Followers

Wednesday, 14 February 2018

DS007-MANAGEMENT HAWA NAFSU



31 Januari 2018

Mungkin kita sering mendengar istilah hawa nafsu tapi tahukah kita apa sebenarnya yang dmaksud dengan hawa nafsu?
Secara harfiyah, Hawa berarti kecenderungan atau dorongan, sedangkan nafsu berarti diri atau sering juga disebut jiwa.

Apakah hawa nafsu merupakan perkara yang baik dan menguntung ataukah perkara yang buruk yang merugikan...?
Sebagai mukadimah, saya akan sampaikan 6 resources (sumber) yang diberikan Allah kepada manusia sebagai bekal untuk melangkah dalam kehidupan menuju kepada kesempurnaan:

1. Fitrah, sebagai sumber yang Allah tanamkan dalam diri manusia berupa kecenderungan menuju kepada-Nya serta mengenal-Nya. Fitrah juga melahirkan nilai-nilai akhlak mulia seperti kesetiaan, kasih sayang dan lain-lain.

2. Akal, sebagai pusat pengambil keputusan logis

3. Iradah/kehendak, menjamin kemerdekaan manusia dalam memilih apa yang ia inginkan (free will)

4. Perasaan (dhamir), pengadilan diri manusia yang akan menghukum jiwa manusia dengan perasaan bersalah saat melakukan kesalahan.

5. Hati (Qalbu), adalah 'another window' (jendela lain) bagi kesadaran dan ma'rifat. Ia yang mampu menerima enlightment (pencerahan) dari Tuhan. Ia berbeda dengan fitrah karena hati bisa mengalami up and down dalam fungsinya sementara fitrah tidak mengalami pasang surut fungsi karena ia hanya akan  terhijab atau tidak. Hijab tersebut adalah dosa yang menutup mata qalbu

6. Hawa, adalah sumber bagi berbagai keinginan syahwat yang kuat dan menuntut pemenuhan kebutuhan segera, dalam jumlah yang banyak dan terus menerus.
Itulah 6 sumber dan facility yang diberikan Allah kepada manusia untuk mencapai kesempurnaan.

Dari pengertian yang kita sampaikan, Hawa adalah dorongan syahwat (sexual, makan, minum, bersenang2 dan sebagainya) yang selalu menuntut pemenuhan dalam jumlah banyak, segera dan terus menerus. Tidak ada HAWA yang tawadhu' dan merasa cukup dengan apa yang ada. Karenanya Rasulullah bersabda: "Jika sekiranya anak Adam (manusia) memiliki satu bukit harta niscaya ia akan mencari yang kedua. Jika ia memiliki dua bukit harta, niscaya ia akan mengejar yang ketiga. Sesungguhnya tidak ada yang mampu memenuhi perut anak Adam selain TANAH (kematian)".

Tapi, kalau kita lihat sifat Hawa yang seperti itu, bukankah tekhnologi dan semua kenyamanan yang dihasilkan oleh manusia saat ini berangkat dari dorongan Hawa?, misalnya syahwat makan membuat manusia mencari cara menghasilkan beras dengan berbagai kwalitas, dorongan syahwat kenyamanan membuat manusia memiliki inovasi dalam menciptakan rumah atau tempat tinggal, demikian seterusnya.

Kita bisa lihat perkembangan tekhnologi komunikasi seperti berkembangnya Smartphone, high speed internet dan semua fasilitas OL yang menyediakan berbagai kemudahan komunikasi bagi kita dengan berbagai bentuk Social Media App yang dihasilkan...bukankah itu hasil dari Hawa manusia....?

Tanpa dorongan syahwat, manusia akan tetap berada pada stone edge....(jaman batu) dan tidak akan mencapai pengetahuan seperti yang dicapai sekarang ini.
Dimana keburukan Hawa yang berisi sekumpulan syahwat itu....?
Dalam suran An Nazi'at: 40, Allah berfirman:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فان الجنة هي الماوى

Artinya: "Barangsiapa yang takut akan kedudukan Tuhannya dan memisahkan NAFS (DIRI) dari HAWAnya maka surga adalah tempat baginya".

Dari ayat diatas bisa kita simpulkan bahwa tugas kita bukan untuk memerangi HAWA tapi untuk tidak membiarkan HAWA berkhalwat (berdua) dengan NAFS kita, harus ada pihak lain yang menjadi pendamping. Pihak lain itu adalah 5 facillity lain (fitrah, akal, qalbu, iradah dan dhamir) yang dianugerahkan Allah pada manusia. Ibarat supercar, semakin tinggi dia punya speed, semakin memerlukan driver yang expert dalam mengemudi.

Jika gerak cepat HAWA bisa berada dibawah control akal misalnya maka manusia akan bergerak cepat dalam mencapai sesuatu namun masih dikawal oleh logika sehingga ia akan menghasilkan banyak manfaat dalam waktu singkat. Cepat dan akurat.

Sebagai penutup, Imam Shadiq as. berkata: 

"Jangan biarkan Hawa berdua dengan Nafsmu karena HAWA akan mmelahapnya".