Wednesday, 30 September 2020

BERJALAN DIBAWAH CAHAYA AHLULBAIT (8) : AHLULBAIT DALAM AL QURAN AL KARIM

Dalam Al Quran Al Karim

 

            Diatas semua nash (hadits) syar’i itu telah tersebut pula ayat-ayat suci Al Quran yang disepakati oleh segenap kaum muslimin bahwa Ahlul Bait adalah asbab nuzul (sebab turun)nya firman-firman Allah tersebut.

 

Ayat Mubahalah

 

Allah berfirman:

 

“Maka barangssiapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita mohon kepada Allah supaya la'nat-Nya ditimpakan kepada para pendusta”[1]

 

Ayat itu turun berkenaan dengan kedatangan rombongan Nasrani dari suku Najran untuk berdebat dengan Rasulullah. Maka Allah memerintahkan agar Nabi menyeru mereka untuk melakukan mubahalah (sumpah) jika mereka tidak bersedia mengikuti kebenaran. Akhirnya, Mubahalah disepakati dan pada saat yang ditentukan Rasulullah hanya mengajak serta Ali, Fatimah, Hasan dan Husain  yang kemudian diabadikan dalam ayat diatas sebagai anak-anak kami (Hasan dan Husain), perempuan-perempuan kami (Fatimah) dan diri kami (Ali).

Semua itu telah disebutkan oleh jumhur ahli tafsir, sejarawan Islam dan ahli hadits sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqash: “Ketika turun ayat ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu’, Rasulullah mengajak Ali, Fatimah, Hasan dan Husain seraya berkata: “Ya Allah, merekalah keluargaku!”.[2]

 

Ayat Tath-hir

 

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sesuci-sucinya”.[3]

 

Syeikh Ibnu Taimiyah berkata:

Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan perawi lainnya sebuah hadits dari Ummu Salamah yang berkata: “Ketika ayat ini diturunkan, Rasulullah menutupi Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dengan kisa (kain) seraya berkata: “Ya Allah, merekalah Ahlul Baitku, maka hilangkanlah segala kekotoran dan sucikan mereka sesuci-sucinya!”.

Sunnah Nabi menafsirkan kitab Allah dan merupakan keterangan serta petunjuk dari-Nya. Karena itu ketika Rasul mengatakan ‘merekalah Ahlul Baitku’, meskipun alur ayat berbicara mengenai isteri-isteri Nabi yang termasuk Ahlul Bait, namun mereka (Ali, Fatimah, Hasan dan Husain pent.) lebih berhak untuk disebut Ahlul Bait Nabi karena hubungan nasab selalu lebih kuat daripada hubungan sabab (perkawinan dll.)….Ketika kemudian Allah berkehendak membersihkan kekotoran  dari Ahlul Bait dan menyucikan sesuci-sucinya, Nabi menyeru Ahlul Bait yang terdekat yaitu Ali, Fatimah dan dua pemuka pemuda surga sehingga mereka mendapatkan penyucian Allah dan kesempurnaan doa Nabi bagi mereka. Semua itu menunjukkan kepada kita bahwa pembersihan dari kotoran dan penyucian dari dosa merupakan nikmat dari Allah yang tercurah serta nikmat dan kasih-Nya yang tidak mungkin dicapai dengan daya dan upaya mereka semata”.[4]

 

Ayat Mawaddah

 

Allah berfirman:

Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada keluargaku”[5]

Ibnu Hajar Al Haitami berkata: “Telah diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani, Ibnu Abi Hatim dab Al Hakim dari Ibnu Abbas yang berkata: “Saat ayat ini diturunkan, para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah kerabatmu yang kecintaan kepada mereka adalah kewajiban kami?”, “Ali, Fatimah dan kedua puteranya”, jawab Rasulullah saw.[6]



[1] Q.S. Ali Imran : 61

[2] Muslim bin Al Hajjaj Al Qusyairi An NAisaburi, Shahih Muslim, kitab fadhail Ash Shahabah, hadits ke-32 cetakan ke-1 tahun 1998, Dar Al Mughni, Riyadh

[3] Q.S. Al Ahzab: 33

[4] Taqiy Ad Din Ahmad Ibnu Taimiyah, Huquq Ali Al Bait, halaman 25-27, tahqiq: Abdul Qadir ‘Atha, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Beirut

[5] Q.S. Asy Syura: 23

[6] Ash Shawa’iq Al Muhriqah, juz 2 halaman 487

No comments:

Post a comment