Sunday, 27 September 2020

BERJALAN DIBAWAH CAHAYA AHLULBAIT (6) : SANG KHALIFAH MEMOHON MAAF FATIMAH ZAHRA

 

Inilah Dr. Muhammad Bayoumi Mehran, salah seorang guru besar sejarah Mesir dan Timur Dekat Kuno di Universitas Alexandria di Mesir yang juga seorang pakar riset serta anggota beberapa lembaga dan komisi ilmiah. Beliau pernah mengajar di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud di Riyadh antara tahun 1973-1977 yang kemudian ditarik ke Universitas Ummul Qura di kota Mekah antara tahun 1983-1987. Beliau menukil sebuah kisah menarik dalam bukunya Al Imamah wa Ahlul Bait:

Telah diriwayatkan (Ibnu Syahrasyub) dalam Al Manaqib bahwa Imam Abu Hanifah datang untuk menghadiri majlis ceramah Imam Ja’far Shadiq. Imam Shadiq menemuinya dengan menyandarkan tubuh pada sebuah tongkat. Melihat hal itu Abu Hanifah berkata: “Wahai putera Rasulullah, engkau belum terlalu tua hingga membutuhkan tongkat sebagai sandaran tubuhmu!”. Imam menjawab: “Memang benar, tapi ini adalah tongkat Rasulullah saw. dan aku ingin mengambil berkahnya”.

Mendengar hal itu Abu Hanifah melompat dan berkata: “Ijinkan aku menciumnya, wahai putera Rasulullah !.

Maka Abu Abdilah, Imam Ja’far Shadiq as. menyingkapkan lengan baju sambil berkata: “Sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa kulitku adalah kulit Rasulullah demikian juga dengan rambutku tapi mengapa engkau tidak menciumnya dan lebih memilih mencium tongkatnya?”[1]

 

Dari generasi ke generasi telah dinukil banyak hadits Rasul saw. yang yang mengingatkan dan menegaskan akan keberadaan Ahlul Bait as. sebagai wujud yang mewakili kepribadian Rasulullah saw.

Rasulullah pernah bersabda tentang puterinya, Fatimah Zahra, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Bukhari: “Fatimah adakah bagian dariku, barang siapa yang melukai hatinya maka ia telah melukai hatiku”.[2] Telah termaktub dalam kitab Lisan Al ‘Arab bahwa yang dimaksud dengan “Fatimah adalah bagian dariku…” adalah sebagaimana potongan yang diambil dari segumpal daging.[3]

Hal itu senada dengan sabda Rasul kepada Ali: “Engkau dariku dan aku darimu”.[4]

Demikian juga dengan riwayat Ibnu Hanbal dimana Rasul menjelaskan kedudukan Al Husain: “Husain bagian dariku dan aku bagian darinya, yang mencintai Husain berarti ia mencintai Allah”[5]

 

Hadits-hadits diatas memberikan isyarat akan hubungan alamiah antara Ahlul Bait as. dan Rasulullah saw. yang menunjukkan betapa mereka adalah kelanjutan Rasululllah saw.

Atas dasar inilah maka kaum muslimin memandang Ahlul Bait as. dengan kecintaan khusus dan penghargaan yang tiada banding. Sampai-sampai Bukhari telah meriwayatkan hadits dari khalifah ke-1, Abu Bakar, yang meminta maaf kepada Fatimah dalam kasus perampasan tanah Fadak hingga Fatimah marah karenanya. Dalam hadits tersebut Abu Bakar berkata: “Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, sungguh menjalin hubungan dengan keluarga Rasulullah adalah lebih baik bagiku daripada hubungan dengan keluargaku sendiri”.[6] 

 



[1] Muhammad Bayoumi Mehran, Al Imamah wa Ahlul Bait, juz 1 halaman 25tahun 1995, Dar An Nahdhah Al ‘Arabiyah, Beirut

[2] Muhammad bin Ismail Al Bukhari, kitab Shahih Al Bukhari, bab Manaqib Fatimah, hadits no. 3767 terbitan Dar Al Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut.

[3] Ibnu Al Mandhur, Lisan Al ‘Arab, juz 1 halaman 222, tahun 1988, penerbit: Dar Al Jail dan Dar Lisan Al ‘Arab

[4] Shahih Bukhari, bab Manaqib Ali bin Abi Thalib, halaman 466

[5] Ahmad bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, hadits no. 17704, cetakan ke-1 tahun 1998, penerbit Alam Al Kutub, Beirut

[6] Shahih Bukhari, bab Ghazwat Al Haibar, hadits no. 4241

No comments:

Post a comment