Followers

Monday, 23 July 2018

DS050-TAWASSUL ANTARA IFRATH DAN TAFRITH (BAG. 2)


Sejatinya, konsep tawassul ini adalah konsep logis dan sangat akrab dengan konsep keberagamaan kita. Jika kita bersedia menilik ayat-ayat Al-Qur’an, kita akan temukan bahwa Allah telah menetapkan mekanisme pengabulan permohonan yang sa;ah satunya adalah wasilah (perantara) yang telah ditetapkan. Perhatikan saat Allah berfirman: Qul, in kuntum tuhibbuunallaha fattabi’uuni yuhbibkumullahu, Ya Muhammad katakanlah kepada mereka. Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku. Maka Allah akan mencintai kamu.
Saat itu Allah menetapkan Nabi Muhammad SAW sebagai wasilah untuk manusia mendapatkan cinta-Nya.
Dengan sangat tegas disebutkan dalam ayat diatas bahwa ketaatan mutlak kita terhadap sabda Rasulullah saw. merupakan wasilah bagi kita untuk menggapai cinta-Nya. Fakta ini dikukuhkan kembali dengan firman-Nya:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Tidaklah pantas bagi seorang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, jika Allah telah menentukan suatu perkara, ia memilih selainnya. Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia telah tersesat dengan nyata (Q.S. Al Ahzab: 36)

Ayat tersebut menegaskan betapa ketaatan kepada Rasul adalah ketaan kepada Allah dan kemaksiatan kepada Rasul adalah kemaksiatan kepada-Nya. Nampak dan sangat terasa betapa keduanya adalah satu dan tak terpisahkan seakan menafikan pengabulan atas permohonan jika salah satu dari keduanya terpisah. Semua itu memberikan keyakinan bahwa apa yang disabdakan Rasul adalah firman Allah dalam format yang berbeda sehingga ketaatan terhadap sabda Nabi haruslah mutlak atau kita akan meragukan firma-Nya. Kenyataan ini dikuatkan dengan firman-Nya:
 وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ 
Dan dia tidak berbicara karena hawa (nafsu) karena (ucapannya) tidak lain adalah wahyu yang diturunkan (Q.S. An Najm: 3-4)

Mekanisme ini akan terus berlaku hingga hari kiamat.
Yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang akan menjadi wasilah antara umat Muhammad ini sepeninggal beliau?.
Sebenarnya masalah ini tidak akan merisaukan sekiranya kita bersedia merujuk kepada ayat dan riwayat (hadits) dengan sadar dan semangat keilmuan karena sesungguhnya wasilat setelah Rasulullh saw. telah ditetapkan Allah melalui lisan suci Rasul-Nya di banyak kesempatan penting.
Rasulullah bersabda:
Sesungguhnya aku tinggalkan bagi kalian dua pusaka agung yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat untuk selamanya, keduanya adalah: Kitab Allah (Al Quran) dan Ahlul Baitku.

Meskipun pada sebagian redaksi menyebutkan kitab Allah dan sunnahku namun hal itu tidak menciptakan kontradiksi karena beberapa hal:
·         Sunnati bermakna umum dan Ahlul Bait bermakna khusus sehingga kalimat Ahlul Bait memiliki fungsi takhshih (pengkhususan) makna, tabyin (menjelaskan) makna dan tafsil (merinci) makna.
·         Sunnah adalah hakikat abstrak dan nasibnya terletak pada siapa yang memiliki otoritas sunnah itu. Karenanya kita tidak menyebutkan kata sunnah terpisah dari pemilik sunnah itu. Kita selalu menyebut sunnah Rasul, sunnah sahabat, sunnah Ahlul Bait as. Jadi meskipun redaksinya wa sunnati tetap kita harus mencari tahu siapa yang berhak dinisbahkan kepada sunnah Rasul itu.
·         Dengan logika sederhana kita bisa mengatakan bahwa Ahlul Bait sebagai anggota rumah Rasulullah pastinya lebih mengetahui apa yang berlaku di rumah kenabian dibanding orang lain. Jadi mengikuti Ahlul Bait lebih terjamin daripada selain mereka. Dengan kata lain, saksi terdekat atas sunnah Rasul saw. adalah Ahlul Baitnya.

Pada gilirannya, Rasulullah saw. menjadikan kecintaan kepada Ahlul Bait as. sebagai wasilah ketaatan itu sehingga ketaan ini bersifat mutlak pula. Bukankah Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil amr (pemegang urusan Allah dan Rasul) diantara kalian (Q.S. An Nisa:59)

0 komentar:

Post a Comment