Sunday, 26 April 2020

DS057- Dan makhluk suci itu minta maaf



Tulisan ini pernah saya posting di beberapa media sosial. Meski demikian saya akan me-repost tulisan ini dengan beberapa tambahan sekedar mencari relevansi dan korelasi kekinian atau sekedar alasan karena kehabisan stok bahan tulisan di lemari otak yang minim kapasitas simpan ini.

Mengapa banyak hadits yang menegaskan bahwa meski dosa hamba kepada Allah merupakan perbuatan keji mengingat kemurahan Allah kepada hamba-Nya, namun dosa hamba kepada sesama, secara tekhnis, lebih sulit dilebur. 

Nggak perlu dalil untuk membuktikan hal itu, semua sangat gamblang karena: 

Allah pengampun tapi ego kerasnya manusia minta ampun, Allah penyayang saat tinju manusia mudah melayang, Allah penyabar padahal manusia bersifat barbar.

Seharusnya manusia malu kepada malaikat yang dengan legawa menyatakan diri bersalah karena bodoh, padahal malaikat itu suci dan bertanya tentang keputusan Tuhan berdasar argumentasi logis bukanlah dosa. Meski demikian malaikat tetap memohon ampun atas 'dosa' keingintahuan itu.

Lha ini manusia, sudah banyak dosa, minim ibadah, jarang infaq, gemar yang haram, panas telinga saat dengar ayat suci dan dengan segudang keburukan itu, masih percaya diri mengaku sebagai khalifah bumi dan defender of the earth (seperti judul film superhero). '...dan apabila mereka ditegur: Jangan berbuat kerusakan di muka bumi, mereka mejawab: 'Sejatinya, kamilah yang memperbaiki'

Bahkan baru-baru ini segolongan manusia melakukan kudeta terhadap wilayah resmi Allah dan kekhalifahan-Nya itu dengan menciptakan sistem kekuasaan baru yang mengatasnamakan khilafah-Nya. 

Ops...sepertinya ini bukan yang pertama manusia melakukan kudeta terhadap titah langit atau jangan-jangan sejarah sedang mengulang dirinya. Mondar-mandir di gang lini masa yang dipenuhi kepalsuan dan kemunafikan. Berpikir tentang manusia sama saja berpikir tentang makhluk bobrok yang selalu berlindung dengan alasan khata (salah) dan nisyan (lupa)

Sekarang kita lihat malaikat sebagai wujud pembanding agar lebih terasa kerasnya hati makhluk yang bernama manusia.

Dimulai saat sabda Allah menggelegar dan memecah kesunyian yang terisi dengan samar dengung dzikir para malaikat. Pengumuman titah Tuhan yang menubuwatkan manusia yang bernama Adam untuk menjadi khalifah atas muka bumi. 

Mendengar titah kontroversial itu, hampir serempak malaikat bertanya (sekali lagi, bukan mempertanyakan) tentang kebijakan Sang Khaliq itu, Setelah menahan rasa penasaran yang cukup menyiksa, akhirnya mereka bertanya : “Apakah Engkau akan mengangkat manusia sebagai khalifah, padahal yang namanya manusia gemarnya merusak dan menumpahkan darah..?

Lontaran pertanyaan nyaris spontan itu malah mengagetkan para malaikat sendiri, mereka segera tersadar atas lompatan pertanyaan liar yang ‘cukup berani’ itu. Kesadaran itu segera menyelipkan sedikit kekhawatiran yang melahirkan sikap mawas diri.

 

Akhirnya mereka tunduk patuh meski ada sedikit penasaran terselib. Untuk sekedar membuang penasaran itu mereka bertanya lagi : “Padahal kami selama ini bertasbih, bertahmid serta menyucikan-Mu…?”.

Nampaknya malaikat khawatir jangan-jangan keputusan Allah untuk meng’khalifah’kan Adam itu disebabkan kelalaian mereka dalam pengabdian….

 

Dengan kasih-Nya, Allah menjelaskan kepada para malaikat betapa manusia memiliki beragam kelebihan dibanding para malaikat. Bahkan Allah menguji masing-masing dari kedua kelompok makhluk-Nya itu sehingga sempurnalah hujjah-Nya.

 

Jika makhluk suci sekaliber malaikat masih mawas diri sesaat setelah lintasan pikiran liarnya mempertanyakan keputusan-Nya…bagaimana dengan manusia ? Makhluk yang katanya ‘mahallul khata wan nisyaan’ alias gudang salah dan alpa..?, 

 

Sekumpulan semut itu pun membentuk gerombolan untuk merobohkan benteng ketuhanan yang dijaga oleh pasukan langit dan bumi.

 

Manusia memang zalim karena kebodohan.

1 comment: