Followers

Saturday, 17 March 2018

DS037-MAKNA SEBUAH KESEMPURNAAN



Suatu hari seorang murid meminta kepada gurunya agar ditunjukkan jalan menuju kesempurnaan. Sang guru memerintahkan murid tersebut untuk berjalan melewati sebuah taman di sekitar tempat itu dan memberinya perintah agar si murid memetikkan untuknya setangkai bunga yang paling indah di taman itu tapi dengan syarat si murid harus melanjutkan perjalanannya dan tidak boleh kembali ke belakang. Perintah itu segera dilaksanakan dengan penuh semangat hingga ia sampai di taman yang dimaksud. Sesampai disana, si berjalan dengan arah memotong taman itu. Sesampai di salah satu bagian taman, ia melihat setangkai bunga yang sangat indah. Tentu saja hal itu sangat membahagiakannya. Tatkala ia ingin memetiknya ia berfikir: “Bunga ini memang indah tapi jangan-jangan bunga di depan sana lebih indah lagi”. Ia pun mengurungkan niat untuk memetik bunga indah itu dan melanjutkan berjalan hingga ke tengah bagian taman. Di sana ia menemukan bunga yang indah dengan warna yang menggoda untuk dipetik. Kembali ia berniat memetik bunga indah itu, namun sekali lagi ia berfikir, jangan-jangan buka di depan lebih indah lagi. Ia melanjutkan peerjalanannya tanpa memetik setangkai bungapun dengan harapan ia akan menemukan bunga yang lebih indah dari yang ia lihat sebelumnya. Namun apa yang terjadi tidak sesuai harapan karena hingga ujung lain taman itu ia tidak menemukan bunga yang lebih indah dari bunga yang ia tinggalkan karena mengharapkan bunga-bunga lain yang lebih indah.
Dengan lesu ia kembali kepada sang guru dan memberitahukan apa yang telah ia lakukan dan tentang kegagalan yang ia alami.
Sang guru hanya bisa tersenyum dan berkata: “Ketahuilah bahwa kesempurnaan sesuatu tidak akan dicapai dengan mencarinya seperti engkau mencari bunga yang indah. Kesempurnaan sejati hanya digapai dengan memahami kekurangan. Jika kekurangan itu adalah kekurangan diri maka sempurnakanlah dengan usaha memenuhi kekurangan, dan jika kekurangan itu ada pada selainmu maka jadikanlah sebagai sarana untuk memaklumi dan memaafkan kekurangannya”.
Sejatinya, kesempurnaan akan datang kepada siapapun yang mampu melihat kekurangan dirinya dan berusaha memperbaikinya.
Kisah diatas mengingatkan kita akan sebuah peristiwa dimana seorang murid bertanya kepada Alm. Ayatullah Behjat tentang cara agar bisa bertemu dengan Rasulullah atau para Imam Ahlul Bait. Beliau menjawab: “Jangan kamu berusaha menemui mereka. Banyak-banyak berbuat amal shalih dengan ikhlas niscaya mereka yang akan mendatangi kamu!”
Sesungguhnya manusia harus melalui tiga tahap amaliyah untuk mencapai kesempurnaan diri. Tahap-tahap itu adalah:
1.      Syariat, yaitu tahap dimana seorang mukallaf melaksanakan taklif  fikih sesuai dengan fatwa faqih yang diikuti, seperti melakukan shalat, membayar zakat, menahan lapar waktu puasa dan sebagainya. Mempelajari ilmu fiqih adalah langkah yang harus ditempuh seorang hamba dalam tahap ini dengan merujuk kepada fatwa ulama yang terbukti mampu menjadi rujukan amaliyah (praktek) dalam kesehariannya. Jadi syariat berhubungan dengan praktek agama yang bersifat fisik lahiriyah.
2.      Thariqah, yaitu tahap dimana seseorang mulai mengisi (gerak) syari’atnya dengan nilai-nilai spiritual seperti keikhlasan, kekhusyukan atau nilai-nilai ruhani yang menjadi jiwa bagi setiap amalan yang kita lakukan. Dalam tahap ini seorang mukallaf berusaha untuk melakukan tadabbur (perenungan) dalam bentuk ritual penyucian diri dengan doa dan munajat serta perenungan yang menyampaikannya kepada hakikat diri yang untuk selanjutnya mengantarkannya kepada hakikat ketuhanan.
3.      Hakikat, tahap ini bukanlah tahap yang ditempuh dalam perjalanan manusia kepada Tuhan karena tahap ini sejatinya adalah hasil dari praktek syariat dan pendalaman thariqat. Hakikat bukan anak tangga menuju sesuatu karena hakikat adalah sesuatu itu sendiri. Hakikat tidak dicari karena hakikat akan datang sendiri saat kita membuka diri dengan hati yang bersih dan jiwa yang ikhlas. Pada tingkat ini manusia menjadi khalifah Allah yang melihat dengan mata-Nya, mendengar dengan telinga-Nya dan seterusnya. Bukankah sebuah riwayat dari Ibnu Abbas mengatakan: “Berhati-hatilah terhadap firasat seorang mukmin karena ia melihat dengan cahaya Allah”.
Sampai dimanakah kita melangkah hingga hari ini?. Bukan masalah bagi kita, karena yang terpenting adalah bersegera melakukan as sair ilallah (perjalanan menuju kepada Allah) dengan suluk (langkah-langkah spiritual) niscaya hakikat akan mendatangi kita dengan cara yang sangat rahasia di luar akal dan logika kita.

DS036-SEKILAS MEDSOS




Dalam Islam, tidak ada larangan untuk aktif di media sosial, bahkan menjadi sesuatu yang dianjurkan ketika hal itu dijadikan sebagai sarana untuk saling mengenal demi memahami perbedaan (bukan menyamakan perbedaan). “…dan kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (saling mengisi)”.

Dalam hal ini, sosial media yang sering disingkat medsos ini menjadi sebuah sarana pemaparan pemikiran yang memungkinkan setiap orang mendapatkan informasi dengan cepat melalui interaksi berbasis online ini. Medsos juga bisa menjadi sarana dakwah menuju kebaikan dengan cara menebarkan nasehat kebaikan sehingga, dengan cakupan audience yang nyaris tak berbatas ini, efektifitasnya akan lebih tinggi dan menekan biaya produksi. Dengan kata lain, tidak ada yang salah dengan medsos bahkan fasilitas interakasi ini sangat potensial untuk menyumbang banyak kebaikan dan manfaat bagi penggunanya.



Sebagaimana medsos berpotensi menebar kebaikan namun ia juga berpotensi menciptakan kerusakan. Potensi destruktif  akan menguat saat banyak orang yang kehilangan kesadaran dan focus akan tujuan dasar dari interaksi sosial ini. Mereka tenggelam dalam keasyikan chatting dan bertukar komentar hingga melupakan tujuan awal dari interaksi ini, karena interaksi yang seharusnya membangun dan menciptakan sinergi ta’aruf  itu kini berubah menjadi ajang ghibah, gunjing bahkan fitnah. Apalagi mengingat keleluasaan dan privasi aktifitas di medsos menjadikan banyak orang tidak lagi merasa tabu untuk mengungkapkan aib orang atau bahkan aib diri sendiri. Maka beralihlah fungsi medsos dari fungsi informatif koordinatif menjadi distruktif dan kontra edukatif. Secara tidak disadari, ta’aruf  yang tujuannya adalah menjalin tali silaturahmi kini menjadi kontra produktif dimana media yang disebut sebagai media sosial justru menciptakan kecenderungan anti sosial dan rentan menciptakan gesekan sosial.

Meskipun menyimpan banyak manfaat, medsos bukanlah segala-galanya, bahkan banyak hal yang harus kita korbankan dengan menggunakan fasilitas ini. Kecenderungan untuk malas bertemu secara langsung dengan lawan bicara menambah buruk keadaam sosial. Orang sudah enggan menyambangi saudaranya karena ia melihat sarana lebih praktis untuk menyampaikan maksud. Islam mengajarkan betapa menebar senyum merupakan ibadah, menatap wajah saudara muslim juga ibadah, mengucapkan salam sambil berjabat tangan pun ibadah. Semua itu tidak kita dapati dalam interaksi di media sosial. Belum lagi jika kita perhatikan, obrolan di sosmed rentan menciptakan miskomunikasi karena tidak mengikutkan sisi emosional yang bisa dirasakan oleh kedua pihak karena, selain mimik yang tak terbaca, tidak adanya intonasi yang bisa ditangkap sangat berpengaruh dalam menciptakan salah paham dalam menilai sebuah maksud. Ketahuilah bahwa manusia saling memahami tidak hanya dengan kata-kata tertulis tapi dengan gesture dan mimik yang muncul saat sebuah kata diucapkan. Emoticon tidak banyak membantu dalam hal ini.
Lebih parah lagi, kita akan rela menulis pesan dengan jari kita selama berjam-jam untuk sekedar membicarakan pihak ketiga sehubungan dengan masalah yang sebenarnya tidak penting bahkan tidak baik untuk diucapkan. Namun kita malas untuk menulis pesan salam duka ketika ada berita duka dari saudara dan teman kita. Kita akan mengirimkan image/gambar yang bertuliskan ungkapan duka yang mana gambar itu merupakan stok yang kita persiapkan setiap kali ada berita duka. Artinya, bahkan kita berubah menjadi orang yang malas mendoakan orang lain.
Dalam hal informasi juga demikian, kita gemar melakukan copas (copy-paste) artikel yang panjang yang kadangkala kita sendiri belum membacanya, terbukti artikel bertuliskan selamat malam tapi kita kirimkan siang hari, untuk apa?, agar orang tahu bahwa kita banyak ilmu atau informasi melebihi yang lain. Dalam kondisi ini media sosial telah menciptakan bencana sosial.

Ketika anda membagikan sebuah informasi kepada orang lain, apakah yang terbersit dalam benak anda saat itu?. Apakah keinginan memberitahukan sesuatu atau hanya keinginan untuk mendeklarasikan pengetahuan anda, atau bahkan mungkin sekedar iseng karena tidak ada kerjaan lain?.
Memberitahukan sesuatu kepada orang lain sudah digariskan batasannya dalam Al Quran yaitu ketika Allah berfirman: “wa amma bini’mati rabbika fahaddits” (…adapun terhadap nikmat Tuhanmu maka ceritakanlah!).
Ayat tersebut dengan jelas memberikan batasan tentang apa yang dianjurkan untuk diceritakan kepada orang lain yaitu sesuatu yang dirasakan sebagai nikmat. Itulah sharing sejati yang dianjurkan untuk dilakukan. Maksudnya, sebelum anda menyampaikan sesuatu kepada orang lain, sudahkan anda merasakannya sebagai nikmat dan kebaikan sehingga apa yang anda lakukan benar-benar sebuah persembahan yang layak. Sama halnya dengan sedekah, dimana kita dianjurkan untuk memberikan sebagian harta yang kita cintai kepada yang membutuhkan bukan memberikan sesuatu yang kita memang sudah tidak menyukainya. Jika kita memberikan sesuatu yang kita sendiri tidak menyukainya maka hal itu tidak terhitung sebagai sedekah karena tidak ubahnya seperti buang sampah saja. Sharing adalah berbagi kenikmatan yang artinya kita harus meyakinkan diri bahwa yang kita miliki adalah nikmat dan setelah itu kita berbagi nikmat itu dengan orang lain. Jika kita memiliki makanan yang lezat menurut kita dan kita mulai berbagi maka apapun kata orang tidak akan banyak berpengaruh kepada kita karena kita sudah merasakan kelezatannya. Bahkan ketika orang lain tidak menerima pemberian makanan itu, kita tidak merasa sedih karena kita sendiri menyukai masakan kita. Biarlah makanan lezat itu kita makan sendiri.
Seorang da’i atau pemberi nasehat yang menyampaikan sesuatu atas dasar tuntutan kondisi tidak akan merasakan sensasi berbagi itu. Ia akan merasa sakit saat jamaah tidak menerima apa yang ia sampaikan sedangkan dia tidak membutuhkannya Akan sangat menyiksa jika seseorang harus menyampaikan sesuatu yang ia tidak merasakannya sebagai nikmat yang perlu dibagi.
Karena itu, majlis taklim harus menjadi majlis sharing dengan makna yang sesungguhnya, agar antara ustadz dan para murid merasakan kenikmatan yang sama.
Jika tidak demikian maka boleh jadi tujuan seorang penceramah hanyalah ingin menunjukkan kepada jamaahnya bahwa ia tahu sesuatu. Tidak ada kenikmatan yang dirasakan kecuali kebanggan semu saat jamaah menganggukkan kepala tanda paham atau pura-pura paham. Ia merasa terganggu saat jamaah tidak sepakat dengan pendapatnya dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dianggap menyulitkannya.
Kesimpulannya, media sosial merupakan fasilitas ampuh untuk mengembangkan tradisi sharing atau berbagi nikmat kepada orang lain, namun demikian tidak menutup kemungkinan medsos akan menjadi sumber kehancuran manusia akibat menyalahgunakan potensi interaksi manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Bijaklah dalam menggunakan media sosial agar kita terhindar dari bencana kemanusiaan.



Friday, 16 March 2018

DS035-LIMA MACAM MANUSIA YANG HARUS DIJAUHI



Dalam kehidupan, mau atau tidak, kita selalu berhadapan dengan banyak orang dengan berbagai sifat dan karakter. Kondisi seperti ini menuntut kejelian dan kewaspadaan kita agar terhindar dari pergaulan yang menjerumuskan kita kedalam kehancuran. Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai 5 manusia yang harus dihindari menurut wasiat Imam Ali Zainal Abidin as. kepada puteranya, Imam Baqir as. dalam wasiat itu Imam Zaunal Abidin berkata:

“Wahai anakku, lihatlah lima macam manusia dan janganlah kamu bergaul,berbicara dan menjadikannya teman seperjalanan”, “Siapakah mereka?”, Tanya Imam Baqir. Imam Zainal Abidin berkata:

1.      Jangalah bergaul dengan tukang bohong karena ia tidak ubahnya fatamorgana, yang jauh terasa dekat dan yang dekat terasa jauh.
2.      Janganlah bergaul dengan orang fasik karena ia akan rela menjual dirimu demi sesuap makanan atau lebih murah dari itu.
3.      Janganlah bergaul dengan orang kikir karena ia akan menghinakan kamu hingga kamu sangat membutuhkannya.
4.      Janganlah bergaul dengan orang bodoh karena kalaupun ia ingin bermanfaat bagimu maka akhirnya tetap menyusahkanmu.
5.      Janganlah bergau dengan pemutus silaturahmi karena aku melihatnya dalam kitab Allah sebagai manusia terlaknat.

Syarah/keterangan:

1.      Orang yang bohong akan menjadikan kita memandang lawan sebagai kawan dan sebaliknya sebagai hasil dari kebohongannya. Satu kebohongan akan melahirkan berbagai kebohongan lain hingga tersebar menjadi mata rantaifitnah yang tak terbendung bahayanya. Itulah mengapa agama menganggap bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Dalam dunia bisnis, fitnah tidak ubahnya seperti MLM (multi level marketing) dimana semakin banyak downline yang dimiliki seseorang dalam menebarkan kebohongan, hal itu berarti semakin cepat berkembangnya investasi dosa yang ia tanam. Berkembangnya investasi dosa tidak akan pernah ada batasnya, bahkan saat kita beribadah. Coba bayangkan, jika saat kita sedang membaca doa dan istighfar, pada waktu yang sama fitnah yang kita tebarkan sedang berkembang dengan cepat sehingga transfer dosa akan terus berlangsung dan memenuhi setiap jalur aliran darah kita. Semua berawal dari kebohongan yang memutarbalikkan fatwa hingga kita tersesat tanpa sempat menyadari. Lebih dari itu kebohongan akan mematikan logika ketuhanan kita hingga kita tidak lagi mampu berfikir dengan benar tentang Allah. Imam Ali pernah berkata: “Sesungguhnya kebohongan adalah runtuhnya logika dari kedudukan ilahinya”. Pembohong adalah manusia yang tidak bersedia menanggung konsekwensi perbuatan atau menginginkan manfaat yang tidak mampu ia capai dengan kejujuran yang merupakan tanda keimanan, sebagaimana disabdakan oleh Imam Ali: “Diantara tanda iman adalah memilih jujur meski menyusahkan daripada kebohongan yang menyelamatkan”.

2.      Orang fasik tidak pernah memiliki komitmen kepada agama. Maka jangan pernah berharap ia memiliki loyalitas terhadap nilai-nilai akhlak dan kebaikan. Ia akan melakukan segala sesuatu yang dianggap menguntungkannya meskipun untuk itu ia rela mengorbankan barang berharga yang bagi orang lain merupakan prinsip yang layak diperjuangkan seperti persahabatan dan persaudaraan. Orang fasik tidak pernah memandang agama sebagai sesuatu yang sakral. Ia hanya melihatnya sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Ia akan tinggalkan agama segera setelah ia merasa agama tidak lagi memberikan nilai keuntungan dan manfaat. Imam Husain pernah berkata: “Manusia adalah hamba-hamba dunia sedangkan agama hanya di ujung lidahnya saja. Jika suatu saat diuji dengan musibah niscaya akan Nampak sedikit sekali orang yang beragama”.
3.      Orang kikir selalu saja menyusahkan. Bukan hanya masalah keengganannya untuk berbagi dan memberikan sedikit keuntungan kepada orang lain tapi juga kenyataan bahwa kebanyakan orang kikir adalah orang yang rakus. Sifat rakus inilah yang akan menghancurkan persahabatan bahkan persaudaraan. Sedemikian berbahayanya sifat kikir ini hingga Allah befirman: “Barangsiapa terhindar dari sifat kikir maka ia adalah orang beruntung”.
4.      Orang bodoh seringkali menyusahkan kita dengan perbuatan-perbuatan bodohnya meskipun tidak memiliki motivasi untuk melakukan sesuatu yang buruk. Barangkali kebodohan yang dimaksud bukan orang yang tidak memiliki ilmu karena ia memang tidak berkesempatan untuk meraihnya. Yang dimaksud bodoh dalam wasiat tersebut adalah orang yang enggan untuk mencari ilmu sehingga ketidakpedulian terhadap makrifat menjadikannya beban dan kesulitan bagi masyarakat sekitarnya. Bukankah dalam surat Al Fatihah kita berlindung kepada Allah bukan hanya dari orang yang dimurkai tapi juga dari orang yang tersesat?
5.      Orang yang memutuskan silaturahmi adalah manusia paling merugi baik di dunia maupun akhirat. Bahkan Al Quran memasukkan manusia seperti ini kedalam golongan orang-orang yang fasik dan pembuat kerusakan. Allah berfirman: “..merekalah orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Allah setelah janji out dikukuhkan dan memutuskan apa yang seharusnya disambungkan dan mereka adalah pembuat kerusakan di bumi…”(Q.S Al Baqarah: 27). Tidak berlebihan jika kita meletakkan pemutusan silaturahmi sebagai bentuk perwujudan dari ayat tersebut.

Semoga kita terhindar dari pengaruh lima macam manusia yang kita bahas hari ini. Semoga kasih saying Allah selalu menyertai kita bersama siraman syafaat Rasulullah dan Ahlulbait.

DS034- RUMAHKU SURGAKU



Mungkin kita sering mendengar pepatah yang mengatakan baiti jannati (rumahku adalah surgaku) yang berarti rumah adalah tempat yang berisi kenikmatan tiada tara.
Tapi apakah kita tahu mengapa rumah kita adalah surga kita. Ayo kita coba bahas dan cari tahu alasannya.
Ada 3 wujud yang sering disebutkan dalam masalah surga :

1.      Allah 'Azza Wa Jalla yang mewakili kebijaksanaan dalam kealiman ('alimun hakim)
2.      Malaikat yang mewakili ketaatan dalam amanat (Mutha'un tsamma amiin)
3.      Hamba-hamba yang shalih mewakili keshalihan (Ash Shalihun)

Barangkali tidak berlebihan apabila kita membuat analogi dalam keluarga bahwa ketiganya bisa diwakili oleh wujud:

1.      Suami. Seorang ayah harus memiliki sifat jalaliyah yaitu sifat yang bersumber dari nilai-nilai kekuatan, ketegasan, ketabahan dan semua sifat maskulin karena ia harus bertanggung jawab atas perjalanan bahtera keluarga (kuu anfusakum wa ahliikum naaran). Dalam ayat lain Allah berfirman:
ُلْ إِنَّ الْخَاسِرِيْنِ الَّذِيْنَ خَسِرُوْا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ) سورة الزمر، الآية: 15

Katakanlah,  sesungguhnya orang-orang yang merugi adalah yang merugikan diri dan keluarganya. Ketahuilah bahwa itulah kesesatan yang nyata (Q.S. Zumar: 15)

Ia tidak hanya bertanggung jawab atas masalah ekonomi saja, lebih dari itu ia harus berusaha menjadi penggembala yang bertanggung jawab atas gembalaannya dan mengantarkan menuju ridha-Nya, setiap kalian adalah penggembala dan akan dipertanyakan bagaimana gembalaannya (kullukum raa'in wa kullukum mas-uulun 'an ra'iyyatihi)
Namun perlu diingat bahwa kekuatan ini bukan satu-satunya kekuatan yang harus dimiliki seorang kepala rumah tangga. Karena ia juga harus memiliki kekuatan logika dan kebijaksanaan. Dengan kekuatan itu, seorang pemimpin rumah tangga mengarahkan kekuatannya menuju mashlahat keluarga. Bukankah Allah juga bersifat alimun hakim (mengetahui lagi maha bijaksana)?
2.      Isteri. Adalah malaikat rumah tangga yang menjadi simbol ketaatan. Kehalusannya menyeimbangkan kekuatan yang dimiliki suami. Disaat kekuatan yang besar tidak bisa dibendung dengan tembok apapun, kelembutan memang tidak akan menghadangnya, ia akan mencairkan kekuatan itu sehingga menjadi tenang dan damai. Sebagaimana malaikat, kadang ia bertanya tentang keputusan Allah. Namun bukan untuk menentang, hanya memberikan pandangan dalam mengambil keputusan. Karena terkadang satu perkara tidak bisa diselesaikan hanya dengan mantiq dan filsafat karena banyak masalah yang hanya bisa diselesaikan dengan kelembutan dan sentuhan hati.
3.      Anak. Adalah wujud keshalihan yang lahir dari suami isteri yang melaksanakan kewajiban masing-masing. Keshalihannya adalah cerminan dari keshalihan kedua orang tuanya. Anak harus melihat orang tua bukan sebagai suami dan isteri tapi sebagai ibu dan bapak atau sebagai sepasang guru hyang bersinergi. Di era globalisasi, banyak sekali anak yang melihat orang tua mereka tidak lebih sebagai pasangan suami isteri. Tidak ada sentuhan kelembutan yang ia rasakan sehingga kelembutan juga tidak tumbuh dalam dirinya.
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Tiada seorang anak yang lahir kecuali dalam keadaan suci hingga kedua orang tuanya menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi

Sebagai orang tua, kitalah yang harus bertanggungjawab membentuk anak-anak kita agar mendekatkan diri kepada Allah. Tidak hanya dengan kata-kata  tapi juga dengan perbuatan dan usaha nyata. Sia-sia saja seluruh nasehat kita terhadap anak-anak kita apabila kita tidak menunjukkan bahwa itulah yang kita lakukan sebagai keyakinan.

Sejatinya, dakwah adalah berbagi kenikmatan iman. Akan sangat tersiksa ketika seseorang yang menyampaikan dan mengajak kepada sesuatu yang tidak ia yakini.
Syahid Muthahhari berkata: "Kegagalan kita dalam mengajak lebih dikarenakan kita selalu mendahulukan mulut dan telinga padahal seharusnya kita mendahulukan tangan dan mata".
Maka berusahalah untuk menunjukkan dan bukan mengajari, sebagaimana disebutkan dalam riwayat, birru aabaa-ukum tabarukum abnaa-ukum (berbaktilah kepada orang tua kalian hingga anak-anak kalian berbakti kepada kalian!”
Biarkan mereka mengambil pelajaran dari bakti kita kepada orang tua kita dan kita tidak perlu mengajarkannya melalui kata-kata yang terkadang dianggap terlalu menggurui.

Antara fiqih dan akhlak kasih sayang
Allah 'azza wa jalla telah menanamkan fitrah yang berbeda dalam diri laki-laki dan perempuan sehingga ketika keduanya bersatu, masing-masing memiliki kewajiban yang berbeda. Masing-masing harus melaksanakan kewajibannya sebagaimana yang digariskan.
Rasulullah pernah datang ke rumah Fathimah as. satu hari setelah pernikahannya dengan Imam Ali as. untuk memberikan restu dan menyampaikan kewajiban suami isteri:
"يا زهراء، إن أعمال المنزل، من قبيل الخبز أو طحن الشعير والحنطة، وتنظيف الدار، ورعاية الأطفال سهمك؛ أما سهم أمير المؤمنين (ع) فيتمثل في تهيئة الحطب، وجلب الماء، وترتيب ما يحتاجه المنزل من مواد أخرى تجلب من خارج المنزل". بعدها، تفوهت فاطمة الزهراء (ع) بهذه العبارة التي ينبغي أن تلزمها كل المؤمنات وهي:
"لا يعلم إلا الله ما داخلني من السرور في هذا الأمر"[1].

Wahai Zahra, sesungguhnya pekerjaan rumah tangga semisal membuat roti, menggiling gandum, membersihkan rumah dan menjaga anak-anak adalah saham (pahala)mu. Sedangkan saham Amirulmukminin adalah menyiapkan kayu bakar, mengambil air dan menyediakan kebutuhan rumah tangga seperti bahan makanan yang didapat di luar rumah”. Setelah itu Fatimah mengucapkan kata-kata yang harus diperhatikan bagi setiap perempuan: “Hanya Allah yang tahu akan kebahagiaan yang kurasakan dengan urusan (pembagian saham) ini”.
Pembagian tugas diatas adalah pembagian tugas regular sesuai tuntunan fikih yang berbicara mengenai hak dan kewajiban. Namun ada dimensi lain yang sering dilupakan yaitu dimensi kasih sayang kepada pasangan yang selalu melampaui dimensi hak dan kewajiban.
Betapa bahagia ketika suami isteri menjadi pasangan yang saling menyayangi, saling membantu dan tanggung jawab keluarga dipikul bersama. Jika masing-masing hanya berpegang kepada tanggung jawab fiqih saja, niscaya akan merugilah pasangan itu. Mereka akan kehilangan keindahan rumah tangga yang menjadikan hubungan cinta itu kekal.
Bukankah Allah berfirman:
 (إن الله يأمر بالعدل والإحسان) سورة النحل، الآية: 90.
Ssesungguhnya Allah memerintahkan agar berbuat adil dan ihsan”. (Q.S. An Nahl: 90)
Secara garis besar, ihsan adalah melakukan sesuatu diatas regulasi (keadilan) dengan mendahulukan nilai-nilai keutamaan yang mengangkat derajatnya
Dengan demikian menjadi jelas bahwa penerapan undang-undang hak dan kewajiban suami isteri harus dihiasi dengan cinta dan saling berbagi diantara keduanya.
Karena itu meskipun seorang suami adalah kepala rumah tangga tapi hal itu tidak berarti bahwa ia menutup mata dari pekerjaan rumah tangga disaat isteri membutuhkan bantuan.
Suatu hari Rasulullah pergi ke rumah Fathimah. Sesampai disana beliau melihat Ali bin Abi Thalib as. sedang membersihkan rumah. Rasul merasa bahagia melihatnya, seraya berkata:
"يا علي، من أعان زوجه على عمل في المنزل، كان له ثواب عمرة".
Wahai Ali, barangsiapa yang membantu isterinya dalam pekerjaan rumahnya maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukan umrah


[1] (7) هذه الرواية مع بعض التغيير والإضافة موجودة في ج10 من بحار الأنوار ص24 ـ 25 وقد ذكرت هذه الجملة مكان الجملة التي ذكرناها في المتن "سررت كثيراً لأن رسول الله (ص) عفا عن مشاركتي الرجال أعمالهم

DS033-DOSA MUHAQQAR



Manusia seringkali membagi dosa menjadi 2 yaitu: dosa besar dan dosa kecil. Sehingga kita cenderung takut melakukan dosa besar dan dengan tenangnya melakukan dan mengulangi dosa-dosa yang (kita anggap) kecil. Dalam hal ini Imam Ali berkata:
أشدّ الذنوب (عند الله) ذنب استهان به راكبه[1]  أشدّ الذنوب ما استخفّ به صاحبه"[2]
dosa yang paling berat adalah dosa yang diremehkan oleh pelakunya
Meremehkan dosa akan mendorong kita untuk mengulangi dosa-dosa itu. Semakin dosa sering dilakukan maka dosa itu menjadi kebiasaan yang tidak membebani dan bahkan menyenangkan.
Ketahuilah bahwa jiwa manusia seperti papan tulis. Jika jiwa kita adalah papan berwarna putih, maka noda hitam yang kecilpun akan segera tampak. Artinya jika jiwa bersih, maka dosa kecilpun akan selalu terasa mengganggu jiwa. Sementara amalan kita tidak menjadikan kita sombong karena noda putih (amal kebaikan) tidak akan nampak di papan putih.
Sebaliknya, saat seluruh noda menutupinya dan papan putih kini telah berubah menjadi hitam maka bertambahnya noda hitam tidak akan tampak lagi. 
Artinya dia tidak lagi merasakan dosa sebagai beban yang mengganjal jiwanya. Sebaliknya ia akan menyombongkan diri dengan amalnya yang sedikit karena legamnya jiwa menjadikan bercak-bercak noda putih menjadi sangat jelas baginya.
Jangan pernah meremehkan dosa karena dosa yang kita anggap remeh itulah yang susah untuk mendapatkan ampunan.
روي عن أبي أسامة زيد الشحّام قال: قال أبو عبد الله الصادق عليه السلام
"
اتقوا المحقّرات من الذنوب فإنّها لا تغفر.
قلت: ما المحقّرات؟
قال: الرجل يذنب فيقول:
طوبى لي لو لم يكن لي غير ذلك[3]
Imam Shadiq as. berkata: "Jagalah diri kalian dari muhaqqarat dosa!", aku (perawi) bertanya: "Apakah muhaqqarat dosa itu?", Imam menjawab: "Ketika seorang laki-laki melakukan dosa dan ia berkata: "Untung hanya dosa ini yang aku lakukan".
Jangan pernah pula memandang besar/kecil dosa dari bentuk perbuatannya tapi pandanglah besar/kecil dosa dari sudut Dzat yang kau sakiti.
Rasulullah bersabda:
لا تنظروا إلى صغر الذنب ولكن انظروا إلى مَن اجترأتم[4]
"Jangan kalian memandang kepada besar kecilnya dosa tapi lihatlah siapa yang kau lukai (dengan dosa itu)"
Cara pandang kita terhadap dosa akan mempengaruhi perilaku fikih kita dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika membicarakan fiqih, perhatian kita selalu tertumpu pada perintah wajib dan larangan haram yang bersifat. Sedikit sekali diantara kita yang memperhatikan masalah perintah yang bersifat sunnah atau larangan yang bersifat makruh. Padahal keduanya sama-sama mewakili perintah dan larangan hanya saja kadar penekanannya yang berbeda.
Misalnya saat kita membicarakan tentang makruh. Sebagian besar orang memandang makruh adalah 'yang tidak haram' sehingga kita tetap melakukannya tanpa ada penyesalan dan beban hati. Sementara ada sebagian kecil orang yang memandang makruh itu 'yang dibenci Allah', sehingga ia segera menghindari mengingat ia tidak menginginkan melakukan sesuatu yang dibenci oleh Allah swt. sebagai Dzat yang sangat ia harapkan ampunan-Nya karena dibenci Allah berarti juga dibenci Nabi Muhammad saw., manusia yang kita harapkan syafaatnya dan demikian seterusnya hingga para Imam as.
Cara pandang kita terhadap dosa sangat berpengaruh dalam pembentukan akhlak dan budi pekerti. Hingga tidak berlebihan kiranya apabila apabila kita mengatakan bahwa paradigma kita terhadap dosa akan mempengaruhi kwalitas ibadah yang kita lakukan.




[1] وسائل الشيعة، ج15، ص312.
[2]  نهج البلاغة، ص 559، الرقم 477

Thursday, 15 March 2018

DS032-FANATIK



Komunitas adalah kebutuhan makhluk sosial.

Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan interaksi dengan manusia lain baik untuk memenuhi kebutuhannya, menyalurkan keinginannya atau transfer pemikirannya.

Di sisi lain, manusia diciptakan sebagai makhluk yang memiliki perbedaan dengan makhluk sejenisnya. Baik perbedaan fisik seperti warna kulit, bahasa dan sebagainya, atau perbedaan non fisik seperti cara berfikir yang melahirkan berbagai pandangan, termasuk pandangan agama.

Dalam berbagai perbedaan itu, manusia mulai merasa perlu menyatukan beberapa perbedaan dalam sebuah fakta yang menyatukan. Kondisi itulah yang membidani kelahiran berbagai komunitas dan kelompok yang mendasarkan kelompok mereka diatas satu hal yang disepakati.

Dengan hidup berkomunitas, manusia merasakan ketenangan dan merasa mendapatkan kemudahan untuk memenuhi kebutuhannya. Ia juga dengan leluasa berbagi opini dengan orang-orang yang memiliki dasar pemikiran yang sama.

Asas komunitas yang kokoh

Namun demikian, tidak sedikit terbentuknya komunitas tertentu dapat menciptakan kebanggaan terhadap kelompoknya yang selanjutnya akan menciptakan perasaan asing dengan manusia lain yang berada dalam komunitas yang berbeda. Hal itu dikarenakan sosialisasi pemahaman tentang dasar pembentukan sebuah komunitas yang tidak dilakukan dengan sempurna. Akibatnya, jika suatu saat terjadi peristiwa yang memantik benturan maka benturan yang terjadi akan bersifat lebih massal karena tidak lagi terjadi antar personal namun antar komunitas yang disatukan oleh solidaritas kelompok tanpa pemahaman akan dasar yang benar. Apalagi jika anggota komunitas menisbahkan diri kepada kelompok tertentu karena dorongan emosional yang tercipta akibat propaganda atau cuci otak yang tidak membangun dan tidak bertanggung jawab. Lihatlah beberapa oknum gang motor yang video unggahan mereka menjadi viral dengan perbuatan anarkis yang melahirkan berbagai tindakan kriminal atau perhatikan berbagai kasus tawuran massal antar sekolah yang meresahkan banyak pihak dan menjadi catatan suram bagi dunia pendidikan.
Karenanya dalam membentuk sebuah komunitas kita harus memiliki dasar pemersatu yang benar-benar matang sehingga layak untuk diperjuangkan dengan kesadaran, bukan dengan luapan emosi yang menggilas logika akal sehat.

Konsekwensi dan loyalitas terhadap asas

Setelah terbentuk asas yang kokoh maka harus tercipta juga kondisi dimana setiap anggota komunitas siap menerima segala konsekwensi yang merupakan perjuangan yang lahir dari loyalitas terhadap asas komunitas. Dengan kata lain apapun yang ia lakukan harus disesuaikan dengan asas tersebut meskipun terkadang dirasakan berat dan mungkin tidak menguntungkan bagi anggota secara personal. Tanpa loyalitas maka komunitas dan undang-undangnya tidak akan bermakna bahkan akan menjadi senjata penyimpangan yang lebih berbahaya.

Komunitas agama

Masalah penetapan asas dan loyalitas terhadapnya menjadi sangat urgen ketika komunitas yang dibentuk adalah komunitas berbasis agama. Kelompok yang berbasis agama memerlukan pemahaman yang benar-benar matang dan sempurna terhadap asas yang mendasarinya. Hal itu mengingat betapa agama bagaikan pedang dengan ujung bermata dua yang teramat tajam, dimana satu ujung sangat konstruktif dan memberikan kebahaiaan bagi masyarakat manusia dan ujung yang lain sangat destruktif bahkan akan menjadi sumber kepunahan budaya manusia.
Dengan kata lain, pembentukan komunitas agama memerlukan usaha pendalaman terhadap makna agama yang akan menjadi dasar pembentukan satu komunitas agama dan setelah itu penanaman loyalitas logis terhadanya.

Setiap kelompok selalu bangga dengan kelompoknya

Satu hal yang menjadi bencana bagi komunitas agama adalah kebanggaan terhadap komunitas dan melupakan asas yang seharusnya selalu menyertai dalam setiap kebijakan dan tindakan, apapun konsekwensinya. Saat itu komunitas akan menjadi kendaraan menuju kehancuran manusia karena saat itu pembuat kerusakan memiliki senjata ampuh untuk melancarkan aksinya. Bukankah kita melihat bahagaimana sebuah kelompok yang mengatasnamakan Islam telah melakukan tindakan yang kontra produktif dengan Islam itu sendiri. Mereka melakukan kerusakan dan pertumpahan darah sesame muslim hanya untuk mencapai misi golongan yang disimpangkan?. Bukankah perseteruan antar partai atau ormas Islam selalu bersenjatakan ayat suci dan hadits Nabi demi menunjukkan keunggulan kelompok mereka dari yang lain?.
Hal tersebut menjadi bukti bahwa kebanggan mereka bukan karena Islam sebagai landasan tapi terhadap kelompok mereka yang mengibarkan bendera Islam bertuliskan lafadz tauhid. Mereka tidak memperjuangkan Islam karena yang mereka perjuangkan adalah islamisme dengan mempolitisir Islam untuk mencapai tujuan non islami mereka.  Sayangnya masih banyak masyarakat yang belum mampu membedakan diantara komunitas Islam dan gerombolan Islamisme. Gerakan Islam memperjuangkan loyalitas terhadap landasan Islam yang dipahami dan diyakini. Sebuah perjuangan murni dilakukan untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Sementara gerakan Islamisme adalah gerombolan pengacau dan mufsid yang menjadikan agama sebagai tameng bagi tujuan destruktif mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.

Allah berfirman:

 وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ ...فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Dan sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah Aku. Putuskanlah dirimu dari usrusan mereka biarkan mereka sibuk dengan dirinya, karena setia kelompok merasa bangga pada kelompoknya masing-masing
(Q.S Al Mukminun 53-54)  

 مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (

“…diantara orang-orang yang memecah belah agama mereka hingga menjadi berbagai kelompok dimana setiap kelompok merasa bangga dengan kelompoknya
(Q.S. Ar Rum:32)