Thursday, 11 October 2018

SAKINAH002-JANGAN NODAI KEKHALIFAHANKU


Dalam sebuah rumah sederhana hiduplah sepasang suami isteri dengan dua orang anak. Mereka hidup sebagai keluarga muslim yang bahagia mengingat, dalam kesederhanaan itu, mereka masih setia berpegang pada nilai-nilai syariat dan menjaga norma-norma agama Islam.

Sang suami menjalankan kewajiban kekhalifahan keluarga dengan sangat baik dan bertanggungjawab. Semua kebutuhan keluarga berusaha ia cukupi meski tetap dalam kesederhanaan.

Saturday, 6 October 2018

SAKINAH001-BERHATI-HATILAH MEMBUAT KOMITMEN

Sepasang calon pengantin telah mantab untuk mengucapkan ijab dan qabul. Keduanya telah saling menyayangi dan mencintai dan berjanji akan hidup bersama hingga maut memisahkan keduanya. Prosesi pernikahan berlangsung dengan lancar dan tiada halangan yang mengganggu.

Bulan pertama benar-benar menjadi bulan penuh madu dan mekar bunga seakan tiada kebahagiaan yang setara dengan kebahagiaan keduanya.

Saturday, 15 September 2018

DS051-ANCAMAN KEMATIAN, INTIMIDASI PENGUASA ZALIM

MAJLIS MALAM 3 MUHARRAM 1440 H/2018 M

من خطبة للإمام الحسين عليه السلام:
"خُطَّ الموت على وليد آدم مخط القلادة على جيد الفتاة، وخُيّر لي مصرع أنا لاقيه.....

Diantara penggalan khutbah Imam Husain:
"Dekatnya kematian bagi manusia seperti dekatnya sebuah kalung dengan leher seorang gadis. Telah dipilihkan untukku pertempuran yang harus kuhadapi...

Tuesday, 24 July 2018

DS050-TAWASSUL ANTARA IFRATH DAN TAFRITH (BAG. 2)

Sejatinya, konsep tawassul ini adalah konsep logis dan sangat akrab dengan konsep keberagamaan kita. Jika kita bersedia menilik ayat-ayat Al-Qur’an, kita akan temukan bahwa Allah telah menetapkan mekanisme pengabulan permohonan yang sa;ah satunya adalah wasilah (perantara) yang telah ditetapkan. Perhatikan saat Allah berfirman: Qul, in kuntum tuhibbuunallaha fattabi’uuni yuhbibkumullahu, Ya Muhammad katakanlah kepada mereka. Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku. Maka Allah akan mencintai kamu.

Wednesday, 20 June 2018

DS049-TAWASSUL ANTARA IFRATH DAN TAFRITH (BAG. 1)



Makna tawassul
Tawassul berakar kata wasilah atau perantara sehingga tawassul secara lughawi (bahasa) adalah mengusahakan perantara dalam menuju sebuah tujuan utama. 

Menurut istilah ilmu kalam, tawassul adalah usaha seorang hamba untuk 'mendekati' Allah melalui wasilah (perantara) yang ditetapkan oleh Allah sebagai penjambatan penghubung antara dua dzat yang mustahil dibandingkan.



Sunday, 27 May 2018

DS048-PENGHORMATAN BULAN RAMADHAN


Dapat dipahami dari beberapa riwayat dan hadis bahwa Nabi dan para Imam as biasa mengumumkan kesiagaan universal dan bersiap-siap di akhir bulan Sya’ban untuk menyambut bulan Ramadhan. Khususnya pada akhir Jumat di bulan Sya’ban, mereka bersiap diri menjadi tamu Allah, supaya manusia mengetahui kenikmatan mana yang akan diterima oleh mereka. Sungguh, begitu mulia dan agungnya bulan ini sehingga kita tidak diperkenankan menyebut ‘Ramadhan’ tanpa kata “bulan.”

Saturday, 26 May 2018

DS047-KHADIJAH MENGHADAP ALLAH DENGAN DUA LEMBAR KAFAN

Semua kaum muslimin sepakat bahwa keberadaan Ummulmukminin Khadijah ra. memberikan pengaruh yang besar bagi keberhasilan dan kesinambungan dakwah Rasulullah saw. dalam menyerukan suara Islam di kalangan masyarakat Jahiliyah melakukan banyak intimidasi dan embargo di segala aspek kehidupan beliau. 
Selain Abu Thalib, sang paman, Nabi Muhammad selalu mendapatkan dukungan spirit dan materiel dari sosol wanita tangguh ini, sehingga kepergian Khadijah merupakan salah satu dari ahzan (peristiwa-peristiwa yang menyedihkan) dalam kehidupan Rasulullah saw.

Thursday, 17 May 2018

DS046-PASCA GAGALNYA TAUBAT (BAG.2-SELESAI)

Kesadaran akan kekurangannya, pada gilirannya, akan melahirkan kesadaran bahwa ia harus memperpendek jarak dengan Allah, mengingat selama ini ia tidak merasakan keagungan-Nya dikarenakan ia menciptakan jarak dari-Nya. Pada saat yang sama, ia meyakini bahwa kekurangan menjadikannya merasa tidak mampu mencapai kedekatan itu dengan usahanya sendiri.

Tuesday, 15 May 2018

DS045-PASCA GAGALNYA TAUBAT (BAG.1) :

Taubat, makrifat manusia akan dirinya

Kita diajarkan untuk memulai setiap pekerjaan kita dengan menyebut nama Allah yang berdimensi jamalaiyah yaitu rahman dan Rahim yang sekaligus merupakan ta’awudz (perlindungan) dari murka dan azabnya. Dalam kalimat itu kita berharap agar Allah memperlakukan kita (dalam segala keadaan) dengan dimensi kasih sayang yang melampaui dimensi keadilan. Dalam doa Jausyan Kabir (sebagai doa yang berisikan seruan-seruan dengan nama-nama mulia-Nya), misalnya, banyak kita temukan ajaran seruan yang menguatkan hakikat ini, seperti ya man laa yukhafu illa ‘adluh ! (wahai yang tidak ditakuti kecuali keadilan-Nya), ya man sabaqat rahmatuhu ghadhabah ! (wahai yang kasih-Nya selalu mendahului murka-Nya), ya man laa yurja illa fadhluh ! (wahai yang tidak diharapkan kecuali kemurahan-Nya) dan sebagainya. Tentunya asma-Nya yang lain yang berdimensi jalaliyah seperti ya qawiy, ya mutakabbir, ya jalil dan sebagainya.

DS044-TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA DAN JIN


Firman Allah Swt:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. [QS adz-Dzâriyât(51):56]
Perlu diketahui, bahwa ibadah kepada Allah tidak hanya diwujudkan dalam bentuk shalat dan puasa saja. Akan tetapi, ibadah yang mencakup seluruh aktifitas yang disukai dan diridhai Allah yang berhubungan dengan diri manusia dan kehidupan di sekitarnya serta segala yang berkaitan dengan semua risalah yang dikehendaki Allah bagi kehidupan manusia. Inilah yang dinamakan ibadah kepada Allah Swt. Hal itu sesuai dengan tujuan penciptaan manusia dan jin.

Thursday, 10 May 2018

DS043-SAYYID HASAN MUSAWA : KETAQWAAN ANGGOTA TUBUH




۱) وَعَلَى جَوَارِحَ سَعَتْ إِلَى أَوْطَانِ تَعَبُّدِكَ طَائِعَةً

Anggota-anggota tubuh telah biasa merunduk untuk mengabdi-Mu

۲) وَجَعَلْتَهُمْ شُهُوْدًا عَلَيَّ مَعَ جَوَارِحِيْ
Engkau menjadikan mereka saksi-saksi bersama seluruh anggota tubuhku

Thursday, 19 April 2018

DS042-IMAM HUSAIN SAKSI SEJARAH KELAM AHLUL BAIT


Saat itu, hari Selasa tanggal 3 bulan Sya’ban, Rasulullah saw. menerima sebuah anugerah yang sangat membahagiakan hatinya yaitu kelahiran seorang cucu dar puteri tercinta, Fatimah Az Zahra as. Dinamakannya anak itu Husein. Namun kegembiraan Rasulullah tidak berlangsung lama karena sesaat stelah itu, Jibril datang memberitahukan tentang satu perkara besar yang akan menimpa cucu tercintanya itu.
Ketika Husein baru dilahirkan, seperti layaknya orang tua, Rasulullah membacakan adzan pada telinga kanannya dan beliau tersenyum bahagia, akan tetapi saat membacakan iqamat pada telinga kirinya beliau menangis. Para sahabat dan keluarga bertanya : “Apakah yang meyebabkan anda sebentar tersenyum dan sebentar menangis ?”, Rasul menjawab : “Aku tersenyum karena anakku ini akan menjadi seorang pemimpin dan aku menangis karena ia akan mati secara mengenaskan di tangan umatku sendiri”.

DS041-ISTIKHARAH, ANTARA KEPASRAHAN DAN KEMALASAN


Allah berfirman: “Tidak pantas bagi setiap mukmin laki-laki maupun perempuan jika Allah dan Rasul-Nya telah menentukan urusan mereka, mereka lebih memilih (putusan) selainnya” (Q.S. Al Ahzab: 36)

Manusia dan kebimbangan
            Manusia adalah makhluk yang diberikan kelebihan oleh Allah dalam bentuk kemampuan untuk mengambil keputusan secara inovatif dalam menanggapi beberapa opsi dalam kehidupannya. Dengan kelebihan tersebut manusia berusaha untuk memilih salah satu atau sebagian dari berbagai pilihan sikap yang terbaik menurutnya dalam menyelesaikan beragam masalah.

Wednesday, 4 April 2018

DS040-DUDUK DI SURGA BERSAMA RASULULLAH


Masih ingatkah kita dengan hadits yang menyatakan bahwa Al Quran dan Ahlul Bait as. tidak akan terpisah hingga keduanya bertemu Rasulullah di telaga surgawinya?. Untuk mengingatkan kembali, saya akan kutipkan hadits yang menyatakan hal itu:

 المعجم الكبير: حدثنا محمد بن عبد الله الحضرمي حدثنا عبد الرحمن بن صالح ثنا صالح بن أبي الأسود عن الأعمش .. فَإِنيِّ تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ كِتَابَ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُوْدٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي وَإِنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتىَّ يَرِدَا عَلَيَّ الحْوْضَ فَانْظُرُوْا كَيْفَ تَخْلُفُوْنِي فِيْهِمَا

Dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir, telah diriwayatkan: “Telah disampaikan kepada kami oleh Muhammad bin Abdullah Al Hadhrami, dari Abdurrahman bin Shalih yang mengulang berita dari Shalih bin Abi Al Aswad, dari A’masy, dimana Rasul bersabda:

Maka aku tinggalkan diantara kalian dua pusaka yang agung, yaitu kitab Allah yang menghubungkan langit dan bumi dan keluaraga (ithrah) Ahlul Baitku. Sesungguhnya keduanya tidak akan terpisah hingga keduanya menemuiku di telagaku (surga). Maka perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya sepeninggalku!”.

Hadits diatas memberikan ilustrasi akan beberapa hal:

1.      Rasulullah telah meninggalkan wasiat agungnya yaitu Al Quran dan Ahlul Bait. Hadits ini sekaligus menepis anggapan bahwa Rasulullah meninggalkan dunia ini tanpa meninggalkan wasiat. Sebagai seorang nabi yang sangat memperhatikan nasib umatnya, bahkan pada saat sakratul mautnya, tidak mungkin beliau melalaikan masalah ini.
2.      Al Quran dan Ahlul Bait akan selalu bersama bahkan menjadi kesatuan yang tak terpisahkan hingga hari kiamat. Artinya, dimana ada Al Quran pasti di situ Ahlul Bait as. mengawalnya. Jika Al Quran adalah kitab yang akan selalu ada pada setiap jaman hingga hari kiamat, maka keberadaan salah seorang imam Ahlul Bait as. menjadi sebuah keniscayaan logis. Barangkali anda masih ingat bagaimana saat Rasul ditanya tentang siapa yang akan disinggahi malaikat pada malam-malam Qadar sepeninggal beliau?, dan beliau menjawab: “Akan turun pada imam bagi setiap jamannya”.

3.  Kita harus bahwa kita juga harus menyadari bahwa kita, sebagai umat Muhammad, akan dimintai pertanggungjawaban atas perlakukan kita kepada keduanya selama hidup di dunia. Apakah kita termasuk umat yang menjaga keduanya atau malah menelantarkan keduanya demi dunia. Jika kita meminjam istilah Al Quran dalam surat Al Fatihah, sehubungan dengan perlakukan terhadap Ahlul Bait as., manusia dibagi tiga:

a.       Yang mendapat nikmat (an’amta ‘alaihim), yaitu yang berhasil mereguk air hidayah dari cawan suci kedua pusaka itu dan mengangkatnya menuju derajat yang tinggi di sisi Allah raadhiyatan mardhiyyah (yang ridha dan diridhai)’
b.      Yang menentang dan memerangi (al maghdhuubi ‘alaihim), yaitu yang dimurkai Allah akibat usaha mereka untuk menentang dan memerangi kedua pusaka itu setelah jelas keterangan yang datang kepada mereka. Semua itu menyebabkan murka Allah karena dilakukan dengan dorongan nafsu duniawi dan sifat tak terpuji.
c.       Yang tersesat dan tidak mengenal (adh dhaallin), yaitu orang-orang yang tidak mengenal kedua pusaka ini sehingga mereka tersesat dari jalan yang seharusnya mereka tempuh.
    
Termasuk umat manakah kita?, semua terpulang pada perenungan masing-masing selama bersedia bersikap ikhlas dan insyaf untuk menerima kebenaran, darimanapun berasal.

4.      Pada hari akhir nanti setiap umat akan dikumpulkan bersama orang-orang yang mereka cintai sebagai penentu apakah kita mencintai orang yang salah atau bahtera cinta kita merapat di dermaga hakiki yang seharusnya. Riwayat tersebut juga menjadi isyarat bahwa keselamatan di akhirat ditentukan oleh kembali dan diakuinya kita sebagai umat pemimpin kita di akhirat nanti, dalam hal ini adalah Rasulullah saw. Karenanya kita sering mendengar hadits yang menyatakan bahwa bahwa barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mengenal imam jamannya maka ia mati layaknya kaum jahiliyah. Karena kita harus tahu, kepada siapa di akhirat nanti kita akan berkumpul dan bersama siapa kita akan disatukan.
Kita semua ingin dikumpulkan dengan Imam tertinggi kita yaitu Rasulullah saw. karena di sisi beliau juga Al Quran dan Ahlul Bait as. sebagai dua pusaka agung akan berkumpul dan bersatu.
Tapi, siapakah orang-orang yang akan mendapatkan kesempatan berkumpul dengan Rasulullah dan duduk bersebelahan dengan beliau di akhirat nanti?, apakah kita layak mendapatkan kehormatan itu?, apa yang harus kita lakukan untuk meraih kedudukan agung itu?
Untuk mengetahuinya, saya ajak anda untuk memperhatikan hadits berikut:

عن رسول الله:
اِنَّ أَحَبَّكُمْ اِلَيَّ وأَقْرَبَكُمْ مِنِّي يْوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْلِسًا اَحْسَنُكُمْ خُلُقًا وَ اَشَدُّكُمْ تَوَاضُعُا

Sesungguhnya orang yang paling kucintai diantara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling rendah hatinya diantara kalian

Sesungguhnya Rasululullah ingin menyampaikan kepada kaum mukminin tentang hubungan mereka dengan beliau berdasarkan amal dan sifat yang dimiliki.

Setiap mukmin pasti ingin dan selalu berusaha dicintai Rasulullah karena cinta Rasulullah bukanlah cinta berdasar hawa nafsu atau tendensi pribadi sebagaimana yang kita lakukan saat kita mencintai orang lain berdasar tendensi dan hawa nafsu

Rasulullah mencintai manusia karena mereka berpegang kepada apa yang dicintai Allah.
Hadits ini menekankan bahwa orang yang mendapat curahan cinta tertingginya melebih cinta kepada selain mereka dan orang-orang yang akan didekatkan oleh Allah kepada Rasulullah di surga. Mereka adalah orang2 yang mendapatkan sifat ini:
1.      Yang paling baik akhlaknya, baik kepada manusia lain, keluarga, kerabat dan semua yang berinteraksi dengannya dan segenap lapisan masyarakat
2.      Yang paling rendah hati di hadapan orang lain dalam segala bentuk interaksi dengan tidak merasa tinggi dan memandang orang lain dengan pandangan merendahkan.
Siapa yang tidak menginginkan berdampingan dengan Rasulullah di surga?

Rasulullah juga bersabda:
Yang paling sempurna imannya diantara orang-orang beriman adalah yang paling baik akhlaknya

Riwayat tersebut menerangkan betapa iman seseorang tidak sempurna jika belum terwujud dalam akhlak yang mulia. Dengan kata lain, orang yang memiliki kelebihan dari orang lain dari segi akhlak berarti ia juga memiliki kelebihan dari segi imannya.

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda:

Orang paling mirip denganku diantara kalian adalah yang akhlaknya paling baik
Beliau juga berkata kepada Ali bin Abi Thalib:

“Maukah kuberitahu tentang orang yang mirip denganku ?”, “Tentu wahai Rasulullah”, jawab Ali as. Rasul berkata: “Dialah yang paling baik akhlaknya dan paling lapang dadanya”.

Walhasil, akhlak terbaik adalah bekal terbaik agar kita diterima di samping Rasulullah dan duduk dekat dengan beliau di tepian telaga surgawinya.
Semoga kita bisa mewujudkan impian kita untuk mereguk air kenabian dari cawan yang disodorkan Rasulullah dengan tangan beliau hingga sirna segala duka dan nestapa.
Kita harus segera mulai membenahi diri untuk menjadikan diri kita layak menerima kehormatan itu.





Friday, 23 March 2018

DS039-SIAPAKAH YANG DISEBUT UMAT MUHAMMAD SAW.?


Sebagimana kita ketahui bahwa Nabi Muhammad saw. diutus sebagai rahmat (kasih sayang) bagi segenap alam semesta. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang siapa yang disebut umat Nabi Muhammad, apakah seluruh penduduk alam semesta ini baik kafir maupun yang berserah diri sebagaimana dhahir ayat diatas?, apakah ada klasifikasi dan filter bagi satu umat untuk dianggap umat Nabi akhir jaman itu?

Sejatinya Allah telah mengutus Nabi Muhammad sebagai penyeru kepada-Nya bagi segenap semesta. Hal ini menjadikan semua penduduk semesta adalah umat Muhammad saw. tidak memandang bangsa, suku, agama dan keimanannya. Inilah yang disebut umat Muhammad secara takwini (merupakan ketentuan dan bukan pilihan). Dengan pengertian ini maka Abu Lahab, Abu Jahal, bahkan seluruh musuh Allah adalah umat Muhammad. Tidak ubahnya seperti hubungan anak dan bapaknya yang merupakan ketentuan takwini dimana seorang anak tidak punya alternatif untuk memilih bapak yang ia kehendaki. Karenanya, hukum takwini tidak bisa dijadikan tolok ukur kemuliaan seseorang karena tidak dicapai dengan perjuangan.

Barangkali kita masih ingat bagaimana Adam dan Hawa diciptakan dan tinggal di tempat bernama Al Jannah yang kemudian kita terjemahkan dengan kata surga?, bukankah karakter surga disitu tidak sama dengan surga yang menjadi balasan bagi hamba-hamba yang shalih?, surga yang pertama bagaikan tempat transit Adam dalam perjalanannya menjadi khalifah bumi. Karena surga pertama itu bersifat takwini yang diperoleh tanpa ikhtiar sedang surga setelah kiamat adalah hasil perjuangan dan mujahadah.
Demikian juga dengan nisbah takwini kepada Nabi Muhammad tidak akan memuliakan seseorang kecuali jika ia mampu membuktikan sebagai cerminan akhlak dan perilaku beliau. Setelah Allah menunjukkan sunnah-Nya yaitu dijadikannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, hal inilah yang ditekankan Allah dengan firman-Nya: Inna akramakum ‘indallahi atqaakum (sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa).

Lebih dari itu, selain klaim takwini sebagai umat Muhammad tidak menjadi bukti kemuliaan, sebaliknya, itu seharusnya menciptakan kesadaran akan tanggung jawab besar dipundak umat bersangkutan. Bukankah klaim kemuliaan berdasar hukum takwini juga pernah dilakukan oleh oleh Iblis saat ia mengatakan: “Aku lebih baik dari dia (Adam) karena Kau ciptakan aku dari api sedang Kau ciptakan dia dari tanah!”. Hukum takwini tidak menjadikan api lebih mulia dari tanah.

Maka umat Muhammad adalah umat yang menisbahkan dirinya kepada beliau secara tasyri’i (kesetiaan terhadap syariatnya) yang harus diwujudkan dengan perjuangan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.  Itulah yang menentukan kemuliaan satu umat sehingga layak disebut sebagai umat Muhammad. Dalam hal ini menjadi umat Muhammad adalah pilihan. Allah berfirman: “Sungguh telah kami bentangkan jalannya bagi manusia, terserah apakah ia akan akan bersyukur atau akan ingkar. Adanya alternatif yang melahirkan perjuangan untuk memilih yang terbaik meskipun berat dijalani merupakan tolak ukur kemuliaan seseorang atau satu umat.

Apalah artinya menjadi umat Muhammad secara takwini jika secara tasyri’i umat tersebut menentang hukum syariatnya. Hal ini mengingatkan kita akan logika Iblis yang riwayatnya sempat dinukil oleh Syeikh Jawad Mughniyah dalam kitab tafsir Al Kasyif. Dalam riwayat itu Iblis berkata kepada Nabi Muhammad saw.: “…sesungguhnya bukan aku yang harus meminta maaf kepada Allah tapi Dialah yang harus minta maaf kepadaku”, “Mengapa demikian?”, tanya Nabi. Iblis berkata: “Aku tidak mau sujud kepada Adam karena aku hanya ingin mempersembahkan sujudku hanya kepada Allah. Sejak kapan ikhlas itu adalah dosa?”, Kata Nabi: “Tidak mungkin keikhlasan dicapai dengan pengingkaran akan perintah”.
Walhasil, sejatinya umat Muhammad adalah umat yang berjuang melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi segala larangannya, bukan hanya klaim takwini seperti sebagian pendapat yang sering kita temui dalam masyarakat kita.

Setiap fa’iliyah (aksi)selalu berhubungan dengan qabiliyah (reaksi penerima aksi). Sebagai contoh, api memiliki aksi untuk membakar segala sesuatu yang bersentuhan dengannya namun terbakarnya sesuatu juga dipengaruhi oleh benda yang terkena api. Proses terbakarnya secarik kertas akan terjadi ketika ada api dan kertas dalam keadaan kering. Jika kertas tersebut kita basahi secara sempurna maka api tidak akan membakarnya.
Artinya rahmat universal yang datang bersama Nabi Muhammad memang diperuntukkan bagi seluruh semesta, namun kasih sayang ilahi itu hanya akan dinikmati umat yang membuka hati untuk menerimanya dengan ikhlas dan taslim (berserah diri) serta menjadikan Nabi sebagai panutan dan panduan hidup dalam mencapai kesempurnaan penghambaan.

Saya akan akhiri pembicaraan kita dengan sebuah riwayat yang juga dinukil dalm tafsir Kasyif dimana Iblis berkata kepada Nabi Muhammad: “Allah berfirman: “Dan kasih sayang-Ku mencakup segala sesuatu. Pertanyaanku adalah: “Apakah aku termasuk sesuatu atau bukan? Jika aku adalah sesuatu maka aku juga layak dapat rahmat-Nya dalam bentuk pengampunan. Jika aku bukan sesuatu berarti aku tidak ada (karena selain Allah dalah sesuatu) dan yang tidak ada tidak bisa disiksa atau diberi pahala?”. Nabi menjawab “Rahmat Allah meliputi segala sesuatu yang layak mendapatkannya”.

Wednesday, 21 March 2018

DS038-TAQWA SYARIAT DAN TAQWA TARIKAT


Syeikh Anshari ra. adalah seorang marji’ besar pada jamannya. Beliau dikenal sebagai orang yang teliti dalam segala sesuatu.

Syeikh Anshari memiliki seorang saudara bernama Manshur yang hidup dalam kekurangan dan kemiskinan yang menghimpit

Syeikh Anshari  memberikan kepada saudaranya itu bantuan dengan kadar yang sama dengan bantuan yang diberikan kepada orang lain. 
Mengetahui hal itu, suatu hari, ibu beliau datang menemui beliau dan berkata: “Manshur, saudaramu, adalah orang yang sangat miskin, berikanlah kepadanya lebih banyak (dari orang lain)!”. 
Syeikh Anshari menjawab: “Wahai ibu, di akhirat nanti, saya tidak punya jawaban di hadapan Allah seandainya aku memberinya lebih dari orang lain. Jika ibu memiliki jawaban di hadapan Allah, maka ambillah kunci ini dan berikan kepadanya sesuai keinginan ibu”.

Ibu Syeikh Anshari yang juga memiliki sifat wara’ dan takut kepada Allah itu berfikir sejenak dan berkata: “Tidak, aku juga tidak memiliki jawaban jika ditanya Allah di akhirat kelak”, sambil mengembalikan kunci itu kepadanya.

Perhatikanlah bagaimana para ulama mengajarkan kepada kita bahwa akhlak Ahlul Bait as. bukan hanya teori dan kata-kata.

Itulah bukti bahwa setiap ilmu yang dicapai dengan ikhlash akan melahirkan ilmu yang lain jika ilmu tersebut diamalkan. 

Karenanya dalam Al Quran disebutkan bahwa orang beriman harus melalui dua tingkat taqwa yaitu taqwa fiqh (dengan ilmu syari’at) dan taqwa i’tiqadi (dengan ilmu tarikat). Ayat itu adalah:

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah dilakukan untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah karena Dia mengetahui apa yang kalian lakukan. (Q.S. Al Hasyr: 18)
Keterangan ayat:
(يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد(

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah dilakukan untuk hari esok

Yang dimaksud dengan hari esok adalah hari kiamat dan yang artinya, kita harus  memperhatikan amal yang telahkita lakukan, baik amalan shalih yang menyelamatkan atau amal buruk yang akan menghinakannya
(واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون) 
…dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha tahu apa yang kalian lakukan

Maksud dari taqwa pada ayat pertama adalah melaksanakan amaliyah sedangkan taqwa pada ayat kedua adalah melihat amalan dari sudut pandang keshalihan dan keikhlasan.


Hakikat ini juga dikuatkan dengan apa yang dijelaskan bahwa ilmu yang dimiliki manusia dapat dibagi dua yaitu ilmu husuli (gambaran) dan hudhuri (hakikat) , dimana ilmu hakikat merupakan ilmu yang dicapai manusia setelah melakukan pengolahan ilmu gambaran sesuatu hingga ia sampai kepada keimanan akan hakikat sesuatu. Hal itu dilakukan dengan riyadhah (latihan batin) untuk merubah format memahami menjadi proses merasakan. Sebagaiama hadits berikut ini:
مَنْ عَمِلَ بِمَا عُلِمَ عَلَّمَ اللهُ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Barangsiapa yang  beramal dengan ilmunya maka Allah akan mengajarkan apa yang tidak ia ketahui.
Maka, untuk mencapai derajat ilmu yang sesungguhnya, seorang alim harus mengamalkan ilmu tersebut sehingga menjadi bagian dari dirinya
Rasulullah bersabda: 
الْعِلْمُ وَبَال عَلَى صَاحبِهِ الاَّ مَا عُمِلَ بِهِ
"Ilmu adalah bumerang bagi pemiliknya kecuali ilmu yang diamalkan"

Bisa disimpulkan bahwa manusia harus melalui jalur syari'at (taqwa fikih) dan tarikat (taqwa spiritual) sehingga ia akan mencapai hakikat sesuatu dan bukan hanya gambaran sesuatu.

Betapa indah jika kita mengambil dan menerapkan akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah dan Ahlul Bait as. serta tidak hanya menjadikannya hiasan pikiran kita dan kekaguman semu.





Sunday, 18 March 2018

DS037-MAKNA SEBUAH KESEMPURNAAN


Suatu hari seorang murid meminta kepada gurunya agar ditunjukkan jalan menuju kesempurnaan. Sang guru memerintahkan murid tersebut untuk berjalan melewati sebuah taman di sekitar tempat itu dan memberinya perintah agar si murid memetikkan untuknya setangkai bunga yang paling indah di taman itu tapi dengan syarat si murid harus melanjutkan perjalanannya dan tidak boleh kembali ke belakang. Perintah itu segera dilaksanakan dengan penuh semangat hingga ia sampai di taman yang dimaksud. Sesampai disana, si berjalan dengan arah memotong taman itu. Sesampai di salah satu bagian taman, ia melihat setangkai bunga yang sangat indah. Tentu saja hal itu sangat membahagiakannya. Tatkala ia ingin memetiknya ia berfikir: “Bunga ini memang indah tapi jangan-jangan bunga di depan sana lebih indah lagi”. Ia pun mengurungkan niat untuk memetik bunga indah itu dan melanjutkan berjalan hingga ke tengah bagian taman. Di sana ia menemukan bunga yang indah dengan warna yang menggoda untuk dipetik. Kembali ia berniat memetik bunga indah itu, namun sekali lagi ia berfikir, jangan-jangan buka di depan lebih indah lagi. Ia melanjutkan peerjalanannya tanpa memetik setangkai bungapun dengan harapan ia akan menemukan bunga yang lebih indah dari yang ia lihat sebelumnya. Namun apa yang terjadi tidak sesuai harapan karena hingga ujung lain taman itu ia tidak menemukan bunga yang lebih indah dari bunga yang ia tinggalkan karena mengharapkan bunga-bunga lain yang lebih indah.
Dengan lesu ia kembali kepada sang guru dan memberitahukan apa yang telah ia lakukan dan tentang kegagalan yang ia alami.
Sang guru hanya bisa tersenyum dan berkata: “Ketahuilah bahwa kesempurnaan sesuatu tidak akan dicapai dengan mencarinya seperti engkau mencari bunga yang indah. Kesempurnaan sejati hanya digapai dengan memahami kekurangan. Jika kekurangan itu adalah kekurangan diri maka sempurnakanlah dengan usaha memenuhi kekurangan, dan jika kekurangan itu ada pada selainmu maka jadikanlah sebagai sarana untuk memaklumi dan memaafkan kekurangannya”.
Sejatinya, kesempurnaan akan datang kepada siapapun yang mampu melihat kekurangan dirinya dan berusaha memperbaikinya.
Kisah diatas mengingatkan kita akan sebuah peristiwa dimana seorang murid bertanya kepada Alm. Ayatullah Behjat tentang cara agar bisa bertemu dengan Rasulullah atau para Imam Ahlul Bait. Beliau menjawab: “Jangan kamu berusaha menemui mereka. Banyak-banyak berbuat amal shalih dengan ikhlas niscaya mereka yang akan mendatangi kamu!”
Sesungguhnya manusia harus melalui tiga tahap amaliyah untuk mencapai kesempurnaan diri. Tahap-tahap itu adalah:
1.      Syariat, yaitu tahap dimana seorang mukallaf melaksanakan taklif  fikih sesuai dengan fatwa faqih yang diikuti, seperti melakukan shalat, membayar zakat, menahan lapar waktu puasa dan sebagainya. Mempelajari ilmu fiqih adalah langkah yang harus ditempuh seorang hamba dalam tahap ini dengan merujuk kepada fatwa ulama yang terbukti mampu menjadi rujukan amaliyah (praktek) dalam kesehariannya. Jadi syariat berhubungan dengan praktek agama yang bersifat fisik lahiriyah.
2.      Thariqah, yaitu tahap dimana seseorang mulai mengisi (gerak) syari’atnya dengan nilai-nilai spiritual seperti keikhlasan, kekhusyukan atau nilai-nilai ruhani yang menjadi jiwa bagi setiap amalan yang kita lakukan. Dalam tahap ini seorang mukallaf berusaha untuk melakukan tadabbur (perenungan) dalam bentuk ritual penyucian diri dengan doa dan munajat serta perenungan yang menyampaikannya kepada hakikat diri yang untuk selanjutnya mengantarkannya kepada hakikat ketuhanan.
3.      Hakikat, tahap ini bukanlah tahap yang ditempuh dalam perjalanan manusia kepada Tuhan karena tahap ini sejatinya adalah hasil dari praktek syariat dan pendalaman thariqat. Hakikat bukan anak tangga menuju sesuatu karena hakikat adalah sesuatu itu sendiri. Hakikat tidak dicari karena hakikat akan datang sendiri saat kita membuka diri dengan hati yang bersih dan jiwa yang ikhlas. Pada tingkat ini manusia menjadi khalifah Allah yang melihat dengan mata-Nya, mendengar dengan telinga-Nya dan seterusnya. Bukankah sebuah riwayat dari Ibnu Abbas mengatakan: “Berhati-hatilah terhadap firasat seorang mukmin karena ia melihat dengan cahaya Allah”.
Sampai dimanakah kita melangkah hingga hari ini?. Bukan masalah bagi kita, karena yang terpenting adalah bersegera melakukan as sair ilallah (perjalanan menuju kepada Allah) dengan suluk (langkah-langkah spiritual) niscaya hakikat akan mendatangi kita dengan cara yang sangat rahasia di luar akal dan logika kita.

Saturday, 17 March 2018

DS036-SEKILAS MEDSOS



Dalam Islam, tidak ada larangan untuk aktif di media sosial, bahkan menjadi sesuatu yang dianjurkan ketika hal itu dijadikan sebagai sarana untuk saling mengenal demi memahami perbedaan (bukan menyamakan perbedaan). “…dan kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (saling mengisi)”.

Dalam hal ini, sosial media yang sering disingkat medsos ini menjadi sebuah sarana pemaparan pemikiran yang memungkinkan setiap orang mendapatkan informasi dengan cepat melalui interaksi berbasis online ini. Medsos juga bisa menjadi sarana dakwah menuju kebaikan dengan cara menebarkan nasehat kebaikan sehingga, dengan cakupan audience yang nyaris tak berbatas ini, efektifitasnya akan lebih tinggi dan menekan biaya produksi. Dengan kata lain, tidak ada yang salah dengan medsos bahkan fasilitas interakasi ini sangat potensial untuk menyumbang banyak kebaikan dan manfaat bagi penggunanya.



Sebagaimana medsos berpotensi menebar kebaikan namun ia juga berpotensi menciptakan kerusakan. Potensi destruktif  akan menguat saat banyak orang yang kehilangan kesadaran dan focus akan tujuan dasar dari interaksi sosial ini. Mereka tenggelam dalam keasyikan chatting dan bertukar komentar hingga melupakan tujuan awal dari interaksi ini, karena interaksi yang seharusnya membangun dan menciptakan sinergi ta’aruf  itu kini berubah menjadi ajang ghibah, gunjing bahkan fitnah. Apalagi mengingat keleluasaan dan privasi aktifitas di medsos menjadikan banyak orang tidak lagi merasa tabu untuk mengungkapkan aib orang atau bahkan aib diri sendiri. Maka beralihlah fungsi medsos dari fungsi informatif koordinatif menjadi distruktif dan kontra edukatif. Secara tidak disadari, ta’aruf  yang tujuannya adalah menjalin tali silaturahmi kini menjadi kontra produktif dimana media yang disebut sebagai media sosial justru menciptakan kecenderungan anti sosial dan rentan menciptakan gesekan sosial.

Meskipun menyimpan banyak manfaat, medsos bukanlah segala-galanya, bahkan banyak hal yang harus kita korbankan dengan menggunakan fasilitas ini. Kecenderungan untuk malas bertemu secara langsung dengan lawan bicara menambah buruk keadaam sosial. Orang sudah enggan menyambangi saudaranya karena ia melihat sarana lebih praktis untuk menyampaikan maksud. Islam mengajarkan betapa menebar senyum merupakan ibadah, menatap wajah saudara muslim juga ibadah, mengucapkan salam sambil berjabat tangan pun ibadah. Semua itu tidak kita dapati dalam interaksi di media sosial. Belum lagi jika kita perhatikan, obrolan di sosmed rentan menciptakan miskomunikasi karena tidak mengikutkan sisi emosional yang bisa dirasakan oleh kedua pihak karena, selain mimik yang tak terbaca, tidak adanya intonasi yang bisa ditangkap sangat berpengaruh dalam menciptakan salah paham dalam menilai sebuah maksud. Ketahuilah bahwa manusia saling memahami tidak hanya dengan kata-kata tertulis tapi dengan gesture dan mimik yang muncul saat sebuah kata diucapkan. Emoticon tidak banyak membantu dalam hal ini.
Lebih parah lagi, kita akan rela menulis pesan dengan jari kita selama berjam-jam untuk sekedar membicarakan pihak ketiga sehubungan dengan masalah yang sebenarnya tidak penting bahkan tidak baik untuk diucapkan. Namun kita malas untuk menulis pesan salam duka ketika ada berita duka dari saudara dan teman kita. Kita akan mengirimkan image/gambar yang bertuliskan ungkapan duka yang mana gambar itu merupakan stok yang kita persiapkan setiap kali ada berita duka. Artinya, bahkan kita berubah menjadi orang yang malas mendoakan orang lain.
Dalam hal informasi juga demikian, kita gemar melakukan copas (copy-paste) artikel yang panjang yang kadangkala kita sendiri belum membacanya, terbukti artikel bertuliskan selamat malam tapi kita kirimkan siang hari, untuk apa?, agar orang tahu bahwa kita banyak ilmu atau informasi melebihi yang lain. Dalam kondisi ini media sosial telah menciptakan bencana sosial.

Ketika anda membagikan sebuah informasi kepada orang lain, apakah yang terbersit dalam benak anda saat itu?. Apakah keinginan memberitahukan sesuatu atau hanya keinginan untuk mendeklarasikan pengetahuan anda, atau bahkan mungkin sekedar iseng karena tidak ada kerjaan lain?.
Memberitahukan sesuatu kepada orang lain sudah digariskan batasannya dalam Al Quran yaitu ketika Allah berfirman: “wa amma bini’mati rabbika fahaddits” (…adapun terhadap nikmat Tuhanmu maka ceritakanlah!).
Ayat tersebut dengan jelas memberikan batasan tentang apa yang dianjurkan untuk diceritakan kepada orang lain yaitu sesuatu yang dirasakan sebagai nikmat. Itulah sharing sejati yang dianjurkan untuk dilakukan. Maksudnya, sebelum anda menyampaikan sesuatu kepada orang lain, sudahkan anda merasakannya sebagai nikmat dan kebaikan sehingga apa yang anda lakukan benar-benar sebuah persembahan yang layak. Sama halnya dengan sedekah, dimana kita dianjurkan untuk memberikan sebagian harta yang kita cintai kepada yang membutuhkan bukan memberikan sesuatu yang kita memang sudah tidak menyukainya. Jika kita memberikan sesuatu yang kita sendiri tidak menyukainya maka hal itu tidak terhitung sebagai sedekah karena tidak ubahnya seperti buang sampah saja. Sharing adalah berbagi kenikmatan yang artinya kita harus meyakinkan diri bahwa yang kita miliki adalah nikmat dan setelah itu kita berbagi nikmat itu dengan orang lain. Jika kita memiliki makanan yang lezat menurut kita dan kita mulai berbagi maka apapun kata orang tidak akan banyak berpengaruh kepada kita karena kita sudah merasakan kelezatannya. Bahkan ketika orang lain tidak menerima pemberian makanan itu, kita tidak merasa sedih karena kita sendiri menyukai masakan kita. Biarlah makanan lezat itu kita makan sendiri.
Seorang da’i atau pemberi nasehat yang menyampaikan sesuatu atas dasar tuntutan kondisi tidak akan merasakan sensasi berbagi itu. Ia akan merasa sakit saat jamaah tidak menerima apa yang ia sampaikan sedangkan dia tidak membutuhkannya Akan sangat menyiksa jika seseorang harus menyampaikan sesuatu yang ia tidak merasakannya sebagai nikmat yang perlu dibagi.
Karena itu, majlis taklim harus menjadi majlis sharing dengan makna yang sesungguhnya, agar antara ustadz dan para murid merasakan kenikmatan yang sama.
Jika tidak demikian maka boleh jadi tujuan seorang penceramah hanyalah ingin menunjukkan kepada jamaahnya bahwa ia tahu sesuatu. Tidak ada kenikmatan yang dirasakan kecuali kebanggan semu saat jamaah menganggukkan kepala tanda paham atau pura-pura paham. Ia merasa terganggu saat jamaah tidak sepakat dengan pendapatnya dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dianggap menyulitkannya.
Kesimpulannya, media sosial merupakan fasilitas ampuh untuk mengembangkan tradisi sharing atau berbagi nikmat kepada orang lain, namun demikian tidak menutup kemungkinan medsos akan menjadi sumber kehancuran manusia akibat menyalahgunakan potensi interaksi manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Bijaklah dalam menggunakan media sosial agar kita terhindar dari bencana kemanusiaan.



DS035-LIMA MACAM MANUSIA YANG HARUS DIJAUHI


Dalam kehidupan, mau atau tidak, kita selalu berhadapan dengan banyak orang dengan berbagai sifat dan karakter. Kondisi seperti ini menuntut kejelian dan kewaspadaan kita agar terhindar dari pergaulan yang menjerumuskan kita kedalam kehancuran. Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai 5 manusia yang harus dihindari menurut wasiat Imam Ali Zainal Abidin as. kepada puteranya, Imam Baqir as. dalam wasiat itu Imam Zaunal Abidin berkata:

“Wahai anakku, lihatlah lima macam manusia dan janganlah kamu bergaul,berbicara dan menjadikannya teman seperjalanan”, “Siapakah mereka?”, Tanya Imam Baqir. Imam Zainal Abidin berkata:

1.      Jangalah bergaul dengan tukang bohong karena ia tidak ubahnya fatamorgana, yang jauh terasa dekat dan yang dekat terasa jauh.
2.      Janganlah bergaul dengan orang fasik karena ia akan rela menjual dirimu demi sesuap makanan atau lebih murah dari itu.
3.      Janganlah bergaul dengan orang kikir karena ia akan menghinakan kamu hingga kamu sangat membutuhkannya.
4.      Janganlah bergaul dengan orang bodoh karena kalaupun ia ingin bermanfaat bagimu maka akhirnya tetap menyusahkanmu.
5.      Janganlah bergau dengan pemutus silaturahmi karena aku melihatnya dalam kitab Allah sebagai manusia terlaknat.

Syarah/keterangan:

1.      Orang yang bohong akan menjadikan kita memandang lawan sebagai kawan dan sebaliknya sebagai hasil dari kebohongannya. Satu kebohongan akan melahirkan berbagai kebohongan lain hingga tersebar menjadi mata rantaifitnah yang tak terbendung bahayanya. Itulah mengapa agama menganggap bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Dalam dunia bisnis, fitnah tidak ubahnya seperti MLM (multi level marketing) dimana semakin banyak downline yang dimiliki seseorang dalam menebarkan kebohongan, hal itu berarti semakin cepat berkembangnya investasi dosa yang ia tanam. Berkembangnya investasi dosa tidak akan pernah ada batasnya, bahkan saat kita beribadah. Coba bayangkan, jika saat kita sedang membaca doa dan istighfar, pada waktu yang sama fitnah yang kita tebarkan sedang berkembang dengan cepat sehingga transfer dosa akan terus berlangsung dan memenuhi setiap jalur aliran darah kita. Semua berawal dari kebohongan yang memutarbalikkan fatwa hingga kita tersesat tanpa sempat menyadari. Lebih dari itu kebohongan akan mematikan logika ketuhanan kita hingga kita tidak lagi mampu berfikir dengan benar tentang Allah. Imam Ali pernah berkata: “Sesungguhnya kebohongan adalah runtuhnya logika dari kedudukan ilahinya”. Pembohong adalah manusia yang tidak bersedia menanggung konsekwensi perbuatan atau menginginkan manfaat yang tidak mampu ia capai dengan kejujuran yang merupakan tanda keimanan, sebagaimana disabdakan oleh Imam Ali: “Diantara tanda iman adalah memilih jujur meski menyusahkan daripada kebohongan yang menyelamatkan”.

2.      Orang fasik tidak pernah memiliki komitmen kepada agama. Maka jangan pernah berharap ia memiliki loyalitas terhadap nilai-nilai akhlak dan kebaikan. Ia akan melakukan segala sesuatu yang dianggap menguntungkannya meskipun untuk itu ia rela mengorbankan barang berharga yang bagi orang lain merupakan prinsip yang layak diperjuangkan seperti persahabatan dan persaudaraan. Orang fasik tidak pernah memandang agama sebagai sesuatu yang sakral. Ia hanya melihatnya sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Ia akan tinggalkan agama segera setelah ia merasa agama tidak lagi memberikan nilai keuntungan dan manfaat. Imam Husain pernah berkata: “Manusia adalah hamba-hamba dunia sedangkan agama hanya di ujung lidahnya saja. Jika suatu saat diuji dengan musibah niscaya akan Nampak sedikit sekali orang yang beragama”.
3.      Orang kikir selalu saja menyusahkan. Bukan hanya masalah keengganannya untuk berbagi dan memberikan sedikit keuntungan kepada orang lain tapi juga kenyataan bahwa kebanyakan orang kikir adalah orang yang rakus. Sifat rakus inilah yang akan menghancurkan persahabatan bahkan persaudaraan. Sedemikian berbahayanya sifat kikir ini hingga Allah befirman: “Barangsiapa terhindar dari sifat kikir maka ia adalah orang beruntung”.
4.      Orang bodoh seringkali menyusahkan kita dengan perbuatan-perbuatan bodohnya meskipun tidak memiliki motivasi untuk melakukan sesuatu yang buruk. Barangkali kebodohan yang dimaksud bukan orang yang tidak memiliki ilmu karena ia memang tidak berkesempatan untuk meraihnya. Yang dimaksud bodoh dalam wasiat tersebut adalah orang yang enggan untuk mencari ilmu sehingga ketidakpedulian terhadap makrifat menjadikannya beban dan kesulitan bagi masyarakat sekitarnya. Bukankah dalam surat Al Fatihah kita berlindung kepada Allah bukan hanya dari orang yang dimurkai tapi juga dari orang yang tersesat?
5.      Orang yang memutuskan silaturahmi adalah manusia paling merugi baik di dunia maupun akhirat. Bahkan Al Quran memasukkan manusia seperti ini kedalam golongan orang-orang yang fasik dan pembuat kerusakan. Allah berfirman: “..merekalah orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Allah setelah janji out dikukuhkan dan memutuskan apa yang seharusnya disambungkan dan mereka adalah pembuat kerusakan di bumi…”(Q.S Al Baqarah: 27). Tidak berlebihan jika kita meletakkan pemutusan silaturahmi sebagai bentuk perwujudan dari ayat tersebut.

Semoga kita terhindar dari pengaruh lima macam manusia yang kita bahas hari ini. Semoga kasih saying Allah selalu menyertai kita bersama siraman syafaat Rasulullah dan Ahlulbait.

Featured Post