Followers

Tuesday, 6 March 2018

DS023-BERLOGIKA MENCARI TUHAN



Allah swt. mengutus para malaikat untuk melakukan tugas sesuai yang ditetapkan atas masing-masing mereka. Sebagian dperintahkan untuk menabur rejeki, yang lain menjaga dan mengawasi manusia dan ada pula yang bertugas mencabut nyawa atau menjaga surga dan neraka. Mereka melaksanakan setiap titah Allah dengan penuh ketaatan dan ketundukan.

Sebuah pertanyaan terbersit di hati kita, mengapa Allah ‘memperbantukan’ malaikat untuk tugas-tugas tersebut?, apakah Allah (na’udzu billah) tidak mampu melaksanakan itu semua sendiri hingga membutuhkan tenaga mereka?.

Pertanyaan seperti itu selalu kita tepis dengan berlindung kepada kalimat ta’awudz atau istighfar, meskipun keduanya tidak mampu secara sempurna menghilangkan kegaulauan akibat pertanyaan yang tidak mendapatkan jawabannya. Di satu sisi kita seperti dipaksa untuk mematuhi sesuatu yang mana kita belum bisa menerima kebenarannya secara sempurna, sementara di sisi yang lain, hub al istithla’ (dorongan ingin tahu) serasa memberontak dan berusaha mendobrak batasan norma-norma 'akidah' yang terkesan jumud itu.

Kita harus menggunakan bekal paling sempurna yang diberikan Allah kepada manusia yaitu akal pikir dalam memahami agama dan berjalan menuju keyakinan.
Mungkin banyak yang tidak setuju dengan saya bahwa akal adalah fasilitas paling sempurna yang diberikan Allah kepada manusia. Sebagian orang berpandangan bahwa hati dan fitrah adalah fasilitas paling sempurna yang akan mengantarkan manusia menuju kesempurnaan.

Saya berpandangan bahwa akal sebagai fasilitas paling sempurna karena akal adalah satu-satunya fasilitas paling dhahir yang mampu dimodifikasi oleh setiap manusia, baik kemudian modifikasinya menghasilkan konstruksi atau distruksi. 
Fitrah dan hati memang fasilitas luar biasa yang mampu menuntun manusia menuju kesempurnaan akan tetapi selain wujudnya terlalu abstrak, secara tekhnis, keduanya adalah fasilitas sekunder yang difungsikan setelah proses identifikasi logis.

Untuk lebih jelasnya, saya akan mengutip pembahasan salah seorang ulama besar yaitu Ayatullah Mishbah Al Yazdi dalam bukunya Durus fil ‘aqidah al Islamiyah. Dalam buku tersebut beliau menjelaskan bahwa, sesuai dengan tekhnis pencapaiannya, ma’rifatullah (pengenalan terhadap Tuhan) yang dimiliki manusia bisa dibagi empat:

1.      Mairifat Tajribiyah (pengetahuan eksperimental fisik), dimana manusia medapatkan ilmu ini melalui eksperimen inderawi seperti mengetahui temperature suatu benda dengan cara menyentuh benda tersebut, melihat fenomena alam atau berbagai macam eksperimen semisal dengan variasi tingkat kerumitan meskipun semuanya masih pada dataran eksperimen inderawi. Ilmu fisika, kimia atau biologi merupakan disiplin ilmu yang menggunakan tekhnik ini untuk mendapatkan kesimpulan. Tekhnik ini cukup efektif dalam rangka mengenalkan kekuasaan Tuhan dengan merasakan keindahan ciptaan-Nya. Ma’rifat dengan tekhnik seperti ini pernah disebutkan dalam Al Quran :

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Akan Kami tunjukkan kepada mereka tanda-tanga (kekuasaan) Kami di alam semesta dan pada diri mereka hingga terbukti bahwa semua itu adalah benar adanya. Tidak cukupkah bagimu bahwa Tuhanmu adalah saksi bagi segala sesuatu?”
(Q.S. Fussilat:53)

2.      Ma’rifat Ta’abbudiyah (pengetahuan berdasarkan literatur syar’i), dimana manusia mendapatkan pengetahuan tentang berbagai perkara agama melalui informasi dari sumber-sumber tertulis yang sudah diverifikasi keabsahannya untuk dijadikan rujukan. Dalam hal ini, Al Quran dan hadits yang dijadikan sebagai sarana mengenal dan memahami apa yang diinginkan Allah melalui utusan-Nya. Al Quran juga pernah menyinggung masalah ini,

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا 

“Sesungguhnya Quran ini adalah petunjuk menuju jalan yang terbaik serta berita gembira bagi orang-orang beriman dan melakukan amal shalih bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang agung”. Q.S. Al Isra: 9

3.      Ma’rifat Syuhudiyah (pengetahuan berdasarkan proses syuhud melaui sair (perjalanan batin) dan suluk (langkah-langkah spiritual) sebagaimana yang yang sering dilakukan oleh kalangan sufi). Ma’rifat dengan tekhnik ini diklaim mampu mencapai tujuan asas (Allah) tidak dengan memahami (husuli) tapi merasakan(hudhuri). Pengetahuan eksklusif ini diklaim mampu menjadikan pemiliknya tidak hanya memahami keberadaan Tuhan, namun lebih dari itu, ia mampu merasakan kehadiran-Nya pada dirinya. Ma’rifat semacam ini pernah juga dinisbahkan kepada Rasulullah saw. yaitu saat Allah berfirman :

 وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ 

“Dan dia (Muhammad) tidak berbicara dengan hawa nafsu, semua ucapannya adalah wahyu belaka” (Q.S. An Najm: 3-4)

4.      Ma’rifat ‘Aqliyah (ma’rifat logika), dimana manusia berusaha menggunakan kemampuan akal pikirnya untuk menggabungkan beberapa kaidah hingga mencapai konklusi logis. Dengan tekhnik ini manusia dengan leluasa menelaah sebuah kebenaran dari konsep ketuhanan dan membandingkan dengan konsep-konsep lain kemudian mengidentifukasi untuk memilih mana yang paling bisa dipertanggungjawabkan. Pemanfaatkan akal sebagai alat mengenal Allah merupakan perintah Islam sebagaimana termaktub dalam kitab Allah itu. Banyak ayat yang berisi teguran kepada orang-orang yang tidak mau mengikuti kebenaran diakhir dengan kalimat: afalaa ta’qiluun (mengapa kalian tidak menggunakan akal?.

Diantara tekhnik-tekhnik ma’rifatullah itu, manakah yang paling efektif?

Menjawab pertanyaan ini, Ayatullah Mishbah Al Yazdi mengatakan (masih dalam buku yang sama) bahwa ma’rifat aqliya adalah tekhnis yang paling efektif untuk memulai sebuah usaha pencarian Tuhan karena:
·         Kelemahan ma’rifat eksperimental adalah keterbatasan kemampuan dalam mengidentifikasi obyek kerena hanya berlaku pada pembuktian akan hal-hal yang bersifat inderawi yang bisa dibedah di meja laboratorium. Ma’rifat ini tidak mampu membuktikan keberadaan non fisik bahkan pada saat non fisik itu tidak bisa dibantah keberadaannya. Anehnya mereka segera memastikan ketiadaannya. Sebagaimana kita ketahui, rukyah kauniyah (paradigma) materialis telah membangun sekat ilmiah dengan mengatakan bahwa segala obyek yang tidak bisa dibuktikan dengan eksperimen inderawi maka obyek itu dipastikan tidak ada. Padahal sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara fisik belum tentu tidak ada, mungkin saja ia merupakan sebuah obyek supra rasional.
Selain itu hampir tidak mungkin kita temukan eksperimen murni mengingat ekperimen harus dilakukan berulang-ulang dengan berbagai variasi kondisi serta dengan mempertimbangkan factor-faktor lain. Untuk selanjutnya pengulangan hal yang sama secara random akan membuktikan sebuah kaidah umu. Dengan apa kaidah umum itu disimpulkan?, tentu dengan kaidah logika juga!

·         Kelemahan ma’rifat ta’abbudiyah dikarena literatur syar’i merupakan sumber sekunder yang bisa digunakan sebagai argumentasi setelah pembuktian akan keabsahannya. Pembuktian keabsahan sumber syar’i dan bahwasannya sumber itu berasal dari musyari’  (Allah dan para nabi) sehingga bisa dijadikan sandaran argumentasi, tidak mungkin dilakukan dengan merujuk kepada literatur bersangkutan. Jika kita menggunakan berita Al Quran untuk mengenal Allah, misalnya, maka bukankah kita harus melakukan pembuktian bahwa Al Quran tersebut berasal dari Allah?. Hal ini hanya akan menciptakan daur (sirkulasi tak berkesudahan). Jadi buktikan eksistensi Quran sebagai kitab langit baru kemudian kita menggunakannya sebagai tongkat mengenal Allah.

·         Kelemahan ma’rifat syuhudiyah karena ia terlalu eksklusif dan tidak berlaku bagi setiap orang. Semua orang tahu dan sepakat bahwa tidak ada manusia biasa yang saat dilahirkan ia sudah menjadi seorang sufi. Ia pasti akan melalui tahap-tahap berlogika dan menggunakan inderanya terlebih dahulu.
Allah berfirman:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 
“Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dan saat itu kalian tidak tahu apa-apa. Maka kami bekalkan pendengaran, penglihatan dan pemahaman agar kalian bersyukur”. (Q.S. An Nahl: 78)
Ayat tersebut memberikan gambaran bagaimana manusia merangkak dalam menggapai pengetahuan bersama manusia-manusia yang lain. Baru sebagian dari mereka mengasah logikanya dan dengan usaha spiritualnya ia merubah format logika menjadi format spiritual melalui mujahadah batin dan sebagainya.

Walhasil, ma’rifat logis merupakan langkah pertama yang harus dilakukan dalam usaha pencarian Tuhan sebagai sumber kesempurnaan. Hal ini bukan berarti ma’rifat-ma’rifat tidak berguna, sama sekali tidak. Bahkan berbagai ma’rifat yang telah kita sebutkan mampu menyampaikan manusia manusia ke tingkat tertinggi penghambaan dan kedekatan dengan Allah hingga melebihi prestasi logika kita, hanya saja secara teknis, semua itu membutuhkan mikadimah yang bersifat aqliyah.


0 komentar:

Post a Comment