Followers

Saturday, 17 March 2018

DS036-SEKILAS MEDSOS




Dalam Islam, tidak ada larangan untuk aktif di media sosial, bahkan menjadi sesuatu yang dianjurkan ketika hal itu dijadikan sebagai sarana untuk saling mengenal demi memahami perbedaan (bukan menyamakan perbedaan). “…dan kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (saling mengisi)”.

Dalam hal ini, sosial media yang sering disingkat medsos ini menjadi sebuah sarana pemaparan pemikiran yang memungkinkan setiap orang mendapatkan informasi dengan cepat melalui interaksi berbasis online ini. Medsos juga bisa menjadi sarana dakwah menuju kebaikan dengan cara menebarkan nasehat kebaikan sehingga, dengan cakupan audience yang nyaris tak berbatas ini, efektifitasnya akan lebih tinggi dan menekan biaya produksi. Dengan kata lain, tidak ada yang salah dengan medsos bahkan fasilitas interakasi ini sangat potensial untuk menyumbang banyak kebaikan dan manfaat bagi penggunanya.



Sebagaimana medsos berpotensi menebar kebaikan namun ia juga berpotensi menciptakan kerusakan. Potensi destruktif  akan menguat saat banyak orang yang kehilangan kesadaran dan focus akan tujuan dasar dari interaksi sosial ini. Mereka tenggelam dalam keasyikan chatting dan bertukar komentar hingga melupakan tujuan awal dari interaksi ini, karena interaksi yang seharusnya membangun dan menciptakan sinergi ta’aruf  itu kini berubah menjadi ajang ghibah, gunjing bahkan fitnah. Apalagi mengingat keleluasaan dan privasi aktifitas di medsos menjadikan banyak orang tidak lagi merasa tabu untuk mengungkapkan aib orang atau bahkan aib diri sendiri. Maka beralihlah fungsi medsos dari fungsi informatif koordinatif menjadi distruktif dan kontra edukatif. Secara tidak disadari, ta’aruf  yang tujuannya adalah menjalin tali silaturahmi kini menjadi kontra produktif dimana media yang disebut sebagai media sosial justru menciptakan kecenderungan anti sosial dan rentan menciptakan gesekan sosial.

Meskipun menyimpan banyak manfaat, medsos bukanlah segala-galanya, bahkan banyak hal yang harus kita korbankan dengan menggunakan fasilitas ini. Kecenderungan untuk malas bertemu secara langsung dengan lawan bicara menambah buruk keadaam sosial. Orang sudah enggan menyambangi saudaranya karena ia melihat sarana lebih praktis untuk menyampaikan maksud. Islam mengajarkan betapa menebar senyum merupakan ibadah, menatap wajah saudara muslim juga ibadah, mengucapkan salam sambil berjabat tangan pun ibadah. Semua itu tidak kita dapati dalam interaksi di media sosial. Belum lagi jika kita perhatikan, obrolan di sosmed rentan menciptakan miskomunikasi karena tidak mengikutkan sisi emosional yang bisa dirasakan oleh kedua pihak karena, selain mimik yang tak terbaca, tidak adanya intonasi yang bisa ditangkap sangat berpengaruh dalam menciptakan salah paham dalam menilai sebuah maksud. Ketahuilah bahwa manusia saling memahami tidak hanya dengan kata-kata tertulis tapi dengan gesture dan mimik yang muncul saat sebuah kata diucapkan. Emoticon tidak banyak membantu dalam hal ini.
Lebih parah lagi, kita akan rela menulis pesan dengan jari kita selama berjam-jam untuk sekedar membicarakan pihak ketiga sehubungan dengan masalah yang sebenarnya tidak penting bahkan tidak baik untuk diucapkan. Namun kita malas untuk menulis pesan salam duka ketika ada berita duka dari saudara dan teman kita. Kita akan mengirimkan image/gambar yang bertuliskan ungkapan duka yang mana gambar itu merupakan stok yang kita persiapkan setiap kali ada berita duka. Artinya, bahkan kita berubah menjadi orang yang malas mendoakan orang lain.
Dalam hal informasi juga demikian, kita gemar melakukan copas (copy-paste) artikel yang panjang yang kadangkala kita sendiri belum membacanya, terbukti artikel bertuliskan selamat malam tapi kita kirimkan siang hari, untuk apa?, agar orang tahu bahwa kita banyak ilmu atau informasi melebihi yang lain. Dalam kondisi ini media sosial telah menciptakan bencana sosial.

Ketika anda membagikan sebuah informasi kepada orang lain, apakah yang terbersit dalam benak anda saat itu?. Apakah keinginan memberitahukan sesuatu atau hanya keinginan untuk mendeklarasikan pengetahuan anda, atau bahkan mungkin sekedar iseng karena tidak ada kerjaan lain?.
Memberitahukan sesuatu kepada orang lain sudah digariskan batasannya dalam Al Quran yaitu ketika Allah berfirman: “wa amma bini’mati rabbika fahaddits” (…adapun terhadap nikmat Tuhanmu maka ceritakanlah!).
Ayat tersebut dengan jelas memberikan batasan tentang apa yang dianjurkan untuk diceritakan kepada orang lain yaitu sesuatu yang dirasakan sebagai nikmat. Itulah sharing sejati yang dianjurkan untuk dilakukan. Maksudnya, sebelum anda menyampaikan sesuatu kepada orang lain, sudahkan anda merasakannya sebagai nikmat dan kebaikan sehingga apa yang anda lakukan benar-benar sebuah persembahan yang layak. Sama halnya dengan sedekah, dimana kita dianjurkan untuk memberikan sebagian harta yang kita cintai kepada yang membutuhkan bukan memberikan sesuatu yang kita memang sudah tidak menyukainya. Jika kita memberikan sesuatu yang kita sendiri tidak menyukainya maka hal itu tidak terhitung sebagai sedekah karena tidak ubahnya seperti buang sampah saja. Sharing adalah berbagi kenikmatan yang artinya kita harus meyakinkan diri bahwa yang kita miliki adalah nikmat dan setelah itu kita berbagi nikmat itu dengan orang lain. Jika kita memiliki makanan yang lezat menurut kita dan kita mulai berbagi maka apapun kata orang tidak akan banyak berpengaruh kepada kita karena kita sudah merasakan kelezatannya. Bahkan ketika orang lain tidak menerima pemberian makanan itu, kita tidak merasa sedih karena kita sendiri menyukai masakan kita. Biarlah makanan lezat itu kita makan sendiri.
Seorang da’i atau pemberi nasehat yang menyampaikan sesuatu atas dasar tuntutan kondisi tidak akan merasakan sensasi berbagi itu. Ia akan merasa sakit saat jamaah tidak menerima apa yang ia sampaikan sedangkan dia tidak membutuhkannya Akan sangat menyiksa jika seseorang harus menyampaikan sesuatu yang ia tidak merasakannya sebagai nikmat yang perlu dibagi.
Karena itu, majlis taklim harus menjadi majlis sharing dengan makna yang sesungguhnya, agar antara ustadz dan para murid merasakan kenikmatan yang sama.
Jika tidak demikian maka boleh jadi tujuan seorang penceramah hanyalah ingin menunjukkan kepada jamaahnya bahwa ia tahu sesuatu. Tidak ada kenikmatan yang dirasakan kecuali kebanggan semu saat jamaah menganggukkan kepala tanda paham atau pura-pura paham. Ia merasa terganggu saat jamaah tidak sepakat dengan pendapatnya dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dianggap menyulitkannya.
Kesimpulannya, media sosial merupakan fasilitas ampuh untuk mengembangkan tradisi sharing atau berbagi nikmat kepada orang lain, namun demikian tidak menutup kemungkinan medsos akan menjadi sumber kehancuran manusia akibat menyalahgunakan potensi interaksi manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Bijaklah dalam menggunakan media sosial agar kita terhindar dari bencana kemanusiaan.



0 komentar:

Post a Comment