Followers

Monday, 14 May 2018

DS045-PASCA GAGALNYA TAUBAT (BAG.1) :


Taubat, makrifat manusia akan dirinya

Kita diajarkan untuk memulai setiap pekerjaan kita dengan menyebut nama Allah yang berdimensi jamalaiyah yaitu rahman dan Rahim yang sekaligus merupakan ta’awudz (perlindungan) dari murka dan azabnya. Dalam kalimat itu kita berharap agar Allah memperlakukan kita (dalam segala keadaan) dengan dimensi kasih sayang yang melampaui dimensi keadilan. Dalam doa Jausyan Kabir (sebagai doa yang berisikan seruan-seruan dengan nama-nama mulia-Nya), misalnya, banyak kita temukan ajaran seruan yang menguatkan hakikat ini, seperti ya man laa yukhafu illa ‘adluh ! (wahai yang tidak ditakuti kecuali keadilan-Nya), ya man sabaqat rahmatuhu ghadhabah ! (wahai yang kasih-Nya selalu mendahului murka-Nya), ya man laa yurja illa fadhluh ! (wahai yang tidak diharapkan kecuali kemurahan-Nya) dan sebagainya. Tentunya asma-Nya yang lain yang berdimensi jalaliyah seperti ya qawiy, ya mutakabbir, ya jalil dan sebagainya.
Dalam interaksi dengan Allah, memang tidak salah jika kita selalu mengedepankan pandangan bahwa Dialah Dzat yang pengasih dan penuh maaf. Selain karena memang begitulah hakikat salah satu dimensi wujud-Nya, hal itu pula yang menjadikan hidup kita senantiasa dipenuhi dengan harapan akan keselamatan bahkan setelah kesalahan-kesalahan yang menimbulkan murka.
Namun demikian pandangan dari sisi jamaliyah saja seringkali menjerumuskan kita ke dalam lembah ‘tak tahu diri’. Maksudnya, kelalaian manusia sebagai hamba terhadap dimensi kekurangannya seringkali menjadikannya kehilangan etika saat melakukan interaksi dengan Sang Pencipta. Kita selalu melihat doa sebagai ajang permohonan dan permintaan yang tak terbatas dengan hanya mengingat bahwasannya Allah maha kaya lagi maha memberi. Kondisi ini membuat kita kehilangan kesadaran akan segala bentuk kekurangan dan kelalaian dalam penghambaan, padahal semua itu sangat mempengaruhi ijabah bagi setiap panjatan doa kita. Lebih dari itu, kesadaraan diri itulah yang menjadi kunci kwalitas penghambaan kita kepada Allah. Bukankah dalam hadits disebutkan bahwa barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya. Hal ini sejalan dengan sabda Imam Ali: Allah akan menyayangi orang yang tahu dirinya berasal darimana, sedang berada di mana dan akan menuju kemana”.
Taubat yang benar adalah taubat yang berlandaskan kesadaran akan kekurangan kita yang menumbuhkan kepasrahan diri akan kemutlakan Tuhan dalam segala keadaan. Tanpa hal itu, tidak menutup kemungkinan bahwa setiap lantunan doa kita hanya akan menjadi wujud kemunafikan hati dalam berinteraksi dengan Yang Maha Tahu.

Taubat, regulasi syariat yang teramat berat

Al Quran adalah kitab Allah yang disepakati secara mutawatir dan meyakinkan bahwa hukum-hukumnya mewakili hukum-hukum yang dikehendaki Allah. Barangsiapa yang menyimpang darinya maka ia telah menyimpang dari kebenaran. Bahkan Ahlul Bait as. telah berpesan agar setiap perselisihan masalah dirujuk kepada hadits (riwayat) para perawi hadits mereka selama tidak bertentangan yang jelas dengan muhkamat Al Quran dan jika sampai terjadi pertentangan dengan Al Quran maka hendaklah riwayat tersebut dicampakkan jauh-jauh. Dari ilustrasi diatas, kita mendapatkan gambaran bahwa Al Quran, sebagai kitab samawi, harus menjadi acuan dalam setiap aktifitas kita, baik hablun minallah (ibadah) maupun hablun minannas (mu’amalah).
Dalam bagian ini kita akan membicarakan taubat dalam regulasi syariat sebagaimana yang termaktub dalam Al Quran agar kita mengetahui betapa pertaubatan merupakan perkara sakral dan membutuhkan usaha maksimal dan tak kenal lelah. Seandainya setiap orang tahu sulitnya mendapatkan pengabulan taubat niscaya ia tidak akan pernah melakukan dosa dan pelanggaran. Dalam surat An Nisa:17-18 Allah menjelaskan hakikat taubat yang akan membuat kita terhenyak saat mengetahuinya karena dengannya kita tahu betapa taubat kita nyaris mustahil diterima dengan regulasi yang termaktub dalam ayat tersebut.
Allah berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Sesungguhnya taubat itu hanya kepada Allah dan berlaku bagi orang-orang yang melakukan sebuah keburukan, karena ketidaktahuan serta bertaubat dengan segera.  Merkalah yang akan diterima taubatnya oleh Allah dan Allah maha tahu lagi maha bijaksana.
Dan tidak termasuk taubat bagi orang-orang yang melakukan banyak keburukan hingga ajal mendatangi salah seorang diantara mereka dan saat itu ia berkata: “Aku bertaubat sekarang!” demikian juga tidak berlaku bagi orang-orang yang mati dalam kekafiran. Kami telah menyedikan siksa yang pedih bagi mereka. (Q.S. An Nisa: 17-18)

Jika kita perhatikan, kedua ayat diatas menjelaskan regulasi yang harus dijalani pendosa dan syarat-syarat yang harus terpenuhi untuk mencapai pengampunan:
1.      Taubat berlaku bagi satu dosa (as-suu-u) dan bukan pengulangan dosa-dosa (as sayyi-aat)
2.      Taubat berlaku bagi dosa yang dilakukan akibat ketidaktahuan (bijahaalatin) bukan yang dilakukan dengan kesadaran dan pengetahuan.
3.      Taubat hanya diterima jika segera dilakukan (min qariibin) bukan yang dilambat-lambatkan, bahkan hingga ajal menjemput baru bertaubat (inni tubtul aana)
Dengan regulasi yang termaktub dalam kedua ayat suci diatas, masihkah kita yakin bahwa taubat kita akan diterima Allah?, apakah hanya satu dosa kemudian kita bertaubat atau banyak dosa kita kumpulkan dan baru setelah itu kita bertaubat?, apakah dosa yang kita lakukan merupakan akibat ketidaktahuan atau kesengajaan yang diremehkan?, apakah kita segera bertaubat setelah melakukan dosa atau melambat-lambatkan taubat kita?.
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita semakin yakin bahwa mustahil bagi kita untuk mendapatkan pengabulan atas taubat kita.
Pada titik inilah kita sampai pada kondisi putus asa dan hanya mampu mengatakan: Ilahi fa kaifa lii (wahai Tuhanku, bagaimana dengan nasibku)?. Pada kondisi inilah kita hanya bisa pasrah dan berserah kepada keputusan-Nya yang bisa kita prediksikan hasilnya.

Mencari celah di luar regulasi

Keputusasaan akan pengabulan pertaubatan kita inilah yang pada akhirnya melahirkan rintihan bernuansa harapan akan sesuatu di luar regulasi tersebut yang akan menyelamatkan kita. Harapan itu terwakili oleh seruan kita dalam salah satu bagian doa Jausyan Kabir, ya man laa yurja illa fadhluh, ya man laa yukhafu illa ‘adluh (wahai yang tiada diharapkan selain kemurahan-Nya, wahai yang tiada ditakuti selain keadilan-Nya!)
Kepasrahan membuat kita sadar akan hakikat lain yang sangat lekat dengan dimensi kelembutan Allah. Sebuah dimensi dengan aura yang memberikan secercah harapan baru pasca kegagalan kita melalui regulasi pertaubatan yang sangat, bahkan mustahil, untuk kita penuhi persyaratannya. Dimensi itu adalah dimensi rahmat (kasih sayang) yang merupakan salah satu dimensi jamaliyah Allah.
Dalam hal ini kita berusaha untuk melakukan segala sesuatu yang menumbuhkan kasih dan sayang Allah kepada kita dengan mengidentifikasi hal-hal yang dicintai Allah dan membedakannya dengan perkara-perkara yang menimbulkan murka-Nya.
Dalam keadaan seperti ini kita mengakui segala kekurangan dan kelemahan kita hingga kita mampu merasakan keagungan-Nya. Hal itu tidak lepas dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang menilai segala sesuatu dengan kacamata relatif, dimana ia menilai besar kecilnya sesuatu setelah membandingkannya dengan sesuatu yang lain.
Dalam hal ini, manusia juga membandingkan antara diri dan Tuhannya. Semakin ia merasakan kehinaan dan kekurangan dirinya maka ia akan segera merasa betapa agung dan sempurna Tuhannya. Demikian sebaliknya, saat ia merasa dirinya agung dan sempurna maka ia sedang menganggap Tuhan tidak sebagaimana mestinya. Barangkali itulah maksud dari hadits bahwa barangsiapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.
Jadi kasih sayang Allah akan diraih oleh manusia yang memahami posisi wujudnya dan berusaha bersandar kepada wujud paling sempurna dengan merasakan keagungan-Nya dalam diri hingga iapun merasa hinda dan tidak memiliki apa-apa, laa haula walaa quwwata illa billahi…..

Bersambung.....

0 komentar:

Post a Comment