Followers

Wednesday, 14 February 2018

DS010-ISTIQAMAHLAH HINGGA AKHIR


4 Februari 2018

Mengapa dalam shalat kita selalu mengulang-ulang kalimat ‘tunjukkanlah kepada kami shirat al mustaqim (jalan yang lurus)’?, bukankah sebagai muslim kita telah berada pada jalan yang lurus?, apakah berarti kita meragukan jalan yang sekarang kita tempuh dan kemungkinan kita berada dalam kesesatan?

Setiap saat manusia berhadapan dengan bahaya penyimpangan dari jalan lurus ini hingga ia selalu mengulangi kalimat ‘tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus’.

Sejatinya, yang lebih dituntut dan menjadi masalah lebih penting bukan hanya menyingkap jalan lurus dan berjalan diatasnya tapi bagaimana kita menjaga istiqamah (konsistensi) untuk tetap berjalan dan melanjutkan perjalanan diatasnya.

Sesungguhnya Allah telah menarik perhatian kita supaya kita berusaha senantiasa terjaga dan selamat dari penyimpangan dan kesesatan setelah sebelumnya memperoleh petunjuk. Allah mengajarkan kepada kita untuk mengucapkan: “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)” Q.S. Ali Imran:8

Dalam kesempatan lain, Allah swt. Menceritakan kepada kita tentang seorang ulama besar dari kalangan Bani Israil, Bal’am bin Ba’ura, sebagai contoh yang buruk dari terjatuhnya seorang manusia ke kubang kekafiran dan kesesatan setelah sebelumnya berhiaskan hidayah dan keshalihan. Allah berfirman: “…dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat. Jikalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Yang demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”. Q.S Al A'raf : 175-176

Bukankah sebelumnya Iblis adalah ahli ibadah dengan khusuk yang kerenanya Allah mengangkat derajatnya hingga setara dengan para malaikat, padahal ia dari golongan jin sebagaimana firman Allah: “Ia enggan bersujud dan ia dari golongan jin”?. Karena satu penyimpangan ia berubah menjadi symbol bagi kebinasaan dan kesesatan hingga hari kiamat (padahal sebelumnya ia telah beribadah kepada Allah selama 6000 tahun, dengan hitungan tahun duniawi atau tahun akhirat tidak ada yang tahu sebagaimana pernah dikatakan oleh Imam Ali as.)

Dalam perjalanan sejarah, telah banyak riwayat yang membicarakan tentang beberapa contoh manusia yang mengalami kejatuhan dan penyimpangan, padahal sebelumnya ia telah menempuh jalan yang panjang dalam petunjuk dan keshalihan. Salah satunya adalah Barshisha, seorang hamba yang memiliki sifat zuhud dan menjadi tauladan dalam kekhusyukan dan kerendahan hati bagi sebuah masyarakat Bani Israil. Karena keutamaan dan kedudukannya di sisi Allah swt. maka doanya-doanya selalu terkabul. Bahkan orang-orang gila dan orang-orang sakit mendapatkan kesembuhan melalui tangannya dan dengan ijin Allah.

Namun, saat suatu hari ia kedatangan seorang perempuan cantik dan terhormat namun gila sehingga ia ditinggalkan oleh saudara-saudaranya di salah satu tempat peribadatannya agar Allah menyembuhkannya dengan berkah nafas dan doanya.
Dalam sekejap, ahli ibadah dan sangat menjaga diri pun melakukan dosa bersama perempuan yang sakit dan gila itu. Ia menyadari akibat perbuatannya dan khawatir perempuan itu hamil. Betapa aib dan malu akan ia tanggung. Maka ia berniat untuk membunuh perempuan itu dan menguburkan mayatnya di padang pasir agar ia lolos dari aib perbuatannya.

Namun, perbuatan itu segera terbongkar, tidak ada tempat menyelamatkan diri dan diapun menjadi terdakwa setelah investigasi menyeluruh hingga ia mengakui perbuatannya di hadapan pengadilan. Maka ditetapkanlah hukuman baginya yaitu disalib hingga mati dengan dua tuduhan kejahatan: berbuat zina dan melakukan pembunuhan.

Dalam keadaan disalib pada sebuah palang kayu sambil menunggu saat kematian yang akan membebaskannya dari segala aib dan kehinaan, syetan mendatanginya dan berbisik: “Aku yang menjerumuskanmu dalam keadaan ini, maka sujudlah kepadaku maka aku akan membebaskanmu!”. Berkatalah hamba pendosa ini menyambut seruannya: “Bagaimana aku sujud padamu sedangkan beginilah keadaaanku?”, “Isyaratkan saja dengan anggukan kepalamu!”.Maka iapun menundukkan kepala tanda sujud kepada syetan. Ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan mengikuti syetan.
Telah berakhir hidupnya dengan tangan berlumur dosa yang paling keji. Ia melakukan zina, pembunuhan dan mengingkari Allah dengan bersujud kepada Iblis. Padahal sebelumnya ia adalah seorang hamba yang doa-doanya selalu dikabulkan Allah.
Begitulah nasib manusia, meski dengan derajat tinggi yang dimiliki namun tetap ia berhadapan dengan potensi jatuh dan menyimpang dalam setiap langkah kehidupannya. Karenanya Rasul saw. bersabda: “Seorang mukmin akan selalu merasa takut akan akhir buruk dan tidak pernah yakin akan sampainya kepada ridha Allah hingga saat ruh keluar dari jasadnya”.