Thursday, 24 December 2020

AL QURAN DAN BANI ISRAIL


            
Barangkali nama Bani Israil, adalah nama sebuah kaum yang sangat akrab di telinga kita. Bani Israil berasal dari kata bani (anak-anak keturunan) dan Israil yaitu nama lain Nabi Ya’qub. Kata Israil sendiri berasal dari kata isra (hamba) dan iil (Allah) atau dalam bahasa Arab sama dengan Abdullah.

Begitu banyak ayat al quran yang menceritakan sepak terjang mereka terutama dalam memperlakukan perintah Tuhan serta para utusan-Nya. Saking viralnya informasi tentang kaum yang satu ini hingga kita patut bertanya : “Mengapa Allah memasukkan begitu banyak kisah hidup mereka dalam kitab Muhammad saw?”.”Apakah hikmah Al Quran memasukkan kisah hidup kaum terdahulu dalam banyak ayat-ayat yang turun kepada kita umat Muhammad?”.

Adalah tidak mungkin Allah yang Maha Hakim (bijaksana) memasukkan  kisah mereka hanya untuk menjelaskan bahwa kaum seperti itu pernah ada dalam kehidupan umat manusia karena Quran bukanlah kitab dongeng dan hikayat, wa maa ‘allamnahusy syi’ra wa maa yanbaghii lahu

            Sesungguhnya Allah banyak menyebutkan kisah Bani Israil kepada umat ini sebagai peringatan keras agar tidak mengalami nasib yang sama dengan kaum yang satu ini, mengingat kedua umat ini (Bani Israil dan umat Muhammad) pernah mendapatkan janji Allah yang sama yaitu untuk menjadi umat termulia yang diciptakan Allah. Bukankah kepada kaum Bani Israil Allah berfirman :

 

وَأَنِي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى العَالَمِيْن

...dan kami unggulkan kalian atas seluruh alam

 

Dan kepada umat Muhammad Ia berfirman:

 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاس

…kalian adalah umat terbaik yang diciptakan Allah

 

Kaum Bani Israil, karena kesombongannya, terbukti gagal mewujudkan nilai-nilai kelayakan akan janji itu sehingga mereka jatuh dari puncak kemuliaan kedalam jurang kehinaan.

Akankah umat Muhammad mengalami nasib yang sama…? Semua terpulang kepada umat ini untuk mengumpulkan nilai-nilai kelayakan sebagai umat tertinggi dan termulia. Tentunya dengan belajar dari kisah kaum pendahulu.

 

Ketaatan mutlak kepada Rasul Allah     

            Setiap manusia muslim hendaknya meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala tindakan yang dilakukan, kalimat yang disabdakan dan kecenderungan yang disepakati oleh para nabi termasuk Rasulullah Muhammad saw. pastilah merupakan manifestasi wahyu ilahi yang diembankan kepada beliau. Rasul Allah adalah manusia ilahiyah yang tidak berbicara kecuali atas landasan wahyu yang diturunkan kepadanya. Wahyu yang terjamin kemurnian dan keutuhan isi dan susunan bahasanya.

Sehubungan dengan hal ini Allah berfirman :

“Kawanmu (Muhammad) tidaklah keliru atau tersesat (2) Dan ia tidak berbicara berdasarkan dorongan nafsu (3) Setiap yang ia sampaikan adalah wahyu (4)”  (Q.S. An Najm)

 

“Aku akan bacakan kepadamu dan kamu tidak akan lupa” (Q.S. Al A’la)

 

Maka segala perlakuan Rasulullah saw. kepada seseorang bukanlah tindakan yang berlandaskan dorongan hawa nafsu atau motifasi emosional manusiawi. Bukan pula perlakuan yang berlandaskan kepentingannya pribadi dan keuntungan subyektif.

 

Berdasarkan keyakinan akan kemaksuman para Nabi, apa yang datang dari mereka hendaknya kita ikuti dan taati sepenuh hati sebagai pedoman keselamatan. Ketaatan itu haruslah mutlak karena otoritas yang diberikan kepada mereka adalah otoritas ilahiyah yang bersifat mutlak. Ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepada Allah, Sang pencipta dan pengatur alam semesta.

 

 

“…apapun yang datang dari Rasul ambillah dan apa yang dilarangnya jauhilah. Bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah amat dahsyat siksa-Nya” (Q.S. Al Hasr)

 

            Ketaatan mutlak ini juga berlaku bagi kepada khalifah-khalifah Rasul pilihan Allah melalui lisan suci Nabi saw. Manusia-manusia suci yang memegang otoritas ilahi setelah Rasul saw. ini adalah para khalifah maksum yang telah disebutkan jumlah dan nama mereka dalam kitab-kitab mu’tabar.[1]

 

Ijtihad ra’yu sumber kehancuran umat manusia

Setelah kita melihat beberapa ayat diatas maka sangat disayangkan jika kita melihat kecenderungan sebagian kaum muslimin menggunakan ijtihad ra’yu yang bersifat subyektif untuk melakukan takwil atas sunnah Rasul yang dilandasi oleh semangat kemadzhaban serta eksklusifisme. Sebagian mengatakan bahwa kecintaan Rasulullah kepada Husein -misalnya- adalah bentuk manusiawi dari kasih sayang seorang kakek kepada cucunya. Penakwilan ini sebagai usaha –menurut mereka- untuk menghindarkan kaum muslimin dari tindakan pengkultusan manusia atas manusia yang lain yang pada puncaknya akan menciptakan kemusyrikan.

Tanpa berniat melakukan tasybih (penyamaan) tindakan ini mengingatkan kita kepada keengganan Iblis untuk sujud kepada Adam as. dengan alasan bahwa ia ingin mengikhlaskan ibadah dengan hanya sujud kepada Allah sehingga ia mengatakan “…sejak kapan ikhlas itu dosa”[2]. Sekilas logika ini benar dan meyakinkan sehingga banyak akal yang lalai terkecoh olehnya. Padahal sangat jelas bahwa apa yang dilakukan Iblis adalah pelanggaran atas perintah Allah (sujud kepada Adam as.) dengan dalih  keikhlasan sebagai sebuah pembenaran bagi pelanggaran itu.

Jika tradisi ini dibiarkan berkembang bahkan terbina dalam masyarakat muslim kita maka akan menciptakan karakter-karakter kaum Bani Israil yang mewakili kaum yang dimurkai Allah karena selalu mentakwil perintah Allah sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka.

Dibawah ini beberapa kasus yang termaktub dalam Quran untuk memberikan gambaran tentang tradisi takwil ra’yu yang dilakukan kaum Bani Israil sebagai pembenaran atas keingkaran mereka:

 

1.     Setelah melakukan keingkaran dan dosa, mereka enggan bertaubat dengan banyak alas an misalnya setelah melihat wujud Allah dengan jelas barulah mereka bertaubat. Padahal mereka tahu bahwa hal itu tidak mustahil

.

“Dan ingatlah ketika kalian berkata : “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepada (ajaran)mu hingga kami melihat Allah dengan jelas. Maka (karena hal itu) petir menyambar mereka dan kalian melihat (hal itu)” (Q.S. Al Baqarah)

 

2.     Pada peristiwa dimana Musa as. menyuruh mereka untuk menyembelih anak sapi untuk membuktikan kasus pembunuhan mereka melontarkan begitu banyak pertanyaan tentang kriteria sapi yang dimaksud dengan tujuan untuk tidak melaksanakannya. Sehingga meski pada akhirnya mereka melaksanakan perintah itu, Allah berfirman :

“…akhirnya mereka menyembelih dan hampir-hampir mereka tidak melaksanakannya”. (Q.S. Al Baqarah)

 

3.     Tidak bersedia mengikut ajaran Musa as. karena kekafiran dengan menunjukkan seakan-akan mereka sadar dan menyesal atas ketertutupan hati mereka.

“Mereka berkata: “Hati kami memang tertutup”, tapi sesungguhnya Allah melaknat mereka karena kekufuran maka sedikit sekali yang beriman”. (Q.S. Al Baqarah)

 

4.     Selalu menggunakan hilat (muslihat) untuk tidak melaksanakan perintah Allah seperti pelanggaran atas larangan berburu ikan pada hari Sabat dengan menggunakan muslihat melemparkan jaring pada hari Sabat dan mengangkatnya pada hari berikutnya. (lihat tafsir Kasyif  tulisan Syeikh Jawad Mughniyah, tafsir surat Al Baqarah : 65).

5.     Menolak kenabian Nabi Muhammad dengan banyak alasan padahal penolakan itu berdasarkan hawa nafsu. Mereka memandang Nabi Muhammad bukan sebagai utusan yang harus diikuti tapi sebagai orang Arab, orang dari bangsa yang, secara turun temurun, sangat mereka benci. Padahal dalam hal ini mereka yang meminta agar Allah mengutus juru selamat untuk menyelamatkan mereka dari musuh-musuh mereka.

 

“Dan ketika datang kepada mereka sebuah kitab dari sisi Allah dimana kitab itu membenarkan isi kitab sebelumnya. Sebelumnya mereka memohon pertolongan dari Allah untuk melawan orang-orang kafir. Maka ketika sang penolong datang dalam keadaan yang telah mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah ditimpakan atas orang-orang kafir”. (Q.S. Al Baqarah)

 

6.     Selalu meminta segala sesuatu, baik berupa makanan, minuman atau barang-barang lain yang tidak ada di hadapan mereka. Mereka selalu meminta lebih, bukan karena kekurangan akan tetapi karena hilangnya rasa syukur dalam hati mereka. Mereka merasa menjadi umat paling mulia diatas umat-umat yang lain. Perasaan ini yang menjadikan mereka menyombongkan diri bahkan terhadap Tuhan. Hal ini menjadikan Nabi Musa as. marah dan melaknat mereka.

 

“Dan ingatlah ketika kalian berkata : “Wahai Musa, kami tidak sabar (cukup) dengan satu jenis makanan saja. Berdoalah kepada Tuhanmu agar memberikan apa yang tumbuh di bumi termasuk sayuran, bawang putih, kacang adas dan bawang merahnya. (Musa) berkata: “Apakah kalian hendak menukar sesuatu yang baik dengan sesuatu yang buruk?”, “Turunlah ke kota disana kalian akan mendapat apa yang kalian inginkan!”, dan mereka ditimpa kenistaan dan kehinaan serta ditimpa kemurkaan Allah…(Q.S. Al Baqarah)

 

Sehingga banyak ayat yang berhubungan dengan mereka diawali dengan kalimat : “…wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat yang telah Kuanugerahkan kepada kalian…!” untuk menunjukkan betapa nikmat yang mereka terima sangat banyak dan betapa syukur sangat sedikit.

 

Beberapa kasus diatas hanya sebagian kecil saja dari karakter Bani Israil yang selalu ingkar kepada perintah Tuhan mereka. Mereka menggunakan ra’yu subyektif untuk menghindarkan diri dari perintah Tuhan. Mereka berusaha mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan agar yang bathil terlihat haq atau sebaliknya. Mereka seperti orang-orang yang menuhankan diri mereka sendiri. Tidak ada yang mereka jadikan sandaran kebenaran kecuali diri dan hawa nafsu mereka. Mereka tidak punya syariat, tidak punya nabi bahkan tidak punya Tuhan kecuali diri mereka sendiri. Tindakan keingkaran mereka terwujud dalam bentuk usaha untuk mendustakan dan membunuh para nabi dan utusan jika risalah Tuhan yang dibawa tidak sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini diabadikan dalam Al Quran:

 

 

“…Apakah setiap kali datang kepada kalian seorang utusan yang risalahnya tidak  sesuai dengan keinginan hawa nafsu, kalian menyombongkan diri. Sebagian kalian bunuh dan sebagian kalian dustakan?”. (Q.S. Al Baqarah:87)

 

Hal ini harus menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi umat Muhammad. Umat yang telah dianugerahkan kepada mereka potensi untuk menjadi umat tertinggi dengan adanya risalah yang paling sempurna. Semakin sempurna fasilitas yang dimiliki, semakin besar tanggung jawab yang harus diemban. Ironisnya, meskipun kita bukan umat yang membunuh para nabi secara fisik akan tetapi kita cenderung menjadi umat yang membunuh ajaran-ajaran dan asas-asas yang dibangun oleh para Nabi dan para Imam itu. Amarah kita memuncak saat mendengar berita bahwa mushaf Al Quran yang merupakan kumpulan tulisan firman diatas kertas, diinjak-injak atau dinodai huruf-hurufnya akan tetapi, pada saat yang sama, ketika syari’at Islam diinjak-injak kita berdiam diri, bahkan bersuka cita atau ikut menginjak-injaknya. Kita berdiam diri ketika didekat masjid-masjid kita dibangun klap-klap malam, rumah perjudian dan bentuk-bentuk aktivitas maksiat yang lain tanpa ada usaha sedikitpun untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. 

 

Kita selalu menilai kebaikan agama dari sudut keuntungan kita yang subyektif. Kita akan menganggap agama baik jika menguntungkan kita dan demikian pula sebaliknya. Itulah yang terjadi pada Bani Israil. Keingkaran mereka (Bani Israil) terhadap syari’at Muhammad saaw. bukan karena syari’atnya menyimpang akan tetapi karena mereka sudah terhinggapi fanatisme maslahat golongan. Mereka hanya akan mengikuti agama yang mendukung kepentingan nafsu mereka.

 

“Berimanlah kepada kitab yang diturunkan Allah !”, mereka mengatakan : “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”, tapi mereka mengingkari yang turun

pada selain mereka, padahal (kitab) yang diturunkan  adalah sama dengan keyakinan (kitab) mereka sebelumnya ”. Katakanlah

wahai Muhammad : “Mengapa kamu membunuh nabi-nabi Allah sebelumnya (meskipun berasal dari Bani Israil)  jika kamu memang beriman?” (Q.S. Al Baqarah).

 

Kita memang bukan Bani Israil, akan tetapi kita seringkali akrab dengan karakter mereka.

Kita lebih mencintai agama hanya karena didalamnya terdapat praktek-praktek yang menguntungkan, menyenangkan dan dapat dieksploitasi untuk kepentingan hawa nafsu kita. Logikanya, kita akan mencela dan mempertanyakan hukum agama jika bertentangan dengan kemauan kita. Itu artinya kita belum masuk Islam secara kafah (total). Kita tidak menjadikan agama sebagai petunjuk dan pedoman hidup tapi. Kita menjadikannya sebagai alat untuk mewujudkan setiap keinginan kita.

 

Tanyakan pada diri kita, meskipun secara aqidah kita bukan termasuk orang-orang kafir akan tetapi, pada kenyataannya, sifat-sifat kita seringkali menyerupai sifat-sifat mereka.

 

 

 

“…kamu beri peringatan atau tidak sama saja, mereka tetap tidak akan beriman…”(Q.S. Al Baqarah)

 

 

“…Allah menutup hati, pendengaran dan penglihatan mereka…”

 

Semoga kita menjadi umat yang mampu memikul tanggung jawab agung ini dengan selalu berusaha mengumpulkan nilai-nilai kelayakan sebagai umat termulia di muka bumi.

 

 

ab



[1] Shahih Muslim, kitab Al Imarah/Bukhari jilid 8 bab Ahkam/Yanabi Al Mawadah jilid 3 hal. 99 dan hal. 104/Sunan Abu Dawud bab Awwalu Kita Al Mahdi

[2] Lihat Tafsir Al Kasyif  (Syeikh Jawad Mughniyah)

No comments:

Post a Comment