Friday, 24 April 2020

DS056-SAYANGNYA, CORONA TIDAK BERAGAMA

Ini bukan artikel penting apalagi tulisan ilmiah. Jadi kalau mau di skip yang skip saja, saya ikhlas karena sejatinya, tulisan ini hanya sekelumit pengalaman saya yang sok heroik dengan bergabung dalam tim penyadaran masyarakat akan bahaya penyebaran virus COVID19 yang super viral yang melanda dunia (yang akhirnya agak menyerempet dinding akhirat).

Diawali dengan disebarkannya anjuran untuk tidak melakukan kegiatan yang menyebabkan konsentrasi massa hingga berubahnya himbauan menjadi larangan sampai akhirnya menjadi instruksi bernuansa ancaman. 
Perubahan status instruksi tersebut menunjukkan betapa ke'ngeyel'an masyarakat begitu istiqamah seiring dengan peningkatan kegemaran orang awam untuk menjadi pakar ilmu secara instant ala Whatsapp forwarder.
Tentu saja yang paling 'tersinggung' dengan pelarangan ini adalah kelompok agamis (bukan aa-aa pakai gamis lho) yang merasa kebijakan itu sangat merugikan kaum muslimin 'asuhan'nya yang cenderung memiliki tradisi kumpul dalam hampir setiap moment. Coba saja kalau bisa menghitung kegiatan ngumpul orang-orang Islam sepanjang 1 bulan saja. Mulai peristiwa kelahiran, kematian, kenduri-kenduri, pindahan rumah, pindahan kerja, kawinan, tasyakuran kelulusan dan kenaikan jabatan, pengajian rutin/eksidentil, istighatsah, mujahadah, muhasabah, thariqah, tabligh akbar, shalat jamaah, yasinan, belum lagi ruqyah massal yang melibatkan supranaturalis syar'i. Capek khan ngitungnya padahal mengantar dan menjemput jamaah haji belum dihitung.

Maka jangan heran jika kemudian muncul sikap perlawanan terhadap pelarangan 'kumpul-kumpul ini' bak menebar angin menuai badai. Perlawanan yang bertameng pembelaan terhadap kerajaan langit itu berasal dari pihak-pihak merasakan adanya usaha pembungkaman kegiatan keagamaan, terutama Islam. Tuduhan terhadap pemangku kebijakan dari mulai tuduhan zalim hingga tuduhan komunis bin ateis dengan gencar terlontar. Kini ibadah berjamaah mereka tidak hanya bernilai pahala amalan tapi juga pahala jihad melawan keputusan penguasa thaghut.

Mereka meyakini bahwa semua berjalan atas kehendak Allah dan jangan sampai mengesampingkan Allah hanya karena takut kepada virus yang notebene adalah makhluk-Nya. Mengingatkan kita kepada kaum yang disindir oleh Imam Ali bin Abi Thalib dengan sabda beliau: "Kalimatnya benar tapi tujuan (pengucapan)nya salah".

Mereka menentang penelitian medis karena sikap skeptis mereka. Barangkali sikap ini yang sempat dilarang dalam Al Quran: wa laa takuunu awwala kafirin bih (janganlah kalian menjadi yang pertama mengingkari!).

Okelah kalau mereka menolak hasil riset medis terhadap Corona sebagai riset materialis yang tidak Islami bahkan dianggap oleh segelintir orang sebagai gerakan konspiratif, tapi lihatlah betapa kebodohan kolektif ini juga menjadikan mereka menentang instruksi lembaga agama yang selama ini mereka perjuangkan. Saat PP Muhammadiyah dan PP NU melarang pelaksanaan shalat jamaah semisal shalat Jumat atau shalat tarawikh pada bulan Ramadhan, mereka menentang instruksi yang sebelumnya selalu didewakan itu dengan tetap melaksanakan kegiatan massal 'terlarang' tersebut.

Sayangnya, Corona tidak beragama apalagi bermazhab sehingga ia tidak peduli dengan semangat jihadis itu. Covid19 juga bukan gerombolan jin yang 'takut' jika dibacakan ayat-ayat suci. Akibatnya si Corona hanya haha-hihi saja melihat kelakuan masyarakat yang tidak peduli keselamatan jiwanya dan mengatasnamakan kebodohan dengan kepasrahan, mengatasnamakan sikap degil sebagai konsistensi, padahal Allah berfirman: "Jangan jerumuskan dirimu dalam kebinasaan!". 

Seperti musuh yang ditantang, Corona pun menjangkiti semua orang, tak terkecuali manusia-manusia 'halu' yang merasa dirinya di langit padahal masih di bumi, bahkan di dasar sumur, itu. Mereka tidak sadar bahwa mereka berusaha meraih jihad surgawinya dengan menyakiti manusia-manusia lain yang tidak berdosa. 
Meski demikian mereka tetap bangga dengan keshalihan bodohnya.

Sekali lagi, keadaan ini mengingatkan saya pada cerita salah seorang teman saya yang selalu bersemangat saat menceritakan pengalamannya 'naik haji' dimana dengan bangga ia berkata: "Demi menyentuh dinding Ka'bah, semua tidak berarti dan apapun saya lakukan meski dengan menyikut jamaah haji lain hingga terjungkal".

Barangkali dia dan mereka lupa bahwa hubungan mesra dengan Allah tidak akan terjalin selama kita tidak mesra terhadap makhluk-Nya. Bukankah mencintai yang di bumi merupakan kunci pintu cinta ilahi kepada kita?

Sebagian berdalih dengan mempertanyakan larangan kegiatan berjamaah di masjid dengan melakukan qiyas antara kegiatan masjid dengan kegiatan ekonomi di pasar. Mengapa kegiatan masjid dilarang tapi pasar tidak ditutup?, padahal kegiatan di pasar lebih berpotensi menyebarkan virus mematikan itu daripada kegiatan masjid yang selalu didahului dengan cuci tangan bahkan wudhu.

Dasar jamaah qiyas!, selalu saja mencari cara membuat pembenaran atas setiap perbuatan.

Tapi, saya tidak ingin terjebak dalam permainan perbandingan dua kondisi yang jelas tidak layak disandingkan dan diperbandingkan. Serasa mendengar lantunan ash shalatu khairun minan naum (Shalat itu lebih baik dari tidur). Sungguh sebuah pembandingan yang tidak seimbang.

Shalat atau ibadah 'masjidiyah' lainnya merupakan aktivitas private antara hamba dengan Tuhannya. Sekedar 'pending' sementara karena alasan darurat tidak memberikan imbas kepada hajat masyarakat secara umum. Apalagi ketika alasan 'penundaan' kegiatan itu berdasar dan berdalil. 

Jangan 'ngeyel' seperti seorang perempuan yang pernah protes kepada saya dalam sebuah majlis taklim karena ia, sebagai perempuan, merasa tidak puas sebab tidak pernah bisa menyempurnakan puasa sebulan penuh karena selalu ada fase 'batal alami' bagi perempuan. Bahkan dalam kondisi tidak suci itu, perempuan dilarang melakukan shalat dan tentunya dilarang masuk masjid. Perempuan itu merasa dizalimi dan menjadi korban diskriminasi samawi.

Waktu itu saya hanya menjawab: 'Apa yang engkau harapkan dari ibadahmu?, apakah kesempurnaan fikihmu atau ridha Tuhanmu?. Jika Allah memerintahkan kamu untuk tidak shalat, bukankah itu yang terbaik dan kerelaanmu adalah penghambaan afdhal kepada-Nya. Bukankah memaksakan shalat dalam kondisi seperti itu malah mengundang murka Allah yang kamu langgar larangan-Nya?.
Ia diam dan saya tidak tahu  apakah diam tanda setuju atau ada niatan 'banding' dengan mengadukan 'nasib' perempuan kepada Allah setelah gagal mendapat jawaban yang mendukung kesetaraan gender.

Ternyata COVID19 tidak hanya menguji bumi tapi juga menguji langit. Semoga yang di langit tetap sabar dan jangan tergesa-gesa men-qiyas-kan umat ini dengan kaum 'Ad dan Tsamud meski tingkah lakunya persis seperi Bani Israil yang ke'ngeyel'annya viral melalui Al Quran dan nyaris menjadi trending topic sepanjang masa.

Dalam kungkungan pandemi seperti saat ini, kita berdoa semoga rumah kita menjadi salah satu perwujudan dari firman Allah: Di rumah-rumah yang diijinkan Allah untuk disebut dan diagungkan nama-Nya dan tasbih dilantunkan pagi dan petang (Q.S. An Nur:36)

Wassalam

No comments:

Post a comment