Followers

Friday, 16 March 2018

DS035-LIMA MACAM MANUSIA YANG HARUS DIJAUHI



Dalam kehidupan, mau atau tidak, kita selalu berhadapan dengan banyak orang dengan berbagai sifat dan karakter. Kondisi seperti ini menuntut kejelian dan kewaspadaan kita agar terhindar dari pergaulan yang menjerumuskan kita kedalam kehancuran. Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai 5 manusia yang harus dihindari menurut wasiat Imam Ali Zainal Abidin as. kepada puteranya, Imam Baqir as. dalam wasiat itu Imam Zaunal Abidin berkata:

“Wahai anakku, lihatlah lima macam manusia dan janganlah kamu bergaul,berbicara dan menjadikannya teman seperjalanan”, “Siapakah mereka?”, Tanya Imam Baqir. Imam Zainal Abidin berkata:

1.      Jangalah bergaul dengan tukang bohong karena ia tidak ubahnya fatamorgana, yang jauh terasa dekat dan yang dekat terasa jauh.
2.      Janganlah bergaul dengan orang fasik karena ia akan rela menjual dirimu demi sesuap makanan atau lebih murah dari itu.
3.      Janganlah bergaul dengan orang kikir karena ia akan menghinakan kamu hingga kamu sangat membutuhkannya.
4.      Janganlah bergaul dengan orang bodoh karena kalaupun ia ingin bermanfaat bagimu maka akhirnya tetap menyusahkanmu.
5.      Janganlah bergau dengan pemutus silaturahmi karena aku melihatnya dalam kitab Allah sebagai manusia terlaknat.

Syarah/keterangan:

1.      Orang yang bohong akan menjadikan kita memandang lawan sebagai kawan dan sebaliknya sebagai hasil dari kebohongannya. Satu kebohongan akan melahirkan berbagai kebohongan lain hingga tersebar menjadi mata rantaifitnah yang tak terbendung bahayanya. Itulah mengapa agama menganggap bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Dalam dunia bisnis, fitnah tidak ubahnya seperti MLM (multi level marketing) dimana semakin banyak downline yang dimiliki seseorang dalam menebarkan kebohongan, hal itu berarti semakin cepat berkembangnya investasi dosa yang ia tanam. Berkembangnya investasi dosa tidak akan pernah ada batasnya, bahkan saat kita beribadah. Coba bayangkan, jika saat kita sedang membaca doa dan istighfar, pada waktu yang sama fitnah yang kita tebarkan sedang berkembang dengan cepat sehingga transfer dosa akan terus berlangsung dan memenuhi setiap jalur aliran darah kita. Semua berawal dari kebohongan yang memutarbalikkan fatwa hingga kita tersesat tanpa sempat menyadari. Lebih dari itu kebohongan akan mematikan logika ketuhanan kita hingga kita tidak lagi mampu berfikir dengan benar tentang Allah. Imam Ali pernah berkata: “Sesungguhnya kebohongan adalah runtuhnya logika dari kedudukan ilahinya”. Pembohong adalah manusia yang tidak bersedia menanggung konsekwensi perbuatan atau menginginkan manfaat yang tidak mampu ia capai dengan kejujuran yang merupakan tanda keimanan, sebagaimana disabdakan oleh Imam Ali: “Diantara tanda iman adalah memilih jujur meski menyusahkan daripada kebohongan yang menyelamatkan”.

2.      Orang fasik tidak pernah memiliki komitmen kepada agama. Maka jangan pernah berharap ia memiliki loyalitas terhadap nilai-nilai akhlak dan kebaikan. Ia akan melakukan segala sesuatu yang dianggap menguntungkannya meskipun untuk itu ia rela mengorbankan barang berharga yang bagi orang lain merupakan prinsip yang layak diperjuangkan seperti persahabatan dan persaudaraan. Orang fasik tidak pernah memandang agama sebagai sesuatu yang sakral. Ia hanya melihatnya sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Ia akan tinggalkan agama segera setelah ia merasa agama tidak lagi memberikan nilai keuntungan dan manfaat. Imam Husain pernah berkata: “Manusia adalah hamba-hamba dunia sedangkan agama hanya di ujung lidahnya saja. Jika suatu saat diuji dengan musibah niscaya akan Nampak sedikit sekali orang yang beragama”.
3.      Orang kikir selalu saja menyusahkan. Bukan hanya masalah keengganannya untuk berbagi dan memberikan sedikit keuntungan kepada orang lain tapi juga kenyataan bahwa kebanyakan orang kikir adalah orang yang rakus. Sifat rakus inilah yang akan menghancurkan persahabatan bahkan persaudaraan. Sedemikian berbahayanya sifat kikir ini hingga Allah befirman: “Barangsiapa terhindar dari sifat kikir maka ia adalah orang beruntung”.
4.      Orang bodoh seringkali menyusahkan kita dengan perbuatan-perbuatan bodohnya meskipun tidak memiliki motivasi untuk melakukan sesuatu yang buruk. Barangkali kebodohan yang dimaksud bukan orang yang tidak memiliki ilmu karena ia memang tidak berkesempatan untuk meraihnya. Yang dimaksud bodoh dalam wasiat tersebut adalah orang yang enggan untuk mencari ilmu sehingga ketidakpedulian terhadap makrifat menjadikannya beban dan kesulitan bagi masyarakat sekitarnya. Bukankah dalam surat Al Fatihah kita berlindung kepada Allah bukan hanya dari orang yang dimurkai tapi juga dari orang yang tersesat?
5.      Orang yang memutuskan silaturahmi adalah manusia paling merugi baik di dunia maupun akhirat. Bahkan Al Quran memasukkan manusia seperti ini kedalam golongan orang-orang yang fasik dan pembuat kerusakan. Allah berfirman: “..merekalah orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Allah setelah janji out dikukuhkan dan memutuskan apa yang seharusnya disambungkan dan mereka adalah pembuat kerusakan di bumi…”(Q.S Al Baqarah: 27). Tidak berlebihan jika kita meletakkan pemutusan silaturahmi sebagai bentuk perwujudan dari ayat tersebut.

Semoga kita terhindar dari pengaruh lima macam manusia yang kita bahas hari ini. Semoga kasih saying Allah selalu menyertai kita bersama siraman syafaat Rasulullah dan Ahlulbait.

0 komentar:

Post a Comment