PENGANTAR ILMU MANTIQ (BAGIAN 10) : MACAM-MACAM TAQABUL (MUTAQABILAIN)

Setelah kita memahami 3 bentuk tabayun (mistlain, mutakhalifain dan mutakhalifain) dimana mitslain dan mutakhalifan berkonotasi perbedaan hanya saja apakah dilihat titik perbedaan itu atau dilihat persamaannya.

Lain halnya dengan tabaayun ke-3 : Taqabul, dimana hubungan diantara dua lafadz (baca: makna) bukan sekedar perbedaan tapi sudah membentuk pertentangan (kontradiksi). Kadang kontradiksi itu bersifat absolut, kepemilikan, benturan atau makna kebergantungan.

Berdasarkan hal itu maka taqabul bisa dibagi 4 yaitu:

  • Tanaqudh/kontradiksi absolut (selanjutnya kedua lafadznya disebut Mutanaqidhain) :  adalah hubungan antara dua lafadz (makna) yang satu 'wujud' dan yang lain 'tidak wujud' secara hakikat wujud. Hubungan ini bersifat absolut karena sejatinya salah satu dari keduanya adalah penafian atas yang lain, misal: tanaqudh antara mafhum 'MANUSIA' dan 'BUKAN MANUSIA'. Dari keterangan tersebut  maka keduanya tidak akan berkumpul dalam sebuah hakikat wujud dan tidak mungkin terangkat bersama dari hakikat itu. Tidak mungkin kita mengatakan bahwa hakikat luaran (misdaq) di hadapan kita adalah MANUSIA juga BUKAN MANUSIA  dan tidak mungkin juga mengatakan bahwa misdaq tersebut bukan MANUSIA dan bukan BUKAN MANUSIA.

  • Malakah/kontradiksi kepemilikan, adalah hubungan antara dua lafadz (makna) yang satu 'wujud' dan yang lain 'tidak wujud' hanya saja hal itu berhubungan dengan malakah (kepemilikan). Misalnya hubungan antara KAYA dan MISKIN dimana yang satu berhubungan dengan keberadaan dan yang lain berhubungan dengan ketidakberadaan (dalam kontek kepemilikan). Keduanya tidak bisa berkumpul dalam sebuah hakikat wujud karena tidak mungkin kita mengatakan: DIA KAYA JUGA MISKIN namun keduanya bisa terangkat dari hakikat yang tidak berpotensi memilik malakah tersebut seperti POHON yang tidak dihukumi KAYA atau MISKIN karena tidak berpotensi atas kepemilikan harta. Contoh lain misalnya: BISA MELIHAT dan BUTA, PANDAI dan BODOH dan sebagainya

  • Dhiddain / kontradiksi benturan (selanjutnya kedua lafadznya disebut MUTADHADDAIN) adalah hubungan antara 'wujud' dan 'wujud' dimana keduanya tidak mungkin berkumpul dalam satu hakikat wujud. Misalnya lafadz MERAH dan HIJAU, dimana tidak mungkin kita melihat sesuatu di hadapan kita berwarna merah juga hijau, ditempat yang sama, pada waktu yang sama dan dari sudut pandang yang sama. Jika perhatikan hubungan ini maka kita akan tahu bahwa untukmemahami salah satunya, kita tidak perlu memahami yang lain. Untuk tahu MERAH kita tidak disyaratkan untuk tahu HIJAU, demikian juga sebaliknya. Satu lagi,  dalam hal ini kedua sudut haruslah sifat jika tidak maka akan masuk kategori Mitslain dan/atau Mutakhalifain.

  • Tadhayuf/ kontradiksi kebergantungan (selanjutnya kedua lafadz disebut Mutadhayifain) adalah hubungan antara 'wujud' dan 'wujud' dimana keduanya tidak mungkin berkumpul dalam satu hakikat wujud dan untuk memamahi salah satunya, kita harus memahami yang lain. Misalnya mafhum AYAH dan ANAK dimana untuk memahami makna ANAK maka kita harus memahami makna AYAH juga, demikian juga sebaliknya. Sebagaimana sebalumnya, keduanya harus sifat. Jadi maksud AYAH adalah ke-AYAH-an demikian juga dengan ANAK. Jika tidak maka akan masuk kategori Mitslain dan/atau Mutakhalifain.  

No comments

Powered by Blogger.