Thursday, 22 July 2021

Pengantar Ilmu Mantiq (Bagian 2)

Definisi dan klasifikasi ilmu

Definisi Ilmu

Lihatlah wajah seseorang baik-baik, kemudian tutup mata anda atau palingkan wajah anda darinya!. Anda mnasih bisa membayangkan wajah itu meski saat anda tidak melihatnya. Bahkan setelah beberapa hari atau beberapa tahun (tergantung kesan anda terhadap wajah itu) anda masih bisa membayangkannya. Bayangan yang melekat itu sejatinya adalah ilmu.


Ilmu adalah tercetaknya gambaran sesuatu di otak manusia. 


Beberapa Klasifikasi Ilmu

Kita akan melihat beberapa klasifikasi ilmu berdasarkan azas yang berbeda-beda.

Klasifikasi I: Pembagian ilmu berdasarkan fase keilmuan yang dilalui manusia :

 1. Ilmu Hissi (العلم الحسّي), Ilmu Inderawi

Seperti sebutannya, ilmu ini diperoleh manusia dengan kemampuan panca indera yang dimiliki. Dengan kata lain perkembangan ilmu ini seiring dengan berfungsinya panca indera manusia. Ketika seekor hewan meronta di saat besi panas menyentuh tubuhnya, maka ia telah memiliki ilmu inderawi tentang panas. Ketika seorang bayi yang menangis saat kulitnya menyentuh benda tajam maka reaksi tersebut menunjukkan adanya ilmu inderawi.

Ilmu ini belum membedakan manusia dari binatang karena kedua jenis makhluk ini memiliki hal yang sama. Perlu diingat bahwa ilmu inderawi adalah ilmu yang tidak mungkin salah (bagi panca indera normal) karena ia bukan gambaran sesuatu tapi hadirnya sesuatu. (Kita akan membahasnya dalam klasifikasi ilmu menjadi Hushuli dan Hudhuri), insyaallah ta'ala.

2. Ilmu Khayali (العلم الخيالي), Ilmu Gambaran inderwai.

Di saat tangan atau anggota tubuh manusia yang lain menyentuh benda panas maka ia akan bereaksi atas hal itu yang menunjukkan bahwa manusia memiliki ilmu inderawi tentang panas (no.1)

Selang beberapa hari ketika melihat benda panas yang pernah ia sentuh dan rasakan panasnya, ia segera menghindarinya, mengapa demikian?

Hal itu dikarenakan ada ilmu lain yang lebih tinggi dari ilmu inderawi yaitu gambaran yang menempel dari peristiwa inderawi. Meskipun saat itu tidak terjadi kontak dengan panas akan tetapi pengalaman sebelumnya yang bersifat inderwai langsung menciptakan gambaran rasa sakit tersentuh benda panas.

Bisa juga kita katakan bahwa Ilmu Hissi dan Ilmu Khayali merupakan ilmu inderawi hanya saja yang satu secara langsung dan yang lain tidak langsung.

Ilmu Khayali belum membedakan manusia dari binatang karena binatang juga memiliki kemampuan untuk berjalan ke kandang dengan menelusuri jalanan yang pernah ia lalui atau beberapa jenis binatang masih mengingat orang yang pernah menyakitinya setelah beberapa tahun berlalu.

3. Ilmu Wahimi (العلم الوهمي), Ilmu abstrak berlingkup sempit

Ilmu Hissi dan Ilmu Khayali (no.1 dan no. 2) berhubungan dengan obyek materi inderawi, baik secara langsung atau tidak langsung.

Namun ternyata ilmu manusia tidak berhenti hanya pada fase ini, karena manusia memiliki ilmu lain yang tidak berhubungan dengan materi yang inderawi bahkan kadang tanpa disadari karena bersifat insting alami. Pada fase ini, ilmu manusia berhubungan dengan mafhum abstrak yang manusia sendiri belum mampu memahaminya. Ia hanya bisa merasakan tanpa mampu menjabarkannya. 

Misalnya, seorang bayi memiliki keterikatan dengan ibunya yang tidak dimiliki terhadap selain ibunya. Ia mampu membedakan dengan merasakan sesuatu dan belum mampu memahami apalagi menjabarkannya. Ilmu ini disebut ilmu wahmi yang bersifat abstrak dan masih bersifat insting alamiah. Dalam hal ini, bayi belum mampu mengontrol insting ini dan akan mengalir mengikuti alur yang dilaluinya. Ia hanya merasakan cinta pada ibunya tanpa kemampuan untuk menciptakan cinta yang sama kepada selainnya.

Ilmu ini belum membedakan manusia dari binatang karena binatang memiliki keterikatan dengan induknya atau memiliki musuh bebuyutan tersendiri yang dihindari dan sebagainya.

4. Logika Sempurna

Adalah ilmu sempurna dimana manusia terbedakan dari selainnya terutama binatang. Dalam fase ini ilmu manusia tidak lagi dibatasi dengan panca indera karena ia juga mememiliki ilmu tentang hal-hal yang non materi/inderawi dengan cakupan yang luas, universal dan nyaris tak berbatas. Dalam fase ini, selain merasakan, manusia juga mampu memahami dengan sempurna sehingga ia mampu memanipulasi kenampakannya.


Klasifikasi Ilmu II : Pembagian ilmu berdasarkan atas ada dan tidaknya keyakinan di dalamnya :

1. Ilmu Tashawwuri (العلم التصوري)

Adalah ilmu manusia tentang sesuatu yang tidak disertai keyakinan. Artinya, manusia mengetahui akan sesuatu akan tetapi ia tidak meyakininya sehingga yang ada di otaknya hanyalah gambaran tentang sesuatu tanpa meyakini apakah seseuatu tersebut ada. Itulah sebab mengapa ilmu ini disebut ilmu tashawwuri karena yang muncul hanya shurat (gambaran) tanpa adan keyakinan. Karenanya ilmu ini juga disebut ilmu yang tak berhukum.

2. Ilmu Tashdiqi (العلم التصديقي)

Dengan memahami definisi ilmu tashawuri, maka kita akan memahami ilmu tashdiqi karena ilmu tashdiqi adalah ilumu tashawwuri plus keyakinan. Karenanya ilmu ini disebut juga ilmu yang berhukum. Jadi Ilmu Tashdiq adalah pengetahuan manusia akan sesuatu yang disertai dengan keyakinan.

Pembagian Ilmu Tashdiqi

Saat kita mendefiniskan ilmu tashdiqi sebagai ilmu yang disertai keyakinan atau hukum, mungkin akan muncul pertanyaan: Seberapa besarkah prosentase keyakinan yang dimaksud?, apakah keyakinan yang dimaksud menuntut prosentase 0% pada sisi karaguan?

Yang dimaksud keyakinan dalam pembahasan ini adalah prosentase keraguan kurang dari 50% atau dengan kata lain, keyakinan bisa dibagi dua:

1. Kemantapan dengan keraguan 0%

2. Kemantapan dengan keraguan kurang dari 50%


Ada beberapa istilah dalam ilmu mantiq sehubungan dengan tingkat kemantapan  seseorang terhadap satu berita :

1. Yakin (اليقين), dengan tingkat kemantapan 100% hingga kemantapan akan sebaliknya 0%

2. Dhan, (الظنّ) dengan tingkat kemantapan lebih dari 50% dan kurang dari 100%

3. Syak (الشكّ) dengan tingkat kemantapan 50% dan kemantapan akan kebalikannya 50%

4. Wahm (الوهم) dengan tingkat kemantapan kurang dari 50% dan kemantapan sebaliknya lebih dari 50%


Pembagian Jahil (ketidaktahuan)

Ini erat kaitannya dengan masalah keyakinan dimana terkadang orang yang jahil meyakini hal yang salah, apakah keyakinan tersebut termasuk ilmu tashdiqi meskipun salah?. Lebih jelasnya kita lihat pembagian dibawah ini:

Kejahilah seseorang bisa dibagi dua yaitu:

1. Jahi Murakkab (bertingkat)

Yaitu kejahilan yang tidak disadari sehingga si jahil merasa dirinya 'alim (tahu). Disebut jahil bertingkat karena merupakan penggabungan dua bentuk kejahilan: jahil terhadap masalah + jahil akan ketidaktahuannya.

2. Jahil Basith (tunggal)

Yaitu disaat orang tidak tahu dan menyadari akan keadaannya (ketidaktahuannya). Ia hanya mengalami satu bentu kejahilan saja.

Apakah jahil murakkab termasuk ilmu?

Pendapat yang masyhur mengatakan bahwa jahil murakkab bukan bagian ilmu karena, meski mengandung keyakinan, keyakinan namun keyakinan itu adalah keyakinan yang salah dan tidak sesuai kenyataan dan target yang dituju. Selain itu definisi ilmu adalah hadirnya gambaran sesuatu tertentu sedang dalam jahil murakkab yang hadisr adalah gambaran sesuatu yang lain yang bukan tujuan utama. Dalam pandangan ini, Jahil Murakkab bukan bagian dari ilmu meski ada keyakinan di dalamnya.

Video makalah ini bisa dilihat di sini

0 comments:

Post a Comment