G+

AHLUL BAIT NABI DAN KHARISMA ILAHIYAH




(Sebuah tulisan memperingati syahadah Huseiniyah)

Ketaatan mutlak kepada khalifah Allah
Imam Husein adalah manusia suci. Manusia yang sangat dicintai oleh penghulu manusia-manusia suci, Rasulullah saw. Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama, para pemimpin umat muslim, sunnah maupun syiah. Bahkan tidak dapat dipungkiri oleh kawan maupun lawan.
Setiap manusia muslim meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala tindakan yang dilakukan, kalimat yang disabdakan dan kecenderungan yang disepakati oleh Rasulullah saw. pastilah merupakan manifestasi wahyu ilahi yang diembankan kepada beliau. Rasul adalah manusia ilahiyah yang tidak berbicara kecuali atas landasan wahyu yang diturunkan kepadanya. Wahyu yang terjamin kemurnian dan keutuhan isi dan susunan bahasanya. Sehubungan dengan hal ini Allah berfirman :




“Kawanmu (Muhammad) tidaklah keliru atau tersesat (2) Dan ia tidak berbicara berdasarkan dorongan nafsu (3) Setiap yang ia sampaikan adalah wahyu (4)”  (Q.S. An Najm)


“Aku akan bacakan kepadamu dan kamu tidak akan lupa” (Q.S. Al A’la)

Maka cinta Rasulullah saw. kepada seseorang bukanlah cinta yang berlandaskan dorongan hawa nafsu atau motifasi emosional. Bukan pula cinta yang berlandaskan kepentingannya pribadi dan keuntungan subyektif.

Berdasarkan keyakinan akan kemaksuman para Nabi, apa yang datang dari mereka hendaknya kita ikuti dan taati sebagai pedoman keselamatan. Ketaatan itu haruslah mutlak karena otoritas yang diberikan kepada mereka adalah otoritas ilahiyah yang bersifat mutlak. Ketaatan kepada mereka sama dengan ketaatan kepada Allah.

“…apapun yang datang dari Rasul ambillah dan apa yang dilarangnya jauhilah. Bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah amat dahsyat siksa-Nya”(Q.S. Al Hasr)

Ketaatan mutlak ini juga berlaku bagi kepada khalifah-khalifah Rasul pilihan Allah. Manusia-manusia suci yang memegang otoritas ilahi setelah Rasul saw. Mereka adalah para Imam maksum yang telah disebutkan jumlah dan nama mereka dalam kitab-kitab mu’tabar.[1]

Ijtihad ra’yu sumber kehancuran umat
Setelah kita melihat beberapa ayat diatas maka sangat disayangkan jika kita melihat kecenderungan sebagian kaum muslimin menggunakan ijtihad ra’yu yang bersifat subyektif untuk melakukan takwil atas sunnah Rasul yang dilandasi oleh semangat kemadzhaban serta eksklusifisme. Sebagian mengatakan bahwa kecintaan Rasulullah kepada Husein -misalnya- adalah bentuk manusiawi dari kasih sayang seorang kakek kepada cucunya. Penakwilan ini sebagai usaha –menurut mereka- untuk menghindarkan kaum muslimin dari tindakan pengkultusan manusia atas manusia yang lain yang pada puncaknya akan menciptakan kemusyrikan. Tanpa berniat melakukan tasybih (penyamaan) tindakan ini mengingatkan kita kepada keengganan Iblis untuk sujud kepada Adam as. dengan alasan bahwa ia ingin mengikhlaskan ibadah dengan hanya sujud kepada Allah sehingga ia mengatakan “…sejak kapan ikhlas itu dosa”[2]. Sekilas logika ini benar dan meyakinkan sehingga banyak akal yang lalai terkecoh olehnya. Padahal sangat jelas bahwa apa yang dilakukan Iblis adalah pelanggaran atas perintah Allah (sujud kepada Adam as.) dengan dalih  keikhlasan sebagai sebuah pembenaran bagi pelanggaran itu.
Jika tradisi ini dibiarkan berkembang bahkan terbina dalam masyarakat muslim kita maka akan menciptakan karakter Bani Israil yang mewakili kaum yang dimurkai Allah karena selalu mentakwil perintah Allah sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka.
Dibawah ini beberapa kasus yang termaktub dalam Quran untuk memberikan gambaran tentang tradisi takwil ra’yu yang dilakukan kaum Bani Israil untuk dijadikan pembenaran atas keingkaran mereka:

1.      Setelah melakukan kesalahan, mereka tidak bersedia bertaubat kecuali setelah melihat wujud Allah. Padahal mereka tahu bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan.
“Dan ingatlah ketika kalian berkata : “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepada (ajaran)mu hingga kami melihat Allah dengan jelas. Maka (karena hal itu) petir menyambar mereka dan kalian melihat (hal itu)” (Q.S. Al Baqarah)

2.      Pada peristiwa dimana Musa as. menyuruh mereka untuk menyembelih anak sapi untuk membuktikan kasus pembunuhan mereka melontarkan begitu banyak pertanyaan dengan tujuan untuk tidak melaksanakannya. Sehingga pada akhir ayat yang berhubungan dengan kasus tersebut Allah berfirman :
“…akhirnya mereka menyembelih dan hampir-hampir mereka tidak melaksanakannya”. (Q.S. Al Baqarah)

3.      Tidak bersedia mengikut ajaran Musa as. karena kekafiran dengan menunjukkan seakan-akan mereka sadar dan menyesal atas ketertutupan hati mereka.
“Mereka berkata: “Hati kami memang tertutup”, tapi sesungguhnya Allah melaknat mereka karena kekufuran maka sedikit sekali yang beriman”. (Q.S. Al Baqarah)

4.       Selalu menggunakan hilat (muslihat) untuk tidak melaksanakan perintah Allah seperti pelanggaran atas larangan berburu ikan pada hari Sabat dengan menggunakan muslihat melemparkan jaring pada hari Sabat dan mengangkatnya pada hari berikutnya. (lihat tafsir Kasyif  tulisan Syeikh Jawad Mughniyah, tafsir surat Al Baqarah : 65).
5.      Menolak kenabian Nabi Muhammad dengan banyak alasan padahal penolakan itu berdasarkan hawa nafsu. Mereka memandang Nabi Muhammad bukan sebagai utusan yang harus diikuti tapi sebagai orang Arab, orang dari bangsa yang, secara turun temurun, sangat mereka benci. Padahal dalam hal ini mereka yang meminta agar Allah mengutus juru selamat untuk menyelamatkan mereka dari musuh.

“Dan ketika datang kepada mereka sebuah kitab dari sisi Allah dimana kitab itu membenarkan isi kitab sebelumnya. Sebelumnya mereka memohon pertolongan dari Allah untuk melawan orang-orang kafir. Maka ketika sang penolong daaing dalam keadaan yang telah mereka ketahui, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah ditimpakan atas orang-orang kafir”. (Q.S. Al Baqarah)

6.      Selalu meminta segala sesuatu baik berupa makanan, minuman atau barang-barang lain yang tidak ada di hadapan mereka. Mereka selalu meminta lebih, bukan karena kekurangan akan tetapi karena hilangnya rasa syukur dalam hati mereka. Mereka merasa menjadi umat paling mulia diatas umat-umat yang lain. Perasaan ini yang menjadikan mereka menyombongkan diri bahkan terhadap Tuhan. Hal ini menjadikan Nabi Musa as. marah dan melaknat mereka.


“Dan ingatlah ketika kalian berkata : “Wahai Musa, kami tidak sabar (cukup) dengan satu jenis makanan saja. Berdoalah kepada Tuhanmu agar memberikan apa yang tumbuh di bumi termasuk sayuran, bawang putih, kacang adas dan bawang merahnya. (Musa) berkata: “Apakah kalian hendak menukar sesuatu yang baik dengan sesuatu yang buruk?”, “Turunlah ke kota disana kalian akan mendapat apa yang kalian inginkan!”, dan mereka ditimpa kenistaan dan kehinaan serta ditimpa kemurkaan Allah…(Q.S. Al Baqarah)

 Sehingga banyak ayat yang berhubungan dengan mereka diawali dengan kalimat : “…wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat yang telah Kuanugerahkan kepada kalian…!” untuk menunjukkan betapa nikmat yang mereka terima sangat banyak dan betapa syukur sangat sedikit.

Beberapa kasus diatas hanya sebagian kecil saja dari karakter Bani Israil yang selalu ingkar kepada perintah Tuhan mereka. Mereka menggunakan ra’yu subyektif untuk menghindarkan diri dari perintah Tuhan. Mereka berusaha mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan agar yang bathil terlihat haq atau sebaliknya. Mereka seperti orang-orang yang menuhankan diri mereka sendiri. Tidak ada yang mereka jadikan sandaran kebenaran kecuali diri dan hawa nafsu mereka. Mereka tidak punya syariat, tidak punya nabi bahkan tidak punya Tuhan kecuali diri mereka sendiri. Tindakan keingkaran mereka terwujud dakam bentuk usaha untuk mendustai dan membunuh para Nabi utusan jika risalah Tuhan yang dibawa tidak sesuai dengan keinginan mereka. Hal ini diabadikan dalam Al Quran:


“…Apakah setiap kali datang kepada kalian seorang utusan yang risalahnya tidak  sesuai dengan keinginan hawa nafsu, kalian menyombongkan diri. Sebagian kalian bunuh dan sebagian kalian dustakan?”. (Q.S. Al Baqarah:87)

Hal ini harus menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi umat Muhammad. Umat yang telah dianugerahkan kepada mereka potensi untuk menjadi umat terteinggi dengan adanya risalah yang paling sempurna. Semakin sempurna fasilitas yang dimiliki, semakin besar tanggung jawab yang harus ditanggung. Ironisnya, meskipun kita bukan umat yang membunuh para nabi secara fisik akan tetapi kita cenderung menjadi umat yang membunuh ajaran-ajaran dan asas-asas yang dibangun oleh para Nabi dan para Imam itu. Amarah kita memuncak saat mendengar berita bahwa mushaf Al Quran yang merupakan kumpulan tulisan firman diatas kertas, diinjak-injak atau dinodai huruf-hurufnya akan tetapi, pada saat yang sama, ketika syari’at Islam diinjak-injak kita berdiam diri, bahkan senang atau ikut menginjak-injaknya. Kita berdiam diri ketika didekat masjid-masjid kita dibangun klap-klap malam, rumah perjudian dan bentuk-bentuk aktivitas maksiat yang lain tanpa ada usaha sedikitpun untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. 

Kita selalu menilai kebaikan agama dari sudut keuntungan kita yang subyektif. Kita akan menganggap agama baik jika menguntungkan kita dan demikian pula sebaliknya. Itulah yang terjadi pada Bani Israil. Keingkaran mereka (Bani Israil) terhadap syari’at Muhammad saaw. bukan karena syari’atnya menyimpang akan tetapi karena mereka sudah terhinggapi fanatisme maslahat golongan. Mereka hanya akan mengikuti agama yang mendukung kepentingan nafsu mereka.


“Berimanlah kepada kitab yang diturunkan Allah !”, mereka mengatakan : “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”, tapi mereka mengingkari yang turun
pada selain mereka, padahal (kitab) yang diturunkan  adalah sama dengan keyakinan (kitab) mereka sebelumnya ”. Katakanlah
wahai Muhammad : “Mengapa kamu membunuh nabi-nabi Allah sebelumnya (meskipun berasal dari Bani Israil)  jika kamu memang beriman?” (Q.S. Al Baqarah).

Kita memang bukan Bani Israil, akan tetapi kita seringkali akrab dengan karakter mereka.
Kita lebih mencintai agama hanya karena didalamnya terdapat praktek-praktek yang menguntungkan, menyenangkan dan dapat dieksploitasi untuk kepentingan hawa nafsu kita. Logikanya, kita akan mencela dan mempertanyakan hukum agama jika bertentangan dengan kemauan kita. Itu artinya kita belum masuk Islam secara kafah (total). Kita tidak menjadikan agama sebagai petunjuk dan pedoman hidup tapi. Kita menjadikannya sebagai alat untuk mewujudkan setiap keinginan kita.

Meskipun, secara aqidah, kita bukan orang kafir akan tetapi, pada kenyataannya, sifat-sifat kita menyerupai sifat-sifat mereka.




“…kamu beri peringatan atau tidak sama saja…”(Q.S. Al Baqarah)



“…Allah menutup hati, pendengaran dan penglihatan mereka…”



Tawalliy dan Tabarriy
Ketaatan memerlukan pengorbanan. Mengorbankan sebagian besar kesenangan dan keinginan pribadi kita untuk taat kepada setiap yang kita yakini akan menyelamatkan kita. Sesuatu yang akan memberikan kepada kita jaminan keselamatan dunia akhirat.  
Dalam madzhab Ahlul Bait ada satu konsep yang dinamakan “tawalliy dan tabarriy”. Apa yang dimaksud dengan “Tawalliy dan Tabarriy”?
“Tawalliy dan Tabarriy” dengan lugas disebutkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as. dalam sabdanya :

“Temanmu ada tiga :
  1. Teman kamu
  2. Temannya teman kamu.
  3. Musuhnya musuh kamu.
Dan musuhmu ada tiga :
  1. Musuhmu
  2. Musuh temanmu
  3. Teman musuhmu

Maksud dari sabda Ali as. diatas adalah bahwa kita harus membuat pilihan yang pasti antara haq dan bathil dan tidak ada jalan lain diantara keduanya. Hal senada juga disampaikan Allah dalam Al Quran ketika membicarakan tentang tabda-tanda umat Muhammad saw. :

“Muhammad adalah utusan Allah dan (cirri-ciri) orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka” (Q.S. Al Fath)

Dalam ayat diatas seakan Allah hendak menjelaskan kepada kita bahwa kerasnya kita kepada orang-orang kafir harus pula dibuktikan dengan usaha menyuburkan kasih sayang diantara saudara-saudara kita seiman. Ironisnya sering kita temukan komunitas muslim yang keras kepada orang kafir tapi juga saling bermusuhan diantara sesama muslim. Jika permusuhan internal ini dibiarkan maka yang muncul adalah sifat kebalikan yaitu mengasihi orang kafir karena terjadi permusuhan internal di tubuh kaum muslimin. Telah banyak kita saksikan bagaimana seorang muslim memilih bergaul dengan orang kafir daripada bergaul dengan muslim yang berlainan mazhab. Bukan hanya perbedaan mazhab aqidah, bahkan perbedaan mazhab fikih yang bersifat (furu’/cabang agama)pun menciptakan permusauhan yang nyata.
Kecintaan kita terhadap Nabi, Imam atau risalah Islam belum mampu dimanifestasikan dalam praktek “tawalliy dan tabarriy” karena terkadang kita mencintai Islam dan risalahnya tapi, pada waktu yang sama, kita juga mencintai hal-hal yang bertentangan dengan Islam dan membenci hal-hal yang berhubungan dengannya. Semua karena tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu.
Kita hanya mencintai Islam saat kita rasakan ia memberikan keuntungan yang dapat kita eksploitasi dan, logikanya, kita juga mencintai musuh-musuh Islam dan mengorbankan Islam jika hal itu juga memberikan keuntungan.

Kaum Bani Israil pada awalnya mengharapkan Islam sebagai penyelamat, akan tetapi begitu ia tahu bahwa Islam datang dengan dibawa orang Arab (Muhammad saaw.) maka mereka menolaknya.
Pdahal, jika kita bertekad menjadikan islam sebagai agama dan pedoman hidup maka kita harus menerima segala konsekwensinya, ringan ataupun berat adanya. Meskipun kita tahu bahwa yang menjadikan agama terasa memberatkan adalah diri kita sendiri yang teleh salah menanamkan motivasi beragama. Padahal logika sederhanya adalah : jika anda ingin mendapatkan hak, maka lakukanlah kewajiban!.
Kita seharusnya merasa khawatir jika kita melihat kemungkinan bahwa kebanyakan doa-doa kita tidak dikabulkan Allah. Boleh jadi hal itu disebabkan oleh kebiasaan kita menuntut hak tanpa memikirkan apakah kita telah melaksanakan kewajiban kita kepada-Nya.
Allah telah berjanji:




Berdoalah kepadaku niscaya akan aku kabulkan”(Q.S. Al Mukmin)

Allah tidak pernah mengingkari janji, tapi kita sering lupa bahwa doa yang diterima Allah adalah doa yang memenuhi syarta-syarat doa tersebut. Artinya setiap doa yang memenuhi syarat-syaratnya pasti akan diterima tanpa hambatan. Bagaimana doa kita akan diterima Allah jika kita berdoa hanya pada saat kita merasa membutuhkan pertolongan Allah?, atau mungkinkah doa kita akan diterima jika hanya lisan kita yang mengucap sementara hati kita lalai?, mungkinkah Allah mengabulkan doa orang-orang yang menganggap maksiat sebagai hal biasa dalam hidupnya?, mungkinlah kita akan mendapatkan pemenuhan hajat kita jika kebiasaan kita hanya membaca doa, bukan berdoa?.
Kita harus belajar mengapa kita merasa kebanyakan doa kita tidak dikabulkan.
Ada tiga kesalahan besar yang sering kita lakukan dalam berdoa :
  1. Kita senantiasa menyalahkan Allah jika kita merasa doa kita tidak dikabulkan. Padahal tidak dikabulkannya doa lebih disebabkan perbuatan kita sendiri. Kita hanya membaca doa dan tidak pernah berdoa. Kita berdoa pada malam hari tapi bermaksiat pada siang hari. Kita sering beristighfar sesering kita mengulangi dosa-dosa kita. Ketahuilah bahwa setiap amalan senantiasa berhubungan dengan amalan yang lain. Seorang sahabat Rasul saaw. bertanya : “Mengapa kami tidak pernah mendapatkan inayah untuk melaksanakan shalat malam ?”, Rasul menjawab : “Lihat apa yang kamu lakukan pada siang hari !”
  2. Kita senantiasa melihat bahwa kita lebih tahu maslahat kita daripada Allah. Kebaikan selalu diukur dengan terkabulnya keinginan kita bukan pada keputusan Allah yang maha tahu akan maslahat dan madharat setiap masalah. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman : “Wahai Muhammad, diantara hamba-hamba-Ku ada yang sengaja aku jadikan kaya dan jika ia miskin akan celaka. Diantara hamba-hamba-Ku ada yang kujadikan  miskin karena jika ia kaya maka ia akan celaka”. Kita hanya menilai bahwa kebaikan hanya ada pada terkabulnya permintaan kita padahal, sebagaimana termaktub dalam Quran, manusia adalah makhluk dhaluman jahulaa, zalim lagi bodoh.
  3. Manusia senantiasa tergesa-gesa dalam meminta. Ia bersabar meminta sesuatu kepada manusia tapi tidak pernah bersabar meminta sesuatu dari Allah. Ia akan mengeluh jika Allah menangguhkan pengabulan permintaannya.

Cinta tidak selalu diwujudkan dengan memberi. Sebagian dengan cara memberi dan sebagian dengan cara mengambil sesuatu darinya sebagai contoh :

  • Allah mencintai Sulaiman dengan memberikannya kekuatan, kerajaan dan kekuasaan.
  • Allah mencintai Musa dengan memberikan mukjizat.
  • Allah mencintai Ayub dengan memberikannya penyakit yang tak berkesudahan
  • Allah mencintai Muhammad dengan memberikan Al Quran Ahlul Bait as.
  • Allah mencintai Al Husein dengan mengkarunianya syahadah di jalan-Nya.

Hanya kita bukan Sulaiman sehingga ketika berkuasa kita menjadi kejam dan dzalim
Hanya kita bukan Nabi Ayub sehingga kita selalu mengeluh dan memyalahkan Allah
Hanya kita bukan Muhammad sehingga kita mensyukuri nikmat Al Quran dan Ahlul Bait as.
Hanya saja kita bukan Imam Husein sehingga kita tidak menikmati nikmatnya ruh yang keluar dari jasad kita melalui proses syahadah.

Rasul mencintai Imam Husein as. dengan kecintaan suci yang dalam, bukan karena nasab atau sifat manusiawi yang lain.
Rasul tidak mencintai yang dibenci Allah atau membenci yang dicintai Allah.
Antara Rasul dan Allah tercipta wahdatul iradah, apa yang diinginkan Allah itulah keinginan Muhammad.
Tidak ada yang dapat memisahkan kesatuan iradah Allah dan Rasulnya meski dengan kenikmatan duniawi yang besar.
Sifat inilah yang menjadikan :

  • Rasulullah      : Sayidur rusul wal mursalin
  • Ali                    : Sayidul mukminin wal mutaqin
  • Fatimah          : Sayidunisa al alamin
  • Hasan             : Sayidulmujtabin
  • Husein                        : Sayidusy Syuhada wa sayyidu al madhlumin

Mereka adalah manusia-manusi yang dipenuhi cahaya keimanan dan keutamaan yang akan terus bersinar meskipun orang-orang kafir berusaha memadamkannya. Semakin dicela, dicaci dan didhalimi, keutamaan mereka semakin bercahaya.



Sesungguhnya peristiwa syahadah Imam Husein
akan senantiasa membara dalam jiwa  kaum mukminin
dan tidak akan padam untuk selamanya.

Keutamaan, kehormatan. Kharisma atau kewibawaan bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, bukan kreatifitas fisikal kita. Kewibawaan adalah cerminan hati yang bersih karena didalamnya ada wibawa Allah.

-Ketika Rasul dihadapan seorang kafir yang hendak mengayunkan pedangnya, ia (kafir) berkata : “Siapakah yang akan menolongmu ?”, Rasul menjawab : “Allah !”, saat itu bergetar tubuh kafir tersebut dan tejatuhlah pedangnya.
-Dalam khutbah Hammam, Ali bin Abi Thalib menceritakan tentang sifat ahli taqwa dan kata-kata beliau menjadikan si Hammam pingsan dan mati.
-Ketika Rasul berbicara tentang surga pendengar merasa seperti di surga dan ketika bercerita tenyang neraka, mereka merasa bagai di neraka (riwayat)
-Keutamaan dan kewibawaan Husein yang menjadikan Al Hur bersujud menyerahkan diri kepada Al Husein dan Allah swt.  bukan karena Husein punya kuasa atau harta.

Orang yang menciptakan wibawa dengan harta maka ia akan jadi hina ketika miskin
Orang yang menciptakan wibawa dengan kuasa maka ia akan hina saat tidak berkuasa
Tapi…
Imam Husein, dalam keadaan lemah, sendiri, tanpa kuasa dan tanpa daya dapat memluluhkan hati Al Hur yang bagai singa.
Jangankan Al Husein, kepala sucinya saja dapat menjadikan pendeta Nasrani masuk Islam.
Diamnya Al Husein adalah daya tarik yang kuat bagi kawan maupun lawan. Itulah yang diisyaratkan oleh Imam Shadiq as. :




“Jadilah kalian da’i-da’i kami tidak dengan mulut kalian saja”

Marilah kita ciptakan kharisma ruh dengan membersihkannya dari segala dosa dan noda. Marilah kita ikuti jejak Husein sehingga kita dikaruniai hidup yang lebih baik.


[1] Shahih Muslim, kitab Al Imarah/Bukhari jilid 8 bab Ahkam/Yanabi Al Mawadah jilid 3 hal. 99 dan hal. 104/Sunan Abu Dawud bab Awwalu Kita Al Mahdi
[2] Lihat Tafsir Al Kasyif  (Syeikh Jawad Mughniyah)