Followers

Friday, 9 March 2018

DS026-ILMU BUTUH KEARIFAN



Pada tulisan sebelumnya, kita pernah membahas mengenai logika sebagai sarana paling efektif dalam mencari Tuhan. Meski demikian, bukan berarti logika selalu berjalan lurus tanpa halangan. Kadang saat kita tidak jeli menggunakan logika kita, tidak sedikit kondisi dimana logika dipermainkan oleh mughalathah (permainan kata-kata yang menyesatkan), dorongan al hawa (hawa nafsu) dan juga syubhat (menyamarkan makna untuk menyesatkan pikiran) sehingga logika kita bagaikan tidak berfungsi dan kadang kontra pruduktif. Orang-orang yang memiliki tujuan tertentu seringkali menggunakan tipu muslihat untuk membingungkan pikiran orang lain sehingga tanda disadari, korban sudah tergiring menuju alur pemikiran dan tujuan penyesatan. Inilah yang dikhawatirkan malaikat yang melihat manusia sebagai pembuat kerusakan dan cinta pertumpahan darah.
Sebenarnya pemanfaatan logika untuk penyesatan sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan Iblis sejak ia menolak sujud kepada Adam as. dimana ia selalu berkelit dari perintah Allah dengan menggunakan permainan kata-kata dan penyesasatan pikiran. Bagi orang yang tidak waspada dengan tipu daya ini, akan dengan mudah masuk dalam perangkap ini dan melihat kebathilan sebagai kebaikan dan demikian sebaliknya.

Salah satu metode yang digunakan oleh Iblis adalah tala'ub bil kalimat (permainan kata-kata), dimana dia menggunakan lafadz-lafadz yang membuai telinga dan seakan semua yang ia hembuskan adalah kebenaran adanya. Sungguh menyesatkan bagi orang-orang yang tidak memiliki dasar kesadaran berlogika dan akan merasa benar dalam kebathilan.

Saya akan memberikan beberapa contoh:

Sebuah riwayat menceritakan tentang dialog antara Iblis dan Allah:
Iblis: “Engkau tidak berhak menghukum aku karena aku tidak bersujud kepada Adam!”.
Allah: “Mengapa demikian?”.
Iblis: “Jika engkau benar-benar menghendaki aku sujud kepadanya, niscaya kehendak-Mu akan memaksaku melakukannya”.
Allah: “Sejak kapan engkau tahu bahwa Aku tidak menghendakimu sujud kepada Adam?, apakah setelah firman-Ku sehingga jelas penentanganmu atau sebelum Aku berfirman?
Iblis: “Setelah Kau perintahkan”.
Allah: “Jika demikian maka sempurnalah hujjah-Ku atasmu, berarti engkau telah menentang perintah bahkan sebelum kau tahu apa yang Kuiinginkan. Dan jika sujud itu Aku paksakan kepadamu maka tidak perlu aku mengeluarkan perintah” (Tafsir Al Kasyif, Jawad Mughniyah, jilid 1)

Dalam kitab yang sama disebutkan bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad saw. hendak berkhalwat di gua Hira. Di tengah perjalanan, beliau bertemu Iblis yang mengganggunya. Nabi berkata: “Ikutlah aku, barangkali Allah berkenan berbaik hati dan memaafkanmu!”. Iblis menjawab: “Bukan aku yang harus minta maaf kepada Allah tapi Allah yang harus meminta maaf padaku!”, “Mengapa demikian?”, Tanya Nabi. Iblis menjawab: “Allah menghukumku karena penolakanku untuk sujud kepada Adam, padahal keenggananku untuk sujud kepadanya karena aku hanya ingin memurnikan sujudku hanya kepada Allah, sejak kapan ikhlas itu adalah dosa?.
Singkat cerita, Nabi menjawab: “Tidak mungkin bertemu antara keikhlasan dan penolakan terhadap perintah-Nya”. (Tafsir Al Kasyif, Jawad Mughniyah, jilid 1)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, pada suatu hari Iblis bertemu Nabi Isa as. Iblis berkata: “Wahai Isa, bukankah engkau adalah pilihan dan kekasih Allah?”, “Ya”, kata Isa. Iblis melanjutkan: “Jika demikian maka buktikanlah, jatuhkan dirimu dari atas gunung ke arah batu terjal dibawahnya, jika Dia memang mencintaimu maka Dia akan menyelamatkanmu!”. Dengan cerdik Nabi Isa menjawab: “Tuhanlah yang layak menguji hamba-Nya, bukan hamba yang menguji Tuhannya”.

Dari beberapa riwayat diatas, kita mengambil pelajaran betapa betapa tanpa ilmu segala sesuatu akan menjadi bencana bagi diri sendiri dan orang lain. Namun ilmu tanpa keimanan, ketaqwaan dan kebijaksanaan hanya akan menjerumuskan kita ke lembah kehinaan. Jika seseorang yang tidak berilmu terjatuh maka ia akan menyadari bahwa hal itu adalah akibat kecerobohannya, namun jika seseorang merasa memiliki ilmu terjatuh, seringkali ia tidak akan menerima kenyataan dan kekurangannya. Alih-alih menyadari, ia mencari pembenaran atas kecerobohannya itu. Itulah mengapa Allah mengajarkan agar kita (sebagai khalifah-Nya) harus memiliki sebagian dari sifatnya terutama aliimun hakim (alim lagi bijaksana)

Subhaana rabbika rabbil 'izzati 'amma yashifun.....
wasalaamu 'alala mursaliin...
walhamdulillahi rabbil 'alamin...

Thursday, 8 March 2018

DS025-DALAM GELAP MENGINGAT TERANG


Saya menulis pembahasan singkat ini saat terjadi pemadaman listrik di sekitar rumah saya. Karena semua orang sudah tergantung kepada fasilitas listrik maka kepanikan masalh tak terhindari. Penjual jus buah tidak bisa memproses jualannya, warnet tidak beroperasi kecuali harus menambah biaya bakan bakar generator dan masih banyak keluhan yang terlontar dari mulut orang-orang yang merasa dirugikan dengan pemadaman itu, apalagi tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Berfikir sejenak dalam kegelapan itu sempat memberikan sebuah pelajaran akan betapa penting cahaya dalam kehidupan.
Tanpa terasa saya berfikir bahwa sesekali manusia memang harus dipaksa untuk merasakan bala di sela-sela kenikmatan

Kita diperintahkan puasa di sela-sela kenyang kita, bangun malam di sela-sela lelap tidur kita, mengingat kaum faqir disaat kita nikmati kesenangan, disuruh mengeluarkan harta di saat kita menikmati hasil kerja keras kita.
Kebanyakan manusia tidak menyadari bahwa semua itu adalah cara Allah agar manusia mensyukuri setiap nikmat yang ia miliki.
Bukankah terang cahaya akan kita rasakan nikmatnya setelah kita ditimpa kegelapan?, bukankah berbuka puasa terasa lebih nikmat daripada makan malam biasa.?, bukankah tahajjud dan bermesra dengan Allah terasa lebih bermakna daripada shalat-shalat ‘reguler’ yang biasa kita lakukan...?, bukankah segelas teh panas terasa lebih berharga dari sebutir mutiara saat kita menjalani puasa...?

Sejatinya, manusia selalu dipermainkan oleh hawa nafsu yang sangat berbahaya, hanya saja manusia tidak menyadarinya.
Saya akan berikan sekedar contoh untuk mengilustrasikan bagaimana dunia mempermainkan kita. Tahukah anda perbedaan antara makan daging dan makan sayur?, bedanya hanya sensasi sekejap disaat kedua jenis makanan itu berada di rongga mulut kita. Tidak ada perbedaan besar dan untuk sensasi sesaat itu, manusia rela mengorbankan banyak hal untuk memilih salah satu dan meninggalkan yang lain.
Saya berikan contoh yang lain, sejatinya kapan anda merasakan kenikmatan memiliki sesuatu?. Anda merasakan nikmatnya memiliki sesuatu saat anda belum mampu memilikinya. Saat anda membayangkan alangkah senangnya punya LED TV layar lebar sebenarnya saat itulah ada sensasi yang membahagiakan. Namun begitu anda memilikinya, lambat laun kenikmatan itu berganti menjadi sesuatu yang biasa bahkan saat anda menonton TV anda tidak pernah mengingat bahwa TV anda adalah LED layar lebar karena anda selalu membayangkan MORE THAN BEFORE.
Waktu masih sekolah, saya sangat gembira saat hari Minggu tiba, tapi itu hanya saya rasakan dari pagi hingga siang saja. Karena siang hari Minggu saya sudah membayangkan hari Senin yang harus saya jalani sebagai hari yang membosankan dengan segudang kewajiban sekolah. Kalau dipikir ulang, sebenarnya hari yang paling indah bukan hari Minggu tapi hari Sabtu siang karena disitulah harapan kegembiraan berada.
Maka sesekali Allah menguji kita agar kita sadar kembali betapa dunia telah mempermainkan kita. Sesuatu akan kita rasakan sebagai kenikmatan saat kita kembali mengingat kemikmatan-kenikmatan yang telah kita lupakan, untuk mensyukuri keberadaannya dan tidak haus kepada hal-hal lain yang diluar kemampuan jangkauan kita.
Jangan lihat isteri di samping kita sebagai orang yang kulitnya mulai keriput dan gigi menghitam, rambut gelap kini mulai beruban, dulu hiasan kini menjadi beban, dulu lincah sekarang lamban. Tapi lihatlah setiap memori perjuangan yang dilalui bersama hingga masa tua. Dengan melihat masa susah berdua maka masa kini akan selalu indah bercahaya, penuh canda dan tawa, meski usia menjelang senja karena kita ingin pergi bersama dalam doa dan kepasrahan kepada yang Maha Kuasa...
Jadi jangan lupakan masa lalu agar kita selalu bersyukur atas masa kini dan berusaha memperindah masa depan.

Wednesday, 7 March 2018

DS024-JAMALIYAH DAN JALALIYAH




Manusia adalah khalifah Allah di muka bumi. 
Sebagai khalifah, manusia membawa mandat dari Allah untuk menjadi wakil-Nya dalam berinteraksi dengan makhluk-makhlukNya di muka bumi, baik manusia maupun makhluk lain seperti binatang, tumbuhan bahkan jin. 
Sebagai khalifah, manusia harus berusaha menghadirkan sifat Allah dalam setiap kegiatannya. 
Salah satu sifat Allah yang paling masyhur adalah rahmah (kasih sayang). 
Bukankah atas dasar yang sama Allah mengutus Nabi Muhammad saw.?, wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamin..

Bentuk pelaksanaan mandat kekhalifahan ilahi ini adalah agar manusia menjalin tali silaturahmi hingga tercipta rajutan kasih sayang yang menyatukan perbedaan dalam sebuah kesatuan yaitu kasih sayang sesama makhuk Allah.

Mengapa menjalin kasih sayang merupakan perintah Allah yang sangat ditekankan?.

Saya melihat adanya korelasi yang kuat antara perintah untuk menjalin hubungan kasih sayang ini dengan berbagai perbedaan diantara manusia yang merupakan sunnatullah yang tak bisa dipungkiri. Bukankah Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami cipatakan kalian dari laki-laki dan perempuan,kami juga jadikan kalian berbangsa=bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sungguh yang paling mulia disisi Allah dianta kalian adalah yang paling bertaqwa, sungguh Allah maha mengetahui lagi maha waspada”.(Q.S. Al Hujurat: 13)

Cara untuk menyatukan perbedaan bukan dengan menciptakan keseragaman yang dipaksakan tapi dengan memahami hakikat perbedaan sehingga tercipta kesamaan persepi yang menyatukan. Dari ayat diatas, kita memahami bahwa Allah menghendaki agar manusia menjalin kasih sayang dan pengertian diantara mereka agar tercipta keharmonisan dalam perbedaan. Itulah misi utama silaturahmi yang dengannya manusia akan mencapai kebahagiaan.

Silaturahmi berasal dari kata shilah yang artinya sambungan dan rahmi yang bermakna kasih sayang. Karena itu makna silaturahmi adalah menyambungkan tali kasih sayang dengan sesama.  Manusia. Perintah untuk meyambung silaturahmi ini adalah perintah untuk memperlakukan manusia yang lain dengan kasih sayang sebagaimana yang dilakukan Allah saat memperlakukan hamba-Nya.

Dalam salah satu potongan doa Jausyan Kabir kita membaca: Wahai Dzat yang kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya, yang menunjukkan betapa Allah tidak menginginkan kehancuran hamba-hamba=Nya, betapa Allah selalu ‘mengorbankan’ kuasa-Nya demi keselamatan manusia hingga layaklah jika Dia diseru: “Ya Rahmaanu Ya Rahiimu!”

Sesungguhnya Allah memiliki sifat berdimensi jalaliyah (sifat yang bersumber pada kekuatan berdimensi maskulin) dan sifat berdimensi jamaliyah ( sifat yang bersumber pada kelembutan dan kasih sayang/feminim)

Dalam memperlakukan hamba, Allah selalu mendahulukan sifat jamaliyah daripada sifat jalaliyah. Allah selalu mendahulukan kasih sayangnya, bahkan daripada keadilan karena keadilan yang ditegakkan hanya akan menjadikan manusia celaka karena kehilangan kasih sayang Allah. Sehingga dalam doa yang sama (Jausyan Kabir) kita juga menyeru: Ya man laa yukhaafu illa ‘adluh (Wahai yang tidak ditakuti selain keadilan-Nya)

Mengapa kita takut akan keadilan Allah?

Karena jika Allah memperlakukan kita dengan keadilan maka kita akan celaka mengingat kita yakin amalan kita tidak akan mampu menyelamatkan kita di hari perhitungan.

Berdasarkan apa yang telah kita bahas kita meyakini bahwa kasih sayang Allah yang kita butuhkan. 
Kita akan diperlakukan dengan kasih sayang jika kita juga rela mengembangkan dimensi jamaliyah kita. Dimensi yang didominasi dan dikuasai oleh nilai-nilai kasih sayang dan kehalusan budi pekerti. Bukankah disebutkan dalam hadits : irhamuu man fill ardhi yarhamukum man fis samaa (Kasihilah yang ada di bumi agar engkau dikasihi oleh (Tuhan) yang ada di langit!)
Hal ini juga menjadi latihan bagi kita untuk tidak mendahulukan ego kita dan merasa paling kuat, paling berkuasa, paling kaya dan sebagainya. Jika kita memaafkan orang (jamaliyah) meski kita memiliki kuasa dan mampu membalas (jalaliyah) maka kita sudah mulai melangkah mengaplikasikan sifat Allah yaitu mendahulukan kasih sayang daripada keadilan.

Membalas sebuah perbuatan ibarat obat chemical (kimia). Kesan(efek)nya memang cepat karena ia hanya berfungsi sebagai pain killer saja. Meski reda sakit sekejap namun sebenarnya ia sedang merusak organ tubuh kita dengan lebih parah lagi hingga sampai suatu saat obat apapun tidak mampu menyembuhkan.

Memaafkan sebuah perbuatan seperti minum jamu yang natural dan alami. Memang pahit rasanya, memang tidak sedap baunya, memang tidak segera menyembuhkan rasa sakit namun ia akan memperbaiki setiap sel tubuh kita secara perlahan tapi pasti sehingga tubuh sehat secara alami tanpa paksaan dan kebaikan akan bertahan untuk waktu yang lama.

Silahkan anda memilih obat yang anda inginkan dengan segala konsekwensinya. Ingin nikmat panjang dengan sedikit ujian sebagai mukadimah atau ingin nikmat sekejap yang akan ditebus dengan kesakitan yang berkepanjangan.

SUNGGUH TELAH KAMI TUNJUKKAN JALANNYA, TERSERAH APAKAH KALIAN AKAN BERSYUKUR ATAU AKAN KUFUR

Jadi silaturahmi adalah mengaplikasikan sifat Allah dalam kehidupan karena kita adalah khalifah dan pemikul mandat-Nya.

Tuesday, 6 March 2018

DS023-BERLOGIKA MENCARI TUHAN



Allah swt. mengutus para malaikat untuk melakukan tugas sesuai yang ditetapkan atas masing-masing mereka. Sebagian dperintahkan untuk menabur rejeki, yang lain menjaga dan mengawasi manusia dan ada pula yang bertugas mencabut nyawa atau menjaga surga dan neraka. Mereka melaksanakan setiap titah Allah dengan penuh ketaatan dan ketundukan.

Sebuah pertanyaan terbersit di hati kita, mengapa Allah ‘memperbantukan’ malaikat untuk tugas-tugas tersebut?, apakah Allah (na’udzu billah) tidak mampu melaksanakan itu semua sendiri hingga membutuhkan tenaga mereka?.

Pertanyaan seperti itu selalu kita tepis dengan berlindung kepada kalimat ta’awudz atau istighfar, meskipun keduanya tidak mampu secara sempurna menghilangkan kegaulauan akibat pertanyaan yang tidak mendapatkan jawabannya. Di satu sisi kita seperti dipaksa untuk mematuhi sesuatu yang mana kita belum bisa menerima kebenarannya secara sempurna, sementara di sisi yang lain, hub al istithla’ (dorongan ingin tahu) serasa memberontak dan berusaha mendobrak batasan norma-norma 'akidah' yang terkesan jumud itu.

Kita harus menggunakan bekal paling sempurna yang diberikan Allah kepada manusia yaitu akal pikir dalam memahami agama dan berjalan menuju keyakinan.
Mungkin banyak yang tidak setuju dengan saya bahwa akal adalah fasilitas paling sempurna yang diberikan Allah kepada manusia. Sebagian orang berpandangan bahwa hati dan fitrah adalah fasilitas paling sempurna yang akan mengantarkan manusia menuju kesempurnaan.

Saya berpandangan bahwa akal sebagai fasilitas paling sempurna karena akal adalah satu-satunya fasilitas paling dhahir yang mampu dimodifikasi oleh setiap manusia, baik kemudian modifikasinya menghasilkan konstruksi atau distruksi. 
Fitrah dan hati memang fasilitas luar biasa yang mampu menuntun manusia menuju kesempurnaan akan tetapi selain wujudnya terlalu abstrak, secara tekhnis, keduanya adalah fasilitas sekunder yang difungsikan setelah proses identifikasi logis.

Untuk lebih jelasnya, saya akan mengutip pembahasan salah seorang ulama besar yaitu Ayatullah Mishbah Al Yazdi dalam bukunya Durus fil ‘aqidah al Islamiyah. Dalam buku tersebut beliau menjelaskan bahwa, sesuai dengan tekhnis pencapaiannya, ma’rifatullah (pengenalan terhadap Tuhan) yang dimiliki manusia bisa dibagi empat:

1.      Mairifat Tajribiyah (pengetahuan eksperimental fisik), dimana manusia medapatkan ilmu ini melalui eksperimen inderawi seperti mengetahui temperature suatu benda dengan cara menyentuh benda tersebut, melihat fenomena alam atau berbagai macam eksperimen semisal dengan variasi tingkat kerumitan meskipun semuanya masih pada dataran eksperimen inderawi. Ilmu fisika, kimia atau biologi merupakan disiplin ilmu yang menggunakan tekhnik ini untuk mendapatkan kesimpulan. Tekhnik ini cukup efektif dalam rangka mengenalkan kekuasaan Tuhan dengan merasakan keindahan ciptaan-Nya. Ma’rifat dengan tekhnik seperti ini pernah disebutkan dalam Al Quran :

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Akan Kami tunjukkan kepada mereka tanda-tanga (kekuasaan) Kami di alam semesta dan pada diri mereka hingga terbukti bahwa semua itu adalah benar adanya. Tidak cukupkah bagimu bahwa Tuhanmu adalah saksi bagi segala sesuatu?”
(Q.S. Fussilat:53)

2.      Ma’rifat Ta’abbudiyah (pengetahuan berdasarkan literatur syar’i), dimana manusia mendapatkan pengetahuan tentang berbagai perkara agama melalui informasi dari sumber-sumber tertulis yang sudah diverifikasi keabsahannya untuk dijadikan rujukan. Dalam hal ini, Al Quran dan hadits yang dijadikan sebagai sarana mengenal dan memahami apa yang diinginkan Allah melalui utusan-Nya. Al Quran juga pernah menyinggung masalah ini,

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا 

“Sesungguhnya Quran ini adalah petunjuk menuju jalan yang terbaik serta berita gembira bagi orang-orang beriman dan melakukan amal shalih bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang agung”. Q.S. Al Isra: 9

3.      Ma’rifat Syuhudiyah (pengetahuan berdasarkan proses syuhud melaui sair (perjalanan batin) dan suluk (langkah-langkah spiritual) sebagaimana yang yang sering dilakukan oleh kalangan sufi). Ma’rifat dengan tekhnik ini diklaim mampu mencapai tujuan asas (Allah) tidak dengan memahami (husuli) tapi merasakan(hudhuri). Pengetahuan eksklusif ini diklaim mampu menjadikan pemiliknya tidak hanya memahami keberadaan Tuhan, namun lebih dari itu, ia mampu merasakan kehadiran-Nya pada dirinya. Ma’rifat semacam ini pernah juga dinisbahkan kepada Rasulullah saw. yaitu saat Allah berfirman :

 وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ 

“Dan dia (Muhammad) tidak berbicara dengan hawa nafsu, semua ucapannya adalah wahyu belaka” (Q.S. An Najm: 3-4)

4.      Ma’rifat ‘Aqliyah (ma’rifat logika), dimana manusia berusaha menggunakan kemampuan akal pikirnya untuk menggabungkan beberapa kaidah hingga mencapai konklusi logis. Dengan tekhnik ini manusia dengan leluasa menelaah sebuah kebenaran dari konsep ketuhanan dan membandingkan dengan konsep-konsep lain kemudian mengidentifukasi untuk memilih mana yang paling bisa dipertanggungjawabkan. Pemanfaatkan akal sebagai alat mengenal Allah merupakan perintah Islam sebagaimana termaktub dalam kitab Allah itu. Banyak ayat yang berisi teguran kepada orang-orang yang tidak mau mengikuti kebenaran diakhir dengan kalimat: afalaa ta’qiluun (mengapa kalian tidak menggunakan akal?.

Diantara tekhnik-tekhnik ma’rifatullah itu, manakah yang paling efektif?

Menjawab pertanyaan ini, Ayatullah Mishbah Al Yazdi mengatakan (masih dalam buku yang sama) bahwa ma’rifat aqliya adalah tekhnis yang paling efektif untuk memulai sebuah usaha pencarian Tuhan karena:
·         Kelemahan ma’rifat eksperimental adalah keterbatasan kemampuan dalam mengidentifikasi obyek kerena hanya berlaku pada pembuktian akan hal-hal yang bersifat inderawi yang bisa dibedah di meja laboratorium. Ma’rifat ini tidak mampu membuktikan keberadaan non fisik bahkan pada saat non fisik itu tidak bisa dibantah keberadaannya. Anehnya mereka segera memastikan ketiadaannya. Sebagaimana kita ketahui, rukyah kauniyah (paradigma) materialis telah membangun sekat ilmiah dengan mengatakan bahwa segala obyek yang tidak bisa dibuktikan dengan eksperimen inderawi maka obyek itu dipastikan tidak ada. Padahal sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara fisik belum tentu tidak ada, mungkin saja ia merupakan sebuah obyek supra rasional.
Selain itu hampir tidak mungkin kita temukan eksperimen murni mengingat ekperimen harus dilakukan berulang-ulang dengan berbagai variasi kondisi serta dengan mempertimbangkan factor-faktor lain. Untuk selanjutnya pengulangan hal yang sama secara random akan membuktikan sebuah kaidah umu. Dengan apa kaidah umum itu disimpulkan?, tentu dengan kaidah logika juga!

·         Kelemahan ma’rifat ta’abbudiyah dikarena literatur syar’i merupakan sumber sekunder yang bisa digunakan sebagai argumentasi setelah pembuktian akan keabsahannya. Pembuktian keabsahan sumber syar’i dan bahwasannya sumber itu berasal dari musyari’  (Allah dan para nabi) sehingga bisa dijadikan sandaran argumentasi, tidak mungkin dilakukan dengan merujuk kepada literatur bersangkutan. Jika kita menggunakan berita Al Quran untuk mengenal Allah, misalnya, maka bukankah kita harus melakukan pembuktian bahwa Al Quran tersebut berasal dari Allah?. Hal ini hanya akan menciptakan daur (sirkulasi tak berkesudahan). Jadi buktikan eksistensi Quran sebagai kitab langit baru kemudian kita menggunakannya sebagai tongkat mengenal Allah.

·         Kelemahan ma’rifat syuhudiyah karena ia terlalu eksklusif dan tidak berlaku bagi setiap orang. Semua orang tahu dan sepakat bahwa tidak ada manusia biasa yang saat dilahirkan ia sudah menjadi seorang sufi. Ia pasti akan melalui tahap-tahap berlogika dan menggunakan inderanya terlebih dahulu.
Allah berfirman:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 
“Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dan saat itu kalian tidak tahu apa-apa. Maka kami bekalkan pendengaran, penglihatan dan pemahaman agar kalian bersyukur”. (Q.S. An Nahl: 78)
Ayat tersebut memberikan gambaran bagaimana manusia merangkak dalam menggapai pengetahuan bersama manusia-manusia yang lain. Baru sebagian dari mereka mengasah logikanya dan dengan usaha spiritualnya ia merubah format logika menjadi format spiritual melalui mujahadah batin dan sebagainya.

Walhasil, ma’rifat logis merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam usaha pencarian Tuhan sebagai sumber kesempurnaan. Hal ini bukan berarti ma’rifat-ma’rifat tidak berguna, sama sekali tidak. Bahkan berbagai ma’rifat yang telah kita sebutkan mampu menyampaikan manusia manusia ke tingkat tertinggi penghambaan dan kedekatan dengan Allah hingga melebihi prestasi logika kita, hanya saja secara teknis, semua itu membutuhkan mikadimah yang bersifat aqliyah.


DS022-HIJAB CAHAYA



Kesempurnaan adalah tujuan setiap makhluk, terutama manusia. Setiap manusia selalu berusaha meraih segala sesuatu secara sempurna dan total. Ia menginginkan kesempurnaan bagi segala sesuatu meski seringkali ia gagal mengidentifikasi kesempurnaan yang sejati. Dalam perjalanan menuju kamal (kesepurnaan), ternyata perjalanan manusia tidak mulus seperti harapan karena seringkali ia dihadapkan pada banyak hijab (penghalang) yang mengharuskannya berjuang untuk mendobrak hijab-hijab itu hingga terkuak kesejatian yang semula terselimuti.
Pemasalahan menjadi lebih rumit karena terkadang sebagian hijab tersebut tidak kita sadari sebagai hijab, bahkan kita terjebak pada kondisi dimana kita merasa mencapai tujuan padahal saat itu kita sedang membentur dinding penghalang itu.

Dari ilustrasi diatas kita bisa memahami bahwa sebagian hijab tampak jelas dan sebagian yang lain tampak samar bahkan tampak sebagai hakikat dan bukan penghalang. Karenanya hijab yang menghalangi manusia mencapai kesempurnaan dapat dibagi menjadi dua:

1.      Hijab Dhulumat (hijab kegelapan)
2.      Hijan Nur (hijab cahaya)

Mari kita telaah sedikit lebih dalam:

Hijab kegelapan

Merupakan hijab paling besar yang menghalangi perjalanan manusia menuju kesempurnaan. Bentuk hijab kegelapan yang paling jelas adalah dosa maksiat yang menutup mata manusia hingga tidak lagi mampu melihat kebenaran dan kenyataan. Dosa-dosa telah menciptakan hijab hingga manusia tidak melihat Tuhannya, tidak menyadari kekurangannya dan tidak memahami hakikat hidupnya. Dosa yang dibiasakan akan terasa kecil di mata pendosa dan ketika satu dosa dianggap kecil niscaya dosa itu akan diulang. Padahal membiasakan diri dengan dosa kecil adalah sebuah dosa besar, minal kaba-ir al ishrar ‘alash shagha-ir (termasuk dosa besar adalah mengulang-ulang dosa kecil). Imam Ali juga pernah berkata: asyaddudz dzunuubi mastahaana bihi shaaibuhu (dosa paling besar adalah meremehkan dosa tersebut.

Setiap kali manusia berbuat dosa maka akan tercetak dalam hatinya sebuah titik hitam. Semakin bertambah dosanya, semakin bertambah luas pula bercak hitam itu. Dan setiap kali menyadari dosa dan beristighfar, berkuranglah bercak itu. Jadi hijab tercipta secara bertahap hingga bercaknya menutupi hati hingga menjadi kelam dan akrab dengan kegelapan.

Hijab cahaya

Kalau dosa adalah hijab, maka semua memahami tahu hal itu. Tapi bagaimana mungkin nur atau cahaya menjadi hijab yang menghalangi manusia menuju kesempurnaan?. Bukankah dengan cahaya, manusia melihat segala sesuatu dengan lebih jelas?, bukankah definisi nur adalah sesuatu yang bersinar dengan sendirinya dan menyinari yang lainnya?, bukankah dengan cahaya, manusia menyingkap segala yang tersembunyi?. Bagaimana mungkin cahaya menghalangi manusia untuk melihat sesuatu?

Untuk memudahkan pemahaman, saya akan memberikan contoh:

Matahari adalah cahaya yang sangat terang dan kuat. Ia juga menyinari segala sesuatu hingga semua tampak dengan jelas. Namun apakah pernah kita mencoba melihat ke arah bola matahari?, dapatkah kita melihatnya ataukah terang sinarnya yang menyilaukan akan menghalangi kita melihat wujudnya?. Karena terlampau terang dan menyilaukan, cahaya matahari itu menjadikan mata kita seperti buta karena silaunya sehingga kita tidak bisa melihatnya
Hakikat ini disebutkan dalam munajat Sya'baniyah, dimana Imam Ali berdoa:

الهي هب لي كمال الانقطاع اليك وانر ابصار قلوبنا بضياء نظرها اليك حتى تخرق ابصار القلوب حجب النور فتصل الى معدن العظمة وتصير ارواحنا معلقة بعز قدسك

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku kekuatan untuk meninggalkan selain-Mu, terangilah mata hatiku dengan cahaya yang dengannya aku bisa melihat, karenanya mata hati kami mampu membakar seluruh hijab cahaya hingga ia (mata hati) mampu mencapai sumber kebesaran dan ruh kami bergantung pada mulia kesucian-Mu"

Maka Nur (cahaya) bisa menjadi hijab yang menyampaikan kita kepada hakikat kesempurnaan. Ilmu adalah nur yang mengantarkan kita ke gerbang ma’rifat dan kesempurnaan, namun pada kenyataannya ilmu akan menjadi hijab dan penghalang menuju tujuan tersebut.

Bagaimana ilmu menjadi hijab?

Sesungguhnya ilmu akan menjadi hijab saat manusia memandangnya sebagai pakaian yang melahirkan ke’aku’an (ananiyah) dan menganggap dirinya mulia dengan ilmu itu dan selanjutnya melihat orang lain dengan kehinaan. Barangkali karena itu Imam Ali as. pernah berkata: "Barangsiapa berkata: "Saya alim", maka dialah orang bodoh yang sebenarnya".
Ada sesuatu yang menarik ketika suatu hari Imam Ali ditanya: "Apakah anda seorang yang alim". Imam menjawab: "Aku bukan termasuk orang bodoh dari mereka". Imam Ali tidak ingin berbohong namun beliau juga tidak ingin menjadikan ilmu sebagai hijab dalam bentuk pakaian kesombongan.
Jadi ilmu akan menjadi hijab bagi seseorang dan menjatuhkannya ke lembah kehinaan ketika ilmu itu menjadikannya merasa tinggi (at-ta'ali). Saat itu ilmu akan menjadi alat mengumpulkan dosa dengan dijadikannya ilmu sebatas komoditas demi popularitas dan kesan manusia lain terhadapnya
Pantaslah jika ilmu tanpa ketaqwaan hanya akan menghancurkan sebagaimana taqwa tanpa ilmu adalah kebutaan. Ilmu tanpa taqwa hanya akan menjadi hijab yang lebih berbahaya daripada hijab dosa.

JIKA ILMU TANPA TAQWA MENJADIKAN MAKHLUK MULIA, MAKA MAKHLUK PALING MULIA ADALAH IBLIS..


DS021-MENGGAPAI KEKASIH



Kita semua pasti mendambakan mendapatkan curahan kasih sayang Allah yang dengannya kita akan menemukan kebahagiaan sejati. Bukan hanya kebahagiaan semu yang menipu dan melahirkan kesengsaraan yang berkepanjangan.

Kita juga pasti meyakini bahwa Allah selalu memperlakukan hamba-Nya yang taat dengan rahmat dan kasih sayang. Itulah kenapa kita selalu memulai segala sesuatu dengan basmalah seraya berharap agar setiap yang kita lakukan terlaksana dengan kasih dan kemurahan-Nya. Dengan zikir kasih tersebut, kita mendambakan keberhasilan yang penuh berkah bagi setiap usaha kita karena kita yakin bahwa keberhasilan yang kita capai karena kasih-Nya yang menghargai usaha kita. Karena itulah Allah sering diseru dengan syakuur (yang maha berterima kasih)

Tahukah anda rahmat dan kasih Allah teragung yang diberikan kepada kita…?

Ya, rahmat terbesar itu adalah diutusnya Nabi Muhammad saw. untuk membimbing kita keluar dari kegelapan dan kebahagiaan semu.
Bukankah Allah berfirman: "Dan tiada Kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai kasih sayang bagi seluruh alam"?.

Akan tetapi tahukah kita apa yang harus dilakukan demi menjadi hamba yang layak untuk meraih kasih dan sayang-Nya melalui Nabi Muhammad saw.?. Dalam tulisan singkat ini kita akan membahas beberapa hal yang merupakan kewajiban yang harus dilakukan agar kita layak mendapatkan rahmat kenabian itu:

1. Membuktikan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad. Barangkali ada beberapa hal yang bias dilakukan sevagai wujud kecintaan seorang mukmin kepada Nabi Muhammad saw. :

a.         Banyak mengingat beliau, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits: man ahabba syai-an aktsara dzikrahu (barangsiapa mencintai sesuatu pasti ia akan benyak mengingatnya). Salah satu cara paling nyata dalam mengingat beliau adalah dengan memperbanyak salam dan shalawat kepada beliau dan Ahlul Bait dalam setiap keadaan. Seakan kita bertekad sertakan beliau dalam aktifitas yang kita lakukan. Innallaha wa malaa-ikatahu yushalluun ‘alan nabiyy ya ayyuhalladziina aamanuu shallu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa…
b.         Mencintai keluarga Nabi yang merupakan warisan beliau dan pusaka bagi umat ini sepeninggalnya. Nabi bersabda: “Aku tinggalkan bagi kalian dua pusaka agung, Kitab Allah dan Ahlul Baitku…”. Pepatah Arab mengatakan: hubbub syai-in hubbub lawaazimihi (Mencintai sesuatu harus diikuti dengan kecintaan kepada perkara2 yang berhubungan dengannya).
Kalau kita mencintai Allah, maka kita harus mencintai masjid sebagai rumah-Nya, kaum muslimin sebagai kaekasih-kekasih-Nya, ibadah sebagai kemesraan dengan-Nya dan sebagainya.
c.         Berziarah kepada Nabi sebagai bentuk ungkapan rindu dan cinta kita. Nabi bersabda: man zaarani ba’da wafaatii Kaman zaaranii fii hayaatii (barangsiapa berziarah kepadaku setelah aku wafat maka ia seperti mengunjungiku saat aku masih hidup). Pepatah Arab mengatakan tabiibul quluubi liqaa-ul mahbuubi (obat hati adalah menemui kekasih). Dalam setiap shalat yang kita lakukan juga terselip ziarah kepada beliau yaitu saat kita membaca: Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh (salam, rahmat dan berkah Allah senantiasi terlimpah bagimu, wahai Nabi)

2. Menaati setiap hukum yang dibawa oleh Nabi dengan penuh keikhlasan dan keimanan sebagai panduan hidup menuju kebahagiaan hakiki serta tidak gegabah merubah hukum-hukum itu sesuai keinginan pribadi maupun golongan, sebagaimana yang banyak kita dapati akhir-akhir ini. ‘HALALU MUHAMMAD HALALUN ILAA YAUMIL QIYAMAH WA HARAAMUHU HARAAMUN ILAA YAUMIL QIYAAMAH (yang dihalalkan Muhammad adalah halal hingga hari kiamat dan yang diharamkan adalah haram hingga hari kiamat)
Allah juga berfirman: “Tidaklah pantas bagi mukmin laki-laki maupun perempuan jika Allah dan Rasul-Nya telah menentukan sebuah urusan maka mereka memilih selainnya”.
Dalam ayat lain: “Katakanlah (wahai Muhammad) kepada mereka, jika kalian memang mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian”.

3. Ikut serta menebarkan kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya dengan meniru kepedulian Nabi Muhammad saw. kepada umatnya.
Bukankah Allah berfirman: “Celakalah  orang yang shalat……….yang tidak membantu orang yang membutuhkan”.
CINTAILAH YANG DI BUMI NISCAYA ENGKAU AKAN DICINTAI YANG DI LANGIT

4. Banyak merenung dan bertafakur tentang diri kita serta berusaha memahami segala kekurangan kita di hadapan Allah yang maha sempurna.
Imam Ali berkata: “Allah akan menurunkan rahmat-Nya kepada siapapun yang memikirkan tentang dirinya: DARIMANAKAH DIA BERASAL, DIMANAKAH DIA BERADA dan AKAN KEMANAKAH KESUDAHANNYA

Barangkali itulah beberapa hal yang bias dilakukan sebagai bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad saw. dengan harapan semoga kita menjadi golongan yang layak mendapatkan rahmat Allah tertinggi yaitu syafaat Muhammad saw. dan tentunya syafaat Ahlul Bait Nabi as.
Saya yakin masih banyak hal lain yang harus kita lakukan demi mendapatkan rahmat itu tapi jika kita bersedia melaksanakannya secara istiqamah dan ikhlas, insyallah, selalu ada kebaikan dalam setiap harapan.

Monday, 5 March 2018

DS020-COBAAN CINTA



Imam Ja'far Shadiq as. berkata:
مَنْ أحَبَّنَا فَلْيَسْتَعِذْ لِلْبَلاَءِ

"Barangsiapa yang mencintai kami maka bersiaplah menerima cobaan!"
Dalam hadits tersebut Imam mempersiapkan mental para pecinta kebenaran bahwa ada beberapa tahap perjuangan yang harus dilalui hingga mencapai kemuliaan cinta yang sesungguhnya.
Barangkali tahap-tahap itu telah digambarkan dalam doa yang selalu kita baca dan kita ajarkan pada anak-anak kita di rumah atau di sekolah.
Doa itu adalah:
أللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَترْزُقِنَا اتِّبَاعَهُ

Artinya: "Ya Allah tunjukanlah kepada kami kebenaran, tampakkan ia sebagai kebenaran dan kuatkanlah kami untuk mengikutinya!"
Dalam doa itu kita meminta agar Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk melakukan tiga bentuk perjuangan untuk menuju kemuliaan. Tiga perjuangan itu adalah:
1.      Perjuangan untuk menemukan kebenaran
Merupakan perjuangan awal dalam mencapai tujuan utama dari wujud manusia yaitu keridhaan Allah swt. dan penghambaan murni (…dan tiada Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku).
2.      Perjuangan untuk bisa melihat kebenaran sebagai kebenaran.
Hal ini berhubungan dengan perjuangan dalam mengidentifikasi kebenaran diantara gempita syubhat dan jejal sesat pikir yang menjerumuskan, dimana syubhat telah merubah kebenaran sehingga nampak samar dan menyerupai kebathilan. Bukankah Rasul pernah bersabda: “Sesungguhnya surga dibungkus dengan berbagai kesulitan, sedang neraka dihias dengan berbagai kesenangan”. Kenyataannya, kita selalu tertipu oleh kemasan dan lupa bahwa yang berada di balik bungkus adalah tujuan hakiki.
Allah berfirman: "Seringkali kalian membenci sesuatu padahal hakikatnya ia yang terbaik buat kamu, kadang kau mencintai sesuatu padahal ia adalah yang terburuk buat kamu".
3.      Perjuangan untuk mengikuti kebenaran
Perjuangan ini juga tidak ringan karena terkadang konsekwensi mengikuti kebenaran tidak sebagaimana yang kita harapkan. Bahkan Al Quran menggambarkan salah satu tanda pengikut Muhammad adalah tidak takut dicela (laa yakhaafuuna fillahi laumata laa-im), yang membuktikan bahwa mengikuti kebenaran harus diikuti dengan kesiapan mental dalam menerima perlakuan yang tidak diharapkan. Semua itu berhubungan erat dengan karakteristik kehidupan dunia yang penuh dengan permainan (la’ibun) dan kesia-siaan (lahwun) yang menjadikan pengikut kebenaran bagaikan makhluk asing dan ‘nyleneh’. Apalagi jika sampai kepada masalah dakwah karena seringkali penyampai kebenaran dianggap sebagai pengganggu bagi kepentingan duniawi mereka.
Sungguh dalam shalat kita selalu memohon kepada Allah agar ditunjukkan jalan menuju kepada-Nya (ihdinash shirat al mustaqim). Permohonan itu kita lakukan berulang-ulang penuh kekhawatiran akan keterjerumusan ke lembah murka-Nya (al maghdhubu ‘alaihim).
Jadi di mata pendamba kebenaran, ketersesatan (adh daallin) adalah sebuah siksaan yang menjadikan manusia kebingungan dalam menjalani kehidupannya. Mungkin ia punya banyak harta namun selalu merasa kurang, mungkin ia punya rumah yang besar tapi dunia ini terasa sempit baginya.
Setelah manusia menemukan kebenaran, seringkali kebenaran itu tidak tampak sebagai kebenaran. Syubhat telah menjadikan yang benar tampak salah dan yang salah nampak sebagai kebenaran. Syubhat juga menjadi cobaan bagi manusia untuk mengidentifikasi dan membedakan antara yang true dan false. Salah satunya adalah maraknya HOAX yang menyesatkan dan memutarbalikkan fakta. Hoax menjadikan kita tampak salah dalam memahami sesuatu yang benar. Karena itu Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Q.S. Al Hujurat: 6

"Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepada kalian dengan membawa berita maka tabayyun (teliti)lah, agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena kebodohan hingga kalian menyesal karenanya".

Maka tabayyun dan mencari makrifat akan sesuatu merupakan satu-satunya cara untuk terhindar dari hoax atau syubhat sehingga kebenaran dan kebathilan akan tampak sebagaimana adanya hingga kita bisa memilih secara smart dan terhindar dari penyesalan

Lihatlah... jika kita browsing di google misalnya dan anda menuliskan kata shia, maka apa yang akan tampil di layar komputer atau HP anda..?, semua adalah fitnah dan kebencian buta terhadap syiah. Betapa mereka melakukan kerja mereka untuk membuat website sebanyak-banyaknya untuk mengaburkan hakikat syiah dengan memanipulasi data, photo dan lain sebagainya dan tidak sekalipun merujuk kepada tokoh syiah yang kompeten dan pendapatnya layak mewakili masyarakat syiah.
Maka, tugas kita selain mengecam tindakan mereka, harus dilakukan tindakan bijak dalam menghadapi fenomena ini yaitu dengan membangun banyak website yang tidak diniatkan untuk membalas tapi diniatkan untuk meluruskan berita-berita yang tidak bertanggungjawab.

Meskipun meyakini bahwa Ahlul Bait Nabi adalah jalan kebenaran dan mengikutinya adalah keniscayaan dan pasti akan menuai cobaan, tapi ingatlah bahwa cobaan itu memang Allah sediakan agar kita menjadi umat yang kuat dan strugle menghadapi cobaan hidup. Cobaan yang memang identik sebagai konsekwensi kecintaan kita kepada Ahlul Bait as.
Kebenaran akan selalu menang meski untuk mewujudkan kemenangan itu kita harus melakukan pengorbanan.