G+

SEKILAS TENTANG HUBUNGAN MALAKUTI

Manusia sebagai unsur alam semesta
Dalam ru’yah kauniyah ilahiyah (pandangan terhadap alam berdasarkan aqidah ketuhanan), Allah menciptakan alam semesta dalam formasi unsur-unsur yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Dari unsur yang sederhana hingga unsur yang pelik dan penuh komplikasi. Dari unsur-unsur bersifat lahir (baca:materi) dan unsur-unsur bersifat bathin (baca:maknawi/non materi).
Manusia adalah salah satu unsur terbentuknya alam semesta. Hal ini mengandung konsekwensi ketidakmungkinan manusia untuk menghindar dari interaksi dengan wujud-wujud lain (termasuk sesama manusia) di semesta ini. Wujud-wujud yang juga unsur pembentuk alam ini. Dengan interaksi ini diharapkan manusia mampu saling mengisi sehingga memperoleh banyak manfaat dari wujud yang lain. Kenyataan ini disebutkan dalam beberapa ayat Al Quran :

AGAMA DAN USHLUB TABLIGH




Sebagai seorang muslim kita harus melihat kembali diri kita. Kita harus cermati apa yang telah, sedang dan akan kita lakukan untuk agama kita. Seringkali kita melihat kebiasaan yang dilakukan oleh seorang muslim yang tidak sesuai dengan Islam itu sendiri.
Jika kita beruasaha membagi masyarakat berdasarkan agama maka kita akan menemukan pembagian sebagai berikut :

MUHRIM (ORANG-ORANG YANG TIDAK BOLEH TERIKAT PERKAWINAN




KARENA NASAB

BAGI LAKI-LAKI  :
1.       IBU DAN SAUDARA PEREMPUAN



2.       ANAK PEREMPUAN DAN CUCU PEREMPUAN



3.       SAUDARA PEREMPUAN DAN ANAKNYA



4.       PUTERI SAUDARA LAKI-LAKI ATAU ANAKNYA



5.       BIBI (ADIK) DARI AYAH ATAU IBU



6.       BIBI (KAKAK) DARI AYAH ATAU IBU




AHLUL BAIT NABI DAN KHARISMA ILAHIYAH




(Sebuah tulisan memperingati syahadah Huseiniyah)

Ketaatan mutlak kepada khalifah Allah
Imam Husein adalah manusia suci. Manusia yang sangat dicintai oleh penghulu manusia-manusia suci, Rasulullah saw. Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama, para pemimpin umat muslim, sunnah maupun syiah. Bahkan tidak dapat dipungkiri oleh kawan maupun lawan.
Setiap manusia muslim meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala tindakan yang dilakukan, kalimat yang disabdakan dan kecenderungan yang disepakati oleh Rasulullah saw. pastilah merupakan manifestasi wahyu ilahi yang diembankan kepada beliau. Rasul adalah manusia ilahiyah yang tidak berbicara kecuali atas landasan wahyu yang diturunkan kepadanya. Wahyu yang terjamin kemurnian dan keutuhan isi dan susunan bahasanya. Sehubungan dengan hal ini Allah berfirman :

Imam Baqir as. dan Wibawa Nabi Syu'aib as.



Imam Shadiq as. bercerita: "Ketika kami berhasil mencapai kota Madyan, ayahku memberikan uang kepada budakknya untuk mencari penginapan dan membeli rumput untuk tunggangan kami dan makanan untuk kami. Ketika budak kami sampai di pintu gerbang kota, penduduk Madyan menutup gerbang itu dan mencai maki kami dengan menyebut nama Ali bin Abi Thalib:

JANGAN KAU RAMPAS PAHALAKU !




Saat itu kegelapan meliputi jalan-jalan menuju Madinah yang menjadikan masyarakat lebih memilih berdiam di rumah mereka masing-masing. Langit menurunkan tetes hujan dan angin musim dingin berhembus menerpa. Az Zuhri bercerita: “Aku melihat belia berjalan membawa gandum di punggungnya dan aku bertanya: “Wahai putera Rasulullah, apa ini?”

Hadits Kisa dalam Musnad Ahmad bin Hanbal




حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو النضر هاشم بن القاسم ثنا عبد الحميد يعنى بن بهرام قال حدثني شهر بن حوشب قال سمعت أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه و سلم حين جاء نعى الحسين بن على لعنت أهل العراق فقالت قتلوه قتلهم الله غروه وذلوه لعنهم الله

Kehangatan sambutan Abu Abdillah bagi para peziarah





Imam Shadiq as. berbicara mengenai hakikat ziarah Imam Husain as.:
“Sesungguhnya beliau melihat para peziarahnya. Bahkan beliau lebih tahu nama-nama mereka, nama bapak-bapak mereka dan bekal yang mereka bawa lebih dari pengetahuan seorang ayah terhadap anaknya.

Terbuai keindahan purnama




Saat anda berjalan menembus malam di sebuah jalan yang sulit dilalui karena penuh dengan lubang dan retakan di sana sini, saat itu anda akan sangat membutuhkan pancaran cahaya bulan untuk menerangi jalan yang anda lalui, sekaligus menjaga anda dari tergelincir ke dalam lubang-lubang itu. Jika sinar bulan telah membuai mata anda dengan keindahan dan keanggunannya, terutama saat purnama tiba, maka pandangan anda akan tertuju pada keindahannya hingga anda akan berada dalam buaian khayalan yang memberikan kenikmatan jiwa yang dalam.
Namun, keindahan bulan itu seringkali membuat anda lupa daratan hingga tidak menyadari adanya lubang menganga di depan anda dan akhirnya anda tergelincir dan mengalami kerugian.
Seperti itulah sirah (perjalanan hidup) Ahlul Bait as. yang tidak ubahnya bulan purnama yang bersinar indah dan menerangi jalan kehidupan yang kita lalui. Namun masih banyak diantara kita yang terbuai oleh keanggunan dan keindahan sirah nan suci itu dan hanya melahirkan konsep dan emosi. Mereka tenggelam dalam kekaguman akan sosok para imam pembawa hidayah itu dan emosi mereka tercurah dalam kekaguman itu. Pada saat yang sama mereka lupa bahwa kekaguman itu harus diwujudkan dengan cara menauladani perjalanan hidup mereka. Hal ini yang menyebabkan mereka luput dari kesempatan meraih anugerah hidayah yang menjadi senjata dalam menghadapi berbagai tantangan hidup dan menghindari bencana.

(Musa Ash Shafar)

Rahasia Di Balik Ujian


Jika Allah swt. menghendaki untuk mengutus para nabi dengan membukakan bagi mereka harta karun emas, tambang batu mulia, hasil pertania dan mengumpulkan burung-burung yang terbang di langit serta binatang-binatang liar yang ada di darat niscaya Allah akan melakukannya. Jika Allah melakukannya maka gugurlah ujian, balasan akan dibatalkan, berita-berita (syariat) akan sis-sia, yang menyambut panggilam tidak layak menerima pahala atas cobaan, yang beriman tidak pantas meraih pahala pembuat kebajikan dan nama-nama tidak lagi punya makna. Namun Allah menjadikan para nabi memiliki kekuatan tekad yang kuat, kondisi lemah mereka yang lebih dari apa yang dapat dilihat mata menjadi kekayaan karena hati mereka dipenuhi dengan qana’ah (kepuasaan) meskipun kemiskinan selalu memenuhi mata dan pendengaran mereka dengan siksaan
Nahj Al Balaghah: 291