Followers

Tuesday, 3 April 2018

DS040-DUDUK DI SURGA BERSAMA RASULULLAH



Masih ingatkah kita dengan hadits yang menyatakan bahwa Al Quran dan Ahlul Bait as. tidak akan terpisah hingga keduanya bertemu Rasulullah di telaga surgawinya?. Untuk mengingatkan kembali, saya akan kutipkan hadits yang menyatakan hal itu:

 المعجم الكبير: حدثنا محمد بن عبد الله الحضرمي حدثنا عبد الرحمن بن صالح ثنا صالح بن أبي الأسود عن الأعمش .. فَإِنيِّ تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ كِتَابَ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُوْدٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي وَإِنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتىَّ يَرِدَا عَلَيَّ الحْوْضَ فَانْظُرُوْا كَيْفَ تَخْلُفُوْنِي فِيْهِمَا

Dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir, telah diriwayatkan: “Telah disampaikan kepada kami oleh Muhammad bin Abdullah Al Hadhrami, dari Abdurrahman bin Shalih yang mengulang berita dari Shalih bin Abi Al Aswad, dari A’masy, dimana Rasul bersabda:

Maka aku tinggalkan diantara kalian dua pusaka yang agung, yaitu kitab Allah yang menghubungkan langit dan bumi dan keluaraga (ithrah) Ahlul Baitku. Sesungguhnya keduanya tidak akan terpisah hingga keduanya menemuiku di telagaku (surga). Maka perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya sepeninggalku!”.

Hadits diatas memberikan ilustrasi akan beberapa hal:

1.      Rasulullah telah meninggalkan wasiat agungnya yaitu Al Quran dan Ahlul Bait. Hadits ini sekaligus menepis anggapan bahwa Rasulullah meninggalkan dunia ini tanpa meninggalkan wasiat. Sebagai seorang nabi yang sangat memperhatikan nasib umatnya, bahkan pada saat sakratul mautnya, tidak mungkin beliau melalaikan masalah ini.
2.      Al Quran dan Ahlul Bait akan selalu bersama bahkan menjadi kesatuan yang tak terpisahkan hingga hari kiamat. Artinya, dimana ada Al Quran pasti di situ Ahlul Bait as. mengawalnya. Jika Al Quran adalah kitab yang akan selalu ada pada setiap jaman hingga hari kiamat, maka keberadaan salah seorang imam Ahlul Bait as. menjadi sebuah keniscayaan logis. Barangkali anda masih ingat bagaimana saat Rasul ditanya tentang siapa yang akan disinggahi malaikat pada malam-malam Qadar sepeninggal beliau?, dan beliau menjawab: “Akan turun pada imam bagi setiap jamannya”.

3.  Kita harus bahwa kita juga harus menyadari bahwa kita, sebagai umat Muhammad, akan dimintai pertanggungjawaban atas perlakukan kita kepada keduanya selama hidup di dunia. Apakah kita termasuk umat yang menjaga keduanya atau malah menelantarkan keduanya demi dunia. Jika kita meminjam istilah Al Quran dalam surat Al Fatihah, sehubungan dengan perlakukan terhadap Ahlul Bait as., manusia dibagi tiga:

a.       Yang mendapat nikmat (an’amta ‘alaihim), yaitu yang berhasil mereguk air hidayah dari cawan suci kedua pusaka itu dan mengangkatnya menuju derajat yang tinggi di sisi Allah raadhiyatan mardhiyyah (yang ridha dan diridhai)’
b.      Yang menentang dan memerangi (al maghdhuubi ‘alaihim), yaitu yang dimurkai Allah akibat usaha mereka untuk menentang dan memerangi kedua pusaka itu setelah jelas keterangan yang datang kepada mereka. Semua itu menyebabkan murka Allah karena dilakukan dengan dorongan nafsu duniawi dan sifat tak terpuji.
c.       Yang tersesat dan tidak mengenal (adh dhaallin), yaitu orang-orang yang tidak mengenal kedua pusaka ini sehingga mereka tersesat dari jalan yang seharusnya mereka tempuh.
    
Termasuk umat manakah kita?, semua terpulang pada perenungan masing-masing selama bersedia bersikap ikhlas dan insyaf untuk menerima kebenaran, darimanapun berasal.

4.      Pada hari akhir nanti setiap umat akan dikumpulkan bersama orang-orang yang mereka cintai sebagai penentu apakah kita mencintai orang yang salah atau bahtera cinta kita merapat di dermaga hakiki yang seharusnya. Riwayat tersebut juga menjadi isyarat bahwa keselamatan di akhirat ditentukan oleh kembali dan diakuinya kita sebagai umat pemimpin kita di akhirat nanti, dalam hal ini adalah Rasulullah saw. Karenanya kita sering mendengar hadits yang menyatakan bahwa bahwa barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mengenal imam jamannya maka ia mati layaknya kaum jahiliyah. Karena kita harus tahu, kepada siapa di akhirat nanti kita akan berkumpul dan bersama siapa kita akan disatukan.
Kita semua ingin dikumpulkan dengan Imam tertinggi kita yaitu Rasulullah saw. karena di sisi beliau juga Al Quran dan Ahlul Bait as. sebagai dua pusaka agung akan berkumpul dan bersatu.
Tapi, siapakah orang-orang yang akan mendapatkan kesempatan berkumpul dengan Rasulullah dan duduk bersebelahan dengan beliau di akhirat nanti?, apakah kita layak mendapatkan kehormatan itu?, apa yang harus kita lakukan untuk meraih kedudukan agung itu?
Untuk mengetahuinya, saya ajak anda untuk memperhatikan hadits berikut:

عن رسول الله:
اِنَّ أَحَبَّكُمْ اِلَيَّ وأَقْرَبَكُمْ مِنِّي يْوْمَ الْقِيَامَةِ مَجْلِسًا اَحْسَنُكُمْ خُلُقًا وَ اَشَدُّكُمْ تَوَاضُعُا

Sesungguhnya orang yang paling kucintai diantara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah adalah orang yang paling baik akhlaknya dan paling rendah hatinya diantara kalian

Sesungguhnya Rasululullah ingin menyampaikan kepada kaum mukminin tentang hubungan mereka dengan beliau berdasarkan amal dan sifat yang dimiliki.

Setiap mukmin pasti ingin dan selalu berusaha dicintai Rasulullah karena cinta Rasulullah bukanlah cinta berdasar hawa nafsu atau tendensi pribadi sebagaimana yang kita lakukan saat kita mencintai orang lain berdasar tendensi dan hawa nafsu

Rasulullah mencintai manusia karena mereka berpegang kepada apa yang dicintai Allah.
Hadits ini menekankan bahwa orang yang mendapat curahan cinta tertingginya melebih cinta kepada selain mereka dan orang-orang yang akan didekatkan oleh Allah kepada Rasulullah di surga. Mereka adalah orang2 yang mendapatkan sifat ini:
1.      Yang paling baik akhlaknya, baik kepada manusia lain, keluarga, kerabat dan semua yang berinteraksi dengannya dan segenap lapisan masyarakat
2.      Yang paling rendah hati di hadapan orang lain dalam segala bentuk interaksi dengan tidak merasa tinggi dan memandang orang lain dengan pandangan merendahkan.
Siapa yang tidak menginginkan berdampingan dengan Rasulullah di surga?

Rasulullah juga bersabda:
Yang paling sempurna imannya diantara orang-orang beriman adalah yang paling baik akhlaknya

Riwayat tersebut menerangkan betapa iman seseorang tidak sempurna jika belum terwujud dalam akhlak yang mulia. Dengan kata lain, orang yang memiliki kelebihan dari orang lain dari segi akhlak berarti ia juga memiliki kelebihan dari segi imannya.

Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda:

Orang paling mirip denganku diantara kalian adalah yang akhlaknya paling baik
Beliau juga berkata kepada Ali bin Abi Thalib:

“Maukah kuberitahu tentang orang yang mirip denganku ?”, “Tentu wahai Rasulullah”, jawab Ali as. Rasul berkata: “Dialah yang paling baik akhlaknya dan paling lapang dadanya”.

Walhasil, akhlak terbaik adalah bekal terbaik agar kita diterima di samping Rasulullah dan duduk dekat dengan beliau di tepian telaga surgawinya.
Semoga kita bisa mewujudkan impian kita untuk mereguk air kenabian dari cawan yang disodorkan Rasulullah dengan tangan beliau hingga sirna segala duka dan nestapa.
Kita harus segera mulai membenahi diri untuk menjadikan diri kita layak menerima kehormatan itu.





0 komentar:

Post a Comment