Saturday, 15 February 2020

DS052-SIMBOLISASI ISLAMISME



Sakralisasi Palsu

Diakui atau tidak, di sekitar kita telah muncul gejala kolektif berupa penggiringan massa menuju fanatisme agama dengan mengangkat isu sensitif sehubungan dengan sentimen agama yang sangat berpotensi memecah belah masyarakat.
Agama sebagai ajaran kasih sayang, mulai diubah menjadi mesin penghancur efektif bagi kedamaian persatuan dalam bingkai kebhinekaan di nusantara ini. 
Gejala yang paling jelas adalah usaha membangun sebuah ilustrasi tentang sakralitas agama yang dirasa mampu menjadi komuditas paling menguntungkan bagi sekelompok orang demi mencapai tujuan non agamis mereka.
Sakralisasi agama adalah menjadikan setiap perkara yang tidak berhubungan dengan agama sebagai bagian agama. Perkara-perkara itu sengaja disakralkan meski belum jelas statusnya demi menciptakan ketaatan buta terhadap kesakralan palsu itu. 
Dalam Islam kita mengenalnya dengan gerakan islamisme sebagai lawan dari gerakan islami. 
Islamisme mengajarkan agar penganutnya selalu menonjolkan simbol-simbol yang diidentikan dengan nilai-nilai Islam. Diidentikkan artinya simbol-simbol itu belum tentu simbol-simbol agama. Boleh jadi simbol-simbol itu tidak mewakili Islam tapi mewakili sebuah kultur tertentu yang dalam hal ini adalah budaya Arab, jazirah dimana Islam pertama didakwahkan.
Islamisme dibangun untuk mendapatkan ketaatan mutlak masyarakat terhadap gerakan ini. 

Bukankah manusia-manusia malang yang meledakkan dirinya atas nama jihad Islam telah menjadi bukti akan hal itu?

Bahaya bagi kesucian agama dan keutuhan persatuan bangsa semakin jelas ketika gerakan ini mengklaim dirinya sebagai pemilik otoritas kebenaran Tuhan sehingga muncullah gagasan pembentukan negara agama yang sering kita dengar sebagai negara khilafah. Didukung oleh kelompok-kelompok berhaluan radikal di Indonesia, gagasan ini disebarkan secara masif, apalagi disinyalir bahwa beberapa negara kaya di Timur Tengah menjadi supporter aktif dalam skenario besar ini.

Dengan congkaknya, gerakan ini menganggap siapapun yang berseberangan dengannya adalah musuh Tuhan dan harus dibumihanguskan. Dalam kontek keseharian, gerakan ini menyatakan dirinya sebagai Ahlussunnah dalam arti kata : Selain mereka adalah ahli bid'ah. Pada hakikatnya, gerakan yang sangat kental dengan nuansa wahabisme ini tidak pernah melihat agama kecuali sebagai alat pemenuhan tendensi politis demi mengoyak persatuan kaum agama terutama kaum muslimin. Mereka yakin bahwa menghancurkan Indonesia dengan keindonesiaan kita tidak akan pernah mampu mereka lakukan, maka mereka ciptakan taktik 'self destruction' agar kaum beragama saling menghancurkan dan melancarkan usaha kaum imperialis internasional untuk berkuasa. 
Demi mencapai tujuan 'kontra agama', mereka yang  lebih tepat disebut gerombolan itu, telah berhasil memanfaatkan agama sebagai tongkat sakti yang mengalahkan akal dan mengelabui nurani. 
Mereka memanfaatkan sentimen agama karena gerakan mereka berlandaskan argumentasi sangat lemah dan penyimpangan pemaknaan teks langit. 

Gerombolan berciri radikalitas yang berkedok agama ini berusaha mengarahkan agama menuju pemenuhan tendensi syahwat kekuasaan dan gelimang duniawi. Mereka gemar mencuci otak kaum awam dan menyisir kaum kecewa di negeri dengan mayoritas penduduk yang beragama Islam ini dengan simbol, slogan dan jargon agama yang sangat kental dan bernuansa fanatis.

Konsep-konsep mereka diakui telah berhasil menyisir ranah otak-otak awam nan polos, menyajikan fantasi dengan gambaran surgawi semu yang tidak lain adalah syahwat syaitaniyah, Asy Syaithan fi jisman al insi (Syetan berujud manusia). Lihatlah beberapa waktu yang lalu telah terjadi bom bunuh diri dengan mengatasnamakan agama. Pelaku adalah manusia lugu yang berhasil dicuci otaknya dan berubah menjadi mesin jihad yang tidak pernah memiliki alasan yang jelas akan tindakannya selain mendapatkan janji akan kenikmatan surgawi karena dalam kehidupan ia merasa dikecewakan oleh keadaan.

Gerombolan ini memanfaatkan kekecewaan masyarakat terhadap keadaan yang dihadapi sebagian orang meski sudah jelas bahwa semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan agama apalagi mendirikan negara agama. Kelompok ini selalu menghembuskan kebencian di hati pengikutnya terhadap rival-rivalnya.

Secara pribadi, saya khawatir jika nusantara ini hendak dijadikan sebagai negara Islam dengan segala kemajemukan masyarakat Islam Indonesia dan budayanya. Bayangkan jika suatu saat ada pemilihan presiden, misalnya, maka wacana yang akan muncul adalah pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermutu semisal: "Dari mazhab apakah presiden kita..?", "Apakah president kita NU atau Muhammadiyah...?". 

Dalam sebuah channel YouTube seorang viewer mempertanyakan video ceramah seorang ustadz: "Mengapa pak kyainya kok nggak pakai kopiah?, ini NU apa bukan ya? , Waduh...!

Mengulas Simbolisasi Islamisme

Gerakan Islamisme selalu berusaha menjadikan simbol-simbol keislaman sebagai penanda bagi ketaatan mereka terhadap syariat Islam. Tentunya saja yang dimaksud adalah syariat Islam menurut kaca mata islamisme dan sakralisasi budaya Arab. Berikut beberapa simbol yang mulai banyak kita saksikan akhir-akhir ini:

1. Kalimat Thayyibah

Kalimat Thayyibah, adalah zikir-zikir suci dimana didalamnya disebut keagungan Allah baik sebagai wujud syukur atas nikmat atau permohonan perlindungan dari bala dan mara bahaya.
Artinya, tidak ada yang salah dengan hal ini bahkan men-dawam-kan lisan dengan sebutan kalimat thayyibah sangat dianjurkan. 
Yang jadi masalah adalah ketika lafadz-lafadz suci itu menjadi pembenaran atas tindakan takfir (men-kafir-kan) atas pihak lain yang dianggap berseberangan. Dalam benak saya, dulu kalau mendengar takbir dikumandangkan, terasa benar keagungan Allah dalam salah satu kalimah thayyibah tersebut. Tapi sekarang kalimat itu berubah menjadi menyeramkan setelah sering diteriakkan oleh kelompok-kelompok intoleran dan radikal saat melakukan penggusuran tempat karaoke atau penggrebekan tempat-tempat ibadah agama lain yang dianggap kafir dan halal darah mereka.
Dengan kata lain, mereka berhasil merubah kalimat thayyibah menjadi simbol teror yang menakutkan karena anarkisme telah disakralkan. 
Menariknya, kalimat Thayyibah itu diucapkan dalam bahasa Arab dengan kefasihan tingkat dewa, meski terkesan berlebihan, sehingga membuai otak-otak awam dan jiwa-jiwa kecewa yang menganggapnya sakral dan merupakan simbol keberpihakan kepada agama Tuhan yang selama ini 'teraniaya'. 
Lebih ironis ketika kalimat-kalimat suci yang mereka serukan adalah suara tanpa makna karena sebagian mereka memang tidak memahami maknanya. Al Quran menyebutkan suara-suara itu sebatas koakan burung gagak yang tidak terdengar selain suara-suara tanpa makna.
Mereka juga gemar menggunakan istilah-istilah Arab dalam pergaulan sehari-hari seperti kata antum sebagai pengganti kata anda, kata ana sebagai pengganti kata saya dan seterusnya. 

Saat jadi ingat sebuah pengalaman yang saya alami sendiri. Saat pertama kali datang di sebuah negara Timur Tengah, saya mendengar siaran radio Montecarlo yang berbahasa Arab. Saya mendengar dengan manggut-manggut dan terkesima dengan kalimat thayyibah dalam bahasa Arab fasih yang diucapkan penyiar. Belakangan saya baru tahu bahwa acara tersebut adalah mimbar agama kristiani dalam bahasa Arab. Mungkin kalau di Indonesia mudah dibedakan  antara kalimah thayyibah yang identik dengan Islam dan pujian-pujian umat Kristiani. Tapi lain halnya jika terjadi pada masyarakat berbahasa Arab. Orang Kristen Indonesia bersyukur dengan mengucap: Puji Tuhan, Terpujilah nama-Nya dan sebagainya, tapi orang Kristen di Arab mengucap: Alhamdulillah dengan lafadz yang tentunya lebih fasih dari muslim di Indonesia sekalipun.

Mereka merasa telah menegakkan nilai islami padahal mereka terjebak dalam lubang Arab Centris. Beda jauh antara Arabi dan Islami.   

2. Pakaian Syar'i

Cara berpakaian juga harus disesuaikan dengan pemikiran mereka. Bukan rahasia lagi bahwa mereka menganggap cara berpakaian masyarakat yang berangkat dari kultur/budaya lokal sebagai pakaian tidak syar'i bahkan sebagian cara berbusana sebagai bentuk tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang-orang kafir) atau apapun istilahnya. Hal ini mencakup pemilihan warna dan corak kainnya.
Selanjutnya, mereka mengadopsi cara berbusana syar'i dari kultur Arab dimana Rasulullah saw. hidup dan menyampaikan risalah langit. Mereka beranggapan bahwa dengan berpakaian ala 101 malam mereka telah melaksanakan tuntunan dan terhindar dari bid'ah dalam berbusana. Kita bisa saksikan bagaimana mereka memakai sorban, jubah atau jilbab bercadar bagi kaum perempuan. Kita tidak bermasalah dengan cara berpakaian orang lain, karena itu semua adalah hak individual selama tidak mengusik privasi orang lain. Namun menjadi masalah ketika mereka menganggap budaya berpakaian di nusantara ini sebagai budaya jahiliyah dan harus diislamkan atau dengan kata lain diberi hidayah. 

Benarkah pakaian lokal tidak islami?

Mari kita belajar tentang kearifan lokal yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
Ajaran Islam yang diturunkan bagi manusia membawa 2 misi penting yaitu ilahiyah (ketuhanan) dan insaniyah (kemanusiaan).
Ilahiyah diwujudkan dengan menjalin hablun minallah (hubungan hamba dengan Tuhannya) sedang insaniyah diwujudkan dalam bentuk hablun minannas (hubungan manusia dengan sesama).
Islam tidak mengusung misi pemberantasan nilai-nila lokal bahkan Islam menganggap keanekaragaman budaya adalah sunnatullah yang harus disyukuri. Islam datang sebagai kasih sayang bagi seluruh isi alam.
Toleransi dalam perbedaan merupakan hal yang dijunjung tinggi dalam Islam. Bahkan ayat masyhur yang sering kita dengar: lakum diinukum wa liya diin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) adalah ayat yang kental nuansa toleransi dengan saling menjaga wilayah privasi masing-masing.
Bukankah Nabi saw. bersabda bahwa ikhtilaf (perbedaan) umat ini merupakan bentuk kasih sayang Allah hingga salah seorang ulama Tunisia, Syeikh Tijani Samawi pernah mengatakan: "Jika perbedaan mereka adalah rahmat (kasih sayang) maka memaksa untuk menjadi satu pastilah akan melahirkan niqmat (bencana)".

Sekarang kita bahas pakaian yang dianggap sebagai pakaian syar'i seperti serban, jubah dan berbagai atribut yang secara eksklusif diklaim sebagai cara berpakaian ala Rasulullah saw.

Perlu diketahui bahwa sebelum Rasulullah lahir, masyarakat Arab telah mengenakan pakaian sebagaimana yang dipakai Rasulullah kelak di kemudian hari. Dengan kata lain, Rasulullah mengenakan pakaian masyarakat Arab karena beliau menjunjung tinggi kearifan lokal sehingga beliau mengenakan pakaian yang selama ini menjadi budaya berpakaian kaumnya. Jadi pakaian yang diklaim sebagai pakaian syar'i sejatinya sama dengan yang dipakai masyarakat Arab pada umumnya, bahkan pada jaman jahiliyah sebelum kelahiran Nabi. Sama dengan pakaian yang dipakai oleh Abu Lahab dan Abu Jahal atau masyarakat Arab yang lain.

Mungkin akan lain cerita jika Rasulullah saw. lahir di tanah Jawa atau bumi Pasundan...

3. Amar ma'ruf nahi munkar
Saya kira semua sepakat bahwa salah satu sifat umat Muhammad saw. adalah melakukan amar ma'ruf nahi munkar, yaitu mengajak menuju kebaikan dan melawan kemungkaran. Hanya saja berbicara tentang hal ini membutuhkan pendahuluan pemahaman tentang  makna ma'ruf dan makna munkar itu sendiri serta cara  mengidentifikasinya.
Syeikh Ridha Mudhaffar dalam kitab Mantiq Al Mudhaffar mengatakan bahwa sebelum menyelesaikan sebuah permasalahan maka seseorang harus melakukan 2 tindakan pendahuluan penting:

1. Menghadapi Permasalahan. Banyak masalah yang tak terselesaikan karena kita enggan untuk menghadapinya. Kita lebih memilih lari dari masalah hingga hari demi hari menjadikan masalah semakin runyam. Lebih para lagi, disaat masalah menjadi parah maka seringkali kita mengambil langkah spekulatif yang mempertaruhkan hal-hal yang berharga dalam hidup kita.

2. Identifikasi jenis masalah. Bertujuan agar mencapai akurasi tinggi dan efektifitas maksimal. Dengan identifikasi jenis masalah kita bisa langsung menuju pokok permasalahan tanpa harus berbelit-belit. Apalagi jika kumpulan informasi di otak kita sudah terklasifikasi dengan baik.

Demikian halnya dengan masalah amar ma'ruf nahi munkar ini, dimana banyak kelompok yang enggan untuk menelaah akar permasalahan sehingga mudah terprovokasi propaganda menyesatkan. Emosi menjadi celah pengaruh propaganda karena kita tidak berpijak pada pemahaman akan masalah yang sesungguhnya terjadi. 


Pada dasarnya, tetap berkembangnya konsep dan pandangan agama yang menjurus kepada intoleransi meski bertentangan dengan akal sehat dapat terjadi pada 3 kelompok manusia :


1. Kelompok terjangkit was-was dalam agama. Pada awalnya mereka memiliki itikkad baik untuk menjaga agama dan syariat Allah serta berusaha melaksanakannya dengan cara terbaik. Kesakralan agama, bagi mereka, tidak boleh dipertanyakan, bahkan oleh logika sekalipun. Apa yang disebutkan teks agama adalah tuntunan yang tidak boleh menerima tafsir apalagi takwil. Mempertanyakannya adalah keingkaran dan setiap keingkaran melahirkan dosa besar.

Segala bentuk argumentasi logis tidak akan berguna dalam menyadarkan kelompok ini karena mereka dikuasai oleh 'ketajutan' akan buruknya hasil ibadah meski tidak ada alasan untuk meragukan keabsahannya sesuai tuntunan dalam kitab fikih.
Penyakit ini tidak ada obatnya. Satu-satunya cara untuk membasminya adalah tidak memperdulikannya. Dengan kata lain saat seseorang ragu apakah ibadahnya sah atau tidak, maka dalam kondisi was-was harus dianggap sah. Jika tidak maka was-was ini akan menggerogoti manusia dan tidak menyisakan dalam dirinya selain kegilaan dan tekanan batin. 
Kelompok ini mudah sekali dimasuki faham-faham agama yang bersifat doktrin terutama yang berhubungan dengan obsesi surga dan neraka. Doktrin-doktrin intoleran selalu bernuansa hitam putih, surga dan neraka. Dalam kondisi ini was-was akan masuknya seseorang ke neraka dan kehilangan nikmat surgawi merupakan kondisi yang mendominasi. Mereka dengan keras akan meneriakkan jargon-jargon agama seakan-akan wujud mereka telah mewakili firman Allah. Mereka siap mati untuk sesuatu yang mereka anggap sakral yang tidak lain adalah was-was akan masa depan semu hasil doktrin buta.

2. Kelompok yang memanfaatkan orang-orang yang tertimpa was-was.

Sekelompok orang melihat kesempatan untuk mendapatkan keinginan mereka dengan memanfaatkan orang-orang yang terjangkit was-was. Mereka, misalnya, dengan sengaja memasukkan doktrin-doktrin yang melahirkan obsesi terhadap surga dan neraka pada jiwa-jiwa yang was-was.
Kelompok ini mengajak orang untuk mengikuti pola pikir mereka tanpa telaah dan membabibuta. 
3. Kelompok orang yang tidak peduli dan malas berfikir sehingga kemalasan mendorongnya untuk menyerahkan setiap result usahanya kepada Allah saja. Lebih tepatnya jika kita sebut mereka sebagai kelompok yang berusaha menghinda dari tanggung jawab atas setiap perbuatannya.



No comments:

Post a comment