G+

AGAMA DAN USHLUB TABLIGH




Sebagai seorang muslim kita harus melihat kembali diri kita. Kita harus cermati apa yang telah, sedang dan akan kita lakukan untuk agama kita. Seringkali kita melihat kebiasaan yang dilakukan oleh seorang muslim yang tidak sesuai dengan Islam itu sendiri.
Jika kita beruasaha membagi masyarakat berdasarkan agama maka kita akan menemukan pembagian sebagai berikut :

(1) Sebagian orang terlalu meremehkan (menganggap ringan) agama sehingga tidak ada penghormatan sedikitpun terhadapnya. Ia senantiasa bertindak sekehendak hatinya karena ia tidak merasa terikat dengannya. Bahkan jika hal ini dibiarkan berterusan maka akan muncul sekelompok orang yang berusaha mengatur agama. Agama hanyalah pakaian untuk menutupi segala macam keinginan hawa nafsu. Ia akan mencari keuntungan hawa nafsu dengan menggunakan agama sebagai alatnya. Kelompok ini tidak hanya milik orang-orang awam tapi bahkan lebih banyak terjadi di kalangan para ulama sehingga banyak riwayat yang mengatakan bahwa penyakit ulama adalah hasut dan kegemaran untuk berkompetisi secara tidak sehat. Dari situ juga telah muncul partai-partai politik yang menggunakan kedok agama untuk menarik massa dalam kampanyenya dan terbukti kemudian bahwa ternyata partai-partai yang bertikai adalah partai-partai yang sama-dsama menggunakan Islam sebagai nama dan symbol. Hal itu terjadi karena mereka tidak menjadikan Islam sebagai kebanggan, mereka manuhankan kepentingan kelompok  mereka dengan nama agama. Allah berfirman :

 “Setiap kelompok senantiasa merasa bangga dengan kelompoknya sendiri”

Mungkin inilah yang diramalkan oleh Rasulullah saaw. bahwa akan datang suatu jaman dimana agama hanya tinggal nama dan sebutan di mulut saja. Hal ini dikarenakan Islam telah menjadi wasilah untuk menyampaikan keinginan mereka yang bersifat hawa nafsu duniawi. Islam adalah agama mudah jika kita menerapkan Islam dalam segala aspek kehidupan kita. Islam terasa berat karena suatu saat kita harus berpindah dari satu keadaan yang tidak Islam menuju yang islami. Adaptasi seperti ini yang menyebabkan Islam menjadi terasa berat kita rasakan. Islam ringan karena itu jangan meberatkan diri kita, Islam itu ringan tapi jangan diremehkan.

(2) Sekelompok yang lain memahami agama sebagai sesuatu yang sangat agung. Pandangan ini adalah pandangan yang benar akan tetapi banyak diantara mereka yang memahaminya tidak sebagaimana mestinya. Mereka melihat bahwa agama adalah sekumpulan keyakinan dan amalan dengan sifatnya yang filosofis. Dan tidak dapat diterapkan kecuali oleh orang-orang yang mencapai tingkat hati tertentu. Ini bukan pendapat yang yang salah. Ini benar jika dihubungkan kepada seseorang tingkat tertentu. Tapi jika kita mengumumkan kaidah tersebut pada setiap orang maka akibat yang muncul adalah ketika orang awam berusaha untuk melaksanakan agama, mereka merasa dibebani oleh kewajiban-kewajiban yang sulit mereka pikul. Mereka dituntut untuk melakukan ritual, membaca doa-doa panjang yang bagi mereka sangat melelahkan padahalah ada doa-doa pendek yang dapat dijadikan sebagai awal mula praktik ibadah. Mungkin seorang yang sudah mencapai derajat tasawuf merasa menikmati doa yang ia baca sehingga semakin lama berdoa, semakin ia rasakan kenikmatan jiwa tapi ketika amalan yang sama diamalkan oleh orang yang belum mencapai tingkat itu, ia akan merasa terbebani dengan amalan-amalan itu. Dari sini ia akan melihat bahwa agama bukan sekumpulan kenikmatan tapi sebagai sekumpulan kesulitan. Al Quran sendiri menggunakan ushlub (cara) yang sama dalam melakukan pengajaran kepada manusia. Islam menggunakan bahasa-bahasa yang dapat dipahami oleh manusia Arab yang kebanyakan adalah orang Baduwi. Bahasa Al Quran adalah bahasa sederhana yang dapat dipahami oleh orang awam sekalipun. Seringkali kita melihat hadits-haditas para Imam memiliki tingkat filosofis yang lebih tinggi daripada hadits-hadits Rasulullah saaw. Lihatlah Nahj Al Balaghah yang spintas lalu memiliki tingkat folosofis yang lebih tinggi dari Al Quran yang dhahir.
Pengajaran aqidah yang kita dapatkan dari para Imam Ahlul Bait as. terkadang kita lihat lebih tinggi daripada apa yang disebutkan dalam Al Quran seperti contoh dalam firman Allah :



“Jika Allah menginginkan sesuatu maka Dia akan berfirman, “Jadi !”, maka jadilah ia”.

Padahal pendalaman dari pemahaman iradah Allah tidaklah sesederhana itu sebagaimana yang dibahsa dalam Ushul Ad Din versi hadits-hadits Ahlul Bait as. dimana dikatakan bahwa:                                               “Iradah Allah adalah fi’il-Nya. Dia tidak perlu berfirman untuk menciptakan dan mewujudkan sesuatu. Hanya saja jika hal itu diterangkan sebagaimana adanya maka hal itu hanya akan menjadi beban pemikiran bagi orang Arab Baduwi karena kesederhanaan alam pemikiran mereka.

Contoh yang lain adalah bagaimana Al Quran menjadikan surga sebagai targhib (penyemangat) dan neraka sebagai tarhib (ancaman) atas setiap perbuatan manusia agar manusia Arab bersedia masuk agama Islam padahal hakikat agama dan ibadah bukanlah keinginan akan surga dan ketakutan akan nereka akan tetapi karena kecintaan kepada Allah sebagaimana yang disabdakan oleh Imam Ali as. Allah dan Rasul-Nya saaw. tahu karakter dan budaya Arab saat itu yang sangat gemar mencari keuntungan sehingga disebutkan dalam Al Quran :



“Jika mereka melihat perniagaan atau pemainan mereka lari kepadanya dan meninggalkanmu dalam keadaan berdiri (berkhutbah)

Karena orang-orang Arab hidup di padang pasir yang panas dan gersang maka kenikmatan yang digambarkan oleh Allah dalam Al Quran adalah sesuatu yang sangat mereka inginkan seperti Allah berfirman :



“…bagi mereka disediakan surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai dan mereka kekal didalamnya”.

Jika hakikat surga seperti itu maka di duniapun banyak tempat seperti itu terutama di daerah pegunungan hanya saja tidak kekal.

Bahkan dalam beberapa keadaan Rasulullah tidak bersedia menerangkan hakikat sesuatu karena jika diterangkan maka hal itu akan menimbulkan hal yang tidak diinginkan sebagai ketika mereka bertanya tentang ruh dan hari akhir. Rasul hanya mengatakan “Itu adalah urusan Allah”.
Ini bukan berarti Rasul tidak memahami permasalahan akan tetapi Rasul diperintahkan untuk selalu menggunakan kaidah :




Berbicaralah kepada mereka sesuai kadar pemahaman mereka”.

 Dalam kaidah dikatakan bawa “qudrat” senantiasa berkaitan erat dengan “maqdur”. Qadhiyah akan terjadi jika ada qudrat (fa’il/pelaku) dan ada potensi dari maqdur (maf’ul/penderita) untuk menerima qudrat itu. Hal ini pula yang menjadikan Allah azza wa jalla mengutus para Nabi as. Sebagian orang bertanya, mengapa Allah tidak menyampaikan langsung firman-firmannya kepada manusia. Mengapa ia harus membutuhkan malaikat, para Nabi dan mungkin para Imam as. ?.
Jawabnya adalah bahwa dalam hal ini ketidakmampuan bukan terletak pada qudrat Allah Allah akan tetapi keterbatasan manusia sebagai maqdur untuk menerima langsung dari Allah swt. Ketidak mungkinan sapi masuk dalam telur ayam bukan terletak pada kemampuan Allah akan tetapi tidak mampunya telur menahan tubuh sapi.

Orang pandai bukanlah orang yang konsep-konsepnya tinggi hingga membingungkan orang lain tapi orang pandai adalah orang yang dapat memahamkan orang lain dalan level manapun. Demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah dan para Imam as. Sehingga terkadang kita lihat seorang Imam maksum terkadang menggunakan hujjah yang bernilai filosofis tinggi dan tidak dipahami kecuali oleh orang-orang tertentu dan terkadang menggunakan hujjah-hujjah yang sederhana meskipun tetap filosifis. Atau terkadang kita melihat perbedaan ketinggian filosofis antara hadits Imam Ali as. dengan hadits-hadits Imam Shadiq misalnya. Hal itu dikarenakan masyarakat yang mereka hadapi memiliki karakter dan kemampuan pemahaman yang berbeda. Bahkan kita lihat hadits Ali bin Abi Thalib as. terasa lebih tinggi tingkat filosofisnya daripada hadits Rasul saaw. Hal ini tidak menunjukkan ketidak mampuan Rasulullah dalam menyampaikan kaidah-kaidah filosofis Islam tapi karena Rasul berbicara sesuai tingkat pemahaman mereka. Bagaimana mungkin ilmu Ali bin Abi Thalib lebih tinggi daripada Rasulullah sedangkan ilmu Ali berasal dari Rasulullah saaw.

Dengan menggunakan ushlub yang semacam ini, seorang mubaligh akan mampu menyampaikan risalah dengan lebih sempurna dan pengikutpun akan dapat melaksanakan dengan pemahaman yang dapat ia terima dengan mudah. Untuk selanjutnya keseimbangan pemikiaran antara ulama dan umat akan dapat diciptakan.
Jika ini dapat diciptakan maka fitnahpun dan perpecahan akan lebih mudah dikurangi dan dihilangkan. Karena budaya fitnah dan ikhtilaf  biasanya muncul dari :

1.     Kebodohan.
2.     Salah memahami maksud.
3.     Tidak transparan

Dengan ushlub diatas, kebodohan akan lebih mudah dihilangkan karena meskipun tingkat pemikirannya berbeda tapi persepsinya sama karena masing-masing berjalan menuju satu tujuan sesuai kemampuan.

Dengan ini juga kesalahpahaman akan lebih mudah dihilangkan karena kesalahpahaman biasanya muncul dari persepsi yang sama tentang sesuatu tapi dengan dua cara berpikir yang berbeda dan masing-masing saling menyalahkan cara berpikir orang lain.

Dengan ushlub ini kita akan dapat menciptakan masyarakat transparan yang akan senantiasa melakukan klarifikasi setiap terjadi kesalahan dan tidak menghukumi benar dan salah dengan hanya melihat perbedaan cara berfikir karena masing-masing akan memahami cara berpikir orang yang pada tingkat yang berbeda.