Followers

Wednesday, 9 May 2018

DS043-SAYYID HASAN MUSAWA : KETAQWAAN ANGGOTA TUBUH




۱) وَعَلَى جَوَارِحَ سَعَتْ إِلَى أَوْطَانِ تَعَبُّدِكَ طَائِعَةً

Anggota-anggota tubuh telah biasa merunduk untuk mengabdi-Mu

۲) وَجَعَلْتَهُمْ شُهُوْدًا عَلَيَّ مَعَ جَوَارِحِيْ
Engkau menjadikan mereka saksi-saksi bersama seluruh anggota tubuhku

۳) قَوِّ عَلَى خِدْمَتِكَ جَوَارِحِيْ
Kokohkan anggota tubuhku untuk berbakti kepada-Mu

٤) وَاشْدُدْ عَلَى الْعَزِيْمَةِ جَوَانِحِيْ
Teguhkan jiwa batinku untuk selalu melaksanakan niatku

          Al-Jawârih adalah anggota-anggota tubuh manusia bagian luar. Jika dikatakan: Wahai Tuhan, tatkala Engkau hendak mengazabku, maka Engkau akan mengazab tanganku, kakiku, dadaku, punggungku, dan semua anggota tubuhku yang Kaugerakakan sesuai kehendak-Mu dan ridha-Mu demi beribadah kepada-Mu. Lalu bagaimana Engkau mengazab tangan atau kaki yang bergerak saat ibadah dan taat kepada-Mu?
          Bagaimana Engkau mengazab anggota-anggota tubuhku ini?
         
Bilakah kita mampu membaca penghujung doa tersebut? Apabila anggota-anggota tubuh kita siap dan dapat digerakkan untuk menuju Allah Swt. Adapun apabila anggota-anggota tubuh ini tidak bisa digerakkan, maka akan kendur dan malas tatkala kita menghendaki untuk menaati Allah, niscaya kita tidak dapat mengucapkan penghujung doa tersebut.
          Ada sebagian orang ketika diminta untuk melakukan perbuatan baik, atau memenuhi kebutuhan saudaranya Mukmin, atau menolong seseorang yang teraniaya, ia akan mengakatakan: “Aku lagi tidak enak badan, aku lagi capek, atau aku mengantuk.” Maka berbagai sebab dan alasan diungkapkan sebagai penolakan.
          Manusia seperti ini tidak akan mampu berdiri di hadapan Allah. Manusia yang berdiri di hadapan Allah adalah manusia yang apabila diseru Allah untuk suatu perkara segera bangkit dan mengiyakan seruan itu meskipun ia dalam kondisi lemah.

وَعَلَى جَوَارِحَ سَعَتْ إِلَى أَوْطَانِ تَعَبُّدِكَ طَائِعَةً

Anggota-anggota tubuh telah biasa merunduk untuk mengabdi-Mu

Artinya, sampai ke tempat-tempat dan kondisi di mana ia akan menghamba. Perlu diketahui bahwa ibadah kepada Allah tidak hanya diwujudkan dalam bentuk shalat dan puasa saja. Akan tetapi, ibadah yang mencakup seluruh aktifitas yang disukai Allah yang behubungan dengan diri manusia dan kehidupan di sekitarnya serta segala yang berhubungan dengan semua risalah yang dikehendaki Allah bagi kehidupan manusia. Inilah yang dinamakan ibadah kepada Allah Swt. Hal itu sesuai dengan tujuan penciptaan manusia dan jin. Firman Allah Swt:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنَ
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku

          Ibadah adalah khudhuk (merendah hati) kepada Allah di manapun kita berada. Bukan masjid saja sebagai tempat ibadah. Tetapi tempat peribadatan dalam Islam adalah seluruh alam ini. Memang, semua alam ini adalah masjid (tempat ibadah). Tatkala Allah Swt mengatakan kepada Anda melalui kalimat-kalimat rasul dan para wali-Nya, di mana ketika Anda di ladang sibuk bertani, sementara Anda seorang mukhlis dalam beribadah, maka Anda akan beribadah kepada Allah di ladang. Apabila Anda beraktifitas di tempat pekerjaan (pabrik, kantor, pasar, dan selainnya) sementara Anda seorang mukhlis, maka Anda akan beribadah kepada Allah di tempat-tempat kerja tersebut. Dan jika Anda bekerja membersihkan jalan, pekerjaan Anda tersebut demi untuk menjaga martabat Anda, maka demikian itu Anda beribadah kepada Allah. Tatkala Anda menghadap si zalim untuk mengumandangkan suara kebenaran, itupun beribadah kepada Allah.
          Masjid hanya tempat untuk shalat, di mana di situ akan membuka hatimu dan dikatagorikan sebagai pelaksanaan ibadah kecil, atau paling tidak dapat dikatakan sebagai ibadah dâkhiliyyah (batin) yang pada girilarannya untuk ibadah melalui khârijiyyah (anggota tubuh luar). Di dalam masjid kita membina hati. Seperti saat Anda mengatakan, ushalli qurbatan ilallâhi, asjudu qurbatan ilallâhi, ad’û (berdoa) qurbatan ilallâhi, aqra`u (membaca Alquran) qurbatan ilallâhi.
          Masjid adalah tempat ibadah untuk menempa ruh sehingga menuju kehidupan dengan ruh yang bersih. Maka itu sebagai ibadah pendahuluan dan untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang lainnya.

Tiga Kesaksian
          Di dalam doa Kumail, Imam Ali as telah membeberkan persoalan dosa-dosa manusia secara umum, kemudian beliau as memaparkan persoalan lembut dan njelimet yang berkaitan dengan penetapan timbulnya dosa dari manusia. Pada hari kiamat, bahwa pada hari itu manusia akan menghadapi perhitungan akbar dan mahkamah pengadilan serta keputusan Ilahi untuk memperkenalkan manusia, apakah ia termasuk ahli sorga ataukah ahli neraka? Bahkan memperkenalkan dirinya dalam bentuk yang lebih teliti dan rapi, di peringkat mana masing-masing akan menuju di antara keduanya itu. Akan tetapi, Allah Swt akan menghakimi mereka seadil-adilnya, sehingga tidak lagi dapat beralasan atau pun mengajukan protes. Tentunya, dengan segala pertimbangan dan bukti-bukti kongkret.
          Imam Ali as mengajukan kesaksian-kesaksian tersebut sebagai yang dijelaskan di bawah ini:
          Pertama: Kesaksian malaikat: Dalam kesaksian ini Imam Ali as mengatakan:

وَكُلِّ سَيِّئِةٍ بِإِثْبَاتِهَا الْكِرَامَ الْكَاتِبِيْنَ، الَّذِيْنَ وَكَّلْتَهُمْ بِحِفْظِ مَا يَكُوْنُ مِنِّيْ

(ampuni) semua keburukan yang telah Kausuruhkan malaikat yang mulia mencatatnya, mereka yang Engkau tugaskan untuk merekam segala yang ada padaku.
Ungkapan tersebut sebenarnya tafsiran dari firman Allah Ta’ala:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِيْنَ، كِرَامًا كَاتِبِيْنَ

Padahal sesungguhnya bagimu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), mereka berkedudukan mulia di sisi Allah untuk mencatat segala aktifitasmu itu. [QS 82:10-11]

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. [QS 50:18]
          Kedua malaikat itu benar-benar bertugas sebagaimana mestinya, karena mereka adalah hakikat quranî yang mencatat dan menjaga segala perbuatan taupun ucapan manusia. Allah Swt akan menghadirkan kedua malaikat itu pada hari kiamat kelak sebagai saksi atas manusia. Mereka berdua tidak ikut campur merekam bersama manusia. Sebagaimana keduanya mengatakan kepada manusia, “kamu telah mengatakan demikian”; “kamu pernah berbuat demikian.” Tetapi keduanya membawa segala amal perbuatan dan perkataan manusia secara utuh. Allah Swt berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْءٍ

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan di mukanya, begitu juga kejahatan yang telah dikerjakannya.. [QS 3:30]

          Dalam keadaan seperti itu, bahwa tiap diri manusia akan memberikan kesaksian dirinya, sedangkan kedua malaikat hanya akan menyampaikan hujah di hadapan Allah Swt. Hal itu persis seperti seperangkat video atau tape recorder yang dapat memindahkan gambar, gerakan, dan suara manusia, sehinga tidak lagi mampu mengingkarinya. Akibatnya adalah sebagai bentuk hujjah yang yang tak dapat dibantah.
          Kedua: Kesaksian al-Jawârih, yakni kesaksian peralatan dan sarana yang diajukannya sesuai ucapan maupun perbuatannya. Allah Swt berfirman:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشَهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَاكَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Pada hari ini (Hari Mahkamah Allah) Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka sedangkan kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka upayakan. [QS 36:65]

وَتَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتِهِمْ وَأَيْدِيْهِمْ وَأَرْجُلِهِمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Pada hari ketika, lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. [QS 24:24]

وَقَالُوْا لِجُلُوْدِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا، قَالُوْا أَنْطَقَنَا اللهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْئٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أًَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ، وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُوْنَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلاَ أَبْصَارُكُمْ وَلاَ جُلُوْدُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللهَ لاَ يَعْلَمُ كَثِيْرًا مِمَّا تَعْمَلُوْنَ

Dan mereka berkata kepada kulit mereka: Mengapa menjadi saksi terhadap kami?” Kulit menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata, telah menjadikan kami pandai pula berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kami dikembalikan. Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui banyak dari apa yang kamu kerjakan.” [QS 41:21-22]
Sementara itu Imam Ali as menegaskan dalam doa Kumail:

وَجَعَلْتَهُمْ شُهُوْدًا عَلَيَّ مَعَ جَوَارِحِيْ

Engkau menjadikan mereka saksi-saksi bersama seluruh anggota tubuhku
          Maka anggota-anggota tubuh manusia ini dijadikan oleh Allah Swt dapat berbicara sebagai kesaksian. Demikian pula manusia pada kali yang lain menjadi saksi bagi dirinya sendiri, menghukumi dirinya dengan dirinya sendiri.
          Terkadang manusia mengingkari amal dan ucapannya itu, terkadang juga memprotes dakwaan orang lain atas dirinya. Akan tetapi ia tidak mampu mengingkari atau memprotes ucapan-ucapannya sendiri. Bukankah pengakuan akan sesuatu merupakan inti bukti. Lalu bagaimana apabila yang mengaku adalah anggota tubuhnya sendiri, yakni perangkat-perangkat yang menimbulkan dosa dan kesalahan? Masa sekarang ini para penyidik kriminalitas berupaya untuk memperoleh bukti-bukti keriminal secara akurat seperti sarana untuk mengenali pelakunya, baik melalui penyidikan jari-jari tangannya yang dapat dijadikan penelitian selanjutnya. Atau untuk mengetahui bagaimana asal-muasal peristiwa itu terjadi. Demikian pula persoalannya dengan anggota-anggota tubuh manusia, yaitu lisannya sebagai sarana untuk berbicara baik maupun jelek; untuk pembinaan atau penghancuran. Juga kedua tangannya yang mungkin melakukan pekerjaan baik dan menghasilkan sesuatu yang diridhai Allah Swt. Dengan kedua tangannya bisa saja untuk mencuri atau pembunuhan. Dan begitu pula dengan anggota-anggota tubuh lainnya seperti mata, telinga, dan ke-
dua kakinya.
          Akan tetapi, tentunya dalam persoalan ini ada perbedaan antara sarana-sarana yang diupayakan para penyidik dan peneliti dan yang dilakukan oleh Allah Swt. Penyidikan yang dilakukan manusia menggunakan alat-alat buatannya sendiri. Sedangkan dalam Mahkamah Akhirat, Allah yang Mahaadil dan Mahabijak menggunakan alat-alat hakiki (sebenarnya). Mahkamah dunia, manusia menggunakan alat-alat shâmitah (diam) yang dapat diupayakan dengan kerja keras dan penafsiran yang terkadang dapat terungkap dan terkadang tidak dapat terungkap. Tetapi, di sana (akhirat) menggunakan alat-alat nâthiqah (berbicara) dan hidup sehingga tidak akan meleset ataupun luput.
          Oleh karena itu, hendaknya manusia selalu mewaspadai dirinya dengan saksama. Bersikap cermat dan hati-hati terhadap anggota-anggota tubuh (jawârih) dan jawânih-nya. Karena setiap yang dilakukan oleh jawârih maupun jawânih akan terekam dan terpelihara rapi sehingga pada akhirnya akan diperhitungkan di akhirat kelak.
          Dan adapun kesaksian yang ketiga: Yaitu kesaksian Allah Swt.
          Berkata Imam Ali as:

وَجَعَلْتَهُمْ شُهُوْدًا عَلَيَّ مَعَ جَوَارِحِيْ، وَكُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيَّ مِنْ وَرَائِهِمْ، وَالشَّاهِدَ لِمَا خَفِيَ عَنْهُمْ

Engkau menjadikan mereka saksi-saksi bersama seluruh anggota tubuhku, dan Engkau sendiri pengawas di belakang mereka dan saksi bagi apa yang tak terpantau oleh mereka.
          Allah Swt telah menutupi beberapa hal dari malaikat. Mereka (malaikat) terkadang tidak mengamati hal-hal yang rahasia dan lembut yang ada dalam hati kita dan angan-angan yang ada dalam pikiran kita. Tetapi Allah Swt selalu memonitor dan mengawasi dengan cermat segala yang ada dalam hati kita, kedipan kedua mata kita, detak jantung kita dan maksud serta niatan hati kita, apakah menuju kebaikan atau keburukan:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ وَمَا يَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٌ إِلاَّ هُوَ رَابِعُهُمْ وَلاَ خَمْسَةٌ إِلاَّ هُوَ سَادِسُهُمْ وَلاَ أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلاَ أَكْثَرُ إِلاَّ هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَمَا كَانُوْا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ
         
Tidaklah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di lelangit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya; Dan tiada pembicaraan antara lima orang melainkan Dialah yang keenamnya; Dan tiada pula pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberikan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [QS 58:7]

۳) قَوِّ عَلَى خِدْمَتِكَ جَوَارِحِيْ

Kokohkan anggota tubuhku untuk berbakti kepada-Mu
          Ya Rabbi, saya hendak mentaati-Mu, beramal pada jalan-Mu, berjuang sepenuh kekuatanku hanya untuk-Mu, tetapi dalam suatu keadaan terkadang anggota tubuhku lemah, maka kuatkanlah anggota tubuhku sehingga dengan kekuatannya aku minta pertolongannya untuk mentaati-Mu.
          Dan acapkali niat dan maksudku yang baik melemah, maka teguhkan jiwa batinku untuk selalu melaksanakan niatku.

٤) وَاشْدُدْ عَلَى الْعَزِيْمَةِ جَوَانِحِيْ
Teguhkan jiwa batinku untuk selalu melaksanakan niatku

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, jangan Engkau gelincirkan hati kami (condong kepada kesesatan) sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."

اللّهُمَّ مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ
Ya Allah, yang membolak balikkan hati dan pandangan, kukuhkanlah hati kami untuk dapat melaksanakan agama-Mu.
SEMOGA BERMANFAAT.