Sunday, 27 September 2020

BERJALAN DIBAWAH CAHAYA AHLULBAIT (5) : CINTA AHLULBAIT=CINTA NABI

 

Demikianlah batasan yang dibuat oleh Imam as. yang tidak berbeda dengan selainnya dalam hal prinsip dasar. Perbedaan hanya berhubungan dengan pengambilan sikap dalam kasus tertentu dimana beliau lebih tahu dan mereka tidak tahu.

 Inilah beberapa lembaran yang mampu kami persembahkan kepada pembaca. Didalamnya  mencakup tulisan-tulisan saya dalam berbagai kesempatan menghadiri peringatan Ahlul Bait as.

Tulisan ini akan menjadi sempurna jika dikolaborasi dengan tulisan-tulisan lain seputar sirah Ahlul Bait as. yang pernah saya tulis dan telah diterbitkan. Beberapa buku yang merupakan awal debut saya diantaranya adalah Aimmatu Ahl Al Bait Risalah wa Jihad, Al Imam Al Husain wa Mas-uliyat Ats Tsaurah, Ats Tsa-ir was Sijnu, Dirasah fi Hayat Al Imam Musa Al Kadhim as. dan buku-buku kecil lainnya yang berhasil dicetak dan diterbitkan yang membahas tentang Imam Ali as., Imam Al Hasan as., Imam Husain, Aqilah Zaenab as. dan Imam Al Mahdi as.

Dalam semua tulisan, saya berusaha selalu berada di bawah siraman cahaya petunjuk dan tauladan sirah Ahlul Bait as. serta berusaha mendekati fakta sosial dimana saya berada dengan melakukan ijtihad dalam memahami perubahan sikap dan tindakan yang harus diambil setelah identifikasi terhadap tuntutan-tuntunannya.

 

Saya memohon kepada Allah agar tetap teguh dalam kecintaan kepada Rasulullah saw. dan Ahlul Baitnya, berpegang teguh dengan petunjuk mereka serta melanjutkan perjuangan manhaj risalah mereka yang agung hingga Allah mengumpulkan saya dalam barisan mereka pada hari kiamat nanti.

 

Walhamdulillahi rabbil ‘alami

 

Hasan bin Musa Ash Shafar

25 Jumadil Akhir 1430 H

 

KEDUDUKAN AHLUL BAIT AS.

         Adalah wajar apabila Ahlul Bait Rasul saw. berada pada kedudukan yang tinggi dan spesial di mata umat karena mereka mampu menyatu dengan hati kaum muslimin. Kondisi tersebut merupakan cerminan tanggung jawab yang mereka emban, karenanya langkah mereka selalu sejalan dengan perubahan situasi. Hal itu sesuai dengan peran-peran penting mereka, diantaranya:

 

Sebagai pelanjut risalah

 

Ahlul Bait as. secara alami merupakan pelanjut Rasulullah saw. karena merekalah keluarga dan keturunannya.

Merupakan kebiasaan yang bisa kita lihat jelas pada masyarakat dimana kedudukan dan kemuliaan seorang manusia akan berimbas kepada keluarga dan keturunannya. Jika masyarakat mencintai seseorang yang mereka agungkan maka hal itu akan mendorong mereka untuk mencintai dan menghormati setiap orang yang memiliki hubungan dekat dengannya sebagai bukti kecintaan dan kesetiaan mereka kepada sosok tersebut.

Hal itu adalah manusiawi sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah khutbah terkenal yang diriwayatkan oleh puterinya, Fatimah Zahra as.: “Seseorang akan tersimpan dalam diri anaknya”.[1]

 

Yang menguatkan fakta ini adalah bahwa Rasulullah saw. adalah manusia paling dicintai, paling dimuliakan dan paling tersimpan dalam hati setiap muslim yang bergerak dengan irama keimanan. Bagai pantulan kecintaan yang dalam terhadap Rasulullah, hati kaum muslimin pun dipenuhi dengan kecintaan dan penghormatan kepada Ahlul Baitnya.

 

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Cintailah Allah karena nikmat-Nya yang telah tercurah kepada kalian, cintailah aku karena kecintaan kalian kepada-Nya dan cintailah Ahlul Baitku karena kecintaan kalian kepadaku”. Al Hakim An Naisaburi berkata dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash Shahihain mengatakan: “Hadits ini shahih sanadnya”.[2]

 

Bahkan jika kecintaan umat kepada Nabinya akan mendorong mereka untuk memperhatikan setiap peninggalannya, apalagi dengan zuriyah dan ithrahnya yang merupakan peninggalan yang hidup dan pelanjut alami nasab dan pewaris keagungan pribadinya?

 



[1] Muhammad Baqir Al Majlis, kitab Bihar Al Anwar juz 39 halaman 227 cetakan ke-1 tahun 1983, Beirut (Dar Ihya Turats Al ‘Arabi)

[2] Muhammad bin Abdullah Al Hakim An Naisaburi, AL mUstadrak ‘Ala Ash Shaihain, cetakan ke-1, tahun 1411 H, Dar Al Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut), hadits ke-4716

No comments:

Post a comment