Pengantar Ilmu Mantiq (bagian: 7) : Pembagian Ad Dilalah Wadh'iyah Al Lafdhiyah



Setelah kita melakukan klasifikasi terhadap Ad Dilalah dan menghasilkan tiga bentuk Ad Dilalah :

  • 'Aqiliyah (logis)
  • Thab'iyah (tabiat)
  • Wadh'iyah (peletakan/rekayasa)
maka perlu kita ketahui bahwa yang menjadi topik pembahasan ilmu mantiq adalah Ad Dilalah Al Wadh'iyah (rekayasa) dengan alasan:

Ad Dilalah 'Aqliyah bersifat badihiyah (ilmu dharuri) yang jelas dan tidak membutuhkan pembuktian karena kejelasannya, Selama akal otak manusia tidak dihinggapi syubhat maka Ad Dilalah ini akan dipahami.

Ad Dilalah Ath Thab'iyah tidak berhubungan dengan ilmu logika tapi berhubungan dengan kebiasaan tubuh manusia ataupun makhluk lain dan tidak ada penjelasan lain selain kebiasaan alamiah itu sendiri. Apalagi jika kita menilik kembali bahwa proses indikasi ini bukan sebuah kemestian logika.

Dengan demikian, yang menjadi concern kita dalam ilmu mantiq adalah Ad Dilalah Wadh'iyah yang membutuhkan ketelitian dan kejelian agar peletakannya akurat mengingat indikasi terjadi murni karena rekayasa dan peletakan. Bahkan Ad Dilalah Al Wadh'iyah yang kita perdalam hanya yang Lafdziyah (berupa lafadz) mengingat yang kita butuhkan adalah alat untuk berinteraksi dengan orang lain dalam satu masalah. Lafadz dibahas dalam mantiq, semata-mata sebagai alat untuk memindahkan mafhum yangb ada di otak kita agar tertransfer sempurna ke otak orang lain. Jadi fokus kita kepada Dilalah lafadz atas makna khasnya.

Berdasarkan cakupan lafadz atas maknanya, Ad Dilalah Al Wadh'iyah Al Lafdhiyah bida dibagi 3 :

1.Al Muthabaqiyah (المطابقية), jika sebuah lafadz menjadi indikasi atas maknanya secara sempurna, misalnya kata rumah yang menunjukkan seluruh bagian-bagiannya seperti pintu, jendela, ruang tamu, ruang keluarga dan sebagainya. Seperti saat kita mengatakan: "Saya ingin menjual rumah saya".

2. At Tadhamuniyah (التضامنية), jika sebuah lafadz menunjukkan sebagian maknanya. Seperti kata rumah yang diucapkan dengan indikasi yang mengarah kepada sebagian maknanya saja. Seperti saat seseorang mengatakan: "Tidurlah di rumah". Kata rumah dalam perintah tersebut pastilah yang dimaksud adalah kamar tidur yang merupakan bagian makna rumah.

Agar indikasi seperti ini efektif dalam diskusi dan percakapan, harus ada qarinah (tanda) yang mengarah kepada maka 'sebagian' ini. Jika tidak maka lebih didahulukan untuk memahaminya sebagai indikasi yang pertama (muthabaqiyah)

3. Al Iltizamiyah (الالتزامية), jika satu lafadz diucapkan untuk menjukkan makna lain yang tidak diletakkan untuknya. Misalnya ketika seseorang masuk ke sebuah warung kopi dan ia meminta kepada penjual: Beri saya kopi, maka yang akan disodorkan kepadanya bukan hanya bubuk kopi saja tapi sudah ada gelas, air panas bahkan gula. Padahal kata kopi tidak bermakna gelas atau air panas. Artinya saat itu kata kopi juga menjukkan air panas atau gelas yang keduanya bukan makna dari kata kopi.

Proses indikasi ini hanya akan terjadi dan berfungsi jika terpenuhi syarat-syarat :

  • Hubungan yang terjalin erat antara dua hal bersangkutan
  • Hubungan itu telah masyhur dan dikenal.
Videonya bisa anda saksikan di sini


No comments

Powered by Blogger.