Sunday, 27 September 2020

BERJALAN DIBAWAH CAHAYA AHLULBAIT (4) : TERTIPU ATAU DITIPU?

 

Munculnya berbagai bentuk peran dan sikap Ahlul Bait as., baik yang berhubungan dengan masalah politik maupun sosial yang mengiringi perjalanan mereka adalah fakta sejarah yang tidak mungkin dipungkiri. Berlaku dan tidaknya suatu peran atau posisi pada masa tertentu akan memberikan bentuk praktis yang berbeda. Variasi itu  merupakan hasil identifikasi kasus demi menentukan sikap yang terbaik dan paling sesuai. Jadi, hasil dari identifikasi kasus akan berpengaruh kepada pengambilan sikap dalam menghadapinya.

Dengan demikian semua pihak yang mempelajari perjalanan Ahlul Bait as. atau berbagai warisan agama secara umum, harus belajar bahwa keberhasilan dalam menemukan alasan yang menguatkan pendapatnya bukan sebuah pembenaran untuk tindakan merendahkan pihak lain yang masih berada dalam koridor prinsip dasar yang sama, karena kadang perbedaan tersebut hanya bersifat parsial dan kondisional.

Jadi, perbedaan praktek perjuangan Ahlul Bait tidak berhubungan dengan revolusi perlawanan atau jalan damai, karena kedua bentuk perjuangan itu memiliki landasan dalam agama dan merupakan bagian dari tradisi Ahlul Bait as. Perbedaan itu semata-mata hanya ijtihad dalam pengambilan sikap saat berhadapan dengan kondisi tertentu.

Dalam perjalanannya, para Imam Ahlul Bait as. sendiri sering menerima kritik dari orang-orang yang hidup sejaman sehubungan dengan sikap-sikap politik yang diambil. Mereka menjawab semua kritik itu dan menjelaskan bahwa identifikasi kondisi yang menuntut kebijaksanaan dalam pengambilan sikap.

Imam Hasan as. telah menjawab kritik orang-orang yang mempertanyakan tindakan damai yang dipilih saat berhadapan dengan Mua’awiyah. Imam Husein menjawab nasihat orang-orang yang melarangnya pergi ke Iraq untuk menghadapi kekuasaan Bani Umayyah. Imam Ja’far Shadiq as. menjawab kritik dari orang-orang yang mengajaknya bergabung dalam gerakan-gerakan revolusi melawan kekuasaan dan Imam menolaknya.

Dalam setiap jawaban mereka menjelaskan bahwa semua itu tidak berhubungan dengan prinsip dasar jihad, kaidah penolakan terhadap kezaliman ataupun penting dan tidaknya menjaga kepentingan umum. Semua itu berhubungan dengan tuntutan situasi dan kondisi yang menuntut kebijaksanaan sikap.

 Salah satu contoh yang jelas adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Kulaini dan kitab Al Kafi juz 5 halaman 19: dari Abdul Malik bin Umar yang berkata: “Aku berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far Shadiq as.): “Sesungguhnya orang-orang Zaidiyah berkata: “Tidak ada perbedaan antara kami dengan Ja’far kecuali sikapnya yang tidak mewajibkan jihad”. “Aku tidak mewajibkan jihad?”, kata Imam Ja’far. Beliau menjelaskan: “Aku melihat pentingnya jihad namum aku tidak ingin meninggalkan ilmu dan menuju kepada kebodohan sebagaimana yang mereka inginkan”.

 

No comments:

Post a comment