Followers

Wednesday, 14 February 2018

DS006-JANGAN EGOIS DALAM DOA




عن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم.
مَن قضى لأخيهِ المؤمنِ حاجَةً * كانَ كمَنْ عَبدَ اللّه َ دَهرَهُ.
الأمالي للطوسي 481/1051
.
29 Januari 2018

Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya maka ia seperti orang yang beribadah kepada Allah sepanjang hidupnya" (Kitab Amali, Syeikh Thusi 1051-481)

Saat kita berdoa, seringkali doa kita kehilangan kepedulian kepada orang lain. Kita banyak berdoa demi kepentingan kita tapi sedikit sekali doa yang kita panjatkan untuk saudara-saudara kita.
Sedemikian kikirnya kita hingga seruan AMIN yang kita ucapkan punya tone yang berbeda antara saat kita berdoa untuk diri kita dan saat kita berdoa untuk orang lain. Belum lagi kalau kita lihat di WA atau social media yang lain, seringkali untuk mendoakan saka kita copas (copy-paste) atau kita sudah sediakan sebuah gambar untuk mendoakan orang lain. Mungkinkah hal itu terjadi pada doa-doa untuk diri kita?.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Untuk memahaminya ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan seksama:

a. manusia memiliki sifat hub adz dzat (mencintai segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya)
Tanyakan pada diri kita, infaq sedikit saja terasa berat tapi membeli makanan lezat dan mahal tentunya untuk diri kita tidak ada masalah.
Kalau anak/cucu kita sakit maka kita akan kebingungan dan berjuang untuk menyembuhkan tapi bagaimana jika anak/cucu tetangga yang sakit? kita pura2 tak dengar tangisan dan rintihannya.

b. Seringkali kita tidak memahami hakikat doa. Kita hanya paham bahwa doa adalah permintaan tanpa mengetahui cara meminta yang benar. Ada banyak hal yang harus dilakukan dalam berdoa. Kalau kita meneliti kembali doa Kumail yang sangat kita muliakan, maka akan dapati bahwa cara doa kita selama ini jauh dari ideal. Dalam doa Kumail kita diajarkan adab-adab doa secara berurutan:

1   Memuji Allah (tahmid)
2   Salam Rasulullah (halawat)
3   Pengakuan atas kelemahan kita  (istighfar)
4   Permohonan kita (thalab)
5   Kepasrahan akan hasil yang terbaik di mata Allah (tasklim)
Sudahkah kita menjalankan urutan tersebut?

c. Ijabah Doa kita berhubungan dengan perbuatan kita. Pada suatu hari ada seseorang yang datang kepada Rasulullah saw. mengadukan kondisinya yang selalu gagal melaksanakan shalat malamnya. Maka Rasul menjawab: "Lihatlah kembali apa yang kau lakukan pada siang harimu!".

d. Kita juga sering lupa bahwa berdoa memerlukan wasilah, baik wasilah langsung (direct) maupun tidak langsung (indirect). Yang dimaksud wasilah langsung adalah Rasulullah dan Aimmah as. yang telah dipilih Allah untuk menyambungkan dimensi langit dan dimensi bumi. Merekalah jembatan yang menghubungkan keterbatasan kita dengan kesempurnaan Allah. Memang kita yakin bahwa Allah Maha Mendengar (meski tanpa wasilah) tapi kita juga sadar keterbatasan kita dan kelayakan kita untuk meminta secara direct kepada Allah. Sedangkan yang dimaksud wasilah tidak langsung adalah amalan yang kita lakukan yang akan mempercepat ijabah doa kita. Sejak dahulu kala para ulama kita mentradisikan agar sebelum berdoa kita berinfaq, menyantuni anak yatim, menyambangi fakir miskin dan sebagainya. Karena semua itu merupakan wasilah bagi ijabah doa-doa kita.

Sebagai penutup, jika seseorang memahami hakikat doa, niscaya ia akan lebih banyak berdoa untuk orang lain, karena doa bagi orang lain pastilah mencakup doa untuk diri kita dengan quality lebih baik. Ibarat tradisi ulama sebalum berdoa untuk diri, kita berinfaq dengan doa sehingga doa bagi diri kita cepat mendapatkan ijabah.

JANGAN BERDOA KEPADA ALLAH AGAR KALIAN BISA MAKAN TAPI BERDOALAH KEPADA ALLAH AGAR KALIAN MAMPU MEMBERI MAKAN ORANG LAIN...

Jika kita mampu memberi makan orang lain, pastilah kita memiliki makanan untuk kita makan. Jadi kita akan mendapatkan makanan bagi kita tanpa harus meminta kepada Allah. Jadi ada dua manfaat sekaligus:  

1. Kita memiliki makanan tanpa meminta
2. Mendapat pahala memberi makan.

Result: Jangan pernah selfish dalam segala sesuatu. Berbagilah meski hanya sepotong doa karena memberi kepada orang lain adalah memberi pada diri kita sendiri, karenanya Allah berfirman: "Barangsiapa yang kikir, sesungguhnya ia kikir pada diri sendiri".