Thursday, 22 July 2021

Pengantar Ilmu Mantiq (1)

 

Muqadimah

Manusia tercipta dengan fitrah berfikir dalam menghadapi setiap permasalahan, sehingga tidak alasan untuk memerintahkannya berfikir karena hanya akan menciptakan tahshil al hashil, mewujudkan sesuatu yang sudah wujud, sia-sia bahkan tercela dari sudut pandang hikmah (kebijaksanaan).

Jika demikian, apa yang manfaat dari Ilmu Mantiq jika tanpanya manusia tetap akan berfikir dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi?         

  

Sejatinya, Ilmu Mantiq tidak menyeru: “Befikirlah!” tapi mengatakan: “Jika kamu berfikir maka lakukanlah dengan cara seperti ini!”

Ilmu Mantiq mempelajari cara berfikir untuk mendapatkan hasil maksimal dan menghindari kesalahan berfikir hingga mampu menepis syubhat yang selalu menciptakan sesat pikir.

Menghindari kejahilan mutlak

Ketika seseorang berniat mempelajari sebuah disiplin ilmu maka yang bersangkutan harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan akan tiga hal mendasar yang berhubungan dengan disiplin tersebut (meski secara garis besar), dengan demikian ia tidak terjebak dalam kejahilan mutlak yang menjadikannya tidak mampu melakukan pergerakan ilmiah. Tiga hal mendasar itu adalah: Definisi, pokok bahasan dan tujuan.

Hal ini berlaku juga dalam Ilmu Mantiq dimana tiga pengetahuan dasar itu akan menghindarkan kita dari kejahilan mutlak (buta) terhadap Ilmu Mantiq.

Karenanya, terlebih dahulu kita harus memaham tiga pemahaman dasar sehubungan dengan Ilmu Mantiq yaitu:

1.     Ta’rif (definisi) Ilmu Mantiq

2.     Maudhu’ (pokok bahasan) Ilmu Mantiq

3.     Ghayat (tujuan) mempelajari Ilmu Mantiq


Definisi Imu Mantiq

Ilmu Mantiq adalah ilmu alat yang berisi kaidah-kaidah umum yang jika diperhatikan penerapannya maka ilmu tersebut akan menjaga pemilik ilmu dari kesalahan berfikir.

Beberapa hal dalam definisi tersebut yang layak mendapat perhatian kita:

Ilmu Alat : Artinya, Ilmu Mantiq bukan ilmu yang dipelajari untuk ilmu itu sendiri. Dengan kata lain kita mempelajari Ilmu Mantiq bukan hanya untuk mengetahui kaidah apalagi istilah dalam Ilmu Mantiq. Ilmu mantiq dipelajari sebagai jembatan menuju ilmu-ilmu yang lain seperti filsafat, aqidah, ushul fiqih dan sebagainya.

Kaidah umum : Artinya, kaidah mantiq bersifat universal dan umum. Ilmu mantiq tidak membahas budaya sebuah masyarakat, bahasa kaum tertentu atau hal-hal lain yang bersifat eksklusif bagi kelompok tertentu.

Bagaimana dengan pembahasan lafadz yang merupakan bagian bahasan Ilmu Mantiq?, bukankah hal itu berhubungan erat dengan bahasa yang digunakan masyarakat?

Jawabannya adalah: Ilmu Mantiq tidak membahas lafadz sebagaimana lafadz tapi membahas lafadz sebagai alat bagi manusia untuk memindahkan buah pikirannya kepada orang lain yang merupakan konsekwensi keberadaan manusia sebagai makhluk sosial.

...yang jika diperhatikan penerapannya...: Artinya bukan Ilmu Mantiq yang menjaga manusia dari kesalahan dalam berfikir jika tidak ada usaha untuk jeli dan teliti dalam menerapkan kaidah-kaidahnya. Bukankah banyak pelajar Ilmu Mantiq yang cara berfikirnya masih jauh dari logis?. Bukankah banyak kita temukan orang-orang yang berilmu dan terjerumus dalam kesombongan dan menjadi lebih hina daripada orang yang tak berilmu?

Hal ini erat kaitannya dengan keberadaan ilmu mantiq sebagai ilmu alat. 

Saya umpamakan sebuah cangkul bagi petani. 

Untuk tujuan apakah seorang petani membeli cangkul?. 

Seorang petani tidak akan membeli cangkul untuk kemudian menghiasnya dengan berbagai asesoris dan selanjutnya dipajang di dalam lemari kaca, karena hal itu kontra produktif dengan tujuan petani membeli sebuah cangkul. 

Cangkul itu dianggap berfungsi bagi petani jika digunakan dengan menerapkan tekhnik-tekhnik yang benar dalam mencangkul. Meski memiliki cangkul yang mahal harganya, seseorang yang tidak memiliki ilmu tekhnik mencangkul atau punya ilmu tentang tekhniknya tapi tidak menerapkannya dengan benar dan teliti, maka sebaik apapun cangkulnya, tetap tidak akan memberikan hasil yang diharapkan.

Mantiq sebagai ilmu alat akan menjaga manusia dari kesalahan dalam berfikir jika diperhatikan aturan dan tekhnis penerapannya. 

Mantiq adalah alat, terpulang siapa penggunanya. 

Maudhu’ (pokok bahasan) Ilmu Mantiq

Ilmu Mantiq membahas 2 bahasan pokok dalam berargumentasi:

1. Definisi, yaitu ketika permasalahan berhubungan dengan mafhum (makna) tunggal yang dipertanyakan hakikatnya, seperti: Apakah manusia?, apakah hewan?, apakah yang dimaksud dengan berkal? dan sebagainya. Dengan kata lain, pokok bahasan pertama ilmu mantiq adalah kata.

2. Argumentasi, yaitu ketika permasalahan berhubungan dengan sekumpulan mafhum yang dipahami masing-masing maknanya tapi dupertanyakan hubungan dianta mafhum-mafhum tersebut. Seperti pertanyaan yang meminta pembuktian bahwa benarkah manusia adalah hewan?, benarkah manusia adalah hewan berkal? dan sebagainya. Karena masalah ini tidak dijawab dengan definisi melainkan dengan argumentasi. Atau bisa dikatakan bahwa pokok bahasan kedua dari Ilmu Mantiq adalah kalimat sempurna.

Cek Video untuk makalah ini di sini



0 comments:

Post a Comment