Followers

Sunday, 11 March 2018

DS027-PEMIMPIN ADALAH PELAYAN



Saat Allah mengangkat manusia (Adam as.) menjadi khalifah, malaikat 'mempertanyakan' hal itu seraya berkata: "Apakah Engkau hendak mengangkat manusia sebagai khalifah padahal ia gemar membuat kerusakan dan gemar menumpahkan darah?". Q.S. Al Baqarah
Dialog diatas menggambarkan malaikat tahu betul karakter dan sifat manusia sehingga kita bertanya-tanya: "Apakah sebelumnya sudah ada manusia lain sebelum Adam sehingga malaikat pernah punya pengalaman dengan makhluk yang namanya manusia?"
Jawabannya bisa 'YA' bisa juga 'TIDAK'
Ya, karena hal itu tidak mustahil, hanya saja kita tidak bisa memastikan sebelum ada dalil yang menguatkan hal itu dan itu bukan topik kita pada pagi hari ini.
Kalaupun jawabannya TIDAK, malaikat bisa saja mengetahui tentang manusia setelah diberitahu Allah akan karakter hawa nafsu yang diberikan kepada manusia. Saya yakin bahwa dialog antara Allah dan para malaikat tidaklah sesingkat yang termaktub dalam ayat-ayat Al Quran. Malaikat pasti mendapatkan informasi bahwa makhluk yang bernama manusia ini memiliki sesuatu yang tidak mereka miliki yaitu HAWA (NAFSU) dengan karakteristik yang sangat berpotensi melakukan kerusakan dan menumpahkan darah. Kecenderungan HAWA yang selalu menuntut pemenuhan dengan CEPAT, BANYAK dan TERUS MENERUS dipahami oleh malaikat sebagai potensi besar untuk terjadinya chaos dan tragedi diatas muka bumi.
Akan tetapi ketika Allah membuktikan bahwa HAWA merupakan kelebihan manusia atas malaikat dengan lahirnya inovasi manusia untuk menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan Allah maka malaikat memahami dan tunduk kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Meskipun dalam HAWA berpotensi destruktif dengan berbuat kerusakan dan penumpahan darah.
Maka manusia harus menjadi manager bagi potensi besar yang ia miliki agar mampu membuktikan kelayakannya sebagai khalifah, yang lebih tinggi kedudukannya dari para malaikat.
Dari ayat diatas bisa kita katakan bahwa syarat menjadi khalifah ada 2 yaitu:

1.      Tidak berbuat kerusakan
2.      Tidak menumpahkan darah

Ironisnya, kita sering melihat dalam kehidupan kita bagaimana seorang ulama Islam, misalnya, sebagai pemimpin umat yang seharusnya membimbing mereka menuju ridha Allah, justeru gemar berbuat kerusakan dengan menebar kebencian kepada kelompok Islam yang lain dan mengajak pengikutnya untuk melakukan hal yang sama. Perbuatan seperti itu adalah salah satu bentuk tindakan merusak tatanan masyarakat dan bertentangan dengan ajaran Islam yan mengutamakan seruan kasih sayang (rahmatan lil 'alamin). Dan ketika mereka ditegur, mereka tidak mengakui tindakan yang dilakukan adalah tindakan destruktif. Allah berfirman: "Dan apabila mereka ditegur: "Jangan kalian berbuat kerusakan di muka bumi!", mereka menjawab: "Sesungguhnya kami (tidak berbuat kerusakan) yang memperbaikinya". Q. S. Al Baqarah
Kita juga melihat bagaimana orang-orang yang mengaku ulama demikian mudahnya mengeluarkan fatwa akan halalnya darah kelompok Islam lain yang mereka kafirkan terlebih dahulu hanya karena perbedaan amaliyah fikih. Gerakan Takfiri bukan hanya gerakan kerusakan tapi juga penumpahan darah karena begitu seseorang dikafirkan maka jiwa dan semua miliknya tidak berharga lagi. Itulah bahayanya gerakan takfiri yang dengan teriakan ALLAHU AKBAR! telah merasa menjadi muslim sejati dan selain mereka adalah kaum kafir.
Kekhalifahan bukan hanya berhubungan dengan penguasa negeri. Kekhalifahan adalah kepemimpinan yang ada pada setiap aspek dan lingkup kehidupan kita. Kita adalah khalifah bagi diri, keluarga dan masyarakat kita. Bukankah telah disebutkan dalam riwayat: KULLUKUM RA'IN WA KULLUKUM MAS-UULUN 'AN RA'IYYATIH (Setiap kalian adalah penggembala dan akan bertanggung jawab atas gembalaannya)
Untuk memenuhi kriteria khalifah, seorang pemimpin harus tawadhu' dan rela menjadi pelayan bagi masyarakatnya. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat: 'RA-ISUL QAUMI KHADIMUHUM (Pemimpin sebuah kaum adalah pelayan mereka).
Saya akan menutup kuliah ini dengan sebuah riwayat dari Imam Ali:
Pada suatu hari seseorang datang menghadap Imam Ali as. yang saat itu menjadi khalifah. Ia mengadukan tentang saudaranya yang kaya, namun hidup bermiskin-miskin sehingga anak dan isterinya kelaparan dan pakaian mereka tidak layak. Mendengar itu, Amirulmukminin as. memerintahkan agar ia mendatangkan saudaranya tersebut untuk dinasehati. Selang beberapa saat, datanglah orang yang diadukan tidakannya. Maka terjadilah dialog antara Imam Ali as. dan laki-laki tersebut:
Imam Ali berkata: “Kamu memiliki harta, maka gunakanlah hartamu untuk ibadah dengan menafkahi keluarga kamu dengan baik, jangan menyiksa diri dan keluargamu dengan apa yang selama ini engkau lakukan!”.
Laki-laki itu menjawab: “Bagaimana dengan anda?. Anda adalah khalifah kaum muslimin, Bait Al Mal ada dalam kekuasaan anda, anda bisa memerintahkan apa saja, mengapa anda juga hidup dalam kekurangan dengan makanan, pakaian dan cara hidup yang tidak layak dengan kedudukan anda?”
Imam (sambil tersenyum) menjawab: “Seorang pemimpin harus mengukur hidupnya dengan orang yang paling miskin diantara rakyatnya”.
Assalamu’alaika Ya Amiralmukminin…

0 komentar:

Post a Comment