Followers

Sunday, 4 March 2018

DS018-SEKILAS BID'AH HASANAH


Setelah munculnya fenomena pembid’ahan yang dituduhkan oleh kelompok yang mengaku sebagai para pahlawan tauhid terhadap orang-orang yang melakukan banyak perkara yang dianggap tidak ada pada jaman Rasulullah saw. sehingga mempraktekkannya adalah bentuk kesesatan yang nyata, maka kata bid'ah menjadi trending topic di kalangan masyarakat.


Karena konsekwensi dari fenomena tersebut, kaum kaum muslimin dihadapkan kepada masalah baru yaitu munculnya sekat-sekat yang tidak logis bagi setiap ruang gerak mereka. Bukankah Nabi tidak makan menggunakan sendok?, bukankah beliau tidak naik motor?, bukankah Rasul tidak belanja di Mall?, dan masih banyak permasalahan lain yang timbul akibat tuduhan bid’ah yang ditetapkan dengan standar yang tidak jelas dan secara tekhnis cenderung tidak logis.

Bid’ah adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari kata kerja ba-da-’a yang berarti menciptakan sesuatu yang baru yang bersifat inovatif. Sebagaimana istilah ini sering digunakan, inovasi pastilah berhubungan dengan perkara yang belum pernah ada sebelumnya (baru maupun asembling) karena hal itu adalah bentuk solusi kreatif yang yang muncul bersamaan dengan kemunculan permasalahan-permasalahan baru. Berdasarkan pengertian ini, dan dengan menilik manusia sebagai mahkluk dinamis dalam gerak dan pikir, dapatlah dipahami bahwa bid’ah bukan hanya boleh dilakukan tapi juga wajib untuk dilakukan agar agama selalu actual dan tidak menjadi korban pembodohan. 
Disinilah kalangan beku akal kebingungan dalam menghadapi dinamika kehidupan yang ada di hadapan mereka. Mereka terlanjur mengeluarkan statement: kullu bid’atin dhalalah wa kullu dhalalatin fin naar (semua bid’ah adalah sesat dans etiap kesesatan akan masuk neraka…) sedangkan dinamika adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri.

Barangkali tidak berlebihan jika kita katakan bahwa salah satu sebab merebaknya islamisme adalah paham kebekuan akal seperti ini. Mereka kehilangan substansi dalam pemahaman mereka tentang Islam dan melihat segala sesuatu dengan bingkai kasus dan bukan kaidah dan rumus. Mereka tidak mampu memahami permasalahan secara dinamis mengikuti dinamika manusia dan pemikirannya yang selalu up to date.

Hal ini mengingatkan kita akan kelebihan manusia dibanding malaikat dimana saat Allah menciptakan Adam as. dan diuji bersama para malaikat dengan beberapa pertanyaan langit, manusia terbukti mampu menjawab setiap pertanyaan Allah dengan sangat inovatif . Mengapa inovatif?, karena saat malaikat gagal menjawab, mereka mengakui stagnasi pemahaman pada batas tertentu saja atau dengan kata lain mereka tidak memiliki kemampuan ‘mengolah data’ menjadi kesimpulan. Dengarkan pengakuan malaikat akan hal itu: “Ya Tuhanku, tiada yang kami ketahui selain apa yang telah Kau ajarkan kepada kami…”.  (Q.S. Al Baqarah)

Manusia-manusia jumud itu kini terjebak dalam dilema antara konsekwensi pernyataan tentang bid’ah sesat dalam inovasi dan munculnya berbagai kesulitan hidup yang dihadapi jika tetap bersikukuh pada stagnasi.
Untuk mengatasi ‘rasa bersalah’ dan agar terbebas dari kesulitan maka diciptakan qismah (kasifikasi) baru dimana mereka  membagi menjadi dua yaitu bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah sayyi-ah atau dhalalah (bid’ah yang buruk dan sesat), meskipun untuk itu mereka harus menggugurkan pernyataan awal bahwa setiap bid’ah adalah kesesasatan.

Namun demikian, masalah yang lain muncul terutama ketika mereka kebingungan dalam menentukan tolok ukur apakah satu perbuatan termasuk bid’ah baik atau bid’ah sesat. 

Maka sejarah terulang kembali, dimana sekelompok orang mengaggap bid’ahnya adalah hasanah sedang bid’ah yang dilakukan orang lain adalah sayyi-ah/dhalalah berdasarkan kepentingan kelompok tertentu. 

Sejatinya setiap bid’ah adalah bid’ah hasanah selama ada dua syarat berikut:

1.      Tidak bertentangan dengan nash yang jelas.

2.      Tidak menisbahkan kepada musyari’ (duta syariat langit) sebelum ada bukti meyakinkan.

Inovasi yang tidak memenuhi syarat tersebut adalah bid’ah dhalalah yang akan menjerumuskan pelakunya ke neraka.

0 komentar:

Post a Comment