Followers

Thursday, 15 February 2018

DS011-MAKNA SEBUAH KEKAGUMAN


5 Februari 2018

Saat anda berjalan menembus malam di sebuah jalan yang sulit dilalui karena penuh dengan lubang dan retakan di sana sini, saat itu anda akan sangat membutuhkan pancaran cahaya bulan untuk menerangi jalan yang anda lalui, sekaligus menjaga anda dari tergelincir ke dalam lubang-lubang itu. Jika sinar bulan telah membuai mata anda dengan keindahan dan keanggunannya, terutama saat purnama tiba, maka pandangan anda akan tertuju pada keindahannya hingga anda akan berada dalam buaian khayalan yang memberikan kenikmatan jiwa yang dalam.

Namun, keindahan bulan itu seringkali membuat anda lupa daratan hingga tidak menyadari adanya lubang menganga di depan anda dan akhirnya anda tergelincir dan mengalami kerugian.
Seperti itulah sirah (perjalanan hidup) Ahlul Bait as. yang tidak ubahnya bulan purnama yang bersinar indah dan menerangi jalan kehidupan yang kita lalui. Namun masih banyak diantara kita yang terbuai oleh keanggunan dan keindahan sirah nan suci itu dan hanya melahirkan konsep dan emosi. Mereka tenggelam dalam kekaguman akan sosok para imam pembawa hidayah itu dan emosi mereka tercurah dalam kekaguman itu. Pada saat yang sama mereka lupa bahwa kekaguman itu harus diwujudkan dengan cara menauladani perjalanan hidup mereka. Hal ini yang menyebabkan mereka luput dari kesempatan meraih anugerah hidayah yang menjadi senjata dalam menghadapi berbagai tantangan hidup dan menghindari bencana.

Tidak diragukan lagi bahwa kemurnian dan keindahan yang mewarnai perjalanan hidup Ahlul Bait as. selalu melahirkan kekaguman dan kerinduan. Namun semua itu tidak boleh menggantikan kesempatan untuk menauladani perjalanan itu dan meraih nikmat hidayah. Legih dari itu, kerinduan dan kekaguman itu harus melahirkan semangat kepada kita untuk meraih petunjuk mereka agar sinarnya menerangi jalan kita.

Dalam riwayat Ahlul Bait as. kita mendapati penegasan bahwa hubungan dengan mereka haruslah dibangun berdasarkan kaidah ittiba’ (mengikuti) dan iqtida (menauladani), bukan hanya luapan emosi semata.

Sejatinya, jika pandangan kita terhadap Ahlul Bait as. seperti pandangan terhadap sebuah lukisan indah yang tergantung di dinding jaman, dimana kita mengagumi keindahannya yang menakjubkan atau bagai sepotong barang langka tak ternilai harganya yang dipamerkan di museum-museum sejarah tanpa menciptakan refleksi dan kesan dalam kehidupan kita maka hal itu merupakan sikap tajahul (tidak peduli) terhadap tugas dan peran terpenting Ahlul Bait as. yaitu sebagai pemimpin dan pembawa petunjuk bagi umat manusia.
Sungguh Ahlul Bait as. adalah manusia-manusia yang layak mendapatkan pujian dan penghargaan karena mereka adalah pemilik keutamaan dan kemuliaan. Bahkan Allah telah memuji mereka sebagaimana termaktub dalam kitab-Nya, demikian juga melalui lisan Nabi-Nya yang jujur lagi dapat dipercaya.

Hal yang akan menggembirakan hati Ahlul Bait as. adalah ketika kita berusaha mengenal ajaran serta berjuang mengikuti jejak mereka dan bukan kelalaian dalam buaian keagungan dan pujian atas mereka.
Imam Shadiq as. pernah berkata: "Jadilah kalian para dai (penyeru) kami tapi tidak hanya dengan mulut kalian saja...!"