Saturday, 17 February 2018

DS014-TERORIS BUKAN ISLAM



Wonosobo, 8 Februari 2018

Sesungguhnya hakikat muslim yang diwujudkan dengan pengucapan dua kalimat syahadat merupakan hakikat yang tidak dipungkiri bahkan oleh seorang muslim yang masih sederhana pengetahuannya.
Berangkat dari hakikat itu maka peta keagamaan di dunia terbagi menjadi dua bagian yaitu negeri muslim dan negeri non muslim.

Akan tetapi sejak kemunculan gerakan kelompok muda Wahabi yang kemudian sering disebut Salafi maka terjadi perubahan besar dalam pemetaan dunia berdasarkan agama yaitu dibagi menjadi negeri muslim dan negeri musyrik, dimana negeri musyrik mencakup negeri kafir dan negeri non kafir yang mereka anggap musyrik meskipun jumlah kaum musliminnya banyak. Sedang negeri muslim pastilahh negeri yang diwakili oleh keberadaan mereka atau mendukung gerakan mereka.

Sebagai contoh misalnya Mesir yang merupakan negeri muslim tertua di dunia akan dianggap sebagai Negara musyrik. Demikian juga dengan Iraq atau negeri-negeri lain yang menyimpan peninggalan sejarah berupa makam wali Allah dan orang-orang shalih yang diziarahi oleh kaum muslim seraya berdoa di samping makam mereka.

Anehnya, berdasarkan faham tauhid dan syirik seperti ini, mereka mampu melakukan invasi ke berbagai negeri Islam akhir-akhir ini. 

Tidak diragukan lagi bahwa minyak di negeri kelahiran paham itu punya andil besar dalam membidani kelahiran waham Wahabi ini.

Selain motif diatas, ketika kita mengikuti apa yang ditulis oleh penggagas pertama gerakan ini, maka kita akan temukan motif lain yang tidak boleh diabaikan keberadaannya selain motif materi.

Mengapa tidak boleh diabaikan?

Karena gerakan ini berusaha merekrut generasi muda di jazirah Arab hingga pemahaman ini menyebar luas di berbagai negeri kaum muslimin.
Mereka membungkus pandangan mereka ini dengan kemasan quraniy dengan menisbahkan gerakan mereka kepada ayat-ayat yang mereka claim sebagai ayat muhkam (jelas) dan mendirikan bangunan ajaran mereka diatasnya.
Tidak hanya sampai disitu, gerakan mereka memberikan pengaruh hingga kedalam kurikulum sekolah negeri sehingga sampai pada tahap dimana para pemuda menganggapnya sebagai akidah Ahlussunnah. Akibatnya sedemikian dahsyat dengan munculnya kecenderungan menganggap selain pandangan mereka adalah pandangan kaum musyrik.
Mereka berusaha menciptakan image bahwa mereka adalah penyelamat aqidah umat dari kemusyrikan dan bid'ah. Padahal kenyataannya mereka adalah para Firaun yang menganggap bahwa pemikiran mereka adalah pemikiran Tuhan dan siapapun yang menentangnya adalah kafir...
Allah berfirman: "...dan jika mereka ditegur: "Jangan kalian berbuat kerusakan di bumi!", mereka menjawab: "Kamilah yang memperbaikinya...". Q.S. Al Baqarah
Mereka tidak punya nabi karena nabi mereka adalah ijma' mereka yang mengedepankan pemikiran golongan dan bukan mendahulukan nilai kebenaran dan keperpihakan kepada maslahat umat...
Mereka tidak punya kitab karena kitab mereka adalah kecenderungan nafsu mendominasi yang telah meracuni jiwa mereka. Mereka menakwilkan Al Quran untuk disesuaikan dengan keinginan mereka.
Merekalah yang mengembalikan masyarakat jazirah Arab menjadi masyarakat Jahiliyah lagi. Lihatlah apa yang dilakukan tentara gerombolan Wahabi apapun namanya yang dalam setiap gerakannya selalu mengedepankan tindakan pengrusakan tak beradab terhadap harta dan jiwa, terutama wanita dan anak-anak dengan alasan menegakkan syariat Islam dan memberantas kemusyrikan. Dengan alasan itu mereka menghalalkan segala cara untuk melampiaskan keinginan hewani mereka. Mereka membunuh dengan biadab dan memperlakukan wanita seperti layaknya binatang.
Mereka lebih menjadi simbol kembalinya kekuasaan baduwi Arab yang memimpin dengan kebodohan dan kelicikan serta bersenjatakan kekerasan dan hukum rimba.
Meski demikian mereka mengatasnamakan gerakan mereka sebagai gerakan Islam padahal gerakan itu lebih layak untuk disebut gerakan terror dengan menjadikan Islam sebagai kambing hitam.
Maka kita harus jeli dalam membedakan antara gerakan Islam dan gerakan Islamisme karena yang pertama melahirkan kasih saying sedang yang kedua melahirkan terror dan ketakutan atas nama agama.
Semoga Allah melindungi kita semua.

Friday, 16 February 2018

DS013-CARA BERFIKIR MULIA



Wonosobo, 7 Februari 2018

Manusia merupakan makhluk yang dianugerahi oleh Allah fasilitas akal yang berfungsi untuk melakukan proses berfikir demi menemukan solusi bagi masalah yang dihadapi. Dengan akal itu, manusia mebedakan mana yang harus dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Hal ini dibuktikan dengan banyak bermunculan pemikiran-pemikian inovatif yang mewarnai dunia ini.

Sesungguhnya setiap potensi memerlukan tekhnis yang tepat agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, karena tekhnis berfikir yang salah akan menjerumuskanya ke lembah kesesatan dan penyesatan. Bukankah selama ini kita dapati kenyataan bahwa sebab dominan dari kekacauan, anarkisme, intoleransi yang marak belakangan ini adalah kesalahan dalam berfikir.

Sejatinya, cara berfikir kita akan mempengaruhi langkah (follow up) yang kita ambil dalam menyelesaikan setiap masalah.

Kali ini kita akan membahas cara berfikir kita dalam hal 'memberi' yang nantinya akan berpengaruh pada proses kita dalam berinfaq, berzakat dan membantu sesama dalam bentuk pemberian baik materi maupun non materi.

Dalam memberi, setidaknya ada 3 cara berfikir yang bisa kita temukan dalam masyarakat:
1. Cara berfikir titik (point), dimana manusia berfikir tentang satu titik saja dan memberikan sesuatu kepada satu titik tersebut. Siapakah titik itu?. Tidak diragukan lagi bahwa titik itu adalah diri sendiri. Orang yang pola berfikirnya seperti ini hanya akan memperhatikan kepentingan yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Cara pikir seperti ini hanya akan melahirkan manusia yang kikir dan egois.

2. Cara berfikir garis, dimana manusia mulai berfikir untuk memberikan sesuatu kepada selainnya. Ia telah berpindah dari titik dirinya kepada titik selainnya. Bukankah garis adalah jalur berpindahnya sesuatu dari satu titik ke titik yang lain?. Namun meski telah berpindah, ia masih saja melihat adanya garis yang menjadi tanda perpindahannya. Dengan kata lain, manusia yang berfikir seperti ini sudah mulai memberikan sesuatu kepada orang lain namun masih mengingat-ingat pemberiannya dan merasa berjasa kepada orang yang menerima uluran tangannya. Jika berlanjut, maka tidak mustahil suatu saat ia meminta balasan atas pemberiannya itu karena gambar garis yang ia buat masih terlihat jelas di matanya.

3. Cara befikir lingkaran (circle), Dengan pola ini manusia melakukan gerakan lebih dari sekedar gerakan perpindahan dari satu titik ke yang lain hingga membentuk sebuah garis. Lebih dari itu, ia melanjutkan gerakan itu dengan mengembalikannya pada dirinya sebagai garis finish pergerakan.

Pada pola garis, seseorang memberikan santunan kepada orang lain yang membutuhkan untuk membantunya. Dengan itu hartanya berpindah dari tangannya ke tangan orang lain sehingga orang lain mendapatkan manfaat darinya.

Pada pola lingkaran, seseorang memberikan bantuan kepada orang lain bukan demi orang lain akan tetapi demi dirinya sendiri.  Ia mendapatkan kebahagian dari senyum kaum miskin yang merasa terbantu. Ia mengejar bahagia dirinya dengan membahagiakan orang lain. Kini kebahagiaan orang lain menjadi sarana untuk membahagiakan dirinya. Betapa ia menjadi manusia paling bahagia di dunia.
Pola pikir lingkaran ini adalah pola ideal yang diajarkan oleh Al Quran dalam banyak ayat. Diantara ayat-ayat itu adalah :
“…Barangsiapa yang kikir sesungguhnya ia kikir kepada diri sendiri. Sesungguhnya Allah maha kaya sedangkan kalian adalah fakir…”

“Barangsiapa yang beramal baik maka itu untuk dirinya dan barangsiapa beramal jahat maka kejahatan itu akan menimpanya”.

…dan berinfaqlah, sesungguhnya kebaikannya bagi kamu. Barangsiapa yang terhindari dari sifat kikirnya maka ia termasuk  golongan beruntung.

…dan mereka melakukan itsar (mendahulukan kepentingan  selain dirinya meski ia dalam kesulitan. Barangsiapa yang terhindari dari sifat kikirnya maka ia termasuk golongan beruntung

Al Quran sering mengulang kata ‘khairun lakum’ (lebih baik bagi diri kamu)  yang mengajarkan kita kepada hakikat bahwa syari’at diturunkan demi kebaikan manusia.

Seseorang yang berpola lingkaran dalam berfikir akan mendapati dirinya senantiasa berada dalam kebahagiaan. Bahkan saat memberi ia tidak memikirkan apakah dirinya berada dalam keadaan ‘lapang’ maupun ‘sempit’.
Semua yang ia lakukan menghasilkan kebahagiaan bagi dirinya karena semua dilakukan dengan cinta dan keikhlasan kepada Allah yang telah menganugerahi kenikmatan ini. Sebagaimana diabadikan dalam Al Quran :

 “..karena kecintaan kepada-Nya, mereka menafkahkan harta kepada kaum miskin, anak yatim, ibnu sabil, peminta-minta……”

“…karena kecintaan kepada-Nya, mereka memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan…”

Pada tingkat pemikiran seperti ini, seseorang tidak lagi mendambakan balasan dari penerima bantuan bahkan ucapan terima kasihpun tidak ia harapkan : “Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kalian karena cinta kami kepada-Nya sehingga kami tidak pernah mengharap balasan bahkan (sekedar) ucapan terima kasih…”

DS012-EMPAT DIMENSI PENTING MANUSIA


Wonosobo, 6 Februari 2018

Nafsu manusia memiliki banyak aspek dan dimensi yang sulit untuk diselami. Namun ada empat dimensi penting yang nantinya akan menentukan nilai manusia di mata Allah maupun di mata masyarakat, empat dimensi itu adalah:

1.Dimensi Nabatiyah (tumbuhan/tanaman), dimensi ini merupakan wujud manusia sebagai makhluk yang tumbuh secara fisik tanpa adanya 'iradah'/kehendak/keinginan. Secara insting, ia akan bertumbuh tanpa peduli terhadap akibat yang timbul dari pertumbuhannya, baik akibat baik maupun buruk. Ia tidak melakukan dosa namun tidak adanya sifat peduli kepada orang lain akan menyusahkan masyarakat. Lihatlah pohon yang tidak pernah punya niat mengotori halaman tetangga dengan daun-daun keringnya namun apa yang terjadi?. Tetangga merasa terganggu dan terbebani karena harus membersihkannya.

2. Dimensi Hayawaniyah (binatang), merupakan aspek manusia sebagai makhluk yang tumbuh dan memiliki 'iradah', akan tetapi setiap kehendaknya tidak berdasarkan pertimbangan baik dan buruknya perbuatan. Jika ia menginginkan sesuatu maka ia akan mengambilnya tanpa ada pertimbangan apakah sesuatu tersebut adalah miliknya atau bukan. Dalam dimensi ini keinginannya adalah 'raja' yang mengalahkan segalanya.

3. Dimensi Insaniyah, dalam hal ini manusia adalah wujud yang memiliki kehendak namun kehendaknya dibatasi oleh pertimbangan baik dan buruk secara 'aqliy' (logic). Saat ia menginginkan sesuatu maka ia akan meraihnya dengan pertimbangan baik dan buruk perbuatan berdasarkan sabda akal. Dalam hal ini manusia menggunakan pertimbangan hak dan kewajiban, misalnya, jika kita diberi sesuatu maka wajib berterima kasih, jika kita bersalah maka kita harus minta maaf, jika kita disakiti maka kita tidak wajib memaafkan, jika kita tidak diberi maka tidak ada kewajiban untuk memberi sebagai balasan dan sebagainya.

4. Dimensi Malakiyah (malakut/malaikat), dalam aspek ini, manusia yang memiliki keinginan/iradah untuk mencapai keinginannya namun kali ini keinginannya bernila lebih tinggi. Ia tidak hanya berusaha menggapai regulasi hak dan kewajiban karena yang ia ingin dapatkan adalah nilai kesempurnaan dan keutamaan. Ia akan merasakan bahagia saat kesempurnaan dan keutamaan ia dapatkan. Dalam dimensi ini manusia bersedia meminta maaf meski ia tidak melakukan kesalahan, semua demi kesempurnaan dirinya. Jika dimensi insyaniyah mengatakan bahwa 'sunnah=tidak diwajibkan' dan 'makruh=tidak diharamkan', lain halnya dengan dimensi malakiyah yang mengatakan bahwa 'sunnah=keutamaan yang harus dicapai' dan 'makruh adalah cela dan kehinaan yang harus dihindari'.......

Terlalu sibuk berada dalam dimensi pertama akan merubah kita menjadi manusia egois yang tidak care terhadap masalah di sekitar kita
Terlalu memaksimalkan dimensi kedua akan merubah kita menjadi zalim
Memaksimalkan dimensi ketiga kita akan menjadi manusia yang baik

Membina dan menguatkan dimensi keempat akan menjadikan kita manusia mulia

Thursday, 15 February 2018

DS011-MAKNA SEBUAH KEKAGUMAN



Wonosobo, 5 Februari 2018

Saat anda berjalan menembus malam di sebuah jalan yang sulit dilalui karena penuh dengan lubang dan retakan di sana sini, saat itu anda akan sangat membutuhkan pancaran cahaya bulan untuk menerangi jalan yang anda lalui, sekaligus menjaga anda dari tergelincir ke dalam lubang-lubang itu. Jika sinar bulan telah membuai mata anda dengan keindahan dan keanggunannya, terutama saat purnama tiba, maka pandangan anda akan tertuju pada keindahannya hingga anda akan berada dalam buaian khayalan yang memberikan kenikmatan jiwa yang dalam.

Namun, keindahan bulan itu seringkali membuat anda lupa daratan hingga tidak menyadari adanya lubang menganga di depan anda dan akhirnya anda tergelincir dan mengalami kerugian.
Seperti itulah sirah (perjalanan hidup) Ahlul Bait as. yang tidak ubahnya bulan purnama yang bersinar indah dan menerangi jalan kehidupan yang kita lalui. Namun masih banyak diantara kita yang terbuai oleh keanggunan dan keindahan sirah nan suci itu dan hanya melahirkan konsep dan emosi. Mereka tenggelam dalam kekaguman akan sosok para imam pembawa hidayah itu dan emosi mereka tercurah dalam kekaguman itu. Pada saat yang sama mereka lupa bahwa kekaguman itu harus diwujudkan dengan cara menauladani perjalanan hidup mereka. Hal ini yang menyebabkan mereka luput dari kesempatan meraih anugerah hidayah yang menjadi senjata dalam menghadapi berbagai tantangan hidup dan menghindari bencana.

Tidak diragukan lagi bahwa kemurnian dan keindahan yang mewarnai perjalanan hidup Ahlul Bait as. selalu melahirkan kekaguman dan kerinduan. Namun semua itu tidak boleh menggantikan kesempatan untuk menauladani perjalanan itu dan meraih nikmat hidayah. Legih dari itu, kerinduan dan kekaguman itu harus melahirkan semangat kepada kita untuk meraih petunjuk mereka agar sinarnya menerangi jalan kita.

Dalam riwayat Ahlul Bait as. kita mendapati penegasan bahwa hubungan dengan mereka haruslah dibangun berdasarkan kaidah ittiba’ (mengikuti) dan iqtida (menauladani), bukan hanya luapan emosi semata.

Sejatinya, jika pandangan kita terhadap Ahlul Bait as. seperti pandangan terhadap sebuah lukisan indah yang tergantung di dinding jaman, dimana kita mengagumi keindahannya yang menakjubkan atau bagai sepotong barang langka tak ternilai harganya yang dipamerkan di museum-museum sejarah tanpa menciptakan refleksi dan kesan dalam kehidupan kita maka hal itu merupakan sikap tajahul (tidak peduli) terhadap tugas dan peran terpenting Ahlul Bait as. yaitu sebagai pemimpin dan pembawa petunjuk bagi umat manusia.
Sungguh Ahlul Bait as. adalah manusia-manusia yang layak mendapatkan pujian dan penghargaan karena mereka adalah pemilik keutamaan dan kemuliaan. Bahkan Allah telah memuji mereka sebagaimana termaktub dalam kitab-Nya, demikian juga melalui lisan Nabi-Nya yang jujur lagi dapat dipercaya.

Hal yang akan menggembirakan hati Ahlul Bait as. adalah ketika kita berusaha mengenal ajaran serta berjuang mengikuti jejak mereka dan bukan kelalaian dalam buaian keagungan dan pujian atas mereka.
Imam Shadiq as. pernah berkata: "Jadilah kalian para dai (penyeru) kami tapi tidak hanya dengan mulut kalian saja...!"

Wednesday, 14 February 2018

DS010-ISTIQAMAHLAH HINGGA AKHIR




Wonosobo 4 Februari 2018

Mengapa dalam shalat kita selalu mengulang-ulang kalimat ‘tunjukkanlah kepada kami shirat al mustaqim (jalan yang lurus)’?, bukankah sebagai muslim kita telah berada pada jalan yang lurus?, apakah berarti kita meragukan jalan yang sekarang kita tempuh dan kemungkinan kita berada dalam kesesatan?

Setiap saat manusia berhadapan dengan bahaya penyimpangan dari jalan lurus ini hingga ia selalu mengulangi kalimat ‘tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus’.

Sejatinya, yang lebih dituntut dan menjadi masalah lebih penting bukan hanya menyingkap jalan lurus dan berjalan diatasnya tapi bagaimana kita menjaga istiqamah (konsistensi) untuk tetap berjalan dan melanjutkan perjalanan diatasnya.

Sesungguhnya Allah telah menarik perhatian kita supaya kita berusaha senantiasa terjaga dan selamat dari penyimpangan dan kesesatan setelah sebelumnya memperoleh petunjuk. Allah mengajarkan kepada kita untuk mengucapkan: “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)” Q.S. Ali Imran:8

Dalam kesempatan lain, Allah swt. Menceritakan kepada kita tentang seorang ulama besar dari kalangan Bani Israil, Bal’am bin Ba’ura, sebagai contoh yang buruk dari terjatuhnya seorang manusia ke kubang kekafiran dan kesesatan setelah sebelumnya berhiaskan hidayah dan keshalihan. Allah berfirman: “…dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat. Jikalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Yang demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. Q.S Al A'raf : 175-176

Bukankah sebelumnya Iblis adalah ahli ibadah dengan khusuk yang kerenanya Allah mengangkat derajatnya hingga setara dengan para malaikat, padahal ia dari golongan jin sebagaimana firman Allah: “Ia enggan bersujud dan ia dari golongan jin”?. Karena satu penyimpangan ia berubah menjadi symbol bagi kebinasaan dan kesesatan hingga hari kiamat (padahal sebelumnya ia telah beribadah kepada Allah selama 6000 tahun, dengan hitungan tahun duniawi atau tahun akhirat tidak ada yang tahu sebagaimana pernah dikatakan oleh Imam Ali as.)

Dalam perjalanan sejarah, telah banyak riwayat yang membicarakan tentang beberapa contoh manusia yang mengalami kejatuhan dan penyimpangan, padahal sebelumnya ia telah menempuh jalan yang panjang dalam petunjuk dan keshalihan. Salah satunya adalah Barshisha, seorang hamba yang memiliki sifat zuhud dan menjadi tauladan dalam kekhusyukan dan kerendahan hati bagi sebuah masyarakat Bani Israil. Karena keutamaan dan kedudukannya di sisi Allah swt. maka doanya-doanya selalu terkabul. Bahkan orang-orang gila dan orang-orang sakit mendapatkan kesembuhan melalui tangannya dan dengan ijin Allah.

Namun, saat suatu hari ia kedatangan seorang perempuan cantik dan terhormat namun gila sehingga ia ditinggalkan oleh saudara-saudaranya di salah satu tempat peribadatannya agar Allah menyembuhkannya dengan berkah nafas dan doanya.
Dalam sekejap, ahli ibadah dan sangat menjaga diri pun melakukan dosa bersama perempuan yang sakit dan gila itu. Ia menyadari akibat perbuatannya dan khawatir perempuan itu hamil. Betapa aib dan malu akan ia tanggung. Maka ia berniat untuk membunuh perempuan itu dan menguburkan mayatnya di padang pasir agar ia lolos dari aib perbuatannya.

Namun, perbuatan itu segera terbongkar, tidak ada tempat menyelamatkan diri dan diapun menjadi terdakwa setelah investigasi menyeluruh hingga ia mengakui perbuatannya di hadapan pengadilan. Maka ditetapkanlah hukuman baginya yaitu disalib hingga mati dengan dua tuduhan kejahatan: berbuat zina dan melakukan pembunuhan.

Dalam keadaan disalib pada sebuah palang kayu sambil menunggu saat kematian yang akan membebaskannya dari segala aib dan kehinaan, syetan mendatanginya dan berbisik: “Aku yang menjerumuskanmu dalam keadaan ini, maka sujudlah kepadaku maka aku akan membebaskanmu!”. Berkatalah hamba pendosa ini menyambut seruannya: “Bagaimana aku sujud padamu sedangkan beginilah keadaaanku?”, “Isyaratkan saja dengan anggukan kepalamu!”.Maka iapun menundukkan kepala tanda sujud kepada syetan. Ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan mengikuti syetan.
Telah berakhir hidupnya dengan tangan berlumur dosa yang paling keji. Ia melakukan zina, pembunuhan dan mengingkari Allah dengan bersujud kepada Iblis. Padahal sebelumnya ia adalah seorang hamba yang doa-doanya selalu dikabulkan Allah.
Begitulah nasib manusia, meski dengan derajat tinggi yang dimiliki namun tetap ia berhadapan dengan potensi jatuh dan menyimpang dalam setiap langkah kehidupannya. Karenanya Rasul saw. bersabda: “Seorang mukmin akan selalu merasa takut akan akhir buruk dan tidak pernah yakin akan sampainya kepada ridha Allah hingga saat ruh keluar dari jasadnya”.

DS009-IRASIONAL ATAU SUPRA RASIONAL?



Wonosobo 3 Februari 2018

Kebanyakan orang membatasi perkara berdasar potensi nya untuk dipahami hanya ada dua : Rasional dan Irasional

Rasional adalah perkara yang dapat diterima oleh akal sedangkan irasional yang ditolak oleh akal secara spontan.

Hal ini merupakan bentuk kesombongan intelektual yang melahirkan kelompok filsafat perpaham materialis dengan menetapkan sesuatu itu berwujud jika eksperiment fisik menguatkan wujudnya, demikian sebaliknya.
Mereka lupa bahwa perkara tidak hanya dibagi (qismat) dua saja karena sejatinya ada 3 :

1. Rasional, yaitu perkara yang akal manusia mampu menerima perwujudannya. Akal akan mengatakan YES

2. Irasional, yaitu perkara yang akal manusia 'menolak' perwujudannya, saat itu akal akan mengatakan NO

3. Supra rasional, yaitu perkara yang akal manusia 'belum mampu' menerima meskipun pada saat yang sama belum berhak menolak, saat itu akal hanya mampu mengatakan I DON'T KNOW

Kitab langit diturunkan untuk memberikan mukadimah dan penjelasan bagi perkara-perkara supra rasional karenanya dalam Al Quran Allah berfirman bahwa Nabi saw. mengemban tanggung jawab pelaksanaan dua misi atas manusia yaitu MENGAJARKAN dan MENGINGATKAN: "...dan ia (Muhammad) ajarkan Kitab dan hikmah meski sebelumnya mereka berada dalam kezaliman", dan Allah juga berfirman: "Berilah peringatan, sesungguhnya engkau (Muhammad) hanya pembawa peringatan dan bukanlah engkau penguasa atas mereka!"

MENGAJARKAN berhubungan tentang perkara rasional yang belum mampu dipahami oleh akal manusia dan memerlupakan mukaddimah untuk mencapainya. Nabi ibarat converter bagi syariat langit agar bisa dipahami oleh umat di  bumi.
Tanpa ajaran samawi itu akal manusia tidak akan sampai kepada hakikat-hakikat supra rasional semisal surga, neraka, hari akhir, hakikat jin, hakikat malaikat dan sebagainya.
MENGINGATKAN berhubungan dengan perkara-perkara yang akal manusia telah memahaminya, namun hawa nafsu menjadikannya lalai dan buta akan masalah tersebut. Tanpa ajaran samawipun, setiap masyarakat manusia tahu bahwa mencuri, membunuh, menyakiti orang lain adalah perbuatan tercela dan setiap masyarakat memiliki hukum atas hal itu. Namun Hawa manusia seringkali menjadikannya terjerumus kedalam perbuatan-perbuatan itu berulang kali. Bukan karena tidak paham akibatnya tapi karena kelalaian akibat dorongan hawa. Karena itu syariat mengingatkan terus menerus agar manusia selamat.

"Manusia adalah tempat salah dan lupa"


Banyak manusia yang tidak tahu tapi lebih banyak manusia yang sok tahu...

DS008-SAAT HAWA NAFSU KUASAI AKAL



Wonosobo 2 Februari 2018

Pada awalnya, akal masih berfungsi dengan baik dan selalu memberikan opini kepada anda bahwa puasa adalah perbuatan baik karena itu sebaiknya berpuasa. Namun kadang nafsu berusaha menghalangi dan tidak mengijinkan anda berpuasa. Saat itulah Hawa akan mengalahkan dhamir (perasaan) dan mendorong anda untuk membatalkan puasa. Ketika hendak membatalkan, anda akan berfikir untuk mencari cara yang terbaik untuk mendapatkan makanan, memilih makanan yang anda suka serta mendpatkan tempat yang tersembunyi agar tidak diketahui orang. Di situlah akal mulai berperan lagi. Saat akal berkata kepada anda: “Berpuasalah!”, maka nafsu akan menyergah dengan keras: “Apa urusanmu?, engkau telah mengemukakan pendapatmu dan peranmu telah selesai sehingga engkau tidak boleh ikut campur. Tugasmu sekarang adalah mencari jalan untuk mendapatkan makanan dan berinovasi untuk memenuhi tuntutan syahwatku!”
Akal hanya akan terdiam pada batasnya dan menjawab: “Baiklah, aku siap melayani” dan dengan segera menaati perintah nafsu untuk menunjukkan jalan dan menjadi sarana pencapaian keinginannya.
Satu contoh yang lain untuk anda:
Akal berkata: “Mencuri adalah perbuatan buruk”. Namun nafsu menguasainya hingga terbentuklah dorongan mencuri. Meski demikian, mencuri membutuhkan perencanaan, siapa yang merencanakan?, akal yang merencanakan.
Nafsu berkata kepada akal: “Aku ingin mencuri dan engkau harus membuat perencanaan”. Akal berusaha mencegah dan berargumentasi bahwa mencuri itu tidak baik, namun nafsu memaksa: “Jangan ikut campur karena peranmu sudah selesai, sekarang aku ingin mencuri dan engkau harus mengatur rencana”. Maka akal hanya bisa mamatuhi perintah itu dan menjadi alat  untuk melayani nafsu.
Kalimat yang sangat indah pernah dikatakan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as. dalam mengungkapkan hakikat ini: “Betapa banyak akal yang diperbudak oleh hawa yang berkuasa” .
Jadi, HAWA nafsu memiliki kemampuan berkuasa atas akal dan memanfaatkannya sehingga menjadi jelas betapa nafsu memiliki peran penting dan potensial untuk menciptakan kondisi yang membahayakan. Dari sini kita dapati Al Quran yang mulia menentukan kebahagiaan, kemenangan dan keselamatan manusia kepada sejauh mana keselamatan nafsunya, dimana Allah berfirman: “…dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan nafsu dari keinginan hawanya, maka Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. Q.S. An Nazi'at 40-41
Kuatkanlah akal sebagai tahap terendah mujahadah sebelum kita menguatkan , fitrah, qalbu, perasaan dan ikhtiyar. Banyak2 mengaji ilmu agar semua yang kita lakukan berlandaskan ma'rifat sehingga kita mampu menundukkan Al Hawa...