PENGANTAR ILMU MANTIQ (BAGIAN 9): TARADUF DAN TABAAYUN

Dalam pembahasan sebelumnya, kita telah membagi lafadz tunggal berdasarkan makna-makna yang dimiliki.

Kini kita aka membahas lafadz yang banyak (baca: lebih dari satu) berdasarkan maknanya apakah memiliki 1 makna atau masing-masing lafadz memiliki maknanya yang khas. Berdasarkan hal ini maka lafadz bisa dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Taraduf (Sinonim), yaitu ketika 2 lafadz atau lebih memiliki 1 makna. Seperti lafadz 'rumah' dan lafadz 'griya' atau lafadz 'manusia' dan 'insan'

2. Tabaayun, yaitu ketika lafadz lebih dari 1 dan masing-masing memiliki makna khas. Kebanyakan lafadz yang kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari termasuk dalam kelompok ini.

Pembagian Tabaayun 

Kajian kita akan dipusatkan pada lafadz-lafadz yang bertabaayun.

Setelah kita mengenal makna Tabaayun maka kita akan membaginya berdasarkan hubungan antara 1 lafadz dengan lafadz yang lain.

Berdasarkan hal itu maka lafadz Tabaayun bisa dibagi menjadi 3 yaitu :

1. AL MITSLAIN/MUTAMATSILAIN, adalah 2 lafadz (atau lebih) yang masing-masing memiliki  maknanya yang khas akan tetapi dipandang dari sudut persamaannya. Misal: Lafadz Ali dan Ahmad saat keduanya dipandang sebagai manusia atau 'tampan' dan 'dermmawa' jika keduanya dipandang sebagai sifat.

Ciri lafadz Mitslain adalah potensi berkumpul dalam 1 obyek jika lafadz tersebut menunjukkan sifat, misalnya 1 orang bisa 'tampan' dan dermawan pada waktu yang sama.

2. AL MUTAKHALIFAIN, adalah adalah 2 lafadz (atau lebih) yang masing-masing memiliki  maknanya yang khas akan tetapi dipandang dari sudut perbedaannya. Masih contoh yang sama, misal: Lafadz Ali dan Ahmad saat keduanya dipandang sebagai 2 orang yang berbeda atau 'tampan' dan 'dermmawa' jika keduanya dipandang sebagai 2 sifat yang berbeda.

Dari keterangan diatas kita mengetahui bahwa perbedaan antara keduanya hanya masalah sudut pandang persamaan atau perbedaan. Artinya keduanya juga bisa bertemu dalam 1 obyek jika menunjukkan sifat.

3. AL MUTAQABILAIN, adalah 2 lafadz (atau lebih) yang masing-masing lafadz memiliki makna khasnya dan tidak bisa berkumpul dalam 1 obyek meskipun menunjukkan sifat. Seperti hubungnan antara 'ada' dan tiada', 'kaya' dan 'miskin', 'merah' dan 'putih', 'anak' dan 'bapak'

Mutaqabilain harus memeuhi syarat-syarat:

a. Satu sudut pandang

b. Satu tempat

c. Satu waktu

Jika salah satu dari syarat tersebut tidak terpenuhi maka tidak akan tercipta hubungan mutaqabilain antara 2 lafadz (atau lebih)

Cek Videonya disini

No comments

Powered by Blogger.