Followers

Tuesday, 6 March 2018

DS022-HIJAB CAHAYA



Kesempurnaan adalah tujuan setiap makhluk, terutama manusia. Setiap manusia selalu berusaha meraih segala sesuatu secara sempurna dan total. Ia menginginkan kesempurnaan bagi segala sesuatu meski seringkali ia gagal mengidentifikasi kesempurnaan yang sejati. Dalam perjalanan menuju kamal (kesepurnaan), ternyata perjalanan manusia tidak mulus seperti harapan karena seringkali ia dihadapkan pada banyak hijab (penghalang) yang mengharuskannya berjuang untuk mendobrak hijab-hijab itu hingga terkuak kesejatian yang semula terselimuti.
Pemasalahan menjadi lebih rumit karena terkadang sebagian hijab tersebut tidak kita sadari sebagai hijab, bahkan kita terjebak pada kondisi dimana kita merasa mencapai tujuan padahal saat itu kita sedang membentur dinding penghalang itu.

Dari ilustrasi diatas kita bisa memahami bahwa sebagian hijab tampak jelas dan sebagian yang lain tampak samar bahkan tampak sebagai hakikat dan bukan penghalang. Karenanya hijab yang menghalangi manusia mencapai kesempurnaan dapat dibagi menjadi dua:

1.      Hijab Dhulumat (hijab kegelapan)
2.      Hijan Nur (hijab cahaya)

Mari kita telaah sedikit lebih dalam:

Hijab kegelapan

Merupakan hijab paling besar yang menghalangi perjalanan manusia menuju kesempurnaan. Bentuk hijab kegelapan yang paling jelas adalah dosa maksiat yang menutup mata manusia hingga tidak lagi mampu melihat kebenaran dan kenyataan. Dosa-dosa telah menciptakan hijab hingga manusia tidak melihat Tuhannya, tidak menyadari kekurangannya dan tidak memahami hakikat hidupnya. Dosa yang dibiasakan akan terasa kecil di mata pendosa dan ketika satu dosa dianggap kecil niscaya dosa itu akan diulang. Padahal membiasakan diri dengan dosa kecil adalah sebuah dosa besar, minal kaba-ir al ishrar ‘alash shagha-ir (termasuk dosa besar adalah mengulang-ulang dosa kecil). Imam Ali juga pernah berkata: asyaddudz dzunuubi mastahaana bihi shaaibuhu (dosa paling besar adalah meremehkan dosa tersebut.

Setiap kali manusia berbuat dosa maka akan tercetak dalam hatinya sebuah titik hitam. Semakin bertambah dosanya, semakin bertambah luas pula bercak hitam itu. Dan setiap kali menyadari dosa dan beristighfar, berkuranglah bercak itu. Jadi hijab tercipta secara bertahap hingga bercaknya menutupi hati hingga menjadi kelam dan akrab dengan kegelapan.

Hijab cahaya

Kalau dosa adalah hijab, maka semua memahami tahu hal itu. Tapi bagaimana mungkin nur atau cahaya menjadi hijab yang menghalangi manusia menuju kesempurnaan?. Bukankah dengan cahaya, manusia melihat segala sesuatu dengan lebih jelas?, bukankah definisi nur adalah sesuatu yang bersinar dengan sendirinya dan menyinari yang lainnya?, bukankah dengan cahaya, manusia menyingkap segala yang tersembunyi?. Bagaimana mungkin cahaya menghalangi manusia untuk melihat sesuatu?

Untuk memudahkan pemahaman, saya akan memberikan contoh:

Matahari adalah cahaya yang sangat terang dan kuat. Ia juga menyinari segala sesuatu hingga semua tampak dengan jelas. Namun apakah pernah kita mencoba melihat ke arah bola matahari?, dapatkah kita melihatnya ataukah terang sinarnya yang menyilaukan akan menghalangi kita melihat wujudnya?. Karena terlampau terang dan menyilaukan, cahaya matahari itu menjadikan mata kita seperti buta karena silaunya sehingga kita tidak bisa melihatnya
Hakikat ini disebutkan dalam munajat Sya'baniyah, dimana Imam Ali berdoa:

الهي هب لي كمال الانقطاع اليك وانر ابصار قلوبنا بضياء نظرها اليك حتى تخرق ابصار القلوب حجب النور فتصل الى معدن العظمة وتصير ارواحنا معلقة بعز قدسك

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku kekuatan untuk meninggalkan selain-Mu, terangilah mata hatiku dengan cahaya yang dengannya aku bisa melihat, karenanya mata hati kami mampu membakar seluruh hijab cahaya hingga ia (mata hati) mampu mencapai sumber kebesaran dan ruh kami bergantung pada mulia kesucian-Mu"

Maka Nur (cahaya) bisa menjadi hijab yang menyampaikan kita kepada hakikat kesempurnaan. Ilmu adalah nur yang mengantarkan kita ke gerbang ma’rifat dan kesempurnaan, namun pada kenyataannya ilmu akan menjadi hijab dan penghalang menuju tujuan tersebut.

Bagaimana ilmu menjadi hijab?

Sesungguhnya ilmu akan menjadi hijab saat manusia memandangnya sebagai pakaian yang melahirkan ke’aku’an (ananiyah) dan menganggap dirinya mulia dengan ilmu itu dan selanjutnya melihat orang lain dengan kehinaan. Barangkali karena itu Imam Ali as. pernah berkata: "Barangsiapa berkata: "Saya alim", maka dialah orang bodoh yang sebenarnya".
Ada sesuatu yang menarik ketika suatu hari Imam Ali ditanya: "Apakah anda seorang yang alim". Imam menjawab: "Aku bukan termasuk orang bodoh dari mereka". Imam Ali tidak ingin berbohong namun beliau juga tidak ingin menjadikan ilmu sebagai hijab dalam bentuk pakaian kesombongan.
Jadi ilmu akan menjadi hijab bagi seseorang dan menjatuhkannya ke lembah kehinaan ketika ilmu itu menjadikannya merasa tinggi (at-ta'ali). Saat itu ilmu akan menjadi alat mengumpulkan dosa dengan dijadikannya ilmu sebatas komoditas demi popularitas dan kesan manusia lain terhadapnya
Pantaslah jika ilmu tanpa ketaqwaan hanya akan menghancurkan sebagaimana taqwa tanpa ilmu adalah kebutaan. Ilmu tanpa taqwa hanya akan menjadi hijab yang lebih berbahaya daripada hijab dosa.

JIKA ILMU TANPA TAQWA MENJADIKAN MAKHLUK MULIA, MAKA MAKHLUK PALING MULIA ADALAH IBLIS..


0 komentar:

Post a Comment