Followers

Friday, 20 March 2020

DS055-Bolehkah meninggalkan shalat Jumat karena takut corona?



Sesuai Instruski :

KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat
Ketua Dewan Syura IJABI


"Hal itu dibolehkan bahkan diwajibkan dalam kondisi tersebut

Dengan dalil-dalil sebagai berikut:

Dalil-dalil Qurani (Al Quran):

o          Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan (Al-Baqarah 195) dan
o          Janganlah kamu  membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah  Maha penyayang kepadamu (Al-Nisa 29).
o          Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (Al-Baqarah 185)
o          Dia telah memilih kamu dan Dia sekal-kali  tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan (Al-Hajj 78)

Dalil-dalil Riwa-I (Sunnah) :

o          Berikut ini, diriwayatkan hadis beserta syarahnya. Karena hujan lebat kaum muslimin disarankan untuk salat di rumah masing-masing. Ada sahabat  yang  tidak setuju Kata Ibnu Abbas: Aku tidak suka mereka berjalan di atas lumpur. Kalau takut berjalan di atas lumpur saja sudah mengugurkan salat berjamaah, apalagi karena virus corona yang membahayakan:

قالَ: ابنُ عبَّاسٍ لِمُؤَذِّنِهِ في يَومٍ مَطِيرٍ: إذا قُلْتَ أشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسولُ اللَّهِ، فلا تَقُلْ حَيَّ علَى الصَّلاةِ، قُلْ: صَلُّوا في بُيُوتِكُمْ، فَكَأنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا، قالَ: فَعَلَهُ مَن هو خَيْرٌ مِنِّي، إنَّ الجُمْعَةَ عَزْمَةٌ وإنِّي كَرِهْتُ أنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُونَ في الطِّينِ والدَّحَضِ.
الراوي : عبدالله بن عباس | المحدث : البخاري | المصدر : صحيح البخاري
الصفحة أو الرقم: 901 | خلاصة حكم المحدث : [صحيح]

الصَّلاةُ عمادُ الدِّينِ، ولا يسَعُ المسلمَ تركُها في حضَرٍ ولا سفرٍ ولا سِلمٍ ولا حربٍ، ولكنَّ
 الشرعَ يُراعي أحوالَ الناسِ في الاضْطرارِ والشِّدَّةِ والخوفِ والأمنِ، ومن ذلِك ذلكَ أنه أباحَ للناسِ الصلاةَ في البيوتِ في اليومِ المطيرِ، وفي هذا الحديثِ أنَّ ابنَ عباسٍ قالَ لمؤَذِّنِهِ في يومٍ مَطِيرٍ، أيْ: في يومٍ شديدِ المطرِ: إذا قُلْتُ، أي: إذا انتهيتَ في أذانِكَ إلى: "أشهدُ أنَّ محمدًا رسولُ اللهِ، فلا تقُلْ: حيَّ على الصَّلاةِ، قلْ: صلُّوا في بُيوتِكُمْ". أي: أَبْدِلْ قولَ (حيَّ على الصلاةِ) وقُل مكانَها: (صلُّوا في بُيوتِكُمْ)؛ حتى يسمعَ الناسُ هذهِ الرُّخصةَ فلا يخرُجوا، "فكأَنَّ الناسَ استنكروا، أي: عَجِبوا وعابوا عليه فِعْلَه، فقال ابنُ عبَّاسٍ رضِي اللهُ عنه: فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي" يَقصِد: النبيُّ صلَّى الله عليه وسلَّم، ثم أوضحَ ابنُ عباس الأسبابَ فقال: "إِنَّ الجُمُعَةَ عَزْمةٌ، أي: واجبةٌ على كلِّ مَن سَمِع النِّداءَ، وإنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ، أي: أَشقَّ عليكم وأجعلَكم في ضِيقٍ وهناك من الرُّخصةِ والسَّعة التي تيسَّر عليكم، فَتمْشونَ في الطِّينِ والدَّحْضِ"، أي: ستمْشُون في الطِّينِ الذي يؤدِّي إلى الانزِلاقِ والوقوعِ؛ لذلك أمَرْتُه أن يقولَ: صلُّوا في بُيوتِكُم، لِيعلَموا أن المطرَ من الأعذارِ التي تُصيِّرُ العزيمةَ رخصةً.
وفي الحديثِ: جانبٌ مِنَ التَّخفيفِ والتَّيسيرِ على النَّاسِ في مثلِ هذهِ الأحوالِ.
https://dorar.net/hadith/sharh/23112

            Ibnu Abbas berkata pada muazzinnya pada hari hujan: Jika kamu mengucapkan Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, janganlah kamu katakan “hayya ‘alash  Shalaat tapi ucapkanlah Shallu fi buyuutikum (Salatlah di rumah kamu). 
Orang-orang menolaknya. Kata Ibn Abbas: orang yang lebih baik dariku (yakni Nabi saw) telah melakukannya. 
Memang Jumat itu kewajiban, tetapi aku tidak suka mengeluarkan kalian dari rumah dan berjalan di atas lumpur dan tergelincir. (Periwayat adalah al-Bukhari dalam Shahihnya halaman atau nomor  901. Kesimpulan:Hadis Shahih.

            Salat itu tiang agama, tidak boleh muslim meninggalkannya dalam keadaan di tempat, atau perjalanan, atau dalam keadaan damai ataupun perang (Perhatian: Jangan berhenti atau dikutip sampai di sini. Lanjut!). tetapi syariat menjaga keadaan manusia dalam situasi darurat, berbahaya atau menakutkan atau mengancam keselamatan. Di antaranya syariat membolehkan orang salat di rumah pada hari hujan. (Jika kamu sudah mengucapkan dalam azan kamu: Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah janganlah kamu ucapkan Hayya ‘alash Shalat, tapi gantilah ucapan kamu  dengan  Shalluu fi buyuutikum).  Sehingga legalah orang  karena rukhsah ini dan tidak keluar rumah.
(Orang -orang menolaknya) artinya mereka heran dan menyalahkan perbuatan Ibn Abbas.. Kata ibnu Abbas:  Ini pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku. Maksudnya, Rasulullah saw.) Kemuadian Ibnu Abbas menjelaskan sebab-sebabnya. 
Ia berkata: Memang Jumat itu kewajiban. Wajib bagi semua yang mendengar azan. Aku cuma tidak suka mengeluarkan kalian dari rumah , yakni, aku tidak suka menyulitkan kalian dan merepotkan kalian. Ini termasuk rukhsah (keringanan) dan kemudahan untuk memudahkan kalian, supaya tidak berjalan di lumpur dan tergelincir.  Yakni: kalian berjalan di atas lumpur yang menyebabkan kalian tergelincir atau  jatuh. Karena itu aku perintahkan dia untuk mengucapkan: Shalluu fi buyuutikum, Salatlah di rumah-rumah kalian. Supaya orang-orang tahu bahwa hujan termasuk uzur syarak dan mengubah ‘AZIMAH menjadi  RUKSHAH
Dan di dalam hadis: Termasuk meringankan dan memudahkan bagi manusia dalam hal ini.

Tuesday, 10 March 2020

DS054-UJIAN ADALAH HAKIKAT KEHIDUPAN




مَنْ عَظَّمَ صِغَارَ الْصَائِبِ ابْتَلاَهُ اللهُ بِكِبَارِهَا
(Barangsiapa yang membesar-besarkan musibah kecil maka Allah akan mendatangkan musibah yang bebar-benar besar)

Obyektifitas dan subyektifitas penderitaan.
Secara lughawi musibah berasal  dari kata kerja “ashaaba” yang berarti menimpa. Secara istilah, musibah adalah segala kondisi menyulitkan (masyaqqah) yang menimpa manusia atau mukallaf secara umum.
Sampai disini, musibah belum dapat dihukumi dengan baik dan buruk. Karena, meski diperlukan sikap arif dan perenungan, tidak setiap kesulitan melahirkan keburukan dalam kehidupan manusia. Bahkan sebaliknya, banyak manusia yang menjadi maju dan berhasil dalam hidup setelah melalui banyak rintang dan uji. Dalam bukunya “Silsilat Ad Durus fil ‘aqidah Al Islamiyah”, Ayatullah Makarim Syiraziy mengatakan: “Salah satu hikmah dari musibah yang menimpa manusia adalah kenyataan bahwa banyak manusia tumbuh dan berkembang dalam pangkuan berbagai musykilat (kesulitan-kesulitan) yang dihadapi”. Meskipun banyak juga orang yang gagal dalam usaha menghadapi musibah yang datang kepadanya. Mereka kerap memenuhi hidup dengan keluh kesah, ratapan serta cacian kepada kehidupan, nglokro (kemalasan berjuang) atau bahkan mengingkari kenikmatan hidup yang sebelumnya pernah dan sedang ia rasakan.
Sungguh sebuah kenyataan yang mengajak kita merenung akan hakikat hidup, bahwa ketika sebagian orang yang tertimpa berbagai bencana hidup masih bisa menyunggingkan senyum di bibir mereka, sementara tidak sedikit orang yang kehilangan keceriaan hidup dan seakan kehilangan segalanya hanya karena sakit gigi. Kenyataan diatas memberikan kesimpulan lebih jelas dan gamblang kepada kita akan hakikat setiap musibah  yang mendera kita. Kesimpulan itu adalah  bahwa musibah  bersifat obyektif sedangkan duka dan gembira bersifat subyektif.

Hakikat hidup adalah ujian

            Dalam hidup ini, manusia dihadapkan kepada segudang pertanyaan hidup yang, disadari atau tidak, senantiasa membutuhkan jawaban dengan segera. Dari mana asal wujudnya, apa yang harus ia lakukan, kemana perjalanan hidup akan berakhir adalah pertanyaan-pertanyaan pokok yang selalu menuntut jawaban dengan segera. Sedemikian pentingnya memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sehingga langkah manusia menuju kebahagiaan dan hakikat keberadaannya ditentukan olehnya.
Dengan segala penampakan kehidupan duniawi yang terkadang menampakkan dirinya sebagai hiburan yang melalaikan meski tidak sedikit yang menampakkan wujud tragis mengiris. Kehidupan terasa indah dan memberikan kenikmatan tiada tara dan beberapa detik kemudian kehidupan berubah menjadi sedemikian menghimpit dan menyesakkan dada. Pantaslah jika Al Quran menyifati kehidupan sebagai permainan yang melalaikan. Disebut permainan karena yang dihidangkan dalam nampan duniawi bukanlah hakikat kehidupan  melainkan nina bobo dan ketenangan yang menipu serta ketakutan akan kehilangan kenikmatan semu dan disebut melalaikan karena sedemikian indah bentuk lahir hiasan duniawi sehingga mampu menghipnotis setiap mata lahiriyah yang tidak dituntun cahaya hati sebagaimana mampu menciptakan tangisan atas sesuatu yang terlalu remeh untuk ditangisi.
            Sesungguhnya setiap detik dari waktu yang kita lalui dalam hidup ini sepenuhnya adalah ujian Allah bagi kita. Bukankah Allah

Berfirman:
“...dan tiada Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”
Jadi tujuan dasar penciptaan manusia adalah ibadah (dengan maknanya yang luas) . Ibadah adalah melaksanakan setiap taklif (kewajiban) makhluk terhadap Sang Khaliq. Taklif sendiri mengandung arti masyaqqah (kesulitan). Jadi tujuan mendasar penciptaan manusia adalah mengalami kesulitan untuk mencapai ridha-Nya.
Karena itu, manusia tidak pernah lepas dari ujian kehidupan. Bahkan ketika kita menyangka telah lepas dari ujian, sebenarnya kita hanya berpindah dari satu ujian ke ujian dalam bentuk yang lain. Sebagai contoh, saat manusia terlepas dari belenggu kemiskinan setelah ia mendapatkan harta, sebenarnya ia sedang berpindah dari ujian kemiskinan menuju ujian kekayaan bahkan bisa kita katakan bahwa ia masuk ke dalam ujian yang lebih berat dari sebelumnya.

BAGAIMANA MENYIKAPI UJIAN KEHIDUPAN?

            Manusia selalu terombang-ambing oleh arus kehidupan yang tiada tentu arahnya. Saat mendapatkan kenikmatan ia tertawa terbahak dan saat kehilangan ia menangis meraung.
Fluktuasi spiritual yang extrim dan tiba-tiba menciptakan gangguan dalam jiwa manusia berupa ketakutan akan kehilangan sesuatu yang ia peroleh. Padahal naik-turunnya grafik kehidupan adalah konsekwensi dari sifat dunia yang memperdaya dan mempermainkan.
Untuk menjaga agar hati kita selalu stabil dan tidak dipermainkan oleh ujian kehidupan, Imam Ali as. memberikan terapi mujarab. Imam berkata:
Saat engkau merasakan kelezatan, ingatlah bahwa kelezatan itu akan segera hilang. Saat engkau mendapat kenikmatan, ingatlah bahwa itu akan berpindah (kepada orang lain) suatu saat. Ingat pula bahwa setiap badai pasti berlalu”

Terapi yang hampir sama juga pernah disampaikan oleh Imam Husein as. Dalam bait-bait syairnya:

Jika suatu hari, setiap amalan dikembalikan kepada pelakunya sebagai kesempurnaan, maka akhlak mulia adalah yang tersempurna

Jika tubuh ini tercipta hanya untuk kematian, maka mati seseorang di jalan Allah adalah yang terindah

Jika harta dunia dikumpulkan hanya untuk ditinggalkan, mengapa kita harus kikir ?

Jika rejeki adalah bagian yang telah ditentukan maka tidak rakus dalam mencari adalah yang terbaik 

Semakin dekat dengan ridha Allah, akan semakin berat ujian yang harus dijalani.

Sesungguhnya seorang mukmin bagai dua sisi timbangan yang selalu seimbang. Setiap kali keimanannya bertambah maka bala (ujian) yang dihadapi semakin berat”.

Semoga Allah menjaga kita dari ketergelinciran hati.

Saturday, 15 February 2020

DS053-MENGAPA DOAKU TAK KUNJUNG TERKABUL...?



Berdoa tanpa meminta

Banyak pendoa yang masih belum memahami hakikat sejati dari doa-doanya yang mengakibatkan  kehilangan makna substantif dari doa yang ia panjatkan. Saat ini, doa lebih sering dipahami sebagai sekumpulan permintaan hamba kepada Dzat maha kaya dan pemurah. Pemahaman ini menciptakan gambaran bahwa doa hanya dipanjatkan saat hamba membutuhkan pemberian atau pertolongan-Nya. Bisa dipastikan, aktifitas dan ritual doa akan berakhir dengan terkabulnya permintaan dan akan dilakukan lagi saat dirasa perlu.
Untuk memahami hakikat doa, kita buat analogi sederhana di bawah ini:
Jika anda memiliki seorang  teman baik yang  selalu mengerti apa yang anda butuhkan. Dia sangat peka dengan kondisi anda sehingga selalu memberi  bahkan sebelum anda meminta. Dalam keadaan seperti ini, apakah anda tega dan  tidak merasa malu meminta sesuatu padanya?. Tentu Nurani anda akan melarang anda  melakukan itu dan menganggap  permintaan anda sebagai penghinaan atas segala  kebaikan hatinya selama ini.
Sejatinya, doa adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari kata da’aa atau yad’uu yang artinya menyeru atau memanggil. Makna tersebut sangat berbeda dengan makna doa yang selama ini kita pahami bahwa doa adalah thalab atau su-aal yang berarti meminta atau memohon. Barangkali semua sepakat bahwa sebuah permintaan hanya ditujukan kepada pihak yang tidak memberi kecuali setelah kita meminta. Karenanya, jika seorang pendoa meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang telah memberi apa yang dibutuhkan sebelum ia merasa membutuhkan dan meminta, maka apa yang ia harapkan dari doa-doa kepada-Nya?, bukankah doa-doa itu terkesan menafikan kasih sayang-Nya selama ini hanya karena ambisi hamba yang berlebihan?.
Dengan kata lain, apakah tujuan dan hakikat daripada doa yang kita panjatkan jika bukan meminta?
Dengan sangat indah Al Quran menjelaskan:

“Jika kalian bersyukur maka akan Kutambahkan (nikmat-Ku) bagi kalian dan jika
kalian ingkar maka sesungguhnya azabku teramat pedih”  (Q.S. Ibrahim:7)

Ayat tersebut dengan jelas menekankan betapa harus ada kombinasi antara keinginan hamba dan keterjagaan syukurnya atas nikmat. Mengingat banyaknya permintaan dan keinginan seringkali menjauhkan kita dari syukur nikmat yang merupakan panggilan fitrah manusia. Ayat tersebut juga menjelaskan bahwa sejatinya doa bukanlah permintaan, apalagi kepada yang maha memberi, tapi doa lebih tepat disebut sebagai ungkap syukur atas nikmat yang selama ini telah terlimpah. Dengan syukur itu, Allah akan menambahkan nikmat-Nya. Hal ini mengajarkan pelajaran yang sangat berharga bahwa kita berdoa dengan mengharapkan apa yang memang kita butuhkan dan bukan apa yang kita inginkan. Syukur adalah berserah diri agar Sang Pemurah memilihkan untuk kita apa yang terbaik di mata-Nya dan bukan terbaik menurut hawa nafsu kita yang sulit dipuaskan.
Walhasil, sejatinya kunci pembuka pintu rejeki masa depan adalah syukur dengan apa yang dimiliki hari ini.
Perlu diingat, pengertian ini tidak bertentangan dengan perintah doa dalam Al Quran maupun hadits Nabi. Doa-doa tetap kita panjatkan sebagai bentuk amaliyah yang mewakili kesungguhan dan tekad harapan, hanya saja harus ada ruh kepasrahan syukur yang merupakan dasar dari setiap doa yang kita panjatkan hingga apapun bentuk ijabahnya merupakan keindahan yang layak disyukuri.

Berdoa Dengan Ma’rifat
Dari keterangan diatas kita memahami bahwa dalam berdoa, seorang hamba harus membekali diri dengan  ilmu dan ma’rifat akan doa yang ia panjatkan agar lisan dan hati menyatu di dalamnya. Dimulai dengan yang paling sederhana yaitu memahami makna meski lahir secara global yang diharapkan akan menambah nilai dalam doa-doanya. Bagaimanapun, akan sangat sulit mencapai kekhusukan jika kita sendiri tidak memahami apa yang kita panjatkan. Selain itu sebaiknya hamba juga melakukan visualisasi doa yang merupakan konsekwensi keakraban kita terhadap hal-hal materi. Maksud dengan visualisasi doa adalah menggerakkan fisik kita seiring dengan lantunan doa. Seperti melafadzkan niat, mengangkat tangan, menengadahkan wajah dan sebagainya. Hal ini penting karena manusia selalu lebih akrab dengan hal-hal inderawi sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Mulla Sadra, al insan yasta-nisu bil mahsuusaat..
Selanjutnya, meningkatkan pemahaman harus dilakukan dengan belajar merasakan bahasa doa, dimana didalamnya terdapat kedalaman makna yang lahir dari bahasa-bahasa ruhani. Bahasa doa adalah bahasa rintihan dan lahir dari rasa yang mendalam sehingga dalam beberapa untaian terkadang terasa berat untuk ditelaah dengan bahasa prosa kita. Seperti yang kita temukan dalam untaian doa Kumail bin Ziyad dimana beberapa rintihan terasa sulit untuk ditelaah dengan logika bahasa keseharian. Dalam doa tersebut, si pendoa berseru: “Ilahi, mungkin aku siap menerima neraka-Mu namun bagaimana aku tahan berpisah dari-Mu?”, yang secara prosa menyiratkan kesombongan hamba dalam memandang neraka. Padahal dalam kontek doa, hal itu merupakan puncak keputus asaan hamba atas kemustahilan selamat dari neraka jika bukan karena kasih sayang Tuhannya.
Doa adalah penyatuan hamba dengan Tuhannya sebagaimana akan dijelaskan pada pembahasan tentang macam- macam pendoa, insyaallah.

Doa Ma-tsur
Berdoa merupakan wasilah (fasilitas) komunikasi antara hamba dan Tuhannya. Apalagi jika doa yang kita panjatkan memiliki redaksi dan sanad yang bisa dipertanggungjawabkan sehingga menjadi password untuk bisa tembus ke langit ijabah. Doa seperti itu dikenal dengan doa yang ma-tsur alias memiliki atsar atau jejak yang jelas dan bias dipertanggungjawabkan.
Meskipun bukan berarti redaksi doa selain ma-tsur tidak memiliki nilai, hanya saja doa ma'tsur lebih memberikan nilai ithmi-nan (kemantapan) yang menenangkan bagi pendoa, mengingat lafadz dalam tarkib (susunan) sebuah doa yang bukan ma-tsur boleh jadi tidak sesuai dengan kedudukan pendoa yang dipenuhi tendensi dan dorongan syahwat dalam doa-doanya.
Dengan kata lain redaksi doa yang bersanad jelas merupakan sarana paling aman dan efektif untuk meraih ijabah. Dalam doa ma-tsur ada jaminan keabsahan redaksi yang menghindarkan kita dari penggunaan lafadz yang tidak seharusnya.
Selain itu, doa ma-tsur diyakini memiliki nilai lebih yaitu berkah sanad yang memiliki potensi mempercepat dikabulkannya doa kita. Berkah sanad adalah nilai spiritual ittiba’ (mengikuti shalihin) yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah sehingga dengan berkah itu doa lebih mudah mencapai maqam ijabah.

Tiga tipe pendoa
          Berdasarkan beberapa keterangan diatas, paling tidak kita menemukan ada tiga tipe orang yang berdoa:
1.     Tipe pembaca teks doa.
Dimana ia hanya membaca teks doa merasakan sentuhan doa tersebut di hatinya. Jangankan sentuhan, dia bahkan tidak paham apa yang ia baca. Baginya, berdoa tidak lain seperti formalitas fikih yang merupakan kewajiban dan identitas keberagamaannya. Biasanya, ia sibuk berkutat dengan jumlah-jumlah bacaan hingga kehilangan substansi doa itu sendiri. Sekali lagi, bukan berarti jumlah bacaan tidak memiliki manfaat karena jumlah-jumlah tertentu dalam bacaan doa juga merupakan aturan yang menjamin ijabah. Namun kesibukan dalam menghitung jumlah bacaan jangan sampai mengalahkan kekhusukan dan tawajjuh (fokus) kepada Allah.
2.     Tipe peminta dalam doa
Meminta adalah anjuran Allah pada hamba-Nya saat berdoa atau dalam segala kondisi. Sesungguhnya Allah sangat menyukai orang yang tak kenal lelah meminta kepada-Nya. Bukankah Allah juga berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan!.
Akan tetapi tipe pendoa ini rentan untuk mengalami kondisi putus asa mengingat manusia selalu memiliki target, baik kwalitas maupun kwantitas, dalam setiap permintaannya.
Ia juga berpotensi mengalami kehilangan rasa syukur akibat permintaan yang dikabulkan tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Tipe pendoa seperti ini lebih mengharapkan pengabulan atas apa yang ia inginkan dan bukan yang ia butuhkan. Kebaikan di matanya seringkali berbeda bahkan bertolak belakang dengan kebaikan dimata Tuhan. Dan berbaik sangka bagi pendoa seperti ini bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan meski lisan mengucap syukur.
Tidak menutup kemungkinan kondisi ini menciptakan kemunafikan hati yang harus selalu dihindari agar tidak menyiksa batin dan merusak keimanan.
3.     Tipe orang yang bermesraan dengan Allah lewat doa
Ia melihat doa sebagai sarana melepas kerinduan dengan kekasihnya. Baginya, doa adalah nikmat yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Kebalikan dari tipe pertama, permintaan baginya hanyalah formalitas dan sarana untuk berasyik ma’syuk dengan Allah. Doa, baginya, adalah penyatu hati dan pikiran dengan Tuhannya. Saat ia berdoa, seakan ia lupa akan permintaannya. Semua dikalahkan oleh kenyamanan dan ketenangan yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Karenanya, lafadz-lafadz doa yang terlantun pun memiliki nuansa spiritual yang tinggi hingga terkadang sulit bagi kita untuk memahami. Karena semua itu hanya untuk dirasakan dan bukan dipahami. Baginya, berdoa adalah perjalanan ruhani yang menyenangkan, terlepas dari segala permintaan bahkan pengabulan atas permintaan-permintaannya itu. Lebih dari itu, ia merasakan permintaan-permintaan itu sebagai beban yang membebani langkah kakinya untuk lari menuju kepada Allah. Itulah pengalaman ruhani yang dirasakan oleh para kekasih Allah yang pertemuan dengan-Nya selalu jadi momen dan hadiah terindah dalam hidupnya.

Kesimpulan:
Terkadang kita merasa doa kita tidak diijabah dan kita tidak sadar bahwa ternyata kita tidak pernah berdoa, hanya membaca teks doa atau hanya meminta keperluan kita melalui doa.
Ya Tuhanku jika dosaku tidak pantas meraih ampunan-Mu
…aku yakin ampunan-Mu pantas mendatangi dan melingkupiku

Semoga Allah menerima ungkapan kemesraan ini……amin.....!

DS052-SIMBOLISASI ISLAMISME



Sakralisasi Palsu

Diakui atau tidak, di sekitar kita telah muncul gejala kolektif berupa penggiringan massa menuju fanatisme agama dengan mengangkat isu sensitif sehubungan dengan sentimen agama yang sangat berpotensi memecah belah masyarakat.
Agama sebagai ajaran kasih sayang, mulai diubah menjadi mesin penghancur efektif bagi kedamaian persatuan dalam bingkai kebhinekaan di nusantara ini. 
Gejala yang paling jelas adalah usaha membangun sebuah ilustrasi tentang sakralitas agama yang dirasa mampu menjadi komuditas paling menguntungkan bagi sekelompok orang demi mencapai tujuan non agamis mereka.
Sakralisasi agama adalah menjadikan setiap perkara yang tidak berhubungan dengan agama sebagai bagian agama. Perkara-perkara itu sengaja disakralkan meski belum jelas statusnya demi menciptakan ketaatan buta terhadap kesakralan palsu itu. 
Dalam Islam kita mengenalnya dengan gerakan islamisme sebagai lawan dari gerakan islami. 
Islamisme mengajarkan agar penganutnya selalu menonjolkan simbol-simbol yang diidentikan dengan nilai-nilai Islam. Diidentikkan artinya simbol-simbol itu belum tentu simbol-simbol agama. Boleh jadi simbol-simbol itu tidak mewakili Islam tapi mewakili sebuah kultur tertentu yang dalam hal ini adalah budaya Arab, jazirah dimana Islam pertama didakwahkan.
Islamisme dibangun untuk mendapatkan ketaatan mutlak masyarakat terhadap gerakan ini. 

Bukankah manusia-manusia malang yang meledakkan dirinya atas nama jihad Islam telah menjadi bukti akan hal itu?

Bahaya bagi kesucian agama dan keutuhan persatuan bangsa semakin jelas ketika gerakan ini mengklaim dirinya sebagai pemilik otoritas kebenaran Tuhan sehingga muncullah gagasan pembentukan negara agama yang sering kita dengar sebagai negara khilafah. Didukung oleh kelompok-kelompok berhaluan radikal di Indonesia, gagasan ini disebarkan secara masif, apalagi disinyalir bahwa beberapa negara kaya di Timur Tengah menjadi supporter aktif dalam skenario besar ini.

Dengan congkaknya, gerakan ini menganggap siapapun yang berseberangan dengannya adalah musuh Tuhan dan harus dibumihanguskan. Dalam kontek keseharian, gerakan ini menyatakan dirinya sebagai Ahlussunnah dalam arti kata : Selain mereka adalah ahli bid'ah. Pada hakikatnya, gerakan yang sangat kental dengan nuansa wahabisme ini tidak pernah melihat agama kecuali sebagai alat pemenuhan tendensi politis demi mengoyak persatuan kaum agama terutama kaum muslimin. Mereka yakin bahwa menghancurkan Indonesia dengan keindonesiaan kita tidak akan pernah mampu mereka lakukan, maka mereka ciptakan taktik 'self destruction' agar kaum beragama saling menghancurkan dan melancarkan usaha kaum imperialis internasional untuk berkuasa. 
Demi mencapai tujuan 'kontra agama', mereka yang  lebih tepat disebut gerombolan itu, telah berhasil memanfaatkan agama sebagai tongkat sakti yang mengalahkan akal dan mengelabui nurani. 
Mereka memanfaatkan sentimen agama karena gerakan mereka berlandaskan argumentasi sangat lemah dan penyimpangan pemaknaan teks langit. 

Gerombolan berciri radikalitas yang berkedok agama ini berusaha mengarahkan agama menuju pemenuhan tendensi syahwat kekuasaan dan gelimang duniawi. Mereka gemar mencuci otak kaum awam dan menyisir kaum kecewa di negeri dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam ini dengan simbol, slogan dan jargon agama yang sangat kental dan bernuansa fanatis.

Konsep-konsep mereka diakui telah berhasil menyisir ranah otak-otak awam nan polos, menyajikan fantasi dengan gambaran surgawi semu yang tidak lain adalah syahwat syaitaniyah, Asy Syaithan fi jisman al insi (Syetan berujud manusia). Lihatlah beberapa waktu yang lalu telah terjadi bom bunuh diri dengan mengatasnamakan agama. Pelaku adalah manusia lugu yang berhasil dicuci otaknya dan berubah menjadi mesin jihad yang tidak pernah memiliki alasan yang jelas akan tindakannya selain mendapatkan janji akan kenikmatan surgawi karena dalam kehidupan ia merasa dikecewakan oleh keadaan.

Gerombolan ini memanfaatkan kekecewaan masyarakat terhadap keadaan yang dihadapi sebagian orang meski sudah jelas bahwa semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan agama apalagi mendirikan negara agama. Kelompok ini selalu menghembuskan kebencian di hati pengikutnya terhadap rival-rivalnya.

Secara pribadi, saya khawatir jika nusantara ini hendak dijadikan sebagai negara Islam dengan segala kemajemukan masyarakat Islam Indonesia dan budayanya. Bayangkan jika suatu saat ada pemilihan presiden, misalnya, maka wacana yang akan muncul adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermutu semisal: "Dari mazhab apakah presiden kita..?", "Apakah president kita NU atau Muhammadiyah...?". 

Dalam sebuah channel YouTube seorang viewer mempertanyakan video ceramah seorang ustadz: "Mengapa pak kyainya kok nggak pakai kopiah?, ini NU apa bukan ya? , Waduh...!

Mengulas Simbolisasi Islamisme

Gerakan Islamisme selalu berusaha menjadikan simbol-simbol keislaman sebagai penanda bagi ketaatan mereka terhadap syariat Islam. Tentunya saja yang dimaksud adalah syariat Islam menurut kaca mata islamisme dan sakralisasi budaya Arab. Berikut beberapa simbol yang mulai banyak kita saksikan akhir-akhir ini:

1. Kalimat Thayyibah

Kalimat Thayyibah, adalah zikir-zikir suci dimana didalamnya disebut keagungan Allah baik sebagai wujud syukur atas nikmat atau permohonan perlindungan dari bala dan mara bahaya.
Artinya, tidak ada yang salah dengan hal ini bahkan men-dawam-kan lisan dengan sebutan kalimat thayyibah sangat dianjurkan. 
Yang jadi masalah adalah ketika lafadz-lafadz suci itu menjadi pembenaran atas tindakan takfir (men-kafir-kan) atas pihak lain yang dianggap berseberangan. Dalam benak saya, dulu kalau mendengar takbir dikumandangkan, terasa benar keagungan Allah dalam salah satu kalimah thayyibah tersebut. Tapi sekarang kalimat itu berubah menjadi menyeramkan setelah sering diteriakkan oleh kelompok-kelompok intoleran dan radikal saat melakukan penggusuran tempat karaoke atau penggrebekan tempat-tempat ibadah agama lain yang dianggap kafir dan halal darah mereka.
Dengan kata lain, mereka berhasil merubah kalimat thayyibah menjadi simbol teror yang menakutkan karena anarkisme telah disakralkan. 
Menariknya, kalimat Thayyibah itu diucapkan dalam bahasa Arab dengan kefasihan tingkat dewa, meski terkesan berlebihan, sehingga membuai otak-otak awam dan jiwa-jiwa kecewa yang menganggapnya sakral dan merupakan simbol keberpihakan kepada agama Tuhan yang selama ini 'teraniaya'. 
Lebih ironis ketika kalimat-kalimat suci yang mereka serukan adalah suara tanpa makna karena sebagian mereka memang tidak memahami maknanya. Al Quran menyebutkan suara-suara itu sebatas koakan burung gagak yang tidak terdengar selain suara-suara tanpa makna.
Mereka juga gemar menggunakan istilah-istilah Arab dalam pergaulan sehari-hari seperti kata antum sebagai pengganti kata anda, kata ana sebagai pengganti kata saya dan seterusnya. 

Saat jadi ingat sebuah pengalaman yang saya alami sendiri. Saat pertama kali datang di sebuah negara Timur Tengah, saya mendengar siaran radio Montecarlo yang berbahasa Arab. Saya mendengar dengan manggut-manggut dan terkesima dengan kalimat thayyibah dalam bahasa Arab fasih yang diucapkan penyiar. Belakangan saya baru tahu bahwa acara tersebut adalah mimbar agama kristiani dalam bahasa Arab. Mungkin kalau di Indonesia mudah dibedakan  antara kalimah thayyibah yang identik dengan Islam dan pujian-pujian umat Kristiani. Tapi lain halnya jika terjadi pada masyarakat berbahasa Arab. Orang Kristen Indonesia bersyukur dengan mengucap: Puji Tuhan, Terpujilah nama-Nya dan sebagainya, tapi orang Kristen di Arab mengucap: Alhamdulillah dengan lafadz yang tentunya lebih fasih dari muslim di Indonesia sekalipun.

Mereka merasa telah menegakkan nilai islami padahal mereka terjebak dalam lubang Arab Centris. Beda jauh antara Arabi dan Islami.   

2. Pakaian Syar'i

Cara berpakaian juga harus disesuaikan dengan pemikiran mereka. Bukan rahasia lagi bahwa mereka menganggap cara berpakaian masyarakat yang berangkat dari kultur/budaya lokal sebagai pakaian tidak syar'i bahkan sebagian cara berbusana sebagai bentuk tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang-orang kafir) atau apapun istilahnya. Hal ini mencakup pemilihan warna dan corak kainnya.
Selanjutnya, mereka mengadopsi cara berbusana syar'i dari kultur Arab dimana Rasulullah saw. hidup dan menyampaikan risalah langit. Mereka beranggapan bahwa dengan berpakaian ala 101 malam mereka telah melaksanakan tuntunan dan terhindar dari bid'ah dalam berbusana. Kita bisa saksikan bagaimana mereka memakai sorban, jubah atau jilbab bercadar bagi kaum perempuan. Kita tidak bermasalah dengan cara berpakaian orang lain, karena itu semua adalah hak individual selama tidak mengusik privasi orang lain. Namun menjadi masalah ketika mereka menganggap budaya berpakaian di nusantara ini sebagai budaya jahiliyah dan harus diislamkan atau dengan kata lain diberi hidayah. 

Benarkah pakaian lokal tidak islami?

Mari kita belajar tentang kearifan lokal yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Ajaran Islam yang diturunkan bagi manusia membawa 2 misi penting yaitu ilahiyah (ketuhanan) dan insaniyah (kemanusiaan).
Ilahiyah diwujudkan dengan menjalin hablun minallah (hubungan hamba dengan Tuhannya) sedang insaniyah diwujudkan dalam bentuk hablun minannas (hubungan manusia dengan sesama).
Islam tidak mengusung misi pemberantasan nilai-nila lokal bahkan Islam menganggap keanekaragaman budaya adalah sunnatullah yang harus disyukuri. Islam datang sebagai kasih sayang bagi seluruh isi alam.
Toleransi dalam perbedaan merupakan hal yang dijunjung tinggi dalam Islam. Bahkan ayat masyhur yang sering kita dengar: lakum diinukum wa liya diin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) adalah ayat yang kental nuansa toleransi dengan saling menjaga wilayah privasi masing-masing.
Bukankah Nabi saw. bersabda bahwa ikhtilaf (perbedaan) umat ini merupakan bentuk kasih sayang Allah hingga salah seorang ulama Tunisia, Syeikh Tijani Samawi pernah mengatakan: "Jika perbedaan mereka adalah rahmat (kasih sayang) maka memaksa untuk menjadi satu pastilah akan melahirkan niqmat (bencana)".

Sekarang kita bahas pakaian yang dianggap sebagai pakaian syar'i seperti serban, jubah dan berbagai atribut yang secara eksklusif diklaim sebagai cara berpakaian ala Rasulullah saw.

Perlu diketahui bahwa sebelum Rasulullah lahir, masyarakat Arab telah mengenakan pakaian sebagaimana yang dipakai Rasulullah kelak di kemudian hari. Dengan kata lain, Rasulullah mengenakan pakaian masyarakat Arab karena beliau menjunjung tinggi kearifan lokal sehingga beliau mengenakan pakaian yang selama ini menjadi budaya berpakaian kaumnya. Jadi pakaian yang diklaim sebagai pakaian syar'i sejatinya sama dengan yang dipakai masyarakat Arab pada umumnya, bahkan pada jaman jahiliyah sebelum kelahiran Nabi. Sama dengan pakaian yang dipakai oleh Abu Lahab dan Abu Jahal atau masyarakat Arab yang lain.

Mungkin akan lain cerita jika Rasulullah saw. lahir di tanah Jawa atau bumi Pasundan...

3. Amar ma'ruf nahi munkar
Saya kira semua sepakat bahwa salah satu sifat umat Muhammad saw. adalah melakukan amar ma'ruf nahi munkar, yaitu mengajak menuju kebaikan dan melawan kemungkaran. Hanya saja berbicara tentang hal ini membutuhkan pendahuluan pemahaman tentang  makna ma'ruf dan makna munkar itu sendiri serta cara  mengidentifikasinya.
Syeikh Ridha Mudhaffar dalam kitab Mantiq Al Mudhaffar mengatakan bahwa sebelum menyelesaikan sebuah permasalahan maka seseorang harus melakukan 2 tindakan pendahuluan penting:

1. Menghadapi Permasalahan. Banyak masalah yang tak terselesaikan karena kita enggan untuk menghadapinya. Kita lebih memilih lari dari masalah hingga hari demi hari menjadikan masalah semakin runyam. Lebih para lagi, disaat masalah menjadi parah maka seringkali kita mengambil langkah spekulatif yang mempertaruhkan hal-hal yang berharga dalam hidup kita.
2. Identifikasi jenis masalah. Bertujuan agar mencapai akurasi tinggi dan efektifitas maksimal. Dengan identifikasi jenis masalah kita bisa langsung menuju pokok permasalahan tanpa harus berbelit-belit. Apalagi jika kumpulan informasi di otak kita sudah terklasifikasi dengan baik.

Demikian halnya dengan masalah amar ma'ruf nahi munkar ini, dimana banyak kelompok yang enggan untuk menelaah akar permasalahan sehingga mudah terprovokasi propaganda menyesatkan. Emosi menjadi celah pengaruh propaganda karena kita tidak berpijak pada pemahaman akan masalah yang sesungguhnya terjadi. 

Pada dasarnya, tetap berkembangnya konsep dan pandangan agama yang menjurus kepada intoleransi meski bertentangan dengan akal sehat dapat terjadi pada 3 kelompok manusia :

1. Kelompok terjangkit was-was dalam agama. Pada awalnya mereka memiliki itikkad baik untuk menjaga agama dan syariat Allah serta berusaha melaksanakannya dengan cara terbaik. Kesakralan agama, bagi mereka, tidak boleh dipertanyakan, bahkan oleh logika sekalipun. Apa yang disebutkan teks agama adalah tuntunan yang tidak boleh menerima tafsir apalagi takwil. Mempertanyakannya adalah keingkaran dan setiap keingkaran melahirkan dosa besar.
Segala bentuk argumentasi logis tidak akan berguna dalam menyadarkan kelompok ini karena mereka dikuasai oleh 'ketajutan' akan buruknya hasil ibadah meski tidak ada alasan untuk meragukan keabsahannya sesuai tuntunan dalam kitab fikih.
Penyakit ini tidak ada obatnya. Satu-satunya cara untuk membasminya adalah tidak memperdulikannya. Dengan kata lain saat seseorang ragu apakah ibadahnya sah atau tidak, maka dalam kondisi was-was harus dianggap sah. Jika tidak maka was-was ini akan menggerogoti manusia dan tidak menyisakan dalam dirinya selain kegilaan dan tekanan batin. 
Kelompok ini mudah sekali dimasuki faham-faham agama yang bersifat doktrin terutama yang berhubungan dengan obsesi surga dan neraka. Doktrin-doktrin intoleran selalu bernuansa hitam putih, surga dan neraka. Dalam kondisi ini was-was akan masuknya seseorang ke neraka dan kehilangan nikmat surgawi merupakan kondisi yang mendominasi. Mereka dengan keras akan meneriakkan jargon-jargon agama seakan-akan wujud mereka telah mewakili firman Allah. Mereka siap mati untuk sesuatu yang mereka anggap sakral yang tidak lain adalah was-was akan masa depan semu hasil doktrin buta.

2. Kelompok yang memanfaatkan orang-orang yang tertimpa was-was.
Sekelompok orang melihat kesempatan untuk mendapatkan keinginan mereka dengan memanfaatkan orang-orang yang terjangkit was-was. Mereka, misalnya, dengan sengaja memasukkan doktrin-doktrin yang melahirkan obsesi terhadap surga dan neraka pada jiwa-jiwa yang was-was.
Kelompok ini mengajak orang untuk mengikuti pola pikir mereka tanpa telaah dan membabibuta. 



Wednesday, 10 October 2018

SAKINAH002-JANGAN NODAI KEKHALIFAHANKU


Dalam sebuah rumah sederhana hiduplah sepasang suami isteri dengan dua orang anak. Mereka hidup sebagai keluarga muslim yang bahagia mengingat, dalam kesederhanaan itu, mereka masih setia berpegang pada nilai-nilai syariat dan menjaga norma-norma agama Islam.

Sang suami menjalankan kewajiban kekhalifahan keluarga dengan sangat baik dan bertanggungjawab. Semua kebutuhan keluarga berusaha ia cukupi meski tetap dalam kesederhanaan. Kerja keras dan membanting tulang ia lakukan dengan ikhlas hingga kepenatan tubuh tidak begitu terasa. Setiap tetes keringat melahirkan kepuasan batin dan desah napas ia rasakan bagai tasbih syukur atas nikmat. Setiap pulang dari pekerjaannya, ia merasakan kebahagiaan karena pertemuan dengan keluarganya, manusia-manusia tercinta dalam hidupnya. Sambutan seisi anggota keluarga setiap kali ia pulang, terasa sirna segala kepenatan yang digantikan dengan kehangatan keluarga.


Indah rumah tangga semakin lengkap karena sang isteri juga seorang yang sangat bertanggungjawab terhadap kewajibannya, baik sebagai ibu bagi anak-anak atau sebagai pendamping suami. Ia selalu menyambut kedatangan suami tercinta dengan senyum kerinduan serta segelas kopi kesukaan suaminya. Semua pekerjaan rumah tangga ia kerjakan dengan niat khidmat dan ibadah. Ia tahu bahwa Rasul pernah bersabda: "Jijad seorang perempuan adalah mengurus rumah tangga dengan sebaik-baiknya". Riwayat tersebut selalu menciptakan semangat baginya untuk mempersembahkan yang terbaik yang bisa ia lakukan. 

Tidak diragukan lagi, pemandangan surgawi itu disaksikan oleh kedua anak mereka yang merasakan betapa pintu madrasah ruhani telah terbuka di hadapan mereka. Kata-kata petuah tidak lagi dibutuhkan karena pelajaran hidup yang baik telah mengalir di tubuh mereka.
Benarlah apa yang pernah dikatakan oleh Ayatullah Syahid Mutahhari bahwa kegagalan dakwah dikarena seorang da'i selalu mengandalkan mulut dan telinga, dimana kita bicara dan berharap orang lain mendengarkan dan taat. Padahal dakwah terbaik dilakukan dengan mengandalkan tangan dan mata dimana kita berbuat dan biarkan orang lain menilai.

Sebuah kejadian menarik dan penuh ibrah pernah terjadi pada keluarga sakinah ini, dimana pada suatu ketika, sang isteri pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Ia baru ingat ada beberapa barang dapur yang lupa ia sediakan. Sebelum berangkat, ia berpesan pada suami dan anak-anak bahwa ia akan pergi agak lama mengingat banyak barang keperluan dapur yang harus dibeli. Setelah mendapat ijin suami iapun meninggalkan rumah menuju ke pasar.

Sang suami berinisiatif untuk membantu isterinya menyiapkan makanan untuk keluarganya, menggantikan peran isteri sementara waktu. Ia mulai mengambil peralatan dapur dan tidak beberapa lama ia sudah disibukkan dengan kegiatan khas wanita itu. 
Ia mulai dengan memasak air untuk menjadi dasar hidanngan berkuah hari itu. Ia tidak merasa hina dengan pekerjaan itu bahkan ia merasa terhormat bisa mempersembahkan bantuan kepada isteri yang selama ini bersusah payah menyiapkan hidangan yang lezat dan mermacam-macam.
Saat ia sibuk memotong sayur dan lauk, karena air mendidih tak menghasilkan aroma, ia meninggalkan panci diatas kompor terlalu lama hingga air mengering dan panci yang digunakan menjarang air pun gosong menghitam. 

Ia merasa bersalah atas kelalaiannya dan segera meninggalkan rumah itu menuju ke sebuah toko perabot rumah tangga untuk membeli sebuah panci dengan panci yang telah gosong. Ia membeli panci baru agar isterinya tidak mendapati panci kesayangannya hangus dan marah karenanya. 
Ternyata gerak gerik sang ayah disaksikan oleh kedua anaknya yang melihat betapa ayah mereka sangat ketakutan jika isterinya tahu  ia telah menghanguskan panci kesayangannya.

Perlahan kebanggan mereka terhadap kharisma sang ayah mulai memudar. Bukankah seorang kepala rumah tangga harus ditaati dan dihormati baik oleh anak maupun isterinya. Jika seorang khalifah rumah tangga melakukan kesalahan, apalagi dalam bidang yang bukan keahliannya maka kesalahan itu harus dimaklumi dan tetap harus mendapat apresiasi. Tapi mengapa yang merka saksikan malah sebaliknya. Mereka lihat ayah yang seharusnya berwibawa, kini ketakutan hanya karena sebuah panci yang gosong dalam usaha untuk membantu tugas isterinya. 
Gelagat ini disadari oleh sang ayah yang menjadi sorotan tajam anak-anaknya. Ia melihat  jelas raut kekecewaan di wajah mereka.

Nampaknya rasa penasaran akan sikap sang ayah mendorong mereka untuk bertanya:

Anak-anak: Wahai ayah, selama ini ayah kami pandang sebagai khalifah rumah tangga yang tegas dan berwibawa. Kami merasa bangga akan hal itu. Tapi hari ini kami lihat kewubawaan itu hilang setelah kami melihat ayah kebingungan dan khawatir akan dimarahi oleh ibu hanya karena menghanguskan sebuah panci. Bukankah ayah adalah pemimpin di rumah ini?, bukankah panci itu dibeli dengan uang hasil jerih payah ayah?, mengapa ayah begitu takut dan khawatir?

Ayah : Kemarilah wahai anak-anakku, kekhalifahan tidak berhubungan dengan kekuasaan dan wibawa yang melahirkan ketakutan orang, juga tidak berkaitan dengan kekuatan yang menundukkan kaum lemah. Kekhalifahan adalah praktek kebijaksanaan dan kearifan. Bukankah Allah Maha Kuasa tapi tidak memperlakukan hamba-hamba-Nya dengan kekuasaan itu. Dia Yang Kuasa tetap memperlakukan hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang dan ampunan. Jika seorang khalifah melakukan kesalahan maka ia harus menanggung akibatnya bahkan akibat yang kadang lebih berat dari akibat perbuatan serupa yang dilakukan oleh rakyatnya. Itulah kekhalifahan.

Anak-anak: 
Tapi mengapa ayah terlihat begitu ketakutan terhadap kemarahan ibu akibat panci kesayangannya yang hangus karena ayah?, bukankah seorang suami tidak selayaknya takut dimarahi isterinya sebagaimana isteri tidak berhak memarahi suami atas kesalahan yang tak disengaja?

Ayah: 
Justeru karena ia hanya sebuah panci maka ayah menghindari kemarahan ibu kalian.

Anak-anak: 
Maksud ayah?

Ayah: 
Perhatikan baik-baik, yang ayah lakukan adalah salah satu tugas seorang khalifah untuk menjaga diri dari maksiat yang disebabkan masalah kecil yang tidak layak dipermasalahkan.

Ayah memang khawatir jika ibu kalian marah hanya karena sebuah panci. Karena ketika ibu kalian memarahi ayah, maka sebagai khalifah, ayah khawatir kemarahannya akan membangkitkan kemarahan dan ego ayah sebagai khalifah sehingga hilanglah sifat arif dalam diri ayah. Bukankah ayah akan sangat merugi jika kekhalifahan ini ternodai hanya oleh sebuah panci? 
Ingatlah wahai anak-anakku, kelak kalian akan tahu betapa seorang khalifah haruslah memberikan pelayanan dan bukan menguasai, bukankah dalam pepatah Arab dikatakan 'pemimpin sebuah kaum sejatinya adalah pelayan mereka'?
Ingatlah bagaimana Sayyidina Ali as. mengukur cara hidupnya dengan cara hidup anggota masyarakat termiskin, padahal beliau adalah khalifah dan Bait Al Mal ada di tangannya.

Kepemimpinan adalah tanggungjawab bukan kebanggaan dan arogansi