Friday, 9 March 2018

DS026-ILMU BUTUH KEARIFAN



Pada tulisan sebelumnya, kita pernah membahas mengenai logika sebagai sarana paling efektif dalam mencari Tuhan. Meski demikian, bukan berarti logika selalu berjalan lurus tanpa halangan. Kadang saat kita tidak jeli menggunakan logika kita, tidak sedikit kondisi dimana logika dipermainkan oleh mughalathah (permainan kata-kata yang menyesatkan), dorongan al hawa (hawa nafsu) dan juga syubhat (menyamarkan makna untuk menyesatkan pikiran) sehingga logika kita bagaikan tidak berfungsi dan kadang kontra pruduktif. Orang-orang yang memiliki tujuan tertentu seringkali menggunakan tipu muslihat untuk membingungkan pikiran orang lain sehingga tanda disadari, korban sudah tergiring menuju alur pemikiran dan tujuan penyesatan. Inilah yang dikhawatirkan malaikat yang melihat manusia sebagai pembuat kerusakan dan cinta pertumpahan darah.
Sebenarnya pemanfaatan logika untuk penyesatan sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan Iblis sejak ia menolak sujud kepada Adam as. dimana ia selalu berkelit dari perintah Allah dengan menggunakan permainan kata-kata dan penyesasatan pikiran. Bagi orang yang tidak waspada dengan tipu daya ini, akan dengan mudah masuk dalam perangkap ini dan melihat kebathilan sebagai kebaikan dan demikian sebaliknya.

Salah satu metode yang digunakan oleh Iblis adalah tala'ub bil kalimat (permainan kata-kata), dimana dia menggunakan lafadz-lafadz yang membuai telinga dan seakan semua yang ia hembuskan adalah kebenaran adanya. Sungguh menyesatkan bagi orang-orang yang tidak memiliki dasar kesadaran berlogika dan akan merasa benar dalam kebathilan.

Saya akan memberikan beberapa contoh:

Sebuah riwayat menceritakan tentang dialog antara Iblis dan Allah:
Iblis: “Engkau tidak berhak menghukum aku karena aku tidak bersujud kepada Adam!”.
Allah: “Mengapa demikian?”.
Iblis: “Jika engkau benar-benar menghendaki aku sujud kepadanya, niscaya kehendak-Mu akan memaksaku melakukannya”.
Allah: “Sejak kapan engkau tahu bahwa Aku tidak menghendakimu sujud kepada Adam?, apakah setelah firman-Ku sehingga jelas penentanganmu atau sebelum Aku berfirman?
Iblis: “Setelah Kau perintahkan”.
Allah: “Jika demikian maka sempurnalah hujjah-Ku atasmu, berarti engkau telah menentang perintah bahkan sebelum kau tahu apa yang Kuiinginkan. Dan jika sujud itu Aku paksakan kepadamu maka tidak perlu aku mengeluarkan perintah” (Tafsir Al Kasyif, Jawad Mughniyah, jilid 1)

Dalam kitab yang sama disebutkan bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad saw. hendak berkhalwat di gua Hira. Di tengah perjalanan, beliau bertemu Iblis yang mengganggunya. Nabi berkata: “Ikutlah aku, barangkali Allah berkenan berbaik hati dan memaafkanmu!”. Iblis menjawab: “Bukan aku yang harus minta maaf kepada Allah tapi Allah yang harus meminta maaf padaku!”, “Mengapa demikian?”, Tanya Nabi. Iblis menjawab: “Allah menghukumku karena penolakanku untuk sujud kepada Adam, padahal keenggananku untuk sujud kepadanya karena aku hanya ingin memurnikan sujudku hanya kepada Allah, sejak kapan ikhlas itu adalah dosa?.
Singkat cerita, Nabi menjawab: “Tidak mungkin bertemu antara keikhlasan dan penolakan terhadap perintah-Nya”. (Tafsir Al Kasyif, Jawad Mughniyah, jilid 1)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, pada suatu hari Iblis bertemu Nabi Isa as. Iblis berkata: “Wahai Isa, bukankah engkau adalah pilihan dan kekasih Allah?”, “Ya”, kata Isa. Iblis melanjutkan: “Jika demikian maka buktikanlah, jatuhkan dirimu dari atas gunung ke arah batu terjal dibawahnya, jika Dia memang mencintaimu maka Dia akan menyelamatkanmu!”. Dengan cerdik Nabi Isa menjawab: “Tuhanlah yang layak menguji hamba-Nya, bukan hamba yang menguji Tuhannya”.

Dari beberapa riwayat diatas, kita mengambil pelajaran betapa betapa tanpa ilmu segala sesuatu akan menjadi bencana bagi diri sendiri dan orang lain. Namun ilmu tanpa keimanan, ketaqwaan dan kebijaksanaan hanya akan menjerumuskan kita ke lembah kehinaan. Jika seseorang yang tidak berilmu terjatuh maka ia akan menyadari bahwa hal itu adalah akibat kecerobohannya, namun jika seseorang merasa memiliki ilmu terjatuh, seringkali ia tidak akan menerima kenyataan dan kekurangannya. Alih-alih menyadari, ia mencari pembenaran atas kecerobohannya itu. Itulah mengapa Allah mengajarkan agar kita (sebagai khalifah-Nya) harus memiliki sebagian dari sifatnya terutama aliimun hakim (alim lagi bijaksana)

Subhaana rabbika rabbil 'izzati 'amma yashifun.....
wasalaamu 'alala mursaliin...
walhamdulillahi rabbil 'alamin...

0 komentar:

Post a Comment