G+

SEKILAS TENTANG HUBUNGAN MALAKUTI

Manusia sebagai unsur alam semesta
Dalam ru’yah kauniyah ilahiyah (pandangan terhadap alam berdasarkan aqidah ketuhanan), Allah menciptakan alam semesta dalam formasi unsur-unsur yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Dari unsur yang sederhana hingga unsur yang pelik dan penuh komplikasi. Dari unsur-unsur bersifat lahir (baca:materi) dan unsur-unsur bersifat bathin (baca:maknawi/non materi).
Manusia adalah salah satu unsur terbentuknya alam semesta. Hal ini mengandung konsekwensi ketidakmungkinan manusia untuk menghindar dari interaksi dengan wujud-wujud lain (termasuk sesama manusia) di semesta ini. Wujud-wujud yang juga unsur pembentuk alam ini. Dengan interaksi ini diharapkan manusia mampu saling mengisi sehingga memperoleh banyak manfaat dari wujud yang lain. Kenyataan ini disebutkan dalam beberapa ayat Al Quran :



“Jika shalat telah dijalankan maka menyebarlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Allah. Banyak-banyaklah mengingat Allah agar kalian beruntung”
(Q.S. Al Jumu’ah)


“Wahai manusia sesungguhnya kami ciptakan kalian sebagai laki-laki dan perempuan. Kami juga jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling berinteraksi. Sesungguhnya orang yang paling bertaqwalah yang paling mulia di sisi Allah. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha waspada”
(Q.S. Al Hujurat)

Hubungan antara manusia dengan unsur-unsur lain tidak sesederhana hubungan angka-angka dalam ilmu matematika. Sedemikian komplek hubungan manusia dengan unsur-unsur alam yang lain sehingga banyak hubungan yang akal manusia terlalu lemah untuk menangkap dan mamahaminya. Untuk satu hubungan sebab dan akibat, manusia seringkali tidak mampu mengungkap sebab sempurna dari satu akibat. Bahkan diantara hubungan tersebut hanya dipahami setelah turunnya berita samawi/wahyu yang menjelaskannya dan memberikan beberapa pendahuluan. Sedemikian kompleksnya hubungan sebab akibat antar antar wujud hingga sering kita mendengar bahwa “boleh jadi kepak sayap kupu-kupu di satu tempat menjadi sebab munculnya angin tornado yang dahsyat di tempat lain”.
Karena itu, dalam ru’yah kauniyah ilahiyah, ajaran agama sampai kepada manusia dengan dua bentuk:

1.     Peringatan, yaitu ajaran-ajaran yang menggugah akal mukallaf agar berusaha memahaminya. Ini berlaku pada ajaran-ajaran yang dapat dipahami akal sebagai fasilitas penting untuk melakukan identifikasi kebaikan dan keburukan. Peran ajaran dalam hal ini bukanlah mengajarkan sesuatu yang baru tapi mengingatkan hakikat perbuatan saat manusia terlena dan lupa. Contoh dari ajaran ini adalah larangan mencuri, larangan berbohong, perintah berbuat baik, menjaga amanat dan ajaran-ajaran lain yang setiap akal sehat mampu memahami manfaat dan mafharatnya.
2.     Pengajaran, yaitu ajaran-ajaran yang mengajarkan manusia segala hal yang akal manusia memiliki keterbatasan untuk memahaminya. Dalam hal ini akal memerlukan mukadimah yang berasal dari ajaran-ajaran samawi agar mampu memahaminya. Contoh dari ajaran-ajaran ini adalah ajaran tentang karakteristik surga, hari akhir, ruh, alam barzakh dan sebagainya.

Wujud, dengan keanekaragamannya, dapat dibagi menjadi tiga berdasarkan fasilitas untuk mengenalnya :

1.     Wujud materi, wujud yang dapat dikenali dengan menggunakan fasilitas indera dhahir. Yang dimaksud indera dhahir adalah penglihatam, penciuman, pendengaran, perasa dan peraba.
2.     Wujud aqliy, wujud yang dikenali dengan kaidah-kaidah luar biasa yang dibekalkan oleh Allah dalam akal meskipun indera dhahir tidak mampu menangkap wujudnya. Seperti wujud Allah sebagai yang diyakini kemestian wujud-Nya dengan landasan kaidah bahwa dibalik wujud setiap makhluk (ciptaan) pasti ada wujud khaliq (pencipta) meski mata tidak melihat. Setiap akibat pasti ada penyebabnya. Dalam ilmu kalam, wujud ini memiliki maqam lebih tinggi dari wujud pertama. Dalam ilmu mantiq disebutkan beberapa kelebihan wujud ini diantaranya : Atsar (efek) wujud ini lebih lama dari wujud pertama karena tidak menggantungkan kepada wujud dhahir[1] sesuatu secara terus menerus dan lebih mudah untuk menghadirkan kembali setiap saat tanpa keberadaan wujud dhahir di depan mata
3.     Wujud ruhani, wujud yang jauh dari jangkauan fasilitas lahiriyah dan akal terlalu lemah untuk menghukumi. Wujud ini bukanlah 'pemahaman akan sesuatu' tapi 'kehadiran sesuatu' itu sendiri. Ilmu ini yang sering juga disebut ilmu hudhuriy. Ilmu ini ma'shum dari kesalahan karena ma'lum tidak datang melalui perantara dan dalam bentuk lain namun datang dengan apa adanya.

Tidak ada satu wujudpun di alam wujud ini yang lepas dari pengawasan dan perhitungan Allah. Segala kebutuhan maujud dari yang besar hingga yang sangat kecil tidak pernah lepas dari kebijaksanaan Allah karena Dialah yang maha Hakim, tiada yang terdhalimi hak wujudnya karena Dialah yang maha Adil, tiada yang mampu lepas dari pengawasan dan hukumnya karena Dialah yang maha melihat dan maha mengetahui.

“Disisi Allah segala pintu ghaib dan tidak ada yang tahu selain Dia. Dialah yang mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tiada satu lembar daunpun yang gugur kecuali berada dalam rangkuman ilmunya. Tiada sesuatu yang basah ataupun yang kering kecuali semua telah –tersimpan- dalam kitab yang nyata” (Q.S. Al An’am)

Karena itu interaksi dengan wujud lain yang tidak mungkin dihindari oleh manusia memberikan hikmah yang meyakinkan bahwa Allah pasti telah menyediakan fasilitas untuk tujuan itu. Allah, Dzat pencipta dan pengatur alam semesta telah menganugerahkan tiga macam fasilitas untuk memahami masing-masing dari tiga macam wujud diatas. Fasilitas-fasilitas itu adalah :

1.     Indera dhahir yang lima (khawash al khamsah), merupakan fasilitas untuk melakukan interaksi dengan wujud-wujud bersifat materi. Dengan eksperimen melihat, mendengar, mencium, meraba dan merasa manusia mengetahui wujud materi yang kasar. Banyak ayat Al Quran yang berhubungan dengan perintah untuk menggunakan fasilitas lahir :


“Dan ketika kami membelah laut untukmu untuk kami selamatkan kalian dengan cera menenggelamkan pasukan Fir’aun sedang kalian melihat (hal itu” (Q.S. Al Baqarah)

“…ia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya tapi ia tetap menyombongkan diri seakan tidak mendengarnya. Sampaikan berita dengan datangnya azab yang pedih”
“…yaitu orang-orang yang mendengarkan ucapan dan mengikuti yang terbaik. Merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk Allah dan merekalah para ulul albab” (Q.S. Az Zumar)

Fasilitas ini dijadikan wasilah oleh Allah untuk menguatkan dakwah para nabi terdahulu. Para nabi mengukuhkan dakwahnya dengan menunjukkan mukjizat yang mencengangkan indera manusia pada jamannya. Jaman dimana manusia masih lebih sering mengandalkan indera lahirnya dan belum siap secara maksimal menggali potensi akal.

Bagi kalangan materialis, fasilitas ini menjadi dasar pijakan penghukuman terhadap wujud dan tidaknya satu mafhum. Ketika eksperimen inderawi tidak mampu mengidentifikasi wujud sebuah mafhum, hal itu disikapi dengan vonis bahwa mafhum bersangkutan tidak wujud[2]. Pada kenyataannya, membatasi fasilitas ilmu hanya pada fasilitas inderawi adalah tindakan yang bertentangan dengan logika badihi (jelas). Karena banyak hal yang tidak mampu dipungkiri keberadaannya meskipun, secara fisik, indera tidak mampu mengidentifikasi, seperti keyakinan akan wujud api, yang tidak terlihat, yang muncul karena melihat asap. Dengan kata lain, banyak keterbatasan dalam fungsi fasilitas yang satu ini sehingga perlu fasilitas lain yang tidak mampu dideteksi secara inderawi.
2.     Akal, adalah fasilitas untuk melakukan interaksi dengan wujud, dimana indera manusia tidak mampu mengidentifikasi eksistensinya. Fasilitas ini juga alat untuk mengenal wujud non materi. Dengan akal, manusia mencapai keyakinan tentang wujud dan tidaknya satu mafhum ketika eksperimen material tidak mampu menghukuminya. Dengan akal kita memahami kaidah sebab akibat yang menyatakan bahwa setiap akibat pastilah berangkat dari sebab. Dengan kaidah itu pula wujud Allah, Dzat pencipta, terbukti menjadi kepastian secara aqliy meski indera lahir tidak mampu mendeteksi. Banyak ayat dan riwayat yang menyinggung fasilitas yang satu ini, Diantara ayat-ayat itu adalah :

   
“Setiap yang kalian dapatkan, semua itu adalah kehidupan dunia dan perhiasannya. Apa yang ada di sisi Allah lebih baim dan lebih kekal. Apakah kalian tidak menggunakan akal”. (Q.S. Al Qashash)

Sesungguhnya (syetan) telah menyesatkan sebagian besar kalian, apakah kalian tidak menggunakan akal?” (Q.S. Yasin)

“Kami jadikan itu sebagai bacaan (quran) dalam bahasa arab agar kalian menggunakan akal” (Q,S. Az Zuhruf)

“Ketahuilah, sesunguhnya Allah telah menghidupkan bumi ini setelah mati. Sesungguhnya telah kami jelaskan ayat-ayatnya agar kalian menggunakan akal” (Q.S. Al Hadid)

Bahkan dalam sebuah hadits di sebutkan bahwa Allah mengutus dua macam rasul. Salah satunya dhahir dan yang lain bathin. Rasul dhahir adalah para nabi sedang rasul bathin adalah akal (riwayat).
3.     Kalbu (hati), adalah fasilitas yang dimiliki manusia untuk melakukan interaksi dengan maujud di sekitarnya. Fasilitas ini memiliki tingkat yang lebih tinggi dari fasilitas-fasilitas lain. Jika dengan indera lahir dan akal manusia berusaha memahami sesuatu maka dengan hati manusia berusaha mencapai pengetahuan yang lebih dalam dan lebih tinggi yaitu untuk merasakan sesuatu. Jika dengan akal manusia mencapai ilmu hushuliy maka dengan kalbu manusia menggali potensi dan mencapai ilmu hudhuriy. Ilmu hudhuriy yang bersifat qalbiy tidak mungkin terhinggapi oleh kesalahan atau kekeliruan karena ilmu ini bukanlah munculnya gambaran sesuatu yang masuk kedalam otak (seperti layaknya ilmu hushuliy) tapi sesuatu itu sendiri yang masuk dalam hati. Ilmu yang digali dengan fasilitas ini memamg bukan ilmu yang dapat dipahami begitu saja dengan fasilitas akal tapi bukan berarti bahwa ilmu ini bertentangan dengan kaidah akal (irasional). Hubungan ini hanya dapat diperoleh dengan melakukan riyadhah ruhaniyah untuk membuka hijab qalbiy antara kita dengan wujud yang lebih tinggi maqamnya dari kita yang pada puncaknya akan mampu menciptakan hubungan langsung bahkan penyatuan (fana) antara hamba dengan wajib al wujud, sumber segala wujud yaitu Allah. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki hubungan ini sejak di alam ruh. Ketika itu Allah berfirman :

“Dan ketika Tuhanmu menciptakan keturunan anak Adam dari sulbi mereka dan meminta kesaksian dari mereka: “Bukankah Aku Tuhan kalian ?”,”Benar, kami bersaksi (akan hal itu) !”, agar kalian tidak mengatakan pada hari kiamat: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalai (tidak tahu)” (Q.S. Al A’raf)

Hubungan langsung antara manusia dengan Allah menjadi semakin tidak terasa karena manusia meletakkan hijab antara wujudnya dan wujud Allah dengan segala macam dorongan duniawi yang kasar dan kotor. Dorongan yang selalu dihiasi dengan hiasan hawa nafsu yang melalaikan.
Ketika manusia mencapai satu bentuk kesadaran akan hubungan ini dan berusaha untuk membina kembali maka bukan tidak mungkin hubungan itu akan terbit kembali bagai mentari yang menyinari jalan para musafir. Dengan hubungan ini seorang hamba tidak hanya memahami wujud Allah tapi ia merasakan wujud itu dalam dirinya. Maka ia melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan Allah. Disinilah terjadi wahdatul iradah atau penyatuan keinginan Allah dan keinginan manusia atau yang sering disebut dengan istilah dalam ilmu tasawuf sebagai fana. Karena makrifat ini merupakan makrifat hudhuriyah maka ia memiliki maqam yang melampaui kemampuan akal untuk memahami. Makrifat ini bersifat badihi sehingga semakin didefinisikan maka hanya kebingungan yang hinggap dalam diri kita.
            Sebagaimana terjadi hubungan qalbiy antara hamba dengan sang Khaliq, hubungan ini juga terjadi antara hamba dengan hamba lain yang telah diangkat oleh Allah menjadi khalifah dan wakil-Nya. Orang-orang yang memang telah dipilih oleh Allah untuk dijadikan jembatan menuju kepada-Nya. Wujud mereka memiliki otoritas kepemimpinan yang sama dengan kepemimpina Allah. Mereka adalah Rasulullah dan orang-orang yang telah diwahyukan melalui lisan sucinya sebagai pemegang otoritas kepemimpinan Allah di muka bumi ini. Orang-orang yang menjadi hakim bagi manusia yang menjadikan Allah sebagai hakimnya. Dengan kata lain, tanpa mereka akan menjadi sangat sulit untuk menciptakan hubungan dengan sang Khaliq. Sehubungan dengan hal ini Allah berfirman kepada Nabi Muhammad saw :


“Katakanlah (wahai Muhammad) : “Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku maka Allah akan mencintai kalian serta mengampuni dosa-dosa kalian. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (Q.S. Ali Imran)

Dalam ayat diatas Allah menjelaskan bagaimana keikutan dan ketaatan kepada Rasulullah saw. menjadi bukti kecintaan dan ketaatan kepada Allah. Ketaatan kepada mereka memiliki tingkat yang sama dengan ketaatan ilahi. Dalam salah satu ayat Al Quran Allah berfirman :


“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, Rasul dan ulil amr yang ada diantara kalian… !” (Q.S. An Nisa : 59)

Artinya, keimanan kepada Allah diwujudkan dengan ketaatan mutlak kepada-Nya dan manusia-manusia yang menjadi khalifah dan “perwujudan”nya di muka alam semesta ini.

Dalam tulisan singkat ini, pembahasan akan dikhususkan kepada hubungan antara hamba dan manusia-manusia pilihan Allah, dalam hal ini Rasulullah dan para Imam khalifah Rasul.
Berdasarkan apa yang disebutkan dalam mukadimah diata dapat dikatakan bahwa hubungan antar seorang hamba dengan manusia-manusia pilihan Allah dapat dibagi menjadi tiga sesuai fasilitas yang ada :

1.     Hubungan inderawi
Ketinggian akhlak Rasulullah dan para Imam pilihan adalah sesuatu yang tidak mungkin dipungkiri baik oleh kawan bahkan lawan. Tingkah laku yang santun, tutur kata yang menyejukkan hati, usapan kasih sayang kepada anak yatim dan faqir miskin dan hati beliau adalah taman akhlakuk karimah yang selalu menjadi persinggahan para pemburu keutamaan.
Tapi sayang, banyak diantara para sahabat yang menyertai beliau hanya melihat keindahan itu sebagai bentuk keindahan lahir dan tidak berusaha untuk meneguk kesejukannya. Banyak diantara mereka melihat tapi tidak merenungkan dan tidak menjadikannya sebagai panduan dalam kehidupan mereka. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang melakukan kemunafikan meskipun pada waktu yang sama mereka melihat betapa ketinggian akhlak Rasulullah mampu menghipnotis setiap mata.

“Diantara kalian banyak orang-orang munafik, termasuk penduduk Madinah. Mereka dihinggapi kemunafikan yang dalam. Kamu (Muhammad) tidak tahu tapi Kami maha tahu. Kami akan menyiksa mereka dua kali (lipat) kemudian kami masukkan mereka kedalam azab yang besar”. (Q.S. At Taubah)

Mereka menentang dakwah Nabi meskipun mereka tidak mampu menemukan cacat dalam diri beliau yang maksum.
Sampai pada suatu hari, seorang penyair kafir kalangan Quraisy, Walid bin Mughirah, mendatangi Rasulullah. Ia berusaha mencari kelemahan Nabi dan berniat menjatuhkan kehormatannya. Ketika berhadapan dengan Rasul, ia berkata: “Wahai Muhammad, bacakan kepadaku beberapa ayat dari kitabmu !”. Rasulullah memenuhi permintaannya dengan membaca beberapa ayat dari surat Ha Mim Sajdah. Begitu mendengar ayat suci dibacakan bergetarlah Walid dan tidak mampu menyembunyikan ketakjubannya. Ia berkata : “Demi tuhan, telah kudengar pembicaraan (kata-kata) yang aku yakini lebih tinggi dari kata-kata manusia bahkan kata-kata malaikat”. Berbagai macam kalimat pujian keluar dari mulutnya tanpa ia sadari.
Tersebarlah berita bahwa Walid telah condong kepada agama Muhammad. Abu Jahal mengumpulkan para pemuka Quraisy umtuk menghakimi Walid atas penyimpangannya. Saat dimintai keterangan tetang hal itu ia berkata : “Apakah kalian pernah menyaksikan tanda-tanda bahwa Muhammad gila?”, “Sama sekali tidak”, kata mereka serentak. Walid berkata lagi : “Apakah kalian pernah menemukan Muhammad melakukan kebohongan?, bukankah diantara kita ia telah terkenal dengan kejujuran dan amanat sehingga kalian menyebutnya dengan ash shadiq al amin?”. Mereka melanjutkan: “Jika demikian, dengan apa kita melemparkan tuduhan kepadanya hingga ia menjadi tercela?”. Salah seorang diantara mereka berkata : “Sebarkan saja berita bahwa Muhammad adalah tukang sihir”.
Walid –dengan indera lahirnya- telah menjadi saksi sebuah mukjizat yang agung dari risalah Muhammad saw. tapi akal dan hatinya telah dikuasai dan ditutupi oleh ashabiyah, kejahilan dan kekafiran. Mereka menolak sesuatu yang –sebenarnya- tidak mungkin dipungkiri oleh indera lahir.
Mungkin kita bertanya : Bagaimana seseorang yang merasakan sendiri kedahsyatan Al Quran dalam dirinya (seperti Al Walid) masih mampu menentangnya dan bahkan menganggap semua itu adalah pengaruh sihir?.
Pertanyaan itu akan terjawab dengan beberapa perenungan berikut ini:
·        Terkadang ketika menyaksikan keajaiban ilahi (mukjizat), saat itu ketakjuban mengalir dari fasilitas mata hingga menembus hati sehingga mencapai kondisi keimanan yang sangat baik bahkan nyaris sempurna dan tiada keraguan. Akan tetapi tidak sedikit hati –karena tidak ada pembinaan yang konsisten- tidak memiliki kemampuan untuk menyimpan keajaiban itu di dalamnya lebih lama. Ketika indera lahir tidak menyaksikan maka keimanan itu mulai memudar seiring perjalanan waktu, ada yang perlahan ada pula yang sangat cepat. Banyak hal yang mempengaruhi lunturnya keimanan dari dalam hati dan semua berangkat dari ketamakan duniawi yang melahirkan sifat-sifat keji seperti ketamakan, kerakusan, ashabiyah, iri, dengki dan sebagainya. Kondisi seperti ini yang diabadikan oleh Al Quran ketika menjelaskan tentang karakter kaum Bani Ismail dalam menanggapi risalah nabi-nabi yang datang kepada mereka. Indera lahir mereka tidak mampu menolak kedahsyatan mukjizat para nabi, saat laut terbelah dan mereka terselamatkan atau saat terpancar dua belas mata air dengan tongkat nabi Musa as. sehingga terpenuhilah kebutuhan mereka. Tapi karena keimanan tidak terbina dan bersemayam dengan baik dalam hati mereka maka jangka waktu yang tidak begitu lama sanggup melunturkannya bagai hilang tak berbekas. Dalam surat Al Baqarah, Allah berfirman :

“Dan ingatlah saat kami membelah laut untuk kalian sehingga kami selamatkan kalian dari (kejahatan) Firaun dan pasukannya. Pada saat itu kalian menyaksikan (sendiri) kejadian itu • Dan ingatlah saat Kami membuat perjanjian dengan Musa selama empat puluh malam. Kemudian kalian menyembah anak sapi sepeninggalnya. Kalian lakukan itu karena kezaliman• (Q.S. Al Baqarah)

Tuduhan sihir yang dilontarkan kepada Nabi Muhammad saw. oleh orang kafir Quraisy adalah bentuk ketidakmampuan mereka untuk menolak mukjizat Nabi Muhammad saw. (baca: Al Quran). Tuduhan kepada nabi Muhammad saw. terjadi setelah mereka tidak menemukan cacat atau kekurangan pada diri Nabi. Artinya tuduhan itu bukan berangkat dari keyakinan terhadap eksistensi Nabi sebagai tukang sihir tapi –sebaliknya- sebagai alat untuk menjatuhkan kehormatan Nabi dan kesucian risalahnya karena mereka tidak menemukan celah aib didalamya.

2.     Hubungan Aqliy.
Setelah kita mempelajari sirah perjalanan hidup para Nabi atau Imam khalifah Nabi, hal itu memberikan gambaran bagaimana kehidupan para Nabi atau Imam yang akan menjadi pedoman hidup pengikutnya. Dari informasi yang digali dari sumber yang shahih dan tidak diragukan kebenarannya secara logika periwayatan maka seseorang mampu menafikan sifat-sifat buruk yang ada pada seorang nabi meskipun ia belum pernah bertemu dengannya karena hal (keberadaan sifat-sifat buruk) itu menyebabkan pertentangan dan  kemustahilan aqliy. Dengan akalnya ia juga mampu mengukuhkan sifat-sifat keutamaan yang menjadi konsekwensi logis dari eksistensi seorang nabi yang maksum.
Dari sini tercipta hubungan antara pengikut dan yang diikuti. Hubungan itu bukan hubungan inderawi akan tetapi hubungan yang berangkat dari hukum-hukum logika dengan menggunakan mikadimah-mukadimah tarikh yang tsiqah. Atau dengan kata lain, hubungan ini lebih tinggi daripada hubungan inderawi. Hubungan inderawi hanya tercipta saat seseorang menyaksikan, mendengar atau menggunakan fasilitas-fasilitas lahir lainnya untuk mendapatkan makrifat. Setelah proses inderawi selesai maka hanya orang-orang yang berakallah yang masih menyimpan hubungan dengan apa yang ia kenal secara inderawi. Seseorang yang memiliki hubungan semacam ini akan membela dengan segenap kekuatan akalnya untuk sesuatu yang telah ia fahami dan ia yakini sebagai kebenaran. Semakin kuat makrifat atau ilmu seseorang akan sesuatu maka akan semakin kuat komitmen kita sehubungan dengan sesuatu yang bersangkutan. Hubungan ini, meskipun lebih tinggi dari hubungan inderawi, bukan berarti tidak menghadapi kendala. Seringkali hubungan ini rusak terutama ketika akal sudah tidak lagi mampu menjadi pengontrol karena kontaminasi dan dominasi hawa nafsu. Akan terjadi peperangan sengit antara akal dan hawa nafsu dalam diri manusia. Ironisnya, hawa nafsu selalu menjadi pemenang. Imam Ali pernah berkata :

كم من عقل اسير عند هوى امير
“Berapa banyak akal yang diperbudak hawa (nafsu)”

Dalam banyak keadaan, akal memiliki kekuatan untuk mendeteksi kebaikan dan keburukan, sebab karena itulah akal dibekalkan kepada manusia. Meski demikian akal juga seringkali tertutupi oleh dorongan hawa nafsu yang selalu meminta pemenuhan secara cepat dan ukuran tiada batas. Dalam kondisi ini manusia tidak ubahnya seperti binatang yang tidak berakal. Melakukan segala sesuatu tanpa pertimbangan baik dan buruk aqliy, memilih alternative berdasarkan maslahat sesaat dan menuai madharat yang berkepanjangan. Ia akan merasakan penyesalan ketika tirai nafsu mulai terkuak sehingga akal kembali bekerja sesuai fungsi yang telah disunnahkan.
3.     Hubungan qalbi
Selain akal, manusia dibekali dengan fasilitas makrifat lain yang memiliki tingkat lebih tinggi dari maqam inderawi dan aqliy. Dengan fasilitas ini menusia membuat hubungan dengan wujud yang lain melalui proses ruhani. Hakikat manusia terletak pada ruhnya. Sedang fisik (termasuk akal fisik) hanya merupakan alat untuk melakukan interaksi dengan wujud lain yang mengandalkan fasilitas fisik juga. Artinya, tidak menutup kemungkinan terjadi hubungan langsung antar ruh. Dalam hal ini, seseorang pernah meminta kepada Ayatullah ehjat agar diajari bagaimana cara bertemu dengan Imam MAhdi as. Beliau menjawab "Berbuatlah kebaikan dengan niat yang baik niscaya mereka -para Imam- yang akan mendatangi kamu". Semoga malam ini Imam Husein berkenan mendatangi kita karena khidmat dan persembahan kecil kita pada malam hari ini.



[1] Barangkali anda masih ingat bagaimana kaum Bani Israil menyembah anak sapi hanya beberapa saat setelah mereka melihat mukjizat Nabi Musa yang membelah laut dengan tongkatnya. Bahkan pada akhir ayat itu Allah menekannkan dengan firman-Nya: “…padahal pada waktu itu kalian melihat (sendiri)”. Banyak orang yang merasa takjub ketika melihat satu peristiwa dan ketika matamya berpaling ia sudah melupakan ketakjuban yang barus saja ia saksikan. Banyak orang yang merasa takut ketika melihat jenazah dimasukkan ke liang kubur, membuat kita merenung akan kefanaan dan tipu daya dunia ini,  tapi ketakutan dan renungan itu segera sirna seiring dengan tatapan matanya berpindah kepada gemerlapnya hiasan dunia.
[2] Meskipun tidak mungkin melakukan eksperimen murni tanpa campur tangan kaidah akal. Seperti kaidah yang diambil dari kesimpulan akan kejadian yang terjadi berulang-ulang. Kaidah ini disimpulkan bukan dengan melakukan eksperimen terhadap sumua benda tapi