Thursday, 8 March 2018

DS025-DALAM GELAP MENGINGAT TERANG


Saya menulis pembahasan singkat ini saat terjadi pemadaman listrik di sekitar rumah saya. Karena semua orang sudah tergantung kepada fasilitas listrik maka kepanikan masalh tak terhindari. Penjual jus buah tidak bisa memproses jualannya, warnet tidak beroperasi kecuali harus menambah biaya bakan bakar generator dan masih banyak keluhan yang terlontar dari mulut orang-orang yang merasa dirugikan dengan pemadaman itu, apalagi tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Berfikir sejenak dalam kegelapan itu sempat memberikan sebuah pelajaran akan betapa penting cahaya dalam kehidupan.
Tanpa terasa saya berfikir bahwa sesekali manusia memang harus dipaksa untuk merasakan bala di sela-sela kenikmatan

Kita diperintahkan puasa di sela-sela kenyang kita, bangun malam di sela-sela lelap tidur kita, mengingat kaum faqir disaat kita nikmati kesenangan, disuruh mengeluarkan harta di saat kita menikmati hasil kerja keras kita.
Kebanyakan manusia tidak menyadari bahwa semua itu adalah cara Allah agar manusia mensyukuri setiap nikmat yang ia miliki.
Bukankah terang cahaya akan kita rasakan nikmatnya setelah kita ditimpa kegelapan?, bukankah berbuka puasa terasa lebih nikmat daripada makan malam biasa.?, bukankah tahajjud dan bermesra dengan Allah terasa lebih bermakna daripada shalat-shalat ‘reguler’ yang biasa kita lakukan...?, bukankah segelas teh panas terasa lebih berharga dari sebutir mutiara saat kita menjalani puasa...?

Sejatinya, manusia selalu dipermainkan oleh hawa nafsu yang sangat berbahaya, hanya saja manusia tidak menyadarinya.
Saya akan berikan sekedar contoh untuk mengilustrasikan bagaimana dunia mempermainkan kita. Tahukah anda perbedaan antara makan daging dan makan sayur?, bedanya hanya sensasi sekejap disaat kedua jenis makanan itu berada di rongga mulut kita. Tidak ada perbedaan besar dan untuk sensasi sesaat itu, manusia rela mengorbankan banyak hal untuk memilih salah satu dan meninggalkan yang lain.
Saya berikan contoh yang lain, sejatinya kapan anda merasakan kenikmatan memiliki sesuatu?. Anda merasakan nikmatnya memiliki sesuatu saat anda belum mampu memilikinya. Saat anda membayangkan alangkah senangnya punya LED TV layar lebar sebenarnya saat itulah ada sensasi yang membahagiakan. Namun begitu anda memilikinya, lambat laun kenikmatan itu berganti menjadi sesuatu yang biasa bahkan saat anda menonton TV anda tidak pernah mengingat bahwa TV anda adalah LED layar lebar karena anda selalu membayangkan MORE THAN BEFORE.
Waktu masih sekolah, saya sangat gembira saat hari Minggu tiba, tapi itu hanya saya rasakan dari pagi hingga siang saja. Karena siang hari Minggu saya sudah membayangkan hari Senin yang harus saya jalani sebagai hari yang membosankan dengan segudang kewajiban sekolah. Kalau dipikir ulang, sebenarnya hari yang paling indah bukan hari Minggu tapi hari Sabtu siang karena disitulah harapan kegembiraan berada.
Maka sesekali Allah menguji kita agar kita sadar kembali betapa dunia telah mempermainkan kita. Sesuatu akan kita rasakan sebagai kenikmatan saat kita kembali mengingat kemikmatan-kenikmatan yang telah kita lupakan, untuk mensyukuri keberadaannya dan tidak haus kepada hal-hal lain yang diluar kemampuan jangkauan kita.
Jangan lihat isteri di samping kita sebagai orang yang kulitnya mulai keriput dan gigi menghitam, rambut gelap kini mulai beruban, dulu hiasan kini menjadi beban, dulu lincah sekarang lamban. Tapi lihatlah setiap memori perjuangan yang dilalui bersama hingga masa tua. Dengan melihat masa susah berdua maka masa kini akan selalu indah bercahaya, penuh canda dan tawa, meski usia menjelang senja karena kita ingin pergi bersama dalam doa dan kepasrahan kepada yang Maha Kuasa...
Jadi jangan lupakan masa lalu agar kita selalu bersyukur atas masa kini dan berusaha memperindah masa depan.

0 komentar:

Post a Comment