Tuesday, 10 March 2020

DS054-UJIAN ADALAH HAKIKAT KEHIDUPAN




مَنْ عَظَّمَ صِغَارَ الْصَائِبِ ابْتَلاَهُ اللهُ بِكِبَارِهَا
Ust. Rakhmat Hidayat
(Barangsiapa yang membesar-besarkan musibah kecil maka Allah akan mendatangkan musibah yang bebar-benar besar)

Obyektifitas dan subyektifitas penderitaan.
Secara lughawi musibah berasal  dari kata kerja “ashaaba” yang berarti menimpa. Secara istilah, musibah adalah segala kondisi menyulitkan (masyaqqah) yang menimpa manusia atau mukallaf secara umum.
Sampai disini, musibah belum dapat dihukumi dengan baik dan buruk.
Karena, meski diperlukan sikap arif dan perenungan, tidak setiap kesulitan melahirkan keburukan dalam kehidupan manusia. Bahkan sebaliknya, banyak manusia yang menjadi maju dan berhasil dalam hidup setelah melalui banyak rintang dan uji. Dalam bukunya “Silsilat Ad Durus fil ‘aqidah Al Islamiyah”, Ayatullah Makarim Syiraziy mengatakan: “Salah satu hikmah dari musibah yang menimpa manusia adalah kenyataan bahwa banyak manusia tumbuh dan berkembang dalam pangkuan berbagai musykilat (kesulitan-kesulitan) yang dihadapi”. Meskipun banyak juga orang yang gagal dalam usaha menghadapi musibah yang datang kepadanya. Mereka kerap memenuhi hidup dengan keluh kesah, ratapan serta cacian kepada kehidupan, nglokro (kemalasan berjuang) atau bahkan mengingkari kenikmatan hidup yang sebelumnya pernah dan sedang ia rasakan.
Sungguh sebuah kenyataan yang mengajak kita merenung akan hakikat hidup, bahwa ketika sebagian orang yang tertimpa berbagai bencana hidup masih bisa menyunggingkan senyum di bibir mereka, sementara tidak sedikit orang yang kehilangan keceriaan hidup dan seakan kehilangan segalanya hanya karena sakit gigi. Kenyataan diatas memberikan kesimpulan lebih jelas dan gamblang kepada kita akan hakikat setiap musibah  yang mendera kita. Kesimpulan itu adalah  bahwa musibah  bersifat obyektif sedangkan duka dan gembira bersifat subyektif.

Hakikat hidup adalah ujian

            Dalam hidup ini, manusia dihadapkan kepada segudang pertanyaan hidup yang, disadari atau tidak, senantiasa membutuhkan jawaban dengan segera. Dari mana asal wujudnya, apa yang harus ia lakukan, kemana perjalanan hidup akan berakhir adalah pertanyaan-pertanyaan pokok yang selalu menuntut jawaban dengan segera. Sedemikian pentingnya memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sehingga langkah manusia menuju kebahagiaan dan hakikat keberadaannya ditentukan olehnya.
Dengan segala penampakan kehidupan duniawi yang terkadang menampakkan dirinya sebagai hiburan yang melalaikan meski tidak sedikit yang menampakkan wujud tragis mengiris. Kehidupan terasa indah dan memberikan kenikmatan tiada tara dan beberapa detik kemudian kehidupan berubah menjadi sedemikian menghimpit dan menyesakkan dada. Pantaslah jika Al Quran menyifati kehidupan sebagai permainan yang melalaikan. Disebut permainan karena yang dihidangkan dalam nampan duniawi bukanlah hakikat kehidupan  melainkan nina bobo dan ketenangan yang menipu serta ketakutan akan kehilangan kenikmatan semu dan disebut melalaikan karena sedemikian indah bentuk lahir hiasan duniawi sehingga mampu menghipnotis setiap mata lahiriyah yang tidak dituntun cahaya hati sebagaimana mampu menciptakan tangisan atas sesuatu yang terlalu remeh untuk ditangisi.
            Sesungguhnya setiap detik dari waktu yang kita lalui dalam hidup ini sepenuhnya adalah ujian Allah bagi kita. Bukankah Allah

Berfirman:
“...dan tiada Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”
Jadi tujuan dasar penciptaan manusia adalah ibadah (dengan maknanya yang luas) . Ibadah adalah melaksanakan setiap taklif (kewajiban) makhluk terhadap Sang Khaliq. Taklif sendiri mengandung arti masyaqqah (kesulitan). Jadi tujuan mendasar penciptaan manusia adalah mengalami kesulitan untuk mencapai ridha-Nya.
Karena itu, manusia tidak pernah lepas dari ujian kehidupan. Bahkan ketika kita menyangka telah lepas dari ujian, sebenarnya kita hanya berpindah dari satu ujian ke ujian dalam bentuk yang lain. Sebagai contoh, saat manusia terlepas dari belenggu kemiskinan setelah ia mendapatkan harta, sebenarnya ia sedang berpindah dari ujian kemiskinan menuju ujian kekayaan bahkan bisa kita katakan bahwa ia masuk ke dalam ujian yang lebih berat dari sebelumnya.

BAGAIMANA MENYIKAPI UJIAN KEHIDUPAN?

            Manusia selalu terombang-ambing oleh arus kehidupan yang tiada tentu arahnya. Saat mendapatkan kenikmatan ia tertawa terbahak dan saat kehilangan ia menangis meraung.
Fluktuasi spiritual yang extrim dan tiba-tiba menciptakan gangguan dalam jiwa manusia berupa ketakutan akan kehilangan sesuatu yang ia peroleh. Padahal naik-turunnya grafik kehidupan adalah konsekwensi dari sifat dunia yang memperdaya dan mempermainkan.
Untuk menjaga agar hati kita selalu stabil dan tidak dipermainkan oleh ujian kehidupan, Imam Ali as. memberikan terapi mujarab. Imam berkata:
Saat engkau merasakan kelezatan, ingatlah bahwa kelezatan itu akan segera hilang. Saat engkau mendapat kenikmatan, ingatlah bahwa itu akan berpindah (kepada orang lain) suatu saat. Ingat pula bahwa setiap badai pasti berlalu”

Terapi yang hampir sama juga pernah disampaikan oleh Imam Husein as. Dalam bait-bait syairnya:

Jika suatu hari, setiap amalan dikembalikan kepada pelakunya sebagai kesempurnaan, maka akhlak mulia adalah yang tersempurna

Jika tubuh ini tercipta hanya untuk kematian, maka mati seseorang di jalan Allah adalah yang terindah

Jika harta dunia dikumpulkan hanya untuk ditinggalkan, mengapa kita harus kikir ?

Jika rejeki adalah bagian yang telah ditentukan maka tidak rakus dalam mencari adalah yang terbaik 

Semakin dekat dengan ridha Allah, akan semakin berat ujian yang harus dijalani.

Sesungguhnya seorang mukmin bagai dua sisi timbangan yang selalu seimbang. Setiap kali keimanannya bertambah maka bala (ujian) yang dihadapi semakin berat”.

Semoga Allah menjaga kita dari ketergelinciran hati.

No comments:

Post a comment