Friday, 23 March 2018

DS039-SIAPAKAH YANG DISEBUT UMAT MUHAMMAD SAW.?



Sebagimana kita ketahui bahwa Nabi Muhammad saw. diutus sebagai rahmat (kasih sayang) bagi segenap alam semesta. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang siapa yang disebut umat Nabi Muhammad, apakah seluruh penduduk alam semesta ini baik kafir maupun yang berserah diri sebagaimana dhahir ayat diatas?, apakah ada klasifikasi dan filter bagi satu umat untuk dianggap umat Nabi akhir jaman itu?

Sejatinya Allah telah mengutus Nabi Muhammad sebagai penyeru kepada-Nya bagi segenap semesta. Hal ini menjadikan semua penduduk semesta adalah umat Muhammad saw. tidak memandang bangsa, suku, agama dan keimanannya. Inilah yang disebut umat Muhammad secara takwini (merupakan ketentuan dan bukan pilihan). Dengan pengertian ini maka Abu Lahab, Abu Jahal, bahkan seluruh musuh Allah adalah umat Muhammad. Tidak ubahnya seperti hubungan anak dan bapaknya yang merupakan ketentuan takwini dimana seorang anak tidak punya alternatif untuk memilih bapak yang ia kehendaki. Karenanya, hukum takwini tidak bisa dijadikan tolok ukur kemuliaan seseorang karena tidak dicapai dengan perjuangan.

Barangkali kita masih ingat bagaimana Adam dan Hawa diciptakan dan tinggal di tempat bernama Al Jannah yang kemudian kita terjemahkan dengan kata surga?, bukankah karakter surga disitu tidak sama dengan surga yang menjadi balasan bagi hamba-hamba yang shalih?, surga yang pertama bagaikan tempat transit Adam dalam perjalanannya menjadi khalifah bumi. Karena surga pertama itu bersifat takwini yang diperoleh tanpa ikhtiar sedang surga setelah kiamat adalah hasil perjuangan dan mujahadah.
Demikian juga dengan nisbah takwini kepada Nabi Muhammad tidak akan memuliakan seseorang kecuali jika ia mampu membuktikan sebagai cerminan akhlak dan perilaku beliau. Setelah Allah menunjukkan sunnah-Nya yaitu dijadikannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, hal inilah yang ditekankan Allah dengan firman-Nya: Inna akramakum ‘indallahi atqaakum (sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa).

Lebih dari itu, selain klaim takwini sebagai umat Muhammad tidak menjadi bukti kemuliaan, sebaliknya, itu seharusnya menciptakan kesadaran akan tanggung jawab besar dipundak umat bersangkutan. Bukankah klaim kemuliaan berdasar hukum takwini juga pernah dilakukan oleh oleh Iblis saat ia mengatakan: “Aku lebih baik dari dia (Adam) karena Kau ciptakan aku dari api sedang Kau ciptakan dia dari tanah!”. Hukum takwini tidak menjadikan api lebih mulia dari tanah.

Maka umat Muhammad adalah umat yang menisbahkan dirinya kepada beliau secara tasyri’i (kesetiaan terhadap syariatnya) yang harus diwujudkan dengan perjuangan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.  Itulah yang menentukan kemuliaan satu umat sehingga layak disebut sebagai umat Muhammad. Dalam hal ini menjadi umat Muhammad adalah pilihan. Allah berfirman: “Sungguh telah kami bentangkan jalannya bagi manusia, terserah apakah ia akan akan bersyukur atau akan ingkar. Adanya alternatif yang melahirkan perjuangan untuk memilih yang terbaik meskipun berat dijalani merupakan tolak ukur kemuliaan seseorang atau satu umat.

Apalah artinya menjadi umat Muhammad secara takwini jika secara tasyri’i umat tersebut menentang hukum syariatnya. Hal ini mengingatkan kita akan logika Iblis yang riwayatnya sempat dinukil oleh Syeikh Jawad Mughniyah dalam kitab tafsir Al Kasyif. Dalam riwayat itu Iblis berkata kepada Nabi Muhammad saw.: “…sesungguhnya bukan aku yang harus meminta maaf kepada Allah tapi Dialah yang harus minta maaf kepadaku”, “Mengapa demikian?”, tanya Nabi. Iblis berkata: “Aku tidak mau sujud kepada Adam karena aku hanya ingin mempersembahkan sujudku hanya kepada Allah. Sejak kapan ikhlas itu adalah dosa?”, Kata Nabi: “Tidak mungkin keikhlasan dicapai dengan pengingkaran akan perintah”.
Walhasil, sejatinya umat Muhammad adalah umat yang berjuang melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi segala larangannya, bukan hanya klaim takwini seperti sebagian pendapat yang sering kita temui dalam masyarakat kita.

Setiap fa’iliyah (aksi)selalu berhubungan dengan qabiliyah (reaksi penerima aksi). Sebagai contoh, api memiliki aksi untuk membakar segala sesuatu yang bersentuhan dengannya namun terbakarnya sesuatu juga dipengaruhi oleh benda yang terkena api. Proses terbakarnya secarik kertas akan terjadi ketika ada api dan kertas dalam keadaan kering. Jika kertas tersebut kita basahi secara sempurna maka api tidak akan membakarnya.
Artinya rahmat universal yang datang bersama Nabi Muhammad memang diperuntukkan bagi seluruh semesta, namun kasih sayang ilahi itu hanya akan dinikmati umat yang membuka hati untuk menerimanya dengan ikhlas dan taslim (berserah diri) serta menjadikan Nabi sebagai panutan dan panduan hidup dalam mencapai kesempurnaan penghambaan.

Saya akan akhiri pembicaraan kita dengan sebuah riwayat yang juga dinukil dalm tafsir Kasyif dimana Iblis berkata kepada Nabi Muhammad: “Allah berfirman: “Dan kasih sayang-Ku mencakup segala sesuatu. Pertanyaanku adalah: “Apakah aku termasuk sesuatu atau bukan? Jika aku adalah sesuatu maka aku juga layak dapat rahmat-Nya dalam bentuk pengampunan. Jika aku bukan sesuatu berarti aku tidak ada (karena selain Allah dalah sesuatu) dan yang tidak ada tidak bisa disiksa atau diberi pahala?”. Nabi menjawab “Rahmat Allah meliputi segala sesuatu yang layak mendapatkannya”.

0 komentar:

Post a Comment