Saturday, 12 December 2020

JANGAN (MAU) JADI TUHAN !

Sepertinya kegilaan di negeri ini kian merajalela dan berangsur tapi pasti tatanan santun masyarakatnya mulai berubah dan bergeser menuju kondisi yang sangat menakutkan. Negeri ini mulai dipenuhi manusia-manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Persekusi di sini, intimidasi di sana dan kezaliman 'syar'i' semakin menjadi. Kaum dhu'afa pikir yang terbuai propaganda surga atau kaum teraniaya yang menolak dengan logikanya menjadi dua kubu yang berseteru. Bagai gayung bersambut, masing-masing kubu menjadikan media sosial sebagai senapan mesin penghalau lawan. Masyarakat awam sekali lagi menjadi korban tarik-menarik kepentingan syetan.
Banyak yang menyebut peristiwa demi peristiwa sebagai tanda akhir jaman, dan itu tidak berlebihan, mengingat betapa rasa persaudaraan telah digerus kepentingan golongan nan duniawi, hawa nafsu disembah atas nama Tuhan dan agama. 
Mengapa saya menganggap pemikiran akhir jaman ini tidak berlebihan?, karena bila kita kumpulkan apa yang termaktub dalam berbagai literatur agama tentang akhir jaman maka kita akan temukan indikasi akhir jaman yang paling universal adalah terbaliknya segala sesuatu dari yang seharusnya, dan bukankah itu yang terjadi saat ini?
Alam yang sejatinya adalah lumbung bagi kesejahteraan manusia, kini tak lagi ramah, fitrah cinta seorang ibu terhadap anaknya seakan sirna tak tersisa hingga sering ditemukan mayat bayi di tempat sampah, orang tua tunduk patuh kepada anaknya, fisik berdekatan tapi rasa berjauhan, hamba mulai menuhankan diri dan masih banyak lagi fenomena-fenoma yang mengisyarakatkan mendekatnya the end of days yang sudah menjadi pemandangan biasa di sekitar kita. 

Tanpa disadari indikasi yang terkumpul dalam benak kita sedikit demi sedikit akan melahirkan kesimpulan akan 'ramalan' akhir jaman yang mendekati titik bukti. 

Meski demikian saya tidak ingin menyimpulkan muncul berbagai fenomena diatas sebagai tanda akhir jaman. Jika ditanya tentang itu, saya lebih nyaman dan aman menjawab: Wallahu a'lam, hanya Dia yang tahu. Karena seingat saya Allah pernah mengabadikan dalam Al Quran:
Mereka bertanya tentang kapan datangnya hari kiamat?, Untuk apa kalian menanyakan?, (yang jelas) kepada Tuhanmu engkau berkesudahan.

Terlepas dari itu semua, saya melihat adanya sebuah fenomena yang lebih mewakili kondisi yang diilustrasikan kitab samawi sebagai tanda-tanda akhir jaman itu. Lebih menakutkan ketimbang matahari yang tiba-tiba terbit dari arah barat atau fenomena alam lain yang 'menyambut' hari penghakiman itu. 
Fenomena itu adalah munculnya 'gerombolan' yang menyatakan diri sebagai ulama dan melakukan klaim kebenaran atas nama Tuhan. Seakan mereka melihat dengan mata-Nya, mendengar dengan telinga-Nya dan berfatwa dengan firman-Nya.
Lihatlah para ustadz newbie yang mendadak mengobral fatwa tanpa dasar dan dengan entengnya melontarkan kata-kata hujatan kepada pihak yang tidak sepaham.
Ciri khas dari kelompok ini adalah mudah menghakimi setiap yang berbeda dengannya. Kata-kata seperti kafir, bid'ah, sesat dan segudang kata umpatan memenuhi kamus dan perbendaharaan 'kalimat thayyibah' mereka. Umpatan, caci maki, fitnah terhadap minoritas agama sudah menjadi wirid harian dan menyakiti perasaan muslim lain diatasnamakan amar ma'ruf nahi yang setiap resikonya dianggap sebagai jihad fi sabilillah dalam pengertian yang kasar.

Lebih gila lagi, syariat Tuhan harus tunduk kepada keinginan mereka yang disyar'ikan dengan potongan ayat dantukilan hadits hingga menghasilkan ijtihad dan tarjih subyektif yang bertentangan dengan nash yang sharih (jelas/muhkam) gamblang di hadapannya. Mereka me-mutasyabih-kan ayat-ayat muhkam agar mudah dimanfaatkan.
Mereka menjadikan Tuhan layaknya (astaghfirullah) pesuruh saja. Mengingatkan kita akan kaum Bani Israil yang selalu berkata kepada Musa: 'Wahai Musa, mintakan kepada Tuhanmu!'. Mereka tidak pernah menuhankan Allah tapi mendewakan kepentingan golongan dan memperbudak agama. Mereka seperti orang yang diabadikan dalam Al Quran sebagai kelompok yang berusaha membodohi Allah, mereka berbuat licik terhadap Allah dan orang-orang beriman.
Saya yakin bahwa dengan semua yang terjadi, Tuhan sangat berhak marah-marah atau teriak-teriak ketimbang manusia. Maka orang yang kerjaannya teriak-teriak takbir atau bentak-bentak saat ceramah sembari mengucapkan kata-kata kotor yang untuk standar KPI sudah termasuk pelanggaran, adalah orang-orang yang dengan seenaknya merampas hak Tuhan. Barangkali kalau saya yang berada pada posisi Tuhan, pasti akan saya rekatkan beberapa lapis plaster di mulutnya agar tidak lagi menciptakan keresahan.
Bagaimana tidak geram, Tuhan yang maha kuasa saja sabar menghadapi manusia yang menolak ajakan kebaikan, ini malah yang tidak ada daya dan upaya malah merasa memiliki wewenang Tuhan dalam menilai orang sambil memuji diri.
Sungguh saya ogah jadi Tuhan, berat. Saya jadi ingat sebuah film drama komedi  BRUCE ALMIGHTY nya Jim Carey. Dalam film itu Bruce merasa terlalu sering diperlakukan tidak adil olehTuhan. Tanpa merasa melakukan kesalahan, dia dibully teman-temannya, dipalak preman dan kehidupan asmara yang membosankan. Dalam kegalauan dan putus asa, Tuhan mendatanginya dan menwarkan kesempatan untuk menggantikan-Nya sehari saja. Bruce setuju dan jadilah ia TUHAN SEHARI.
Beberapa jam pertama dijalani Bruce sebagai Tuhan dengan suka cita menjajal ke-maha kuasa-an-Nya demi memenuhi segala keinginan dan bergumam: "Enak bener jadi Tuhan". 
Tibalah masa dimana Tuhan sehari itu melaksanakan aktifitas ketuhanannya yaitu mendengar dan menerima panjatan doa hamba-hamba-Nya. Tak terhitung doa yang berdengung di telinganya datang dari segenap penjuru alam semesta. Ia kumpulkan doa-doa itu dalam lemari penyimpanan file dan ternyata tidak cukup. Ia berinisiatif mengumpulkannya dalam harddrive dan akhirnya media penyimpanan itu mengalami overload.
Singkat cerita, ia pun sadar bahwa menjadi Tuhan tidaklah seperti yang dibayangkan.

Jangan mencoba jadi Tuhan dengan merampas hak ketuhanan dalam menentukan satu urusan seakan mereka pemegang kunci surga dan neraka.

Seandainya mereka tahu hakikat ketuhanan, niscaya mereka akan malu berteriak menghujat dan menebar fitnah dan hoax atas nama Tuhan sedangkan Tuhan tidak pernah memperlakukan hamba-Nya yang menentang sekalipun kecuali dengan kasih sayang.
Imam Ali bin Abi Thalib berkata: "Wahai yang tidak disibukkan dengan murka hingga lupa akan kasih sayang!"


2 comments:

  1. Rata-rata ini orang2 sakit ust.yg tidak sedar sakitnya sudah parah..

    ReplyDelete
  2. Penyakit yang sama dengan yang diderita fir'aun, menuhankan diri sendiri dan menganggap yang lain hamba yang harus taat

    ReplyDelete