Wednesday, 20 June 2018

DS049-TAWASSUL ANTARA IFRATH DAN TAFRITH (BAG. 1)



Sebagaimana  yang kita ketahui bersama bahwa sebagian kaum muslimin ada yang meyakini bahwa tawassul itu adalah meminta kepada selain Allah SWT dan jatuhnya adalah syirik.
Terjadi tafrid dan ifrad di dalam masalah tawassul ini. Terdapat dua sisi ekstrim di dalam masalah tawassul.
Satu sisi telah mengharamkan secara mutlak ritual tawassul dengan alas an bahwa manusia harus minta secara langsung kepada Allah SWT, tidak boleh melalui perantara manusia a tau makhluk yang lain.
Sementara, ada sisi yang lain yang kita sebut juga ifrad dalam hal tawassul. Sisi ekstrim juga dalam menanggapi masalah ini, dimana ada sebagian orang yang melakukan bertawassul kepada siapapun tanpa mengetahui siapa yang ia jadikan wasilah (perantara). Untuk mencapai kepada Allah, ia mendatangi makam – makam bias menjadi wasilah yang sah menuju kepada Allah.
Seperti apa yang disampaikan oleh syekh Tijani Samawi di dalam kitabnya. Beliau mengatakan “Kam min kuburin tuzar wa ahluha min ahlin naar”.
Berapa banyak kubur yang diziarahi, sementara yang di dalamnya itu adalah ahli neraka.
 Artinya ada yang kemudian tanpa ma’rifat orang bertawassul kepada manusia – manusia atau arwah – arwah yang mereka sendiri tidak tahu siapa mereka, dan bagaimana maqom serta kedudukan ruhani mereka, dan layakkah mereka untuk menjadi wasilah antara manusia dengan Allah SWT.
Artinya, dalam masalah tawassul ini ada 2 sisi ekstrim. Pertama, ada yang mengharamkan tawassul secara mutlak dan menganggap itu sebagai syirik karena meminta kepada selain Allah. Ada sisi ekstrim yang lain yaitu yang tawassul itu membabi buta.
Dan itu yang kemudian barangkali juga akan saling mempengaruhi antara 2 sisi ekstrim ini. Barangkali juga ekstrim yang pertama melihat bahwa sedemikian rupa bahwa orang di kubur kemudian tawassul, di mana tawassul, di mana tawassul. Kemudian mereka melihat bahwa, ini jadinya syirik.
Apalagi kemudian nada tawassul itu khan meminta. Ya Wajihan ‘indallah, isyfa’lana ‘indallah. Meminta syafaat, meminta sesuatu kepada wasilah ini. Maka kekuatan wasilah ini adalah karena mereka harus pilihan Allah. Kalau tidak, maka dia tidak memiliki atau yang jadi wasilah ini tidak memiliki hak syar’i untuk menjadi wasilah antara manusia dengan Allah SWT.
Mendoakan silakan. Kita mendoakan siapapun yang sudah mendahului kita. Itu boleh boleh saja. Permasalahannya tawassul itu bimakna kita mencari jembatan untuk menyampaikan kita kepada Allah SWT maka jembatan itu supaya kita tidak kesasar, jembatan itu haruslah yang memang dipilihkan oleh Allah SWT. Jalur itu memang yang dibuat oleh Allah SWT hablul mamdud minassamai ilal ardh. Tali penghubung antara langit dan bumi.
Sehingga dari awal sampai akhir kita melihat bagaimana ahlul bait sa selalu menciptakan sebuah konsep keseimbangan. Menyampaikan sebuah konsep keseimbangan.      Maka ketika satu sisi  berfaham jabariyah, sisi lain berfaham tafidiyah, sisi yang jabariyah mengatakan semua itu sudah ditentukan oleh Allah SWT, neraka dan surga nya adalah ketentuan Allah, sementara tafidiyah mengatakan semuanya itu perbuatan manusia dan tidak ada campur tangan Allah di dalamnya. Keduanya sisi ekstrim dan Imam Ja’far Shadiq as kemudian bersabda, “La jabra wa la tafid wala kinnal amr bainal amrain”. Tidak ada jabariyah, tidak ada tafidiyah, tapi di tengah-tengah di antara keduanya. Sama juga dengan masalah tawassul.
Maka betul ketika disebutkan dalam hadis yang sering kita dengar, “Khairul asyya ausatuha” atau “Khairul umur ausatuha”. Sebaik-baik urusan adalah yang di tengah. Dan para Imam ahlulbait as benar-benar menyampaikan kepada kita konsep – konsep yang jauh dari ekstrim. Baik ekstrim kiri maupun kanan. Baik ekstrim dalam kurangnya, maupun ekstrim dalam lebihnya.
Dan di dalam masalah tawassul inipun para Imam ahlulbait as mengajarkan kepada kita bahwa tawassul itu tidak dilarang. Bahkan tawassul itu dianjurkan dan diperintahkan mengingat betapa manusia ini terlalu kotor untuk meminta langsung kepada Allah SWT. Maka Allah SWT menyediakan wasilah, menyediakan jembatan, untuk menyampaikan dia kepada Allah SWT.
Dan sebenarnya konsep tawassul ini adalah konsep yang logis di dalam kehidupan kita. Bahkan tidak usah jauh-jauh kalau kita mau melihat ayat Al-Qur’an, Allah pernah berfirman Qul, katakanlah wahai Muhammad. Inkuntum tuhibbunallah fattabiuni yuhbibkumullah. Allah berfirman, Ya Muhammad katakanlah kepada mereka. Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku. Maka Allah akan mencintai kamu. Maka saat itu Nabi Muhammad SAW adalah wasilah supaya manusia mendapatkan cinta dari Allah SWT SWT.
Saya tidak mengatakan jika kamu mencintai Allah maka cintailah Allah. Tapi jika kamu mencintai Allah, ada jalannya. Ada caranya. Ada jalurnya. Yaitu apa? Maka ikutilah aku. Maka Allah akan mencintai kamu. Cinta Allah disyaratkan atau digantungkan kepada keikutan kita kepada Rasulullah SAW dalam hal ini yang pada gilirannya termasuk perintah Rasulullah untuk mengikuti para imam ahlul bait sa. yang 12 jumlahnya sebagaimana disebutkan Shohih Bukhari dan Shohih Muslim. Artinya, Al - Qur’an tidak pernah menentang tawassul. Al – Qur’an tidak ada ayat yang melarang tawassul.
Bahkan ketika kemudian “La yanfau syafaatun” tidak berlaku syafaat dan lain sebagainya itu menceritakan tentang orang-orang yang kafir. Menceritakan tentang orang-orang yang celaka. Karena ada beberapa kalangan yang kemudian menyampaikan apa? Bahwa banyak ayat yang mengatakan pada hari akhir itu tidak berguna syafaat, tidak berguna, dan lain sebagainya.
Betul, dan lihatlah semua ayat yang berbicara tentang hal itu. Itu berhubungan dengan orang kafir yang mencari selamat di akhirat. Bagi mereka memang tidak ada syafaat. Justru ayat-ayat itu menguatkan tawassul. Termasuk ayat yang mengatakan ketika Rasulullah menegur orang-orang kafir, orang-orang musyrik Quraisy yang menyembah berhala, ditegur sama Rasulullah. Kemudian mereka mengatakan, “La na’buduhum illa liyuqorribuna ilallahi zulfa.” Ya Muhammad kami tidak menyembah mereka. Kami hanya menjadikan mereka sebagai wasilah untuk mendekatkan kami kepada Allah SWT.
Yang pertama, mereka mengatakan, sebagian kelompok, sebagian kalangan, sebagian orang mengatakan bahwa ini merupakan ayat tentang larangan tawassul. Jadi, tawassul itu adalah tradisinya orang musyrik yang menjadikan berhala sebagai tawassul.
Yang pertama, justru ayat ini menguatkan tawassul. Karena ketika mereka ditegur oleh Nabi Muhammad, orang-orang musyrik itu menggunakan hujjah, kami tidak menyembah mereka, tapi kami menjadikan mereka (berhala ini) sebagai alat untuk mendekatkan kami kepada Allah. Artinya, mencari wasilah untuk mendekatkan kepada Allah itu syar’i. Makanya mereka gunakan sebagai hujjah dihadapan nabi Muhammad. Paham ya kira-kira ya? Ini syar’i. Satu.
Yang kedua, di situ, yang dilarang, itu bukan tawassulnya. Tapi mad, obyeknya, atau wasilahnya. Betul. Wasilah yang digunakan untuk tawassul itulah yang dilarang. Bukan tawassul nya. Terbukti, orang musyrik menggunakan tawassul sebagai hujjah. Nyembah itu tidak boleh. Kami hanya menjadikan dia sebagai wasilah. Berarti wasilah itu boleh. Kalau nggak boleh, kalau dilarang oleh agama nabi Muhammad, tidak mungkin orang kafir menggunakan itu sebagai hujjah supaya boleh. Paham ya kira-kira ya?
Artinya, banyak kemudian ayat di dalam Al-Qur’an yang digunakan untuk sebagian kalangan dan diyakini sebagai, saya tidak tau dan diyakini sebagai ini atau tidak, tapi mereka mengatakan itu sebagai ayat yang menentang dan melarang kita tawassul dan kita hanya boleh minta langsung kepada Allah SWT. Karena Allah Maha Mendengar. Allah Maha Mengetahui. Allah tidak perlu wasilah. Allah tidak perlu perantara, dan lain sebagainya.
Dan pernah kita bahas dalam majlis – majlis kita yang lain, bahwa kita tidak pernah membahas tentang Allah itu butuh atau tidak, tapi kita membahas manusia itu membutuhkan. Manusia itu membutuhkan. Sehingga ketika Rasulullah SAW bersabda, “La tajma’u baina ismi wafun yadi wa ana Abul Qasim”. Jangan kalian campur adukkan antara nama dan julukanku. Ana Abul Qasim, aku ini Abul Qasim. Tapi ingat Abul Qasim itu bukan hanya karena saya punya anak yang namanya Qasim, tapi Abul Qasim itu juga bimakna Allahu yu’thi wa ana aqsim atau uqasim. Karena Allah yang member, dan aku yang Qasim atau membagi. Jadi di situ disebutkan bahwa Allah SWT ketika memberikan sesuatu kepada manusia ada perantaranya juga. Allah juga mengutus para malaikat kalau kita ngomong masalah perantara.
Pertanyaannya adalah apakah Allah tidak mampu mencabut nyawa sendiri, kok kudu nyuruh malaikat pencabut nyawa? Ya khan? Simple saja kita buat pembahasan kita bahwa kalau memang segala sesuatu itu diukur dengan kemampuan Allah, Qudrah Allah, maka apa? Maka tidak ada yang mustahil bagi Allah. Tapi di dalam ilmu Kalam, ilmu akidah disebutkan “Al Qudrah tata’allaku bil Maqdurat”. Kemampuan itu selalu berhubungan dengan yang dikenai kemampuan itu. Seperti memasukkan sapi yang besar kepada telur yang kecil. Bisa nggak Allah itu? Bisa nggak Allah memasukkan sapi yang besar kepada telur ayam yang kecil? Sapinya tetap segitu, telur nya tetep segitu, sapinya masuk ke telur, telurnya nggak pecah! Bisa nggak Allah itu? Bisa! Jangan pernah mengatakan Allah tidak bisa. Allah bisa. Permasalahannya apakah telur itu mampu menahan sapi yang sedemikian besar tanpa dia harus pecah dan sapi itu masuk ke dalamnya? Permasalahannya bukan mampu atau tidak Allah itu. Permasalahannya, mampu nggak telur nya nahan sapi.
Maka ketika Allah menurunkan sesuatu, Allah mengutus para malaikat. Bukan Allah yang butuh malaikat, manusianya yang tidak bisa menerima langsung dari Allah SWT. Maka ada filter, filter, filter, baru kita. Maka ada filter. Malaikat ada filter anbiya’ ada filter aimmah, ada filter ulama, ada filter sampai kita orang awam. Gampangane seperti itu.
Sehingga dari Allah SWT kepada manusia, itupun melalui perantara. Dari atas ke bawah itu ada perantaranya. Makanya kalau kita berdoa kenapa kita mengawalinya dengan sholawat. Karena dari nabi Muhammad lah Allah SWT menyalurkan anugerahnya kepada kita. Dari nabi Muhammad. Allahu yu’thi wa ana aqsim. Allah yang member, aku yang membagi.
Sekarang, kalau dari atas ke bawah saja ada wasilah, bagaimana kita dari bawah ke atas? Dari Allah Yang Maha Kuasa kepada kita saja perlu yang namanya converter. Ada yang merubah formatnya dari format ilahi diubah formatnya menjadi format malaikat, diubah format nya menjadi format anbiya’, diubah formatnya dan sebagainya sehingga kita mendapatkan syariat itu. Itu dari atas ke bawah. Yang logikanya lebih gampang dari atas ke bawah karena berangkat dari kekuasaan Allah untuk menurunkan sesuatu kepada ke sesuatu yang ada di bawah nya. Secara maqam wujud dibawahnya Allah SWT.
Kalau itu ada wasilah, perlu wasilah, meskipun bukan Allah yang membutuhkan, bagaimana kita, manusia ini, dari bawah ke atas menyampaikan permohonan kita kepada Allah. Apakah mungkin sampai kepada Allah tanpa melalui wasilah? Saya kira lebih tidak mungkin lagi. Kalau dari atas ke bawah saja perlu wasilah, bagaimana dari bawah ke atas?
Tapi ketahuilah bahwasanya wasilah kepada Allah ini harusnya syar’i. Kalau njenengan ingin dating satu pertunjukan maka njenengan harus menggunakan tiket yang dikeluarkan oleh panitia pertunjukan. Ya khan? Kalau njenengan mau masuk gedung bioskop maka tiketnya pun harus sesuai dengan hari itu hari apa? Nggak bisa kemudian njenengan dating ke satu tempat, atau misalkan ada satu walimahan pernikahan, njenengan bawa undangan yang bukan undangannya itu. Undangan lain. Njenengan ditolak. Sama juga ketika njenengan ingin mencapai Allah SWT, Allah SWT itu sudah punya undangan dan punya jalur. Kalau kita menggunakan jalur yang lain ya kita tidak akan diterima oleh Allah SWT. Ada tiket tertentu yang ada di tangan kita ini yang bisa kita gunakan.
Karena itu, kenapa kemudian di dalam di dalam ahlulbait disebutkan bahwa tawassul ini tidak boleh kepada sembarang orang. Karena ini sekarang hubungannya itu adalah mencari perantara antara kita dengan Allah SWT. Maka kita lanjutkan lagi pembahasan kita sebelumnya.
“Walakin lil atsar wa bi sabab hadzal kalamul faqith lidalil qouma wahabiyu bittihamil bi...” Akan tetapi disayangkan karena pendapat-pendapat yang tanpa dalil ini, sekarang kita lihat banyak sekali pendapat – pendapat terutama dari kalangan wahabi, statement – statement yang tidak berdalil sama sekali. Orang ziarah kubur itu syirik. Kenapa? Karena minta kepada selain Allah. Padahal bisa juga kita kejar misalkan kalau tidak minta kepada selain kubur bagaimana? Kalau cuma untuk bersih – bersih apakah syirik juga? Artinya, yang mereka lontarkan itu tidak berdasarkan dalil yang kuat. Masih kemungkinan – kemungkinan. Kenapa kemungkinan – kemungkinan itu menjadi hukum? Kalau orang masuk kuburan itu mesti akan minta kepada selain Allah. Khan gitu akhirnya? Padahal belum tentu. Nantinya juru kunci musyrik semua.
Karena pendapat yang tidak berdasar itu maka wahabiyun / kalangan wahabi itu melontarkan banyak tuduhan kepada kaum muslimin dengan syirik dan kafir bahkan. Dihukumi syirik, dihukumi kafir, karena sabane ning kuburan.
Bahkan banyak sekali yang kemudian tercipta pertumpahan darah artinya banyak orang-orang yang dibunuh atas nama agama. Dianggap mereka itu kafir, dianggap mereka itu musyrik, dan lain sebagainya. Itu hanya karena melakukan hal-hal yang mereka yakini dan mereka ada dalilnya. Sementara mereka yang melontarkan tuduhan syirik dan kafir ini tidak berdasar. Tidak ada dalilnya.
Maka “wa ba’da arofna” dan setelah kita mengetahui keyakinan i’tiqad dan akidah mereka dengan baiklah kita mengenal bagaimana wahabi itu maka marilah kita kembali kepada pembahasan kita atau asal pembahasan kita, pembahasan pokok kita pada hari ini. Dan untuk kita menyelesaikan beberapa hal yang harus kita selesaikan.
Kemarin kita sudah membahas mengenai makna tawassul. Makna tawassul yaitu mencapai sesuatu dengan menggunakan sesuatu. Jembatan untuk menuju kepada sesuatu. Dari beberapa sumber lughowi, pembahasan secara linguistic kemarin kita sudah membahas bahwa tawassul ini memiliki makna sekitar itu. Bahwasannya tawassul adalah di dalam mishbahul lughoh “al wasilah ma yataqorrobu bihi ila syai in” Segala sesuatu yang mendekatkan kepada sesuatu yang lain. Itu namanya wasilah. Jamaknya adalah wasail.
Dan kita kemarin juga sudah menyampaikan juga mengenai beberapa ayat yang berhubungan dengan kata wasilah. Diantaranya dalam surat Al Maidah : 35. Qolallahu ta’ala , A’udzubullahi mina syaithanirrajim. “Ya ayyuhalladzina aamanuttaqullah wabtaghu ilaihil wasilah.” Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah perantara / wasilah untuk menuju kepada Nya. “Wa jahidu fi sabilillah la’allakum tuflihun.” Dan berjuanglah di jalan Allah supaya kalian menjadi orang-orang yang beruntung.
Kemarin sudah kita bahas ayat itu dan pada ayat yang lain disebutkan pada ayat yang ke 57 surat Al Isra’ “Qulid’ulladzina dza’amtum min dunihi falayamlikuna tasyfadhur ankum wala tahwila” Maka disebutkan di sini , katakanlah wahai Muhammad, panggillah orang-orang yang kamu kira bisa melindungi kamu selain Allah. Sesungguhnya mereka tidak bisa menyingkapkan segala macam keburukan dari kalian dan tidak bisa merubah kondisi kalian. Ini juga mengenai bertawassul kepada selain Allah SWT.
Dan tentunya ayat ini berhubungan dengan berhala. Jelas bahwasannya yang dituju oleh ayat ini adalah larangan untuk menyembah berhala dengan alasan sebagai wasilah kepada Allah SWT. “La na’budu illa liyuqarribuna ilallahi zulfa”. Sementara ayat-ayat yang dijadikan pegangan oleh kalangan wahabi adalah ayat-ayat yang berhubungan dengan ibadah. Dan tidak ada seorang muslim manapun yang beribadah kepada arwah. Tidak ada seorang muslim dimanapun mereka berada itu beribadah kepada selain Allah.
Kita yakin bahwasannya setiap orang yang kemudian ziarah ke makam, saya kira tidak satupun dari mereka yang menyembah kepada selain Allah. Yang betul-betul niatnya ziarah. Lain kalau mau minta togel. Atau mau minta wangsit-wangsit, itu lain lagi. Yang betul-betul berniat ziarah saya kira tidak ada satupun yang mengatakan bahwa dia meminta dan menyembah kepada selain Allah. Dimanapun mereka berada, dan dimanapun mereka berziarah. Selama mereka betul-betul niat berziarah.

BERSAMBUNG

Sunday, 27 May 2018

DS048-PENGHORMATAN BULAN RAMADHAN



            Dapat dipahami dari beberapa riwayat dan hadis bahwa Nabi dan para Imam as biasa mengumumkan kesiagaan universal dan bersiap-siap di akhir bulan Sya’ban untuk menyambut bulan Ramadhan. Khususnya pada akhir Jumat di bulan Sya’ban, mereka bersiap diri menjadi tamu Allah, supaya manusia mengetahui kenikmatan mana yang akan diterima oleh mereka. Sungguh, begitu mulia dan agungnya bulan ini sehingga kita tidak diperkenankan menyebut ‘Ramadhan’ tanpa kata “bulan.” Disebutkan dalam sebagian riwayat Imam Muhammad Al-Baqir as bersabda: “Janganlah engkau mengatakan, ‘Ini Ramadhan’, ‘Ramadhan telah pergi’, ‘Ramadhan telah datang’... Akan tetapi, ucapkanlah “(Ini) bulan Ramadhan”, bulan Ramadhan (telah pergi)”, bulan Ramadhan (telah datang)...’”. Disebutkan dalam kitab Mîzânul Hikmah, hal. 176, karya Al-Muhammadi Ar-Riy Syahri, Rasulullâh saw bersabda: “Janganlah engkau mengatakan ‘Ramadhan’, karena Ramadhan adalah salah satu nama Allâh Ta’ala, tetapi ucapkanlah, ‘Syahru Ramadhân’ [bulan Ramadhan]”. Ketika bulan Ramadhan tiba, Nabi saw. bersabda: "Subhânallâh! Apa yang akan kalian lakukan terhadap bulan Ramadhan? Dan apa yang akan ia (bulan Ramadhan) perbuat terhadap kalian”.

            Syaikh Shadûq meriwayatkan bahwa ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah saww membebaskan setiap tawanan dan memenuhi setiap peminta.

            Syaikh Abbas berkata, "Bulan Ramadhan adalah bulan Allah, Tuhan semesta alam dan bulan yang paling mulia. Di dalam bulan itu, pintu-pintu langit, surga, dan rahmat dibuka sedangkan pintu-pintu neraka ditutup. Juga di malam-malamnya yang apabila seseorang melakukan ibadah itu lebih baik daripada ibadah seribu bulan. Oleh karena itu, renungkanlah bagaimana kita akan menjalani malam-malam dan hari-harinya, dan bagaimana kita akan menjaga anggota badan kita dari bermaksiat kepada Tuhan kita. Jangan sampai kita tidur lelap di malam harinya dan melupakan Allah di siang harinya. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa di akhir setiap hari selama bulan Ramadhan ketika saat berbuka puasa tiba, Allah 'azza wa jalla akan membebaskan ribuan orang dari api neraka; pabila malam dan siang hari Jumat tiba, pada setiap saatnya Allah membebaskan ribuan orang yang mestinya mendapatkan siksa api neraka; dan di malam dan siang terakhir bulan Ramadhan, Allah akan membebaskan sebanyak orang yang dibebaskan di bulan itu. Oleh karena itu, wahai saudaraku, jangan sampai bulan Ramadhan berlalu sedangkan dosa-dosa masih belum diampuni, dan ketika orang-orang yang berpuasa menerima pahala, kita malah termasuk di antara orang-orang yang merugi. Dekatkanlah diri kita kepada Allah swt dengan membaca al-Quran pada malam dan siang harinya, mengerjakan shalat, dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah, mengerjakan shalat di waktu fadhilahnya, memperbanyak istighfar dan doa.
            Diriwayatkan dari Imam Shâdiq as berkata, 'Barangsiapa tidak diampuni (dosanya) di bulan Ramadhan, maka ia tidak akan diampuni hingga tahun depan kecuali jika ia menghadiri Arafah di musim Haji'.
            Hindarkan diri kita dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah; dan tidak berbuka puasa dengan makanan haram. Tetapi berperilakulah sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh Imam Shâdiq as. berkata, 'Ketika engkau berpuasa, hendaknya telinga, mata, rambut, kulit, dan seluruh anggota badanmu juga berpuasa'. Yaitu, mencegah diri dari hal-hal yang diharamkan, bahkan dari hal yang makruh. Beliau juga berkata, 'Jangan sampai hari berpuasamu seperti saat berbuka puasamu.’ Beliau juga berkata, 'Berpuasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Bahkan, di siang harinya jagalah lidah kalian dari berkata bohong! Hindarkan pandangan kalian dari hal-hal yang haram! Jangan bertikai dengan sesama! Jauhkan rasa iri hati! Janganlah menggunjing, berdebat! Janganlah bersumpah bohong, bahkan jangan pula bersumpah benar! Janganlah mencerca, mengejek, berbuat zalim, dan bertindak gegabah! Hendaklah berlapang dada! Hendaklah selalu mengingat Allah dan waktu shalat! Jangan membicarakan apa pun yang tidak pantas dibicarakan! Hendaklah bersikap sabar dan jujur! Jauhilah orang-orang jahat! Hindarilah perkataan jelek, berdusta, bermusuhan dengan manusia, berprasangka jelek, menggunjing, dan mengadu-domba! Yakinlah bahwa kalian telah mendekati akhirat! Tunggulah kemunculan al-Qâ`im, keluarga Muhammad, harapkanlah pahala akhirat, dan persiapkanlah bekal amal saleh untuk perjalanan akhirat! Tenangkanlah hati kalian, anggota tubuh kalian! Bersikaplah rendah hati, khusyu', dan hina seperti seorang hamba yang takut kepada tuannya! Takutlah akan siksa Allah! Berharaplah akan rahmat-Nya! Sucikanlah hati kalian dari cela dan batin kalian dari tipu-daya dan makar! Bersihkanlah badan kalian dari segala kotoran! Bebaskan diri kalian dari selain Allah, dan ketika berpuasa, murnikanlah wilâyah kalian hanya untuk-Nya! Janganlah kalian lakukan apa yang Allah telah melarang kalian untuk melakukannya, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi! Takutlah kepada Allah Yang Maha Mengalahkan atas apa yang pantas bagi-Nya untuk ditakuti, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi! Hadiahkanlah ruh dan badan kalian kepada Allah 'azza wa jalla di hari-hari puasa kalian ini! Kosongkan hati kalian hanya demi kecintaan kepada-Nya dan mengingat-Nya, dan gunakan tubuh kalian untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepada kalian. Jika kalian telah melakukan semua itu, berarti kalian telah melaksanakan apa yang layak bagi kewajiban puasa dan menaati perintah-perintah Allah! Dan jika kalian lengah dalam melakukan apa yang telah kujelaskan itu, maka keutamaan dan pahala kalian akan berkurang sekadar kelengahan yang telah kalian perbuat. Sesungguhnya ayahku as berkata, 'Rasulullah saww pernah mendengar seorang wanita yang tengah puasa mencerca sahayanya. Kemudian beliau meminta makanan dan berkata kepada wanita itu, 'Makanlah!' 'Saya sedang berpuasa', jawabnya. Beliau bersabda, 'Bagaimana mungkin engkau berpuasa sedangkan saat yang sama engkau telah mencerca sahayamu! Sesungguhnya berpuasa itu bukan hanya menahan dari makan dan minum. Tetapi Allah telah menjadikan puasa (yakni, menahan dari makan dan minum) sebagai tabir dari berperilaku buruk dan berucap kotor. Alangkah sedikitnya orang-orang yang bbenar-benar berpuasa dan begitu banyak orang yang hanya merasakan lapar (dan dahaga).'
Amirul Mukminin as berkata, 'Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari nialai puasanya kecuali hanya menahan rasa haus. Dan berapa banyak orang yang beribadah yang tidak mendapatkan nilai ibadahnya kecuali kepenatan. Sungguh, tidurnya orang berakal (nalar) lebih utama daripada ibadahnya orang dungu.’
Telah diriwayatkan dari Jabir bin Yazid, dari Imam Muhammad al-Bâqir as bahwa Rasulullah saww bersabda kepada Jabir bin Abdillah, 'Wahai Jabir, ini adalah bulan Ramadhan. Barangsiapa berpuasa di siang harinya, beribadah di sebagian malamnya, mencegah perut dan kemaluannya, dan menjaga mulutnya (dari hal-hal yang telah diharamkan), ia akan keluar dari dosa-dosanya sebagaimana ia keluar dari bulan ini.’ Jabir berkta, 'Alangkah bagusnya sabda Anda!’ Rasulullah saww menjawab, 'Alangkah beratnya persyaratan yang telah kusebutkan itu'.

Friday, 25 May 2018

DS047-KHADIJAH MENGHADAP ALLAH DENGAN DUA LEMBAR KAFAN


Semua kaum muslimin sepakat bahwa keberadaan Ummulmukminin Khadijah ra. memberikan pengaruh yang besar bagi keberhasilan dan kesinambungan dakwah Rasulullah saw. dalam menyerukan suara Islam di kalangan masyarakat Jahiliyah melakukan banyak intimidasi dan embargo di segala aspek kehidupan beliau. 
Selain Abu Thalib, sang paman, Nabi Muhammad selalu mendapatkan dukungan spirit dan materiel dari sosol wanita tangguh ini, sehingga kepergian Khadijah merupakan salah satu dari ahzan (peristiwa-peristiwa yang menyedihkan) dalam kehidupan Rasulullah saw.

Dalam posting singkat ini. saya ingin mengangkat sebuah potongan kisah memilukan yang menggambarkan betapa Rasulullah saw. sangat mencintai Khadijah hingga akhir hayatnya dan demikian sebaliknya. Riwayat ini juga memberikan gambaran betapa wanita mulia ini memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya.

Ketika sakit Khadijah ra. semakin parah, ia berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, mohon dengarkan beberapa wasiatku ini :

1. Aku tahu bahwa aku telah lalai melakukan kewajibanku terhadapmu maka maafkan aku, wahai Rasulullah!
Rasul segera berkat: Sama sekali tidak, engkau tidak pernah lalai, engkau selalu pada puncak perjuangan, engkau telah teramat kuletihkan di rumahku, hartamu telah kau hasbiskan di jalan Allah

2. Aku berwasiat akan ini (sambil mengisyaratkan ke arah Fatimah) karena ia akan menjadi yatim dan terasing sepeninggalku. Jangan ada seorangpun dari wanita Quraisy yang menyakitinya, jangan sampai ada diantara mereka yang menamparnya, jangan sampai ada diantara mereka yang berteriak di depannya dan jangan ada yang menampakkan keburukan kepadanya!

3. Sesungguhnya aku takut terhadap alam kubur, maka aku ingin kau berikan jubahmu yang kau kenakan saat wahyu turun kepadamu dan kafani aku dengannya!

Maka Nabi segera meletakkan jubah beliau pada Khadijah dan nampak ia merasa sangat bahagia.

Setelah Khadijah wafat, Rasulullah memandikan dan merawat jenazahnya. Ketika Nabi hendak mengkafani dengan jubahnya sebagaimana diwasiatkan, tiba-tiba Jibril turun seraya berkata: 

Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah menyampaikan salam keagungan bagimu seraya berfirman: "Wahai Muhammad, sesungguhnya kafan Khadijah adalah urusan Kami karena ia telah korbankan hartanya di jalan Kami!"

Maka Jibril datang dengan membawa kafan seraya berkata: Wahai Rasulullah, inilah kafan Khadijah. Ini salah satu dari kafan-kafan surga yang dihadiahkan Allah kepadanya.

Maka Rasulullah mengkafani Khadijah dengan jubahnya dilanjutkan dengan kafan surgawi itu. Maka Khadijah menghadap Allah dengan mengenakan dua helai kafan.

(malam 10 Ramadhan, memperingati wafat Ummulmukminin Khadijah Al Kubra ra.)

Wednesday, 16 May 2018

DS046-PASCA GAGALNYA TAUBAT (BAG.2-SELESAI)


Kesadaran akan kekurangannya, pada gilirannya, akan melahirkan kesadaran bahwa ia harus memperpendek jarak dengan Allah, mengingat selama ini ia tidak merasakan keagungan-Nya dikarenakan ia menciptakan jarak dari-Nya. Pada saat yang sama, ia meyakini bahwa kekurangan menjadikannya merasa tidak mampu mencapai kedekatan itu dengan usahanya sendiri. Ia harus mencari cara agar mencapai kedekatan itu dengan segala kekurangannya dan kesempurnaan Tuhan. Saat itu, mencari perantara dan penghubung menuju kepada-Nya adalah sebuah keniscayaan. Ia harus selektif dalam mencari penghubung yang benar-benar mengantarkannya pada tujuan itu. Wasilah (penghubung) itu haruslah pihak yang dipilih oleh Allah berkat fadhilah (keutamaan) hingga ia mencapai kedudukan termulianya di sisi Allah hingga mendapat mandat untuk menjadi penghubung antara langit dan bumi. Perantara dan penghubung itu benar-benar menjadi perwakilan Allah untuk menyampaikan titah-Nya sehingga ia terjaga dari segala kesalahan dan kekeliruan demi terjaganya syariat-Nya. Dengan kata lain, ketaatan kepadanya adalah mutlak ketaatan kepada Allah. Sebagaimana telah difirmankan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Kemutlakan ketaatan kepada sang penghubung semakin terjamin kemutlakannya tatkala Allah menjadikannya wakil tidak hanya secara tasyri’i tapi juga secara takwini, sebagaimana difirmankan:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ 

Dan tiadalah ia berbicara karena dorongan hawa (nafsu) karena semua yang ia sampaikan adalah wahyu semata  (Q.S. An Najm: 3-4)

Lebih dari itu, Allah menjadikan ketaatan kepadanya sebagai bukti kecintaan manusia kepada-Nya yang akan melahirkan kasih sayang-Nya. Lihatlah bagaimana Allah berfirman kepada Nabi Muhammad saw.:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ 

Katakanlah  (wahai Muhammad): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali Imran)
Dari beberapa ayat diatas menjadi jelas bahwa Rasulullah, Muhammad saw. adalah sang penghubung itu. Dialah yang menjadikan manusia mampu mencapai kedekatan dengan Allah setelah kegagalan yang meyakinkan dalam menembus regulasi pengabulan taubat sebagaimana tersebut dalan surat An Nisa: 17-18). Dialah jalur kasih sayang Allah yang akan menyelamatkan manusia yang tangannya terlalu ‘pendek’ untuk menggapai keselamatan dari akibat dosa-dosanya. Bukankah untuk tujuan itu Nabi Muhammad saw. diutus sehingga ia dijuluki nabiy ar rahmah (nabi kasih sayang)?. Bukankah dalam hal ini Allah telah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. Al Anbiya: 107)

Kasih sayang mana yang lebih besar jika dibanding keselamatan makhluk di alam semesta dari murka Allah akibat kemungkaran dan dosa-dosa tak terampuni?
Semua itu menyadarkan kita betapa kita membutuhkan Nabi Muhammad sebagai juru selamat yang setiap ketaatan kepadanya akan melahirkan kasih sayang Allah dan menjadi kunci terbebasnya kita dari dosa-dosa yang akan menjatuhkan kita ke jurang kehancuran.
Bahkan ayat lain menjelaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah adalah pintu taubat karena taubat kita akan diterima setelah Rasulullah memohonkan ampun untuk kita. Hal itu membuktikan bahwa tawassul taubat merupakan sunnah yang berlangsung sejak jaman kenabian:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka menganiaya diri (berbuat dosa), mere datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. An Nisa:64)

Yang menarik dalam hal ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan:
“Saat para pendosa dan palaku maksiat terjerumus, Allah menuntun mereka untuk mendatangi Rasulullah saw. dan bertaubat di sisinya dan meminta agar Nabi memohonkan ampun untuk mereka. Karena jika mereka melakukan itu maka Allah akan menerima taubatnya, mengampuni dan menyayangi mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Selanjutnya Ibnu Katsir berkata:
“Sekelompok orang, termasuk Syeikh Abu Nashir bin Shibagh dalam kitabnya Asy Syamil, telah menyebutkan sebuah riwayat yang cukup masyhur dari Al ‘Uthbi yang berkata: “Suatu hari aku duduk di samping makam Rasulullah hingga datanglah seorang a’rabi (orang arab dari desa) yang mendekati makam suci dan berkata: “Salam bagimu wahai Rasulullah, aku telah mendengar firman Allah: Sesungguhnya jikalau mereka menganiaya diri (berbuat dosa), mere datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Karenanya, sekarang aku datang kepadamu memohon ampunan Tuhanku atas dosaku dengan syafaatmu”. Kemudian ia melantunkan beberapa bait syairnya:

يا خير من دفنت بالقاع أعظمه  
فطاب من طيبهن القاع والأكم
نفسي الفداء لقبر أنت ساكنه
فيه العفاف وفيه الجود والكرم

Wahai manusia terbaik dan teragung yang dikuburkan di tanah ini,
hingga tanah dan pasirnya menjadi harum karenanya
jiwaku siap menjadi tebusan bagi kubur dimana engkau berada
disanalah kehormatan, kemurahan dan kemuliaan

Kemudian a’rabi itu beranjak dari tempat itu dan aku masih terpukau dengan apa yang dilakukannya. Malam harinya aku bermimpi bertemu dengan Nabi dan beliau berkata: “Wahai ‘Uthbi, benar apa yang dilakukan a’rabi itu. Sampaikan berita gembira bahwa ia telah diampuni dan sesungguhnya dia akan menyertaiku di surga.
Semoga syafaat Nabi Muhammad dan Ahlul Bait as. akan menyelamatkan kita dari akibat dosa-dosa kita yang melahirkan kemurkaan Allah.


Monday, 14 May 2018

DS045-PASCA GAGALNYA TAUBAT (BAG.1) :


Taubat, makrifat manusia akan dirinya

Kita diajarkan untuk memulai setiap pekerjaan kita dengan menyebut nama Allah yang berdimensi jamalaiyah yaitu rahman dan Rahim yang sekaligus merupakan ta’awudz (perlindungan) dari murka dan azabnya. Dalam kalimat itu kita berharap agar Allah memperlakukan kita (dalam segala keadaan) dengan dimensi kasih sayang yang melampaui dimensi keadilan. Dalam doa Jausyan Kabir (sebagai doa yang berisikan seruan-seruan dengan nama-nama mulia-Nya), misalnya, banyak kita temukan ajaran seruan yang menguatkan hakikat ini, seperti ya man laa yukhafu illa ‘adluh ! (wahai yang tidak ditakuti kecuali keadilan-Nya), ya man sabaqat rahmatuhu ghadhabah ! (wahai yang kasih-Nya selalu mendahului murka-Nya), ya man laa yurja illa fadhluh ! (wahai yang tidak diharapkan kecuali kemurahan-Nya) dan sebagainya. Tentunya asma-Nya yang lain yang berdimensi jalaliyah seperti ya qawiy, ya mutakabbir, ya jalil dan sebagainya.
Dalam interaksi dengan Allah, memang tidak salah jika kita selalu mengedepankan pandangan bahwa Dialah Dzat yang pengasih dan penuh maaf. Selain karena memang begitulah hakikat salah satu dimensi wujud-Nya, hal itu pula yang menjadikan hidup kita senantiasa dipenuhi dengan harapan akan keselamatan bahkan setelah kesalahan-kesalahan yang menimbulkan murka.
Namun demikian pandangan dari sisi jamaliyah saja seringkali menjerumuskan kita ke dalam lembah ‘tak tahu diri’. Maksudnya, kelalaian manusia sebagai hamba terhadap dimensi kekurangannya seringkali menjadikannya kehilangan etika saat melakukan interaksi dengan Sang Pencipta. Kita selalu melihat doa sebagai ajang permohonan dan permintaan yang tak terbatas dengan hanya mengingat bahwasannya Allah maha kaya lagi maha memberi. Kondisi ini membuat kita kehilangan kesadaran akan segala bentuk kekurangan dan kelalaian dalam penghambaan, padahal semua itu sangat mempengaruhi ijabah bagi setiap panjatan doa kita. Lebih dari itu, kesadaraan diri itulah yang menjadi kunci kwalitas penghambaan kita kepada Allah. Bukankah dalam hadits disebutkan bahwa barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya. Hal ini sejalan dengan sabda Imam Ali: Allah akan menyayangi orang yang tahu dirinya berasal darimana, sedang berada di mana dan akan menuju kemana”.
Taubat yang benar adalah taubat yang berlandaskan kesadaran akan kekurangan kita yang menumbuhkan kepasrahan diri akan kemutlakan Tuhan dalam segala keadaan. Tanpa hal itu, tidak menutup kemungkinan bahwa setiap lantunan doa kita hanya akan menjadi wujud kemunafikan hati dalam berinteraksi dengan Yang Maha Tahu.

Taubat, regulasi syariat yang teramat berat

Al Quran adalah kitab Allah yang disepakati secara mutawatir dan meyakinkan bahwa hukum-hukumnya mewakili hukum-hukum yang dikehendaki Allah. Barangsiapa yang menyimpang darinya maka ia telah menyimpang dari kebenaran. Bahkan Ahlul Bait as. telah berpesan agar setiap perselisihan masalah dirujuk kepada hadits (riwayat) para perawi hadits mereka selama tidak bertentangan yang jelas dengan muhkamat Al Quran dan jika sampai terjadi pertentangan dengan Al Quran maka hendaklah riwayat tersebut dicampakkan jauh-jauh. Dari ilustrasi diatas, kita mendapatkan gambaran bahwa Al Quran, sebagai kitab samawi, harus menjadi acuan dalam setiap aktifitas kita, baik hablun minallah (ibadah) maupun hablun minannas (mu’amalah).
Dalam bagian ini kita akan membicarakan taubat dalam regulasi syariat sebagaimana yang termaktub dalam Al Quran agar kita mengetahui betapa pertaubatan merupakan perkara sakral dan membutuhkan usaha maksimal dan tak kenal lelah. Seandainya setiap orang tahu sulitnya mendapatkan pengabulan taubat niscaya ia tidak akan pernah melakukan dosa dan pelanggaran. Dalam surat An Nisa:17-18 Allah menjelaskan hakikat taubat yang akan membuat kita terhenyak saat mengetahuinya karena dengannya kita tahu betapa taubat kita nyaris mustahil diterima dengan regulasi yang termaktub dalam ayat tersebut.
Allah berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Sesungguhnya taubat itu hanya kepada Allah dan berlaku bagi orang-orang yang melakukan sebuah keburukan, karena ketidaktahuan serta bertaubat dengan segera.  Merkalah yang akan diterima taubatnya oleh Allah dan Allah maha tahu lagi maha bijaksana.
Dan tidak termasuk taubat bagi orang-orang yang melakukan banyak keburukan hingga ajal mendatangi salah seorang diantara mereka dan saat itu ia berkata: “Aku bertaubat sekarang!” demikian juga tidak berlaku bagi orang-orang yang mati dalam kekafiran. Kami telah menyedikan siksa yang pedih bagi mereka. (Q.S. An Nisa: 17-18)

Jika kita perhatikan, kedua ayat diatas menjelaskan regulasi yang harus dijalani pendosa dan syarat-syarat yang harus terpenuhi untuk mencapai pengampunan:
1.      Taubat berlaku bagi satu dosa (as-suu-u) dan bukan pengulangan dosa-dosa (as sayyi-aat)
2.      Taubat berlaku bagi dosa yang dilakukan akibat ketidaktahuan (bijahaalatin) bukan yang dilakukan dengan kesadaran dan pengetahuan.
3.      Taubat hanya diterima jika segera dilakukan (min qariibin) bukan yang dilambat-lambatkan, bahkan hingga ajal menjemput baru bertaubat (inni tubtul aana)
Dengan regulasi yang termaktub dalam kedua ayat suci diatas, masihkah kita yakin bahwa taubat kita akan diterima Allah?, apakah hanya satu dosa kemudian kita bertaubat atau banyak dosa kita kumpulkan dan baru setelah itu kita bertaubat?, apakah dosa yang kita lakukan merupakan akibat ketidaktahuan atau kesengajaan yang diremehkan?, apakah kita segera bertaubat setelah melakukan dosa atau melambat-lambatkan taubat kita?.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita semakin yakin bahwa mustahil bagi kita untuk mendapatkan pengabulan atas taubat kita.
Pada titik inilah kita sampai pada kondisi putus asa dan hanya mampu mengatakan: Ilahi fa kaifa lii (wahai Tuhanku, bagaimana dengan nasibku)?. Pada kondisi inilah kita hanya bisa pasrah dan berserah kepada keputusan-Nya yang bisa kita prediksikan hasilnya.

Mencari celah di luar regulasi

Keputusasaan akan pengabulan pertaubatan kita inilah yang pada akhirnya melahirkan rintihan bernuansa harapan akan sesuatu di luar regulasi tersebut yang akan menyelamatkan kita. Harapan itu terwakili oleh seruan kita dalam salah satu bagian doa Jausyan Kabir, ya man laa yurja illa fadhluh, ya man laa yukhafu illa ‘adluh (wahai yang tiada diharapkan selain kemurahan-Nya, wahai yang tiada ditakuti selain keadilan-Nya!)
Kepasrahan membuat kita sadar akan hakikat lain yang sangat lekat dengan dimensi kelembutan Allah. Sebuah dimensi dengan aura yang memberikan secercah harapan baru pasca kegagalan kita melalui regulasi pertaubatan yang sangat, bahkan mustahil, untuk kita penuhi persyaratannya. Dimensi itu adalah dimensi rahmat (kasih sayang) yang merupakan salah satu dimensi jamaliyah Allah.
Dalam hal ini kita berusaha untuk melakukan segala sesuatu yang menumbuhkan kasih dan sayang Allah kepada kita dengan mengidentifikasi hal-hal yang dicintai Allah dan membedakannya dengan perkara-perkara yang menimbulkan murka-Nya.
Dalam keadaan seperti ini kita mengakui segala kekurangan dan kelemahan kita hingga kita mampu merasakan keagungan-Nya. Hal itu tidak lepas dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang menilai segala sesuatu dengan kacamata relatif, dimana ia menilai besar kecilnya sesuatu setelah membandingkannya dengan sesuatu yang lain.
Dalam hal ini, manusia juga membandingkan antara diri dan Tuhannya. Semakin ia merasakan kehinaan dan kekurangan dirinya maka ia akan segera merasa betapa agung dan sempurna Tuhannya. Demikian sebaliknya, saat ia merasa dirinya agung dan sempurna maka ia sedang menganggap Tuhan tidak sebagaimana mestinya. Barangkali itulah maksud dari hadits bahwa barangsiapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.
Jadi kasih sayang Allah akan diraih oleh manusia yang memahami posisi wujudnya dan berusaha bersandar kepada wujud paling sempurna dengan merasakan keagungan-Nya dalam diri hingga iapun merasa hinda dan tidak memiliki apa-apa, laa haula walaa quwwata illa billahi…..

Bersambung.....

DS044-TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA DAN JIN



Firman Allah Swt:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. [QS adz-Dzâriyât(51):56]
Perlu diketahui, bahwa ibadah kepada Allah tidak hanya diwujudkan dalam bentuk shalat dan puasa saja. Akan tetapi, ibadah yang mencakup seluruh aktifitas yang disukai dan diridhai Allah yang berhubungan dengan diri manusia dan kehidupan di sekitarnya serta segala yang berkaitan dengan semua risalah yang dikehendaki Allah bagi kehidupan manusia. Inilah yang dinamakan ibadah kepada Allah Swt. Hal itu sesuai dengan tujuan penciptaan manusia dan jin.
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan …." [QS al-Imrân(3):195]
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
            Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [QS an-Nahl(16):97]
            Seluruh orang yang beriman, mengucapkan satu kalimat syahadat:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ.
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

ISLAM AGAMA CINTA
Allah Yang Maha bijaksana berfirman:
إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ
sayekti Pangéranku iku Mahaasih, Sutresna.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. (QS Hud:90)
            Sesungguhnya cinta itu adalah unsur yang paling kuat pengaruhnya di dalam pendidikan manusia yang salih lan akale nalar. Ia juga merupakan sebaik-baik cara untuk mewujudkan kemajuan peradaban, sosial, ekonomi dan politik. Diriwayatkan dari Nabi Sulaiman as bahwasanya dia berkata,
مَا مِنْ شَيْئٍ أَحْلَى مِنَ الْمَحَبَّةِ
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih manis daripada cinta.”
            Imam Muhammad Baqir ra menyifatkan Islam tidak lain adalah cinta. Sebagaimana hal itu beliau berkata:
هَلِ الدِّيْنُ إِلأَ الْحُبُّ
“Bukankah agama itu tidak lain adalah cinta.”
            Permusuhan itu bukan hanya menjadi penghalang yang merintangi kemajuan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan. Bahkan, ia adalah sebab kemandekan yang mencegah pemanfaatan segala potensi (kemampuan) yang ada. Oleh karena itu, masyarakat yang ditimpa bencana yang berbahaya ini (permusuhan atau kebencian), pasti akan mengalami kemunduran dan kejatuhan.
            Atas dasar itu, maka sesungguhnya agama yang menganggap dirinya dibangun atas dasar cinta, memandang bahwa permusuhan dan kebencian itu sebagai pemibinasaan terhadap agama. Dan menurut sudut pandang Rasul, Muhammad saw, “Sesungguhnya sejelek-jelek manusia itu adalah orang yang membenci orang banyak, dan orang banyak pun membenci dirinya.”
            Ada ungkapan yang sangat indah dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (karramallahu wajhahu) tatkala beliau mengangkat Malik al-Asytar sebagai Gubernur Mesir:
أَشْعِرْ قَلْبَكَ الرَّحْمَةَ لِلرَّعِيَّةِ وَالْمَحَبَّةَ لَهُمْ وَاللُّطْفَ بِهِمْ وَلَا تَكُونَنَّ عَلَيْهِمْ سَبُعاً ضَارِياً تَغْتَنِمُ أَكْلَهُمْ فَإِنَّهُمْ صِنْفَانِ إِمَّا أَخٌ لَكَ فِي الدِّينِ وَإِمَّا نَظِيرٌ لَكَ فِي الْخَلْقِ.
            Wahai Malik, ciptakan dalam hati dan pikiran Anda rasa baik hati dan sayang kepada rakyat Anda. Jangan bersikap terhadap mereka seakan-akan Anda binatang buas yang kelaparan dan rakus, dan seolah-olah kalau Anda melahap mereka maka Anda akan sukses.
            Ingatlah wahai Malik, bahwa di antara rakyat Anda ada dua golongan yang sama agama mereka dengan agama Anda; mereka ini saudara-saudara Anda, sedangkan golongan yang agama mereka beda dengan agama Anda, maka mereka itu manusia seperti Anda.” (Nahjul Balaghah, hal.426, surat 53)
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS al-Imran:159)

PENGERTIAN, DASAR HUKUM DAN HIKMAH SERTA MANFAAT UKHUWAH ISLAMIYAH

            Manusia adalah makhluk ciptaan Allah, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Islam adalah agama rahmatan lil ‘âlamîn sudah menjadi keharusan bagi setiap musliة untuk menjaga hubungan dengan baik, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun dengan negara. Dalam ajaran agama islam, semua manusia sama statusnya di mata Allah, yang membedakan hanya dari tingkat ketakwaan seseorang. Islam mendidik umatnya melarang besifat individual, tetapi selalu menyuruh umatnya untuk selalu menjalin hubungan kepada sesamanya, yang dalam agama dikenal dengan ukhuwah islamiyah. Ukhuwah Islamiyah tersebut seharusnya menjadi spirit baru dalam kehidupan beragama, sehingga agama menjadikan sebuah suasana yang menyejukkan, bukan yang menebar kebencian. Ukhuwah (persaudaraan) dengan orang Islam tidak menjadi ukhuwah Islamiyah, ketika disertai dengan sikap saling merugikan dan mendhalimi. Tetapi, ketika persaudaraan dengan orang lain meskipun berbeda keyakinan, pada saat itu juga persaudaraan itu menjadi ukhuwah Islamiyah.
1. Pengertian Ukhuwah Islamiyah
            Kata ukhuwah berasal dari bahasa arab yang kata dasarnya adalah akhun yang berarti saudara, sementara kata ukhuwah berarti persaudaraan. Adapun secara istilah ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allaah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah. Dengan berukhuwah akan timbul sikap saling menolong,saling pengertian dan tidak menzhalimi harta maupun kehormatan orang lain yang semua itu muncul karena Allah semata.
2. Dasar Hukum Ukhuwah Islamiyah
إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
            Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian,  dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat. (QS al-Hujurat :10).
واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْكـُرُو نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
            Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan “tali Allah” dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara. (QS. Ali Imran :103).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩)
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS an-Nisâ`:59)
مَثَلُ الْمُؤْ مِنِينَ فِى تَوَادَّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
            Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu jasad, jika salah satu anggotanya menderita sakit, maka seluruh jasad juga merasakan (penderitaannya) sehingga tidak bisa tidur dan merasa demam. (HR. Bukhari dan Muslim).
الْمُسْلِمُ أَخُو لْمُسْلِمِ لَايَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِى حاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَة
Orang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak akan menganiayanya dan tidak akan menyerahkannya (kepada musuh). Barang siapa ada didalam keperluan saudarany amaka Allah ada didalam keperluannya. Barangsiapa menghilangkan suatu kesukaran dari orang muslim, maka Allaah akan menghilangkan satu kesukaran-kesukaran yang ada pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allaah akan menutupu (aibnya) pada hari kiamat. (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Hikmah dan Manfaat Ukhuwah Islamiyah
            Ada beberapa hikmah yang harus kita ambil pelajaran untuk menjalin ukhuwah islamiyah dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga Allah SWT senantiasa menurunkan berkah didunia ini antara lain :
a. Terciptanya solidaritas yang kuat antar-sesama muslim
            Dengan adanya saling tepa selira, merasakan kebahagiaan ketika orang lain bahagia dan merasakan kesedihan ketika orang lain ditimpa musibah, akan membuahkan sikap solidaritas yang kuat di antara sesama muslim. Seorang muslim akan lebih peduli dan memberikan perhatian yang lebih kepada saudaranya sesama muslim. Dari sikap inilah Islam dan kaum muslim akan makin kuat dalam berbagai hal, termasuk secara ekonomi sehingga terhindar dari jurang kemiskinan.
b. Terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa
            Apabila seorang muslim mampu memberikan kasih sayang terhadap muslim lainnya, dan kasih sayang itu diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, kita akan merasakan betapa nikmatnya kebersamaan sebagai umat Islam dan bangsa yang kuat dan kukuh yang didasari sikap ikhlas karena mengharap ridha Allah, di samping itu tidak mudah di adu domba yang berdampak pada perpecahan.
c. Terciptanya kerukunan hidup antar-sesama warga masyarakat.
            Apabila seorang muslim mampu menghargai dan menghormai orang lain dalam berbagai hal, termasuk menghormati dan menghargai adanya perbedaan, baik dalam hal bahasa, budaya, maupun pemahaman agama yang penuh dengan perbedaan mazhab (aliran) dan pendapat, di samping bisa menerima dan legowo dengan perbedaan, tentu kita akan merasakan betapa nikmatnya hidup rukun dalam sebuah perbedaan yang dibingkai atas dasar ukhuwah Islamiyah dengan menganggap perbedaan sebagai rahmat atas kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya.
Indahnya Kebersamaan
            Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (karramallâhu wajhah) dalam suatu pidatonya berkata:
وَخَيْرُ النَّاسِ فِيَّ حَالاً النَّمَطُ اْلأَوْسَطُ فَالْزَمُوهُ، وَالْزَمُوا السَّوَادَ اْلأَعْظَمَ، فَإِنَّ يَدَ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ، فَإِنَّ الشَّاذَّ مِنَ النَّاسِ لِلشَّيْطَانِ، كَمَا أَنَّ الشَّاذَّ مِنَ الْغَنَمِ لِلذِّئْبِ.
            … Sebaik-baik orang adalah dia yang di jalan tengah. Karena itu, bersamalah dengan dia, dan dengan kaum Muslim yang lain karena tangan (perlindungan) Allah Swt ada pada (mereka) yang senantiasa menjaga kebersamaan (persatuan). Hati-hatilah, jangan sampai kalian memisahkan diri, karena orang yang terpisah dari kebersamaan (jamah), maka dia menjadi mangsa setan, persis seperti domba yang terpisah dari kawanannya, maka ia akan menjadi mangsa serigala. (Nahjul Balâghah, hal.184, khotbah 127)
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ): يَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ، وَالشَّيْطَانُ مَعَ مَنْ خَالَفَ الْجَمَاعَةَ يَرْكَضُ.
            Rasulullah saw bersabda: “Tangan (Perlindungan) Allah Swt ada pada (mereka) yang senantiasa menjaga kebersamaan (persatuan dalam kebaikan); sedangkan setan bersama orang yang memisahkan diri dari kebersamaan (jamaah).” (Kanzul ‘Ummâl, hal.206)
            قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ): أَيُّهَا النَّاسُ! عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةِ.
            Rasulullah saw bersabda: “Wahai manusia! Hendaklah kalian senantiasa dalam kebersamaan (jamaah), dan hati-hatilah kalian jika memisahkan diri.” (Kanzul ‘Ummâl, hal.206)

LALU DITUTUP DENGAN DOA PERBAIKKAN UNTUK DIRI DAN PUTRA PUTRI SERTA KERABAT

Doa ini baik untuk tujuan perbaikan diri sendiri, putra-putri, ketururnan, dan kerabat keluarga dekat, dibaca setiap habis shalat fardhu. Afdhalnya dibaca dalam qunut witir saat shalat malam:


رَبِّ أَصْلِحْ لِي نَفْسِي فَإِنَّهَا أَهَمُّ اْلأنْفُسِ إِلَيَّ، رَبِّ أَصْلِحْ لِي ذُرِّيَتِيْ فَإِنَّهُمْ يَدِي وَعَضُدِي، رَبِّ أَصْلِحْ لِي أَهْلَ بَيْتِي فَإِنَّهُمْ لَحْمِي وَدَمِي، رَبِّ أَصْلِحْ لِي جَمَاعَةَ إِخْوَتِيْ وأَخَوَاتِي وَمَحَبَّتِي فَإِنَّ صَلاَحَهُمْ صَلاَحِيْ.


Tuhanku, perbaikilah diriku, karena diriku harus lebih baik. Tuhanku perbaikilah anak keturunanku, 
karena mereka adalah tanganku dan kekuasaanku. Tuhanku perbaikilah keluargaku, karena mereka adalah darah dagingku. Tuhanku perbaikilah seluruh kerabat dekatku dan kecintaanku, karena perbaikan mereka berarti perbaikanku juga. (Khuzânatul Asrâr fil Khutum wal Adzkâr, Sayyid Muhammad al-Miqdam, jilid 1, hal.169)