Followers

Saturday, 3 March 2018

DS017-MUSUH ITU NAMANYA 'AKU'



Pada suatu hari Rasulullah menyambut kepulangan pasukan kaum muslimin yang baru saja menyelesaikan peperangan besar. Dalam kesempatan itu beliau bersabda: “Sungguh kalian kembali dari perjuangan kecil dan kini tersisa tugas kalian melakukan perjuangan besar”. Mendengar hal itu para sahabat bertanya: “Apakah perjuangan besar itu ya Rasulullah?”, “Jihad nafsu”, jawab Rasulullah.

Mengapa jihad mengekang hawa disebut oleh Rasulullah sebagai JIHAD AKBAR (jihad besar) sementara peperangan yang menelan banyak korban dan tertumpahnya darah di medan laga disebut JIHAD ASGHAR (jihad kecil)...?

Barangkali ada beberapa hikmah yang terkandung dalam sabda Rasulullah itu, diantaranya:

1. Setiap manusia selalu mencintai diri sendiri melebihi yang lain. Semua perkara yang berhubungan dengan dirinya menjadi yang terpenting. Ia akan mengeluarkan harta untuk mengenyangkan perutnya tapi terasa berat harta yang tidak seberapa ia keluarkan untuk orang lain. Maka jihad melawan hawa nafsu menjadi  sangat berat karena harus melawan pihak yang paling dicintai yaitu diri sendiri.

2. Peperangan di medan perang adalah pertempuran dimana kita berhadapan dengan musuh yang Nampak jelas kebenciannya kepada kita hingga kitapun tergerak untuk memeranginya. Kita akan memenangkan peperangan jika kita dapat melukai sebanyak-banyaknya musuh dengan senjata kita sehingga kita merasa puas dengan tindakan kita. Tapi dalam perjuangan melawan Hawa yang liar, kita berhadapan dengan musuh yang tak bisa dilukai dengan senjata di tangan kita. Parahnya lagi, musuh yang satu ini tak tampak sebagai musuh. Ia nampak bagai kekasih yang menarik dan teramat sayang untuk dilukai. Ia bagaikan ular yang memiliki warna indah dan kulit yang halus namun dalam tubuhnya menyimpan banyak bisa dan racun yang mematikan.

3. Peperangan fisik hanya terjadi saat dua kelompok berhadapan dan akan selesai saat salah satu kubu tumbang berkalang tanah. Selanjutnya daerah akan dikuasai oleh sang pemenang pertempuran. Namun lain halnya dengan perang melawan serangan hawa nafsu, ia akan berlangsung setiap saat dan tidak mengenal waktu serta tidak mengenal kata akhir. Kalaupun hawa nafsu berhasil ditaklukkan, maka itu hanya sementara saja karena ia akan menyusun balik kekuatan untuk menyerang dengan lebih keras lagi.

Hal ini mengingatkan kita akan kegigihan Iblis dalam menggelincirkan manusia dimana ia pernah berkata:
"Sesungguhnya aku hancurkan mereka (manusia) dengan berbagai dorongan perbuatan dosa. Namun manusia mengalahkanku dengan istighfarnya. Tapi ketahuilah bahwa aku tidak akan tinggal diam karena akan kuhancurkan mereka dengan perasaan bangga dan sombong atas istighfar nya itu".
Jadi, menjadi jelas bagi kita mengapa jihad melawan hawa nafsu yang liar adalah jihad terbesar dan terberat dalam hidup kita...

Friday, 2 March 2018

DS016-ISLAMISME, ANTARA PENJAJAHAN DAN KETERJAJAHAN



[06:17, 2/10/2018] Sebagaimana kita ketahui, tahun 2017 sangat diwarnai oleh munculnya kelompok-kelompok Islam radikal yang 'merasa' memperjuangkan kepentingan Islam dan kaum muslimin. Bahkan yang sempat menjadi pusat perhatian semua kalngan adalah pandangan bahwa usaha pembenahan masyarakat yang dianggap telah menyimpang dari garis Tuhan hanya dengan mendirikan khilafah Islamiyah (kepemimpinan Islam). Mereka menyederhanakan sebab terjadinya segala kekacauan dan chaos pada masyarakat adalah tidak tegaknya kekuasaan Islam sebagaimana Islam  pada masa keemasannya.
Diakui atau tidak, gerakan ini terinspirasi oleh agresi-agresi tentara bentukan kelompok-kelompok radikal semisal ISIS yang memporakporandakan Iraq, Syiria dan sekitarnya. Kekecewaan akibat kondisi sosial yang dirasa menyusahkan oleh sebagian masyarakat menjadikan propaganda perubahan ekstrim ini laris manis diterima sebagai sebuah solusi dengan menjadikan kondisi-kondisi yang mereka anggap kontra islam sebagai kambing hitam. Mereka muncul bagai pahlawan dan sekelompok juru selamat bagi umat ini. Sekilas mengingatkan kita kepada agresi Jepang ke bumi Indonesia dengan propaganda bahwa mereka adalah ‘saudara tua’ bangsa Indonesia. Sejenak rakyat Indonesia mengelu-elukan kedatangan mereka sebagai juru selamat dari cengkraman penjajahan Belanda yang bercokol begitu lama. Bendera Jepang dikibarkan oleh anak-anak sebagai sambutan hangat bagi kedatangan penyelamat rakyat.
Sepertinya propaganda yang hampir sama juga dilakukan oleh kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam dalam setiap gerakan dan tindakan mereka. Propaganda ini begitu berhasil mewarnai pola pikir sebagian masyarakat yang merasa dikecewakan oleh sistem sosial dimana mereka berada. Meskipun sistem yang tidak sehat sering dijumpai dalam masyarakat namun tidak jarang kekecewaan itu muncul sebagai hasil dari jiwa malas yang diakibatkan oleh keterjajahan mereka selama ini. Mereka tahu bahwa api memiliki sifat membakar namun mereka juga harus tahu bahwa api hanya akan membakar secarik kertas apabila kita biarkan kertasnya kering. Keterjajahan menjadikan mereka menganggap bahwa setiap penderitaan adalah mutlak sebagai akibat kezaliman penguasa tanpa melihat bahwa jiwa terjajah juga menjadi salah satu sebab bagi langgengnya sebuah tirani.
Akhirnya, yang menjadi target serangan adalah penguasa yang selalu diidentikkan dengan kezaliman tanpa membuat gerakan pengimbang yaitu peningkatan kwalitas manusia agar terlepas dari kezaliman itu.
Dengan kata lain perjuangan mereka bukanlah perjuangan yang mewakili kepentingan Islam. Mereka memperjuangkan kepentingan kelompok dengan membawa bendera Islam sebagai propaganda yang sangat sesuai dengan kondisi pasar masyarakat awam. Masyarakat yang selalu memandang penguasa adalah kejahatan dan pemberontakan adalah perjuangan. Mengingatkan kita pada apa yang sering diajarkan oleh masyarakat miskin kepada anak-anak mereka bahwa orang kaya pasti jahat dan orang miskin pasti baik. Surga hanya bagi kaum teraniaya dan neraka disiapkan bagi penganiaya. Mereka lupa bahwa Allah pernah berfirman: ‘LA TADHLIM WA LAA TUDHLAM…(JANGANLAH MENZALIMI DAN JANGAN SAMPAI DIZALIMI”

Radikalisme dalam bentuk apapun bukanlah ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Islam mengajarkan bahwa akhlak kasih sayang adalah senjata ampuh dalam memberikan ilustrasi sebenarnya tentang Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. dan dilanjutkan oleh para khalifah syar’i yang ditunjuk Allah melaui lisan suci rasul-Nya. Umat Islam harus tetap berpegang kepada asas pengutusan itu, dan tiada Kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai kasih saying bagi alam semesta”.

Rasanya tidak berlebihan jika kita menjadikan ajaran kasih sayang bisa menjadi tolok ukur dalam menilai sebuah gerakan yang mengatasnamakan Islam. Gerakan yang mengagungkan anarkisme, radikalisme dan intoleransi pastilah bukan gerakan yang mewakili misi Islam. Gerakan itu memanfaatkan masyarakat yang kecewa dan tidak mengerti kondisi sehingga propaganda itu hanya akan menciptakan emosional tak terarah dan tidak logis. Lihatlah bagaimana mereka mengatasnamakan tindakan mereka sebagai gerakan Islami namun mereka memerangi kaum muslimin yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka.

Barangkali inilah perbedaan mendasar antara ISLAM dan ISLAMISME...
Islam adalah agama langit yang mengajarkan kasih saying sebagai jembatan untuk membuat hubungan dengan masyarakat sehingga mampu mengajak mereka ke jalan Allah dengan penuh kebijaksanaan, nasehat yang baik dan diskusi yang santun.
Sedangkan Islamisme adalah usaha eksploitasi agama dan memanfaatkannya sebagai alat mencapai tujuan yang kontra Islam.
Kita ambil contoh ayat-ayat Al Quran, dimana kita bisa membagi tujuan berpegang kepada ayat-ayat sucu menjadi dua:

1. Memanfaatkan ayat-ayat Al Quran sebagai sumber petunjuk dan cahaya menuju kebahagiaan, dan selanjutnta mengamalkannya sesuai aturan yang terkandung di dalamnya dengan penuh keikhlasan dan ketaatan.

2. Memanfaatkan Al Quran untuk menguatkan dan disesuaikan dengan opini personal yang sudah ada sebelumnya, kemudian ia ambil satu atau dua ayat untuk mendukung pendapatnya itu,pastinya ayat-ayat tersebut akan diselaraskan dan diubahsuai tafsir atau takwilnya.

Orang yang menjadikan Islam sebagai jalan hidupnya akan senantiasa berjalan diatas tuntunannya dan setiap Islam memerintahkan, ia menjawab: "Sami'na wa atha'na (kami dengar dan kami taat)", dengan segenap konskwensi senang maupun susah. Ia akan rela berkorban demi tegaknya Islam dan bukan mengorbankan Islam demi terpenuhi keinginannya. Itulah hakikat Islam seseorang yang menjadikannya mulia di hadapan Allah dan terhormat diantara manusia.
Sementara, orang yang menggunakan Islam untuk kepentingan diri dan kelompoknya, tidak akan pernah berjuang secara murni demi Islam. Ia akan mengangkat bendera Islam saat ia rasa Islam memberikan keuntungan duniawi kepada mereka. Mereka selalu menisbahkan sesuatu kepada Islam padahal Islam saat itu adalah diri mereka sendiri sehingga yang tidak sesuai dengan pendapat mereka akan dianggap kafir dan keluar dari Islam.

ISLAM mengajarkan kasih sayang (rahmatan lil 'alamin) tapi ISLAMISME menebarkan teror atas nama Islam.

ISLAM mengajarkan silaturahmi tapi ISLAMISME memutuskannya dengan kejam dan tidak berakhlak.

ISLAM adalah akhlak dan karakter tapi ISLAMISME menganggap Islam sebagai barang dagangan.
ISLAM menyucikan diri dengan kepasrahan tapi ISLAMISME mengotori diri dengan kebencian, kedengkian dan iri hati.

Yang lebih menggelikan lagi, mereka sendiri tidak menyadari bahwa yang mereka lakukan bahkan bukan wujud ISLAMISME apalagi ISLAM karena yang mereka lakukan adalah sebenarnya adalah ARABISME....ARABISME JAHILIYAH...!

Saya teringat sejarah yang say abaca tentang salah satu WALI SANGA yaitu Sunan Kalijaga yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Saat melihat tradisi wayang kulit Jawa, beliau tidak serta merta merubah wayang kulit menjadi tarian zafin, tari perut atau ciri khas Arabian yang lain. Yang beliau lakukan adalah memberikan substansi Islam dalam pementasan wayang kulit itu. Beliau juga tidak merubah tradisi orang Jawa yang gemar minum jamu alami itu menjadi tradisi MINUM KENCING ONTA.....

Jadi...ISLAM dan ISLAMISME sangat jauh berbeda bahkan bertentangan.
Semoga kita mampu mencapai derajat Islam sejati yang sempurna (kaffah) bersama kafilah Rasulullah saw. dan Ahlulbait as.


Sunday, 25 February 2018

DS015-TUDUHAN SYIRIK LEBIH BERBAHAYA DARIPADA TUDUHAN KAFIR


9 Fenruari 2018
Sebagaimana Islam memberikan batasan bahwa barangsiapa yang lisannya mengakui kalimat Tauhid maka ia adalah muslim dan tidak boleh dituduh sebaliknya.
Mengakui tauhid, artinya ia mengakui bahwa Allah adalah Pencipta yang layak disembah dan tidak ada selain-Nya. Sedangkan orang yang menganggap adanya sekutu kekuatan yang independent dan tuhan selain Allah maka ia disebut musyrik.
Memang, dari sudut pandang fiqih, mungkin saja kita menganggap seseorang yang mengucapkan kalimat tauhid adalah kafir karena ia mengingkari 'dharuriyat' (hal-hal asas) dalam agama seperti wajibnya shalat dan sebagainya dimana (keingkaran itu) itu bukan dikarenakan kebodohan atau syubhat. Itu setelah kita tahu dan memiliki bukti akan hal itu. Sebelum ada bukti yang kuat maka kita tidak berhak melakukan takfir kepada orang lain.
Demikian juga dengan predikat musyrik yang sering disematkan kepada sekelompok orang yang melakukan ziarah kubur, tahlil dan sebagainya. Tuduhan syirik tidak boleh diarahkan kepada orang yang bertauhid sebelum ada bukti yang menjadi indikasi kuatnya.
Dengan kata lain, Rasulullah diperintahkan untuk menyampaikan: "Jangan kamu menuduh seseorang yang bertauhid itu syirik sebelum kalian mendapatkan dalil akan kemusrikannya!"
Mengapa tuduhan syirik lebih berbahaya dari tuduhan kafir?
Tuduhan syirik menjadi lebih berbahaya daripada tuduhan kafir karena tuduhan kafir hanya ditujukan kepada orang-orang yang jelas-jelas mengingkari Islam dengan kesadaran dan ilmu, sedang tuduhan musyrik ibarat panah bermata dua karena tidak hanya diarahkan diarahkan kepada orang kafir, tapi juga dengan mudah diarahkan kepada muslim yang dianggap menyekutukan Allah oleh sebagian kaum muslimin yang biasanya mayoritas. Sebagaimana kita sampaikan pada kuliah sebelumnya bahwa mereka memposisikan diri mereka sebagai polisi syariat dan berfantasi menjadi wakil Allah untuk menetapkan vonis musyrik kepada orang yang melakukan ziarah kubur, bertawassul atau siapapun yang mereka kehendaki.
Dengan demikian tuduhan syirik akan menghancurkan persatuan kaum muslimin karena biasanya dilakukan oleh kelompok mayoritas muslim kepada minoritas yang berbeda praktek keagamaannya dengan mereka. Tidak sedikit kondisi ini dimanfaatkan hingga ranah politik. Ketika satu kelompok muslim berusaha menghancurkan kelompok muslim lain yang dianggap rival maka salah satu yang kerap dilakukan adalah menciptakan image bahwa kelompok lawan bertentangan dengan dasar tauhid atau dengan kata lain telah melakukan kemusyrikan. Dengan hal itu diharapkan kelompok lawan akan tumbang dan ambisi politik atas nama agama akan menang dan menjadi pahlawan tauhid.
Tindakan orang-orang seperti itu adalah bentuk JAHIL MURAKKAB, kebodohan yang bertingkat (tak tahu sampai berapa layer) karena mereka lupa bahwa tauhid adalah substansi tolak ukurnya. Mengapa jahil bertingkat?, karena tanpa disadari, saat mereka merasa memperjuangkan tauhid, sesungguhnya mereka telah melakukan kemusyrikan yaitu dengan menuhankan diri dan kelompok mereka serta menjadikannya sebagai tolak ukur tauhid. Mereka merasa bahwa perbuatan mereka adalah mutlak benarnya dan bahwa ucapan mereka adalah absolute adanya.
Kebodohan inilah yang menciptakan tradisi menganggap bid'ah atas setiap perbuatan yang tidak sesuai dengan ijma’ tendensius kelompok mereka bukan sunnah Rasul saw.
Mereka berkhayal bahwa pakaian yang mereka kenakan, jenggot mereka yang tumbuh terbiarkan, celana pendek yang mereka pakai dan sebagainya adalah meniru Rasulullah saw. sehingga barangsiapa yang tidak seperti itu maka ia telah melakukan bid'ah dalam pakaian maupun tingkah laku.
Sebenarnya semua itu tidak masalah sebagai usaha dengan niat untuk mendekati sunnah. Namun tidak berhak mereka menganggap orang lain melakukan kesesatan karena mengenakan pakaian yang tidak sama dengan pakaian mereka atau melakukan kebiasaan di luar kebiasaan mereka.
Kalau mereka merasa semua yang mereka pakai adalah sama dengan pakaian yang dikenakan  Rasulullah, maka bukankah Rasulullah adalah orang Arab yang berpakaian sama dengan orang Arab yang lain termasuk Abu Lahab atau Abu Jahal.
Tindakan anarkis yang dilakukan sekelompok kaum muslim terhadap kelompok kaum muslimin yang lain adalah tindakan jahiliyah yang dilakukan oleh kaum Arab sebelum masa Islam. Nuansa itu sangat terasa saat kita menyaksikan kebiadaban gerombolan ISIS atau apapun namanya terhadap kaum muslimin terutama kaum perempuan. Tindakan itu jauh dari jaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan jauh dari konsep-konsep dasar dakwah Islam yaitu hikmah, nasehat dan diskusi dengan cara terbaik.
Meski demikian, mereka mengumumkan bahwa mereka adalah para pejuang tauhid meskipun dengan memerangi manusia-manusia muslim yang bertauhid.