G+

Imam Baqir as. dan Wibawa Nabi Syu'aib as.



Imam Shadiq as. bercerita: "Ketika kami berhasil mencapai kota Madyan, ayahku memberikan uang kepada budakknya untuk mencari penginapan dan membeli rumput untuk tunggangan kami dan makanan untuk kami. Ketika budak kami sampai di pintu gerbang kota, penduduk Madyan menutup gerbang itu dan mencai maki kami dengan menyebut nama Ali bin Abi Thalib:

“Tiada persinggahan buat kalian, tiada jual beli wahai orang-orang kafir, orang-orang musyrik, kaum murtad, para penipu, hai seburuk-buruk makhluk!”. Budak kami menunggu di depan pintu gerbang hingga kami sampai di tempat itu. Sesampai di depan gerbang, ayahku berkata dengan lembut: “Bertaqwalah kepada Allah dan janga salah paham, kami tidak seperti yang diberitakan kepada kalian, kami tidak seperti yang kalian katakan maka dengarkan kami. Jika pun kami seperti yang kalian tuduhkan, bukalah pintu untuk kami, bertransaksilah dengan kami sebagaimana kalian bertransaksi dengan orang-orang Yahudi, Nasrani atau Majusi!”.
Mereka berkata: “Kalian lebih buruk dari Yahudi, Nasrani dan Majusi karena mereka membayar jizyah (pajak non muslim) sedang kalian tidak”.
Ayahku berkata: “Bukalah pintu untuk kami dan ambillah pajak itu dari kami sebagaimana kalian mengambilnya dari mereka!”.
Mereka berkata: “Kami tidak akan membukanya karena kalian tidak punya kehormatan. Kami akan membiarkan kalian mati kelaparan diatas tunggangan kalian atau tunggangan kalian mati dibawah kalian”.
Semakin ayahku memberikan nasehat semakin besar permusuhan yang mereka tunjukkan. Ayahku melepaskan kaki dari pelana tunggangannya kemudian ia berkata kepadaku: “Wahai Ja’far, jangan beranjak dari tempatmu!”, kemudian ayahku mulai mendaki gunung Mathal diatas kota Madyan. Penduduk Madyan menyaksikan apa yang dilakukannya. Ketika, sampai di puncak gunung itu, dengan wajah dan badannya beliau menghadap ke arah kota Madyan dan sambil meletakkan dua jari di telinganya beliau berseru lantang: “…dan kepada (penduduk) Mad-yan (kami utus) saudara mereka, Syu'aib. ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, Sesungguhnya aku melihat kamu dalam Keadaan yang baik (mampu) dan Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)…dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.
Baqiyat Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu,[1] demi Allah, kami adalah baqiyat Allah itu"
Maka Allah mengirimkan angin hitam yang gelap yang menghantarkan suara ayahku hingga terdengar oleh setiap laki-laki, perempuan dan anak kecil di kota itu.  Semua orang naik ke atas atap rumah hingga melihat ayahku. Diantara mereka adalah seorang tua yang ketika melihat ayahku ia berseru keras: “Bertaqwalah kepada Allah, wahai penduduk Madyan, sesungguhnya ia berdiri tepat dimana Syu’aib berdiri ketika mengutuk kaumnya, jika kalian tidak membukakan pintu untuknya dan tidak membiarkan mereka singgah maka adzab Allah akan menimpa kalian, aku khawatir hal itu akan menimpa kalian, sungguh ini sebuah peringatan!”. Penduduk Madyan merasa takut dan akhirnya membukakan pintu dan mengijinkan mereka singgah dan semua itu disampaikan kepada Hisyam.
Pada hari kedua kami meninggalkan Madyan dan Hisyam menulis surat perintah kepada gubernur Madyan agar menangkap orang tua pemberi peringatan dan membunuhnya, semoga Allah merahmatinya. Hisyam juga memerintahkan gubernurnya di Madinah untuk menyusupkan racun ke dalam makanan dan minuman ayahku namun masa kekuasaannya berakhir dan tidak sempat melaksanakan rencananya”.[2]
[1] Q.S. Hud: 84-86
[2] Bihar Al Anwar, hal 306-313 menukil dari kita Dalail Al Imamah, tulisan Muhammad bin Jarir Ath Thabari Al Imami