakah ada klasifikasi dan filter bagi satu umat untuk dianggap umat Nabi akhir jaman itu?

Sejatinya Allah telah mengutus Nabi Muhammad sebagai penyeru kepada-Nya bagi segenap semesta. Hal ini menjadikan semua penduduk semesta adalah umat Muhammad saw. tidak memandang bangsa, suku, agama dan keimanannya. Inilah yang disebut umat Muhammad secara takwini (merupakan ketentuan dan bukan pilihan). Dengan pengertian ini maka Abu Lahab, Abu Jahal, bahkan seluruh musuh Allah adalah umat Muhammad. Tidak ubahnya seperti hubungan anak dan bapaknya yang merupakan ketentuan takwini dimana seorang anak tidak punya alternatif untuk memilih bapak yang ia kehendaki. Karenanya, hukum takwini tidak bisa dijadikan tolok ukur kemuliaan seseorang karena tidak dicapai dengan perjuangan.

Barangkali kita masih ingat bagaimana Adam dan Hawa diciptakan dan tinggal di tempat bernama Al Jannah yang kemudian kita terjemahkan dengan kata surga?, bukankah karakter surga disitu tidak sama dengan surga yang menjadi balasan bagi hamba-hamba yang shalih?, surga yang pertama bagaikan tempat transit Adam dalam perjalanannya menjadi khalifah bumi. Karena surga pertama itu bersifat takwini yang diperoleh tanpa ikhtiar sedang surga setelah kiamat adalah hasil perjuangan dan mujahadah.
Demikian juga dengan nisbah takwini kepada Nabi Muhammad tidak akan memuliakan seseorang kecuali jika ia mampu membuktikan sebagai cerminan akhlak dan perilaku beliau. Setelah Allah menunjukkan sunnah-Nya yaitu dijadikannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, hal inilah yang ditekankan Allah dengan firman-Nya: Inna akramakum ‘indallahi atqaakum (sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa).

Lebih dari itu, selain klaim takwini sebagai umat Muhammad tidak menjadi bukti kemuliaan, sebaliknya, itu seharusnya menciptakan kesadaran akan tanggung jawab besar dipundak umat bersangkutan. Bukankah klaim kemuliaan berdasar hukum takwini juga pernah dilakukan oleh oleh Iblis saat ia mengatakan: “Aku lebih baik dari dia (Adam) karena Kau ciptakan aku dari api sedang Kau ciptakan dia dari tanah!”. Hukum takwini tidak menjadikan api lebih mulia dari tanah.

Maka umat Muhammad adalah umat yang menisbahkan dirinya kepada beliau secara tasyri’i (kesetiaan terhadap syariatnya) yang harus diwujudkan dengan perjuangan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.  Itulah yang menentukan kemuliaan satu umat sehingga layak disebut sebagai umat Muhammad. Dalam hal ini menjadi umat Muhammad adalah pilihan. Allah berfirman: “Sungguh telah kami bentangkan jalannya bagi manusia, terserah apakah ia akan akan bersyukur atau akan ingkar. Adanya alternatif yang melahirkan perjuangan untuk memilih yang terbaik meskipun berat dijalani merupakan tolak ukur kemuliaan seseorang atau satu umat.

Apalah artinya menjadi umat Muhammad secara takwini jika secara tasyri’i umat tersebut menentang hukum syariatnya. Hal ini mengingatkan kita akan logika Iblis yang riwayatnya sempat dinukil oleh Syeikh Jawad Mughniyah dalam kitab tafsir Al Kasyif. Dalam riwayat itu Iblis berkata kepada Nabi Muhammad saw.: “…sesungguhnya bukan aku yang harus meminta maaf kepada Allah tapi Dialah yang harus minta maaf kepadaku”, “Mengapa demikian?”, tanya Nabi. Iblis berkata: “Aku tidak mau sujud kepada Adam karena aku hanya ingin mempersembahkan sujudku hanya kepada Allah. Sejak kapan ikhlas itu adalah dosa?”, Kata Nabi: “Tidak mungkin keikhlasan dicapai dengan pengingkaran akan perintah”.
Walhasil, sejatinya umat Muhammad adalah umat yang berjuang melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi segala larangannya, bukan hanya klaim takwini seperti sebagian pendapat yang sering kita temui dalam masyarakat kita.

Setiap fa’iliyah (aksi)selalu berhubungan dengan qabiliyah (reaksi penerima aksi). Sebagai contoh, api memiliki aksi untuk membakar segala sesuatu yang bersentuhan dengannya namun terbakarnya sesuatu juga dipengaruhi oleh benda yang terkena api. Proses terbakarnya secarik kertas akan terjadi ketika ada api dan kertas dalam keadaan kering. Jika kertas tersebut kita basahi secara sempurna maka api tidak akan membakarnya.
Artinya rahmat universal yang datang bersama Nabi Muhammad memang diperuntukkan bagi seluruh semesta, namun kasih sayang ilahi itu hanya akan dinikmati umat yang membuka hati untuk menerimanya dengan ikhlas dan taslim (berserah diri) serta menjadikan Nabi sebagai panutan dan panduan hidup dalam mencapai kesempurnaan penghambaan.

Saya akan akhiri pembicaraan kita dengan sebuah riwayat yang juga dinukil dalm tafsir Kasyif dimana Iblis berkata kepada Nabi Muhammad: “Allah berfirman: “Dan kasih sayang-Ku mencakup segala sesuatu. Pertanyaanku adalah: “Apakah aku termasuk sesuatu atau bukan? Jika aku adalah sesuatu maka aku juga layak dapat rahmat-Nya dalam bentuk pengampunan. Jika aku bukan sesuatu berarti aku tidak ada (karena selain Allah dalah sesuatu) dan yang tidak ada tidak bisa disiksa atau diberi pahala?”. Nabi menjawab “Rahmat Allah meliputi segala sesuatu yang layak mendapatkannya”.

Wednesday, 21 March 2018

DS038-TAQWA SYARIAT DAN TAQWA TARIKAT



Syeikh Anshari ra. adalah seorang marji’ besar pada jamannya. Beliau dikenal sebagai orang yang teliti dalam segala sesuatu.

Syeikh Anshari memiliki seorang saudara bernama Manshur yang hidup dalam kekurangan dan kemiskinan yang menghimpit

Syeikh Anshari  memberikan kepada saudaranya itu bantuan dengan kadar yang sama dengan bantuan yang diberikan kepada orang lain. 
Mengetahui hal itu, suatu hari, ibu beliau datang menemui beliau dan berkata: “Manshur, saudaramu, adalah orang yang sangat miskin, berikanlah kepadanya lebih banyak (dari orang lain)!”. 
Syeikh Anshari menjawab: “Wahai ibu, di akhirat nanti, saya tidak punya jawaban di hadapan Allah seandainya aku memberinya lebih dari orang lain. Jika ibu memiliki jawaban di hadapan Allah, maka ambillah kunci ini dan berikan kepadanya sesuai keinginan ibu”.

Ibu Syeikh Anshari yang juga memiliki sifat wara’ dan takut kepada Allah itu berfikir sejenak dan berkata: “Tidak, aku juga tidak memiliki jawaban jika ditanya Allah di akhirat kelak”, sambil mengembalikan kunci itu kepadanya.

Perhatikanlah bagaimana para ulama mengajarkan kepada kita bahwa akhlak Ahlul Bait as. bukan hanya teori dan kata-kata.

Itulah bukti bahwa setiap ilmu yang dicapai dengan ikhlash akan melahirkan ilmu yang lain jika ilmu tersebut diamalkan. 

Karenanya dalam Al Quran disebutkan bahwa orang beriman harus melalui dua tingkat taqwa yaitu taqwa fiqh (dengan ilmu syari’at) dan taqwa i’tiqadi (dengan ilmu tarikat). Ayat itu adalah:

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah dilakukan untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah karena Dia mengetahui apa yang kalian lakukan. (Q.S. Al Hasyr: 18)
Keterangan ayat:
(يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد(

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah dilakukan untuk hari esok

Yang dimaksud dengan hari esok adalah hari kiamat dan yang artinya, kita harus  memperhatikan amal yang telahkita lakukan, baik amalan shalih yang menyelamatkan atau amal buruk yang akan menghinakannya
(واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون) 
…dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha tahu apa yang kalian lakukan

Maksud dari taqwa pada ayat pertama adalah melaksanakan amaliyah sedangkan taqwa pada ayat kedua adalah melihat amalan dari sudut pandang keshalihan dan keikhlasan.


Hakikat ini juga dikuatkan dengan apa yang dijelaskan bahwa ilmu yang dimiliki manusia dapat dibagi dua yaitu ilmu husuli (gambaran) dan hudhuri (hakikat) , dimana ilmu hakikat merupakan ilmu yang dicapai manusia setelah melakukan pengolahan ilmu gambaran sesuatu hingga ia sampai kepada keimanan akan hakikat sesuatu. Hal itu dilakukan dengan riyadhah (latihan batin) untuk merubah format memahami menjadi proses merasakan. Sebagaiama hadits berikut ini:
مَنْ عَمِلَ بِمَا عُلِمَ عَلَّمَ اللهُ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Barangsiapa yang  beramal dengan ilmunya maka Allah akan mengajarkan apa yang tidak ia ketahui.
Maka, untuk mencapai derajat ilmu yang sesungguhnya, seorang alim harus mengamalkan ilmu tersebut sehingga menjadi bagian dari dirinya
Rasulullah bersabda: 
الْعِلْمُ وَبَال عَلَى صَاحبِهِ الاَّ مَا عُمِلَ بِهِ
"Ilmu adalah bumerang bagi pemiliknya kecuali ilmu yang diamalkan"

Bisa disimpulkan bahwa manusia harus melalui jalur syari'at (taqwa fikih) dan tarikat (taqwa spiritual) sehingga ia akan mencapai hakikat sesuatu dan bukan hanya gambaran sesuatu.

Betapa indah jika kita mengambil dan menerapkan akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah dan Ahlul Bait as. serta tidak hanya menjadikannya hiasan pikiran kita dan kekaguman semu.